Belajar Bersahaja

Saat tahun pertama kuliah di kampus rakyat ini, Institut Pertanian Bogor, saya sempat merasa menyesal. Menyesal karena menolak semua fasilitas yang ayah dan ibu [serta kakek dan nenek] janjikan jika saya bersedia kuliah di kampung halaman saya, Palembang. Menentang keputusan keluarga berarti harus rela hidup dengan fasilitas minim. Hufftt...

Saat saya harus berlelah-lelah berjalan kaki menjelajahi jalanan kampus [yang konon katanya lusanya 10 x luas UI], saya membayangkan nikmatnya duduk di dalam mobil bersama ayah atau diantar aa' dengan motornya. 
Saat harus mencuci pakaian dengan tangan sendiri, saya merindukan sosok mbak Pairah [yang dengan jailnya ibu panggil dengan "Vera" :)]. Mbak Pairah akan dengan senang hati mencucikan baju-baju yang menumpuk ini.
Sepulang kuliah, lelah dan lapar melanda lalu melihat kamar yang berantakan, saya merasa butuh ibu di samping saya.
Tapi sesegera mungkin berusaha bersabar, jika saya tampil lemah itu artinya saya membuktikan pernyataan ayah bahwa saya tidak lebih dari anak manja. Saya harus belajar hidup ala mahasiswa rantau.

Kampus ini mengajarkan saya hidup bersahaja. Mahasiswanya, dosennya, lingkungannya, mata kuliahnya, semua mengajarkan saya hidup bersahaja.

Di sini saya belajar tentang menikmati hidup dengan keringat sendiri. Walaupun rasanya saya berhak tapi malu rasanya hidup glamour di tengah lingkungan mahasiswa yang hidup dengan beasiswa ini. Di kampus ini, sebagian mahasiswa berusaha hidup dari hasil keringatnya sendiri. Di tengah jadwal kuliah yang padat [diakui Indonesia bahwa IPB termasuk kampus dengan jadwal kuliah dan tugas yang padat], mereka masih sempat bekerja part time, mengajar dan berwirausaha. 

Malu rasanya jika memakai handphone keluaran terbaru yang dibelikan orang tua jika harus berhadapan dengan teman-teman yang memakai nokia 3315 yang mereka beli sendiri. 
Malu rasanya jika meminta ini itu ke ayah... Malu rasanya hidup terus-terusan dibayangi harta orang tua. Maka belajar bersahaja di kampus ini membuat saya tidak pernah menyesal memilih IPB, merantau...

Comments

Popular Posts