Masih Kecil

Masih Kecil



Seperti kebanyakan penulis lainnya, penulis keren (KEREmpeNg) satu ini juga suka mengibaratkan dirinya seperti burung. Kenapa? Karena burung biasanya mengumpulkan hal-hal yang dianggap tidak berguna yang digunakan kembali untuk membangun istananya. Rumput, sedotan, kain sisa, tali plastik, semua... burung akan mengumpulkan semua yang ia dapat untuk dijadikan sarangnya. Maka penulis adalah orang yang mengumpulkan kepingan-kepingan kehidupan -yang kadang dianggap tidak berguna- untuk kembali diceritakan dan menjadi hal yang indah.

Kali ini penulis mengorek kembali catatan masa kecil bukan hanya milik penulis tapi
juga cerita nyata yang didengar dari teman-temannya...

1. Semangat Sholat Subuh
Dulu saat masih kecil (sekarang udah gede) setiap sore sampai malam hari biasanya seorang gadis cilik nan cantik (semua : dusta...dusta..) harus selalu pergi mengaji ke masjid. Mengaji adalah hal yang menyenangkan. Gurunya cakep ya? Bukanlah... pas TeKa kayaknya belum genit deh... Ada makanan? Yaelah perut doank yang dipikirin.. yang menyenangkan adalah sesi cerita (teretet tetet...).

Sang guru sering bercerita tentang nabi, sahabat, akhlaq yang baik dll. Cara berceritanya keren, ga menggurui. Lalu suatu hari sang guru bercerita tentang keutamaan sholat. Hmm...

“sholat itu bisa minta apaaaa aja sama Allah..” guru berkata
“Wah menarik nih” pikir sang murid paling kreatif ini. “bisa minta beliin mobil2an dong ma Allah” ini anak perempuannya siapa siiih..
Akhirnya sang murid pun bertekad kuat untuk bisa shalat lima waktu (pake ikat kepala putih dan kepala berapi-api). Pulang mengaji malam itu, ia langsung bersiap-siap tidur, berdoa “ya Allah, bangunkan aku besok subuh, aku mau sholat”

Eh bener,,, besoknya, sang gadis yang biasanya bangun jam 6 pagi sudah terbangun jam 04.30. Cool... Doi keluar kamarnya, memastikan bahwa sudah subuh. Di musholla, bundanya sedang tilawah sendirian dan sepertinya ayahnya masih di masjid. Ia bergegas ke kamar mandi, wudhu dan berniat shalat subuh perdana dalam hidupnya.

Udah mau takbir, tiba-tiba ia berhenti. Shalat subuh itu gimana yak??? Wadooo... karena dia gadis yang manis, maka ia tidak tega menggangu tilawah bundanya. Yaudah deh, subuh kan dua rakaat, gampang...

Saat sarapan, ia bercerita pada ayahnya.
Si imut (s) : ayah, tadi ayuk (sebutan untuk kakak perempuan di sumsel) sholat subuh lho...
Ayah (a) : wah.. pinter anak ayah.
S : duduk tahiyatnya dua kali kan yah?
A : hah???
S : iya, tadi ayuk duduknya dua kali, rakaat satu, rakaat dua...
A : Glekkkk....(sesat nih anak gue...)


2. Semangat sholat dzuhur
Anak dalam cerita yang kedua ini sepertinya juga mengalami syndrom “sholat itu penting” dalam masa polosnya.
Saat tau urgensi sholat, maka sang anak bertekat tidak akan meninggalkan sholat. Ia mendapatkan materi ahamiyatus sholat (bener ga nih?) saat di sekolah. Adzan dzuhur telah lama berkumandang saat ia pulang sekolah. Bergegas ia mengambil air wudhu lalu mengambil mukenahnya. Saat mau membentangkan sajadah, dia bingung. Sajadahnya menghadap kemana yak??? Wadoooo....

Dengan kreativitas penuh, ia menguatkan hati untuk membentangkan sajadahnya menghadap “kiblatnya”. Ia sholat dzuhur dengan khusyu’ dengan sajadah dihadapkan ke masjid terdekat dengan rumahnya. Kiblat baru sodara-sodara....

Hikmahnya..
- Jika punya anak nanti, perhatikan sholat anak anda.
- Jika jadi guru ngaji/agama, ajarkan sholat dan urgensinya se-paket. Agar tidak ada lagi aliran sesat di Indonesia (hehe..).

Comments

Popular posts from this blog

Tutorial Menjahit Pashmina Instan ala Nurina Amira

Tutorial Bunga Tulip dari Kain Perca

Repurpose : Mengubah Kemeja dan Rok Jadi Gamis Kekinian