Lirih

Prolog....
Taukah kau beda angan-angan dan visi hidup?
Sebenarnya bedanya tipis.
Bedanya ada pada penangglan. Anggan-angan adalah mimpi belaka, tidak realistis. Tapi visi hidup adalah mimpi yang bertanggal.

Lalu jika suatu ketika mimpimu yang bertanggal itu, kau rasa tak bisa lagi kau jadikan kenyataan. Maka akan kau kemanakan mimpimu itu???


Fragmen I
Ada yang memilih menghapusnya. Ia menghapusnya. Walaupun mimpi itu telah terpatri menjadi prasasti di hatinya. ia tetap menghapusnya. walaupun sakit karena harus terseok-seok menghapus mimpi itu, ia tetap menghapusnya. berair mata, berpeluh, berdarah-darah ia lupakan mimpinya.

Ia menghapusnya dalam luka

Lalu ia cemburu pada seseorang atau mungkin banyak orang yang 'ia pikir' telah merebut mimpinya. Ia cemburu pada Allah. Ia berpikir, Allah lebih percaya pada orang itu, Allah tak percaya padanya. Lalu ia sakit....

Sakit hati yang tak terperi...

Ia cemburu karena ia merasa kapasitasnya sudah cukup untuk mendapat mimpi itu. Ia merasa lebih tau dari Allah.

Ternyata sakit hatinya tak terperi lagi...

tak hanya ia sembunyikan dalam diamnya, tapi ia munculkan dalam lakunya. Ia mundur, perlahan tapi pasti, ia tidak hadir dalam majelis cinta milik Allah, tak hadir dan tak memberitahu siapapun, dan pasti ia menjauhi orang-orang 'yang merebut mimpinya'. Ia sudah termakan cemburu.

Maka ku kategorikan orang ini dalam kategori orang-orang 'yang berpundungan di jalan Allah'

yang tak kuat hatinya, yang tak lurus niatnya, yang terlalu banyak bersandar dan berharap pada manusia. Bahkan untuk mimpi bertanggalnya sendiri...


Fragmen II
Aaah..., ada juga yang bermurung durja. Tapi tak lama. Ia hanya butuh waktu berpikir. Berpikir bagaimana caranya menggapai lagi mimpi yang lain atau bagaimana caranya agar mimpi itu kembali. Walau sang mimpi terkesan angkuh, tak mau diraih.

Ia jatuh dan menangis
lalu bangkit. tak peduli pada luka hatinya. tak peduli pada 'ketidakpastian' harapnya, tak peduli pada sakitnya setelah jatuh. Yang ia yakini, apapun akhir mimpinya, itu adalah yang terbaik untuknya.

Cemburu kah ia???
Jelas ia cemburu. Tapi apalah cinta tanpa cemburu. Ia mencintai Allah, kecemburuannya hanya bisa menambah laju geraknya untuk membuktikan cinta. Dan berharap cinta dan pintanya diterima.

Ia semakin kuat menulis mimpinya yang lain, merencanakan bentuk harapnya yang lain. Dan yang pasti, ia terus berbaik sangka pada Allah...

Dan ia adalah orang-orang yang optimis, yang amal dan kontribusinya terbukti nyata.


Ini hanya tentang kita. Contoh yang paling dekat adalah bermimpi diamanahkan sesuatu... Mau jadi yang mana? kita yang menentukan...

Seperti amanah-amanah yang membuat beberapa teman terpuruk. Pundung (ngambek dalam diam). Dipetakan tidak sesuai keinginan, ngambek... Tidak diperhatikan, mundur.... Na'udzubillah...

Aaah...sepertinya pemimpin kita sudah lelah mengurusi ini... Padahal dakwah adalah cinta. Dan cinta adalah kata kerja... Jadikanlah cinta kita nyata...

Waduh, kok aneh n ga nyambung ya... pokoknya gitu. Lagi agak-agak 'gimana gitu' nih penulisnya...

Wallahu'alam
Afwan jiddan, ambil saja hikmahnya


tulisan jadul (pas otakku masih bener)
10 Desember 2008

Comments

Popular Posts