Adakah yang merasa kering?

Adakah yang merasa kering? Agenda kita sering kering? Melaksanakan amanah seperti mengerjakan rutinitas yang membosankan? Ada.

Ya, ada. Bahkan yang merasakan kekeringan itu bukan hanya si pelaksana tapi juga objek pelaksanaan. Maka jangan heran, agenda-agenda yang ada menjadi kering bahkan seperti tak bermakna.

Mari mengingat-ingat kembali masa-masa SMA kita dulu, masa-masa awal kita bergelut di jalan ini.

Suatu siang di sudut musholla kecil suatu sekolah nun jauh di seberang sana. Tiga orang akhwat sedang membicarakan dengan serius agenda taklim rutin untuk sekolah mereka. Agendanya besok. Saat itu, salah satu dari mereka menghentikan pembicaraan. Lalu ia beristighfar. Saat ditanya sebabnya, dengan bergetar ia menjawab bahwa ia belum tilawah ba’da dzuhur tadi. Masya Allah… Ia takut, takut syuronya tidak berkah. Takut keputusan yang diambil tidak diberkahi Allah.

Di kota lain, seorang ikhwan sedang memimpin syuro. Di tengah pembicaraan panjang dan tidak menemukan solusi, sang ikhwan yang sedang bicara tiba-tiba terdiam. Perlahan-lahan ia menangis. Kenapa? Karena ia ingat, semalam ia tidak qiyamullail…
Kembali kita pada masa akhir TPB dulu. Masa penyambutan. Saat semua mujahid/ah dakwah TPB ditugaskan tilawah minimal satu juz perhari, dzikir pagi dan sore, qiyamullail, sampai riyadhoh. Saat tubuh-tubuh ini penat dengan segala macam syuro dan rapat. Kita selalu diingatkan dengan amalan kita. Agar Allah memberkahi masa penyambutan di kampus kita.

Ah… indahnya saat-saat itu.

Bukan. Saya bukan terlena dengan masa lalu. Bukan. Sama sekali bukan.
Saya hanya merasa, ada yang hilang dalam dakwah kita belakangan ini. Syuro dimulai jam 6 bahkan jam 5.30. Di musholla-musholla bahkan di ruang sahabat AH. Mungkin ini menyebabkan ada yang lupa tilawah sebelum syuro. Maka, saya anjurkan pada mas’ul dan korwat untuk mengingatkan. Bahwa dakwah kita selain dengan jiwa dan raga, juga dengan ruh. Mari kita tanyakan pada saudara-saudara kita. Sudah tilawahkah sebelum syuro ini. Minimal dua lembar. Minimal. Karena sungguh malu kita pada Allah, pada Rasulullah, malulah kita karena membuat keputusan tanpa kesungguhan beribadah padaNya.

Teringat pada cerita seorang mbak. Suatu syuro di pagi hari. Sang mas’ul bertanya sebelum memulai syuro.

“Sudah datang semua ya? Ana tanya dulu. Antum sudah tilawah? Sudah baca alma’tsurat? Kalau ada yang belum. Tafadhol keluar dulu. Ana tunggu 15 menit. Kalau sudah segera kembali. Syuro kita tidak akan dimulai jika antum belum kembali semua.”

Beberapa orang keluar dengan air mata. Malu sekali. Malu pada Allah.
Dan taukah? Bahwa syuro di pagi itu hanya punya waktu 1 jam. Tak ada yang merasa dirugikan. Berbahagialah mereka menjalankan keputusan syuro hari itu.

Ah sebenarnya ini kondisi ideal sang penulis. Karena penulis diamanahkan di LDK yang bisa mengkondisikan lingkungannya untuk berlomba-lomba memperbanyak amalan yaumiyah. Bagaimana dengan yang di BEM, DPM, Himpro, atau UKM??? Bisa... InsyaAllah bisa. Klo orang lain di sana tidak bisa, minimal kita yang bisa.

Jadi bagaimana??? Mau tetap kering atau basah karena keridhoannya.

Wallahu’alam

Comments

Popular Posts