Seperti Pengamen

-->Suatu sore, aku harus ke Jakarta bersama teman-temanku. Kami sepakat untuk berangkat menggunakan kereta. Sesampainya di stasiun Bogor kami harus menunggu sekitar 30 menit sebelum kereta berangkat. Sebagai seorang yang “audio”, sore itu aku berharap sekali bertemu pengamen dengan gitarnya. Setelah sekian menit menuggu, masuklah serombongan anak muda yang rapi bersih lengkap dengan berbagai macam alat musik, ada gitar, harmonika, cello, biola, drum mini, dan satu lagi alat yang tidak ku ketahui namanya. Ternyata mereka pengamen. Tau lagu yang mereka bawakan? I’m yours-nya Jason Mraz. Keren ya....
Semua orang (sepertinya) memperhatikan mereka. Mereka memang menarik perhatian. Suara vocalistnya bagus. Mereka pun bernyanyi dengan sungguh-sungguh. Lalu uang kertaslah yang mereka dapatkan, artinya minimal seribu rupiah kan.. walaupun ada juga yang memberi receh tapi sepertinya tidak seratus rupiah. Masuk lagi seorang pengamen, ia juga rapi. Berkaus oblong putih dan celana jeans yang bersih. Ia membawa gitar, memetik lembut dawainya dan mulai memejamkan mata. Ia menyanyikan lagu “bukan cinta biasa” milik Afgan. Sungguh, suaranya tidak kalah bagus dengan Afgan asli. Ia bernyanyi seolah-olah benar-benar mengahayati lagu tersebut. Dan ia masih mendapatkan “banyak” uang. Padahal sebelumnya sudah ada rombongan pengamen. Hmm.. mereka memang keren.
Aku suka sekali klo ada pengamen yang membawa gitar ukuran normal. Bukan gitar pengamen angkot bogor ya... Aku suka jika pengamen itu bernyanyi dengan suara lantang, nada yang tepat dan selaras dengan irama gitarnya. Aku suka jika ia bernyanyi lagu yang manis, bukan lagu-lagu sumbang yang membuat panas hati dan telinga. Aku suka. Jika aku menemukannya, aku akan menyimaknya dengan baik. Mendengarkannya. Klo ada rezeki ya diberi uang, jika tidak ya diberi senyuman. Aku tidak memberi karena kasihan, tapi itu memang pantas ia dapatkan karena kesungguh-sungguhannya “memainkan perannya” sebagai pengamen.
Begitulah kita memahami kesungguhan. Kesungguhan akan diberikan balasan yang sesuai. Bagaimana? Tanpa meminta balasan dari selain Allah, seberapa sungguh-sungguh kita dalam amanah yang “kita perankan”?
Wallahu’alam

Comments

Popular Posts