Ketulusan

Bagi saya... ketulusan adalah saat kita tidak berharap mendapatkan balasan dari apa yang telah kita lakukan. Kita melakukan sesuatu dengan hati yang bersih dan berusaha mempersembahkan yang terbaik bagi semua. Ketulusan itu membuat kita yang tersakiti bisa tersenyum, terzhalimi bisa berdoa untuk kebaikan banyak orang, dan membalas keburukan dengan kebaikan. 

Saya belajar ketulusan dari cara ibu mencintai saya, dalam air matanya saat mendoakan saya, dalam pelukannya setiap mengantar keberangkatan saya, dalam kecupannya setiap menyambut saya, dalam masakannya yang selalu enak, dalam senyumannya yang menyejukkan dan dalam setiap detak jantungnya yang dulu pernah saya rasakan saat saya masih menyatu dalam rahimnya.

Saya belajar ketulusan dari cara ayah mencintai saya, dalam setiap kata-kata bersemangatnya, dalam canda tawanya, dalam peluhnya setiap pulang bekerja. dalam hangatnya tangannya, dalam eratnya genggaman tangannya, dalam lantunan doanya, dalam tatapan matanya yang mulai nanar dan dalam setiap helaan nafasnya yang berirama sendu.

Saya belajar ketulusan dari sebuah pesan yang masuk ke handphone hitam saya dua tahun yang lalu [hebat euy, dua tahun ga ganti hp hehehe...]:
"Perhatikanlah, sesungguhnya tdk ada yg bisa m'buat kita sakit hati kecuali kita mengizinkannya..." 

Pesan singkat itu sampai saat ini masih saya simpan, sesekali saya teruskan pada teman-teman. Bagi saya, itu sebuah inspirasi bahwa saya tidak boleh, tidak boleh, dan tidak boleh sakit hati. Dan yang paling penting, saya juga tidak boleh menyakiti. Prinsipnya karena saya tau rasanya sakit hati sehingga saya tidak boleh menyakiti. 

Mungkin ini terdengar tidak manusiawi [kata temen2 sekelas : prinsip yang terlalu "memalaikat"]. Tapi sungguh indah jika kita bisa seperti itu. Kadang memang ada sakit, kadang memang perih, tak apalah jika ingin menangis, wajar. Tapi ingatlah bahwa kita tidak akan pernah membuat orang lain merasakan hal yang tidak mengenakkan itu.

Menuliskan tulisan aneh ini bukan berarti saya telah tulus. Bukan sama sekali. Tapi saya sedag belajar, dan rasanya penting bagi saya untuk membuat orang lain tau.

Saya jadi ingat seseorang [yang tentu saja tidak mau disebutkan namanya] pernah memanggil saya dengan "Lampu". Bukan, bukan karena saya bisa bersinar jika dihubungkan dengan listrik [hahaha...]. Bukan karena saya bisa membantu ayam menetaskan telurnya. Bukan. Panggilan iseng.

Bagi saya itu doa.. Mungkin ia tidak bermaksud apa2 memanggil saya begitu. Tapi saya "mencoba berbesar hati" menganggap itu doa. Doa agar saya mampu memberikan cahaya. Bukan merutuki kegelapan, tapi menerangi sisi yang gelap. 

Dan bagi saya, kita semua adalah "lampu" bagi hidup kita dan orang-orang yang kita sayangi. Belajar ketulusan berarti belajar membagikan sinar kita pada orang lain tanpa berharap orang lain mengalirkan listrik. Karena kita sendiri memiliki aliran listrik yang kuat yaitu hati tanpa rasa iri dan dengki.

Comments

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar di tulisan ini

Popular Posts