Jangan jalan nunduk, ukht...

Jangan jalan nunduk, ukht...

Suatu ketika saat sedang membuka-buka friendster (jaman kapaaan nih) ternyata ada posting dari seorang teman laki-laki (ikhwan maksudnye). Ia mengomentari cara berjalanku yang menurutnya ‘terlalu menunduk’. Hmmm... ia bahkan menyindir dengan menceritakan satu cerita akhwat yang berjalan menunduk saat berpapasan dengan ikhwan. Sang akhwat akhirnya menabrak tembok. Hah... lebay banget deh... (yang ngerasa ngirim postingan itu, tenang nama antum aman hehe)

Aku melakukan pembelaan dengan mengajukan argumen bahwa aku menunduk bukan karena ingin menjaga pandangan tapi emang udah dari sononya begitu, bungkuk (hiks)... lagi pula aku punya siasat sendiri, kalau aku tidak mau banyak melihat maka cukup mencopot kacamata minusku, aku sudah cukup kesulitan untuk melihat. Ge-er nya temanku ini (hehe..)

Temanku yang lainnya malah akhirnya mengakui bahwa klo ada akhwat yang jalannya nunduk banget mpe kayak ga napak gitu (ga sadar ma sekitar) kesan yang ia tangkap beragam. Kesan yang pertama, ia kadang kesal karena ia menganggap sang akhwat sombong pisan. Tapi kesan kedua, ia malah lebih sering dag-dig-dug melihatnya (ciee.. lebay deh). Katanya sang akhwat lebih bikin perasaaannya tak menentu (pret!!!).

Jaga pandangan emang ga identik ma jalan nunduk. Tapi herannya banyak sekali ikhwah yang memiliki frame berfikir bahwa menjaga pandangan adalah dengan tidak melihat sama sekali. Aneh deh... menundukkan pandangan itu ga sama dengan menundukkan mata. Klo istilah gaulnya yang penting itu hijab hati (ga yakin dengan istilah ini, perasaan hati juga ga bisa dihijab2). Walaupun ga berarti kita bebas jelalatan ya...

Mukmin sejati ga diliat dari seberapa nunduknya dia, tapi dari kekuatannya membentengi diri (hikss...)

Coba bayangkan klo sepanjang jalan dari kampus ke kostan kita menuduk. Duh klo ada teman yang nyapa tapi kita ga memperhatikan, bisa jadi kita dicap sebagai ‘ikhwah nyebelin!’.

Ada juga yang lebih aneh... masa ada yang mikir klo kondisi yang bener itu kita ga kenal wajah lawan jenis kita. Jadi klo ada yang nanya ‘kenal ma akh fulan ga?’, dengan bangga akan ada akhwat yang menjawab ‘kenal tapi ga tau mukanya. Soalnya ane ghodul bashor ukh...’

jiiaaahh...

ga segitunya kalee... ada juga kita jadi bisa kecele ma ‘musuh’ masa ga tau yang mana yang kawan dan mana yang lawan. Ade-ade aje nih... (ups! Takut salah)
lagi-lagi ini juga ga berati kita bebas mandangin wajah lawan jenis kita. Mpe tau berapa helai jenggotnya, berapa jerawatnya (idih..), dimana tahi lalatnya (tahi lalat pa tahi kebo). Ga gitu juga kale ya. Antum dah ngerti lah...

Wallahu’alam

Comments

  1. Asli,,,Lucu,,wktu aku msh ngampus,,,banyak tuh kjadian,,,he he,,,salam kenal ukhti,,,ane Warda di Sumbawa...Taliwang tepatnya

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar di tulisan ini

Popular Posts