Yang kelelahan di jalan Allah


Baru saja bubar mentoring hari ini, baru saja adik-adik yang manis itu berjalan meninggalkanku. Tapi masih ada satu orang yang merangkak ke arahku.

”Mbak, habis ini ada agenda lagi ga?” tanyanya sambil tersenyum

”Enggak, ada apa dek?” jawabku

Lalu mengalirlah sebuah cerita darinya. Ia sedang lelah dengan agenda-agendanya. Ia merasa jenuh. Sejak SMA, ia sudah tergabung dalam pergerakan kita. Ia sudah menjadi ADS. Itu artinya dari dulu ia sudah biasa beraktivitas lebih, berpikir lebih, dan dalam kelelahan yang lebih. Namun sekarang ia jenuh. Ia merasa lebih lelah dari sebelumnya. Dan saya terdiam.

”Saya boleh istirahat dulu ga mbak?” tanyanya lagi.
Hfff...Pertanyaannya menohokku. Itu dulu pertanyaanku. Saat itu aku merasa ’bahkan aku tak punya waktu untuk mengurusi diriku sendiri’. Ahh... perasaan lelah itu.

”Boleh, klo adek yakin bisa kembali lagi dan jauh lebih bersemangat, kenapa tidak. Lagi pula istirahat itu hakmu...” aku seperti mengulang jawaban kakak kelasku dulu.
Ia menangis (ahh... bahkan ia melakukan hal yang sama denganku).

”Lelah itu manusiawi. Tapi mbak harap adek tidak meninggalkan teman-teman adek tanpa keterangan. Komunikasikan alasannya.”

Ya, komunikasikan. Bahkan Ka’ab bin Malik pun berani berkata ’Ya Rasulullah, saya tidak punya alasan untuk tidak berperang’. Sebuah kejujuran yang menjadikan Ka’ab terasing. Tapi sungguh kejujurannya itu lebih baik dibanding jika Ka’ab yang ahli diplomasi itu berdalih atau tidak memberi kabar.

Komunikasikan. Karena bagi mas’ul kita, kehadiran dan izin kita menjadi sangat berarti. Kasihan sekali mas’ul kita, mereka cemas memikirkan kabar kita sedangkan kita malah sedang menikmati masa-masa istirahat kita. Mungkin saat syuro, bahkan jika kita tak berkata apapun, kehadiran jasad kita dapat menjadikan semangat saudara-saudara kita.

Sungguh, jika kita lelah, jangan ikuti nafsu kita untuk ’beristirahat’ dari dakwah. Karena istirahatnya kita kadang melenakan. Bisa jadi kita tidak mau kembali dari istirahat itu. Sebenarnya tidak jadi masalah jika kita istirahat, dakwah akan terus berjalan. Karena dakwah tidak memerlukan kita, kita lah yang membutuhkan dakwah. Tapi tega kah kita pada dakwah? Jalannya akan jadi pincang. Tega kah kita pada saudara-saudara kita? Kita menambah beban kerja mereka, mendzolimi mereka.

Nau’dzubillah.

Bekerjalah. Karena menurut Salim A. Fillah dalam buku teranyarnya. Cinta adalah kata kerja. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal shalih kita. Ya, buktikan cinta kita pada Allah. Dengan kerja tanpa lelah. Karena semua ada balasannya.

Berlelah-lelahlah. Biarkan lelah itu mengejarmu. Hingga lelah pun lelah. Hingga lelah pun menyerah pada cintamu.


Tulisan jadul lagiii
1 desember 2008

Comments

Popular posts from this blog

Tutorial Menjahit Pashmina Instan ala Nurina Amira

Tutorial Bunga Tulip dari Kain Perca

Repurpose : Mengubah Kemeja dan Rok Jadi Gamis Kekinian