Kampus Madani, Sebuah Utopia atau Kenyataan?

Madani merupakan sebuah istlah yang menggambarkan kondisi ideal dalam sebuah keadaan. Keteraturan, perdamaian, keamanan, kenyamanan, keadilan, kesejahteraan tercermin dari istilah madani ini. Jika konteksnya masyarakat luas, pada jaman Rasulullah telah terdapat sebuah masyarakat madani yakni ketika kota madinah dipimpin oleh Rasulullah. Istilah masyarakat madani merujuk pada pada kota Madinah, sebuah kota yang sebelumnya bernama yatsrib di wilayah Arab, dimana masyarakat tersebut hidup dibawah kepemimpinan nabi Muhammad dan membangun sebuah peradaban yang tinggi pada zamannya.

Lalu apa yang dimaksud dengan kampus madani? Sebagai seorang aktivis dakwah kampus (jika layak disebut demikian), saya mendefinisikan kampus madani yaitu kampus yang berusaha mendekati kondisi ideal berdasarkan nilai Islam. Secara fisik, idealnya sebuah kampus dapat dikatakan sebagai kampus madani jika kita dapat melihat semua mahasiswi muslim menutup auratnya secara sempurna, budaya Islam diterapkan dimana-mana, kemaksiatan tidak nampak bahkan tidak terasa keberadaannya, semua civitas hidup dalam sinergi dan keteraturan. Secara fikriyah, tentu saja semua civitas memiliki afiliasi yang tinggi terhadap Islam.

Apakah hal ini mungkin atau hanya utopia?

Kondisi kampus ideal ini merupakan hal yang sangat mungkin terjadi. Tentu saja hal ini bukan sesuatu yang terjadi secara tidak sengaja. Kondisi ini harus lahir dari perjuangan nyata orang-orang yang mengusungnya. Agar kondisi kampus ideal ini bukan hanya sekedar mimpi yang dinyatakan meluap-luap lalu dilupakan, menguap begitu saja. Untuk itulah perlu adanya sebuah organisasi yang melembagakan nilai-nilai Islam ke dalam kehidupan mahasiswa. Lembaga Dakwah Kampus (LDK) hadir sebagai wajah syiar Islam tersebut.

Tugas LDK disini adalah untuk menghadirkan nilai-nilai Islam melalui program kerja serta keberadaan kader-kadernya di lingkungan mahasiswa lainnya. Sehingga LDK diharap dapat hadir sebagai solusi, hadir sebagai pelayan umat, memenuhi kebutuhan masyarakat kampus akan nilai keislaman.

Jika nilai keislaman telah tertanam dan terpancar dalam keseharian masyarakat kampus, maka jangan heran jika suatu saat nanti kita akan melihat fenomena orang-orang membaca Al Qur’an sambil menunggu bus kampus, atau ada kelompok kecil yang mendiskusikan solusi permasalahan kemiskinan masyarakat sekitar kampus di koridor-koridor fakultas. Ini semua bukan utopia, sesuatu yang antara ada dan tiada. Namun hal ini merupakan kenyataan yang harus kita wujudkan bersama. Mungkin bukan tahun ini, bisa jadi tahun depan, dua tahun lagi, lima tahun lagi.

Wallahu’alam

Comments

Popular Posts