Hati


Hati

Penulis yang manis ini (iye..iye...gw tau boong itu dosa!) pernah membaca tulisan dari Azimah Rahayu (penulis lain yang udah terkenal) tentang pengibaratan hati. Beliau mengibaratkan hatinya memiliki kamar-kamar.

Kira-kira seperti ini isinya:
"Terhadap mereka, saya buatkan kamar-kamar di dalam hati saya. Masing masing memiliki kamarnya sendiri, masing masing memiliki kedudukannya sendiri. Tak tergantikan. Dan setiap kali mereka pergi dari hidup saya, pintu kamar mereka saya tutup rapat-rapat dan saya kunci, tak boleh ada yang mengisi. Sewaktu-waktu saya akan menengoknya dengan segala kenangan yang kami lalui bersama, hingga jika suatu saat mereka kembali saya tinggal membuka pintu kamar hati ini dan membiarkan mereka masuk. "

Maka bagi saya (cieee pake ‘saya’) yang sangat terinspirasi dengan tulisan ini, hati ini seperti hotel yang sangat besar, 500 ribu per malam haha...ga dink.. Banyak sekali kamar-kamar yang ada di dalamnya. Saya adalah owner serta menjadi pekerja di sana. Saya lah penerima tamu, saya tukang bersih-bersih, saya yang mencucikan pakaian (lhaaa...), saya juga kokinya (siap-siap keracunan hahaha...).

Setiap orang yang pernah singgah dan menginap di hati saya, baik dalam waktu yang lama maupun cuma sekejap akan saya berikan kuncinya. Dan mereka boleh membawa pergi kunci tersebut. Jika mereka pergi untuk waktu yang lamaaaaa sekali dan kuncinya hilang, itu tidak menjadi masalah. Karena saya selalu menyimpan kunci cadangan.

Saya akan dengan ramahnya (ramah??? Cemberut kali ye hihihi...) berdiri di luar untuk menyambut penghuni baru yang datang. Dengan sabar menanti penghuni lama yang pulang, sejauh apapun perginya, selama apapun waktunya. Walau keujung dunia pasti akan kunanti (musiiiikkk...).

Jika ada yang salah dalam memberikan ruang dalam hati ini, maka saya tidak akan mengusirnya untuk pergi dari hati saya. Bahkan jika ia menjelma, terjangkit virus yang akan melumpuhkan bahkan mematikan hati ini. Saya akan membiarkannya ada dalam hati saya. Saya hanya akan mengisolasi virus-virus tersebut di kamar khusus (ni hotel apa rumah sakit???). Mengendapkannya hingga ia sembuh dan bisa menempati kamarnya lagi. Tapi jika kamarnya yang dulu adalah kamar yang salah. Maka biarkan saya menempatkan ia pada kamarnya yang dulu. Menjadi kenangan. Memberi pelajaran. Dan tidak akan pernah saya lupakan.

Biarkanlah saya dengan hati ini. Biarkanlah... Jika ingin pergi, pergi saja. Jika tidak ingin kembali, tidak masalah. Tapi biarkanlah saya dengan hati ini. Biarkanlah... Jika ingin pergi dengan kamar yang sangat berantakan dan tidak mempedulikan saya yang menata kembali kamar tersebut dengan perasaan yang tumpah ruah silahkan saja. Tapi biarkanlah saya dengan hati ini. Biarkanlah...

Ada hal-hal yang bisa kita lupakan. Kita bisa melupakan nama, wajah, suara. Kita juga bisa melupakan tempat dan waktu. Tapi kita tidak bisa melupakan rasa.


untukmu kasihku
yang memintaku untuk menghapusmu atau menguburmu

Comments

Popular Posts