Friday, June 25, 2010

Hati dan Telaga

Ngembat dari notenya mba eka wulida, lulusan terbaik IPB pas wisuda mei 2010 kemaren.

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi,datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Pemuda itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Pemuda itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak mendengarkan dengan seksama.

Beliau lalu mengambil segenggam garam dan segelas air.
Dimasukkannya garam itu ke dalam gelas, lalu diaduk perlahan. "Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya"ujar Pak tua itu. "Asin, asiiiiin sekali", jawab sang tamu, sambil meludah ke samping. Pak Tua tersenyum kecil mendengar jawaban itu.

Beliau lalu mengajak sang pemuda ke tepi telaga di dekat tempat tinggal Beliau. Sesampai di tepi telaga, Pak Tua menaburkan segenggam garam ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, diaduknya air telaga itu. "Coba, ambil air dari telaga ini dan minumlah." Saat pemuda itu selesai mereguk air itu, Beliau bertanya, "Bagaimana rasanya?". "Segar," sahut sang pemuda. "Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?", tanya Beliau lagi. "Tidak," jawab si anak muda.

Dengan lembut Pak Tua menepuk-nepuk punggung si anak muda. "Anak muda, dengarlah….. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam tadi, tak lebih dan tak kurang. Jumlah garam yang kutaburkan sama, tetapi rasa air yang kau rasakan berbeda. Demikian pula kepahitan akan kegagalan yang kita rasakan dalam hidup ini, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu." Beliau melanjutkan nasehatnya. "Hatimu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitanitu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Ya Allah.. Semoga kita semua bias menjadikan masing-masing hati kita seperti telaga… Amiin.. Ya Allah yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkan hati kami dalam petunjuk-Mu.. Amiin.. Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin..

Wednesday, June 23, 2010

White Wedding

Hmmmmm.... tadi gue ngacak-ngacak facebook [hehehe...]. Trus gue nemuin gambar ini... Cantik sangat...
Ini foto pernikahannya salah satu pemain KCB. Gue sih belon pernah nonton KCB trus belon minat nonton heuheu.... Kata sahabat gue, klo nonton ntar jadi pengen nikah. Emmm... pan gue masih lama nikahnya. Jadi gue ga mau nonton dulu ah... [hahaha....ketawa sinting].

Huuuuu... cantik banget mbaknya... pengen nyobain pake baju yang kayak gitu... pengen nyobain bajunya aja... huhuhu....

gejegejebiaseaje...

Monday, June 21, 2010

Bisa Ga? [finally, i found it!]

-->
Setelah melakukan wawancara mendalam dengan beberapa orang, finally i found the answers....

1.      Bisa ga ya kita membuat semua orang yang ada di sisi kita bahagia?
Jawabannya : BISA
Bisa saja, bahagia bagi setiap orang itu berbeda. Ada yg bisa makan nasi sama kecap sudah bahagia, tapi ada yang mau makan Sirloin Steak dulu baru bisa bahagia. Jadi, asal kita bisa mendefinisikan kebagian bagi orang yang ada di sisi kita, kita mungkin bisa membuat mereka bahagia.

2.      Bisa ga ya kita bahagia tanpa melukai orang lain?
Jawabannya : BISA
Bisa, karena kita harus berusaha agar orang lain tidak merasa terebut haknya apalagi sampai terzholimi. Sekuat tenaga, kita harus berusaha melindungi hati orang-orang yang mengenal kita dari rasa sakit.  

3.      Bisa ga ya kita membahagiakan orang-orang tanpa membuat diri kita sendiri terluka?
Jawabannya : BISA
Bisa, kita mungkin akan merasa terluka, tersakiti, terzholimi. Tapi itu hanyalah urusan kita dan hati kita. Urusan ini tidaklah terlalu sulit. Dalam urusan ini, kita bisa mengatur hati kita. Meng-set-nya agar ia tidak merasa sakit. Karena sebenarnya rasa sakit itu utopia, bisa ada bisa tidak. Tergantung diri kita sendiri. Lagi pula, untuk apa sakit hati. Tak memberi solusi. Iya kan???

tidak boleh

ada yang bilang padaku, bahwa aku dilarang menangisi sesuatu yang bukan miliku...

hmmm.... benar... aku tidak boleh menangisi sesuatu yang benar-benar bukan miliku. Bahkan ketika ia hampir menjadi miliku dan Allah berkehendak lain, membuatnya bukan jadi miliku, aku pun tak boleh menangisinya. Itu sia-sia. Menangisi yang bukan milik kita itu sia-sia.

Nah.. tapi semua yang kita miliki saat ini pun bukan milik kita dalam arti sesungguhnya. Semuanya hanya titipan. Jadi klo belum dititipkan, buat apa kita tangisi?

Lalu aku teringat Sheila, seorang anak kecil umur 6 tahun [yang mengalami kekerasan fisik dan mental] dalam sebuah buku yang aku baca. Sheila adalah anak yang tidak pernah menangis. Kenapa? Karena ia tidak ingin orang-orang beranggapan bahwa mereka telah berhasil menyakitinya. Ia tidak mau terlihat lemah. Great....

Ayo des! Harus kuat...
[nah lho.. ada apa denganku???]

Friday, June 18, 2010

bukan aku

saat note ini ditulis, di luar kamarku sedang turun hujan deras, dari media player mengalun "jalanmu bukan jalanku" milik Andra & The Backbone [lagi males ganti lagu], dan mati lampu. Hwuaaaa....

tidak tau mau nulis apa. hanya sedang bosan saja dengan kondisi mencekam tanpa cahaya ini. berfikir sejenak tentang hal yang paling menyenangkan dan kuputuskan untuk menuliskan sesuatu yang tidak penting ini. sehingga aku menyarankan untuk tidak membacanya hehehe...

aku mau jadi hujan yang bisa datang sesuka hatiku untuk menyiram hatimu yang keras itu. meluluhkannya, walau butuh waktu yang lama.
aku mau jadi cahaya yang memberikan sinar agar jalanmu tidak gelap dan kau tidak seperti orang buta. meraba-raba hidupmu.
aku mau jadi bulan yang selalu menyejukkan matamu. karena menurutku walau bulan itu bolong2 dia tetap indah, no one can creat it...

sayangnya...
aku bukan hujan
aku bukan cahaya
dan aku bukan bulan

kalau begitu biarkan aku jadi petir yang mengantarkan hujan padamu [petir atau awan? tau ah..]
biarkan aku jadi listrik yang menyalakan cahaya untukmu [bisa juga jadi minyak tanah, tapi bau euy...]
dan biarkan aku jadi matahari yang membuat bulan bersinar terang di matamu [klo yg ini bener kan?]

hanya agar hidupmu tak lagi membingungkan, kau tidak lagi galau

jika aku bukan bagian dari bahagiamu, maka aku mau jadi perantara kebahagiaanmu
karena bahagia itu mudah bagiku...
semudah menikmati hujan, cahaya yang berkelip2an dan indahnya bulan.... [ah teoriiii.... lho???]

Tidak Suka Biru

Warna ini melambangkan ketenangan yang sempurna. Mempunyai kesan menenangkan pada tekanan darah, denyut nadi, dan tarikan nafas. Sementara semua menurun, mekanisme pertahanan tubuh membangun organisme [gue ga ngerti ni maksudnya apa hahaha...]

1.Biru Tua :
Warna ini melambangkan perasaan yang mendalam. Sifatnya : Konsentrasi, kooperatif, cerdas, perasa, integratif. Pengaruhnya : Tenang, Bijaksana, Tidak Mudah Tersinggung, Ramai kawan.

2.Biru Muda :
Warna ini melambangkan keanjalan dari cita-cita. Sifatnya : Bertahan, Protektif, Tidak Berubah fikiran. Pengaruhnya : Keras Kepala, Teguh, Sering Bangga Diri [jelek amat aah...], Berpendirian tetap.

Menurut Leatrice Eisman, seorang konsultan warna dan penulis buku More Alive With Color, "Biru memiliki arti stabil karena itu adalah warna langit". 

Meski langit kelabu dan akan hujan, kita tahu di atas awan-awan itu warna langit tetaplah biru.

Hmmmm.... jadi gue ga suka biru, tapi sangat suka sekali.... hehehe...

Thursday, June 17, 2010

Seperti inikah seharusnya CINTA???

Judulnya postingan gue lebay ya??? hehehe.... biasa itu mah :P

eemmmm.... itu kutipan judul novel yang sudah 1 bulan ini gue baca 2 kali ulang [semoga ga pernah melalaikan gue dari baca Al Qur'an. Aamiin].

Judul aslinya : "DIA" seperti inikah seharusnya cinta?
a novel by nonier

Novel ini masuk golongan novel cinta kebanyakan. But eniwey ada yg sedikit spesial. Ada pesan-pesan yang gue tangkap dengan cara berbeda. Yang bikin gue tertarik buat baca novel ini.

Pesan pertama udah pernah gue tulis di blog ini... [gue tulis lagi aje ye...]
"Bagaimana mungkin bisa mencintai seseorang begitu rupa sampai tidak menyisakan tempat bagi yang lain. Menurutnya, itu bodoh, tapi toh dilakukannya. Mau bagaimana lagi, dia tidak berencana begitu, tapi itulah yang terjadi. Mencintai dengan sepenuh hati."

Tulisan ini mengkiaskan perasaan tokoh utama dalam novel ini yang jatuh cinta pada seorang pria yang sudah ia kenal sejak kecil. Sayangnya pria ini tidak mengetahui perasaan tokoh utama. Dan pada akhirnya bertunangan dengan wanita lain. Di kalimat lain dikatakan

"Seperti itulah dia. Diam-diam mencintai lelaki itu dengan sangat dan menyimpan sakit tak berperi saat harus mendatangi pertunangannya dengan perempuan lain. Sedikit pun dia tak berniat menyesali atau berhenti mencintai lelaki itu."

Lalu yang menarik buat gue, penulis seolah-olah membalik kalimat itu dengan pernyataan dan pertanyaan
"Kadang, kita mencintai seseorang begitu rupa sampai tidak menyisakan tempat bagi yang lain. Membuat kita lupa untuk sekedar bertanya, inikah sebenarnya cinta?"

Yup, itukah sebenarnya cinta???

Pesan kedua seolah-olah memberikan pencerahan dari pesan pertama yang begitu kontroversial [bagi gue].
"Bukankah memang begitu cinta seharusnya? Memberikan senyum untuk dia yang kita cinta meski diam-diam menumpuk sedih sangat banyak di dalam hati. Dia yakin, seperti itulah cinta."

Nah pesan ketiga yang bikin gue gusar [gue lebay...gue lebay...]
"Namun, saat semua berbalas, keraguan justru menjelma. Seperti inikah cinta yang selama ini dia tunggu?"

Hufff.... gue ngerti...
Intinya mah cinta itu adalah sesuatu yang membingungkan wkwkwkw....
Bukan ding... cinta itu apa ya...

Emmmm..mungkin cinta itu sesuatu yang butuh kesabaran ekstra, ketekunan berlipat dan membiarkan waktu membawanya ke saat yang tepat agar berakhir bahagia.

Kesabaran ekstra seperti yang ada di pesan kedua. Tersenyum dalam perih, tertawa dalam hati yang tersayat-sayat.

Ketekunan berlipat seperti di pesan pertama. Gue juga ga bisa jelasin sih... tapi bagi gue, pesan pertama itu menggambarkan ketekunan yang ganda dari sang pencinta [hoooeeekkkss] untuk terus mencintai sepenuh hati.

Dan cinta itu butuh waktu. Seperti pesan ketiga. Ia butuh waktu yang tepat agar saat semua berbalas, kita tak perlu lagi meragu, kita tak perlu lagi mempertanyakan "seperti inikah seharusnya CINTA???"


-gue lagi demam, jadi males nonton bola-

Wednesday, June 16, 2010

Bahagia Itu Mudah

-->
Bagi gue bahagia itu mudah. Cukup tarik ujung bibir ke atas lalu tersenyumlah dengan hati yang tulus. Klo gue, gue akan merasa bahagia seketika. Tapi kenapa gue jarang tersenyum? Entahlah... mungkin karena senyum hanyalah kabahagian sejenak. Rasanya semu. Saat gue lagi sedih, gue coba tersenyum, gue bahagia, tapi hanya sejenak. Setelah itu kembali sedih lagi.

Cara lain untuk bahagia bagi gue adalah memandangi langit. Luas, begitu indah, begitu menyejukkan. Gue bisa duduk berdiam diri sendirian di atas loteng kostan sambil memandangi langit Bogor. Langit yang warnanya cepat sekali berubah. Kadang terik kadang mendung.

Saat langit Bogor mulai gelap, angin mulai bertiup riang-riang, gue juga bahagia. Gue bahagia melihat daun-daun kuning yang berguguran ditiup angin. Gue bahagia merasakan angin membelai mesra ujung kerudung gue.  Bahagia yang mudah.

Dan saat hujan turun adalah saat yang paling membahagiakan bagi gue yang sedang sendiri. Hujan datang membawa rombongan rintik. Membuat hati gue merasa ramai. Mereka menari-nari di kaca kamar gue, mereka meliuk-liuk di atas genteng, mereka berirama seperti mengajak bicara.  Mereka mengajak gue merasakan dinginnya udara hari itu. Membuat gue menggigil dan gue mau tidak mau harus bahagia dengan kondisi itu. 


Gue bahagia klo liat pelangi... Bagi gue, pelangi itu seperti sebuah harapan. Seolah-olah dia mau bilang
"hujan deras berpetir yang menyeramkan dan menakutkan itu cuma sebentar, setelah itu lo dapet bonus lukisan dari Allah. Ni gue, nikmatin aja..." 


Gue juga bahagia klo ada pengamen dengan gitar gedenya yang nyanyi "buat gue". Gue suka klo dia nyanyinya bagus. Gue bahagia.

Gue juga bahagia klo liat anak-anak kecil tertawa. Alangkah indahnya... 

Gue bahagia menghirup bau rumput yang baru dipangkas di pagi hari. Bercampur bau embun. Rasanya nyaman sekali.
Sebenernya bahagia itu mudah. Kadang kita ga perlu beramai-ramai buat bahagia. Sendirian juga bahagia. Sama kayak saat ini, gue bahagia. Di kamar yang hanya ditemani tivi yang nyiarin bola dan lagu C.I.N.T.A nya d'bagindas yang mengalun dari winamp [menurut Lingga gue jadi alay klo dengerin lagu ini, cuiiiihh...semena-mena]. 

Gejegejegeje....


Tuesday, June 15, 2010

Blog Ini

Membuat blog awalnya sebuah keterpaksaan bagi gue. Ini adalah tugas mata kuliah Penerapan Komputer [interdept] dibawah bimbingan dosen terjenius yang pernah gue temui. Dosen gue ini IQnya di atas 140 [bujuuug...] dan pernah masuk MURI sebagai "sketsa anak pertama". Bapaknya ga galak sih.. Tapi kata-katanya kejam hahaha [lha kok jadi ngomongin orang..].

Satu-satunya alasan gue setuju dengan ide "membuat blog" ini hanyalah jika nanti gue terkenal, ada hal lain yang lebih baik gue lakukan daripada menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh dari orang-orang sepanjang hari. Jadi, blog ini bisa membantu [hahahaha... tengiiiill...].

Misal :
Wartawan 1 : Desni, tolong ceritakan tentang masa kuliahmu?
Wartawan 2 : apakah dari dulu kamu sudah begitu cantik dan cerdas?
Wartawan 3 : pernahkah anda jatuh cinta, desni?

Gue : Ini alamat blog gue. Skarang husss...husss.... [hahahaha....]

Monday, June 14, 2010

Sudahi Perih Ini

Apa yang harus ku lakukan lagi
bila kau tak setia
Karena aku hanya seorang manusia
Yang tak kau anggap

Aku tlah coba untuk memahamimu
Tapi kau tak peduli

Cukup sudah
Kau sakiti aku lagi
Serpihan perih ini
Akan ku bawa mati

Aku mencoba
memberikan segala yang telah aku punya
Namun semuanya hanya sia-sia
Percuma

Sampai kapan
Bisa membuatmu mengerti
Membuat aku bermakna
Dihatimu dimatamu sayang
-d'masiv-

28 tahun ( 7 tahun lagi) tidak terlalu buruk... saya rasa mungkin waktu telah menyembuhkan semua luka haghaghag (ketawa psikopat).. karena waku adalah obat segala macam penyakit..

Thursday, June 10, 2010

Membuat Diri Sendiri Bahagia

Kolokium bukan lagi sebuah mimpi. Sekarang kolokium gue udah bertanggal. Alhamdulillah...

Ternyata persiapan menuju kolki tercinta menimbulkan gejolak tersendiri di tubuhku [lebay]. Badan rasanya deman, tenggorokan kering, pusing, mual-mual, cepet ngantuk hahaha... gejala ape nih? gaje banget dah...

Lalu inspirasi pun datang, gue harus segera ke perpus buat revisi draft kesekian [gue lupa udah berapa kali]. Di perpus gue bertemu makhluk dari planet lain, dari planet Banjar. Ia memanggil dirinya sendiri dengan Inyong [wkwkwkwk... ampun ntin..].

Dengan semena-mena, si Inyong ngajak ngobrol gue yang tampangnya udah kusut, kucel binti kumel layaknya baju yang belum di setrika. Doi ngajak jalan2 sebentar buat refreshing. Sebenernya gue lagi pengen di perpus [dustaaa...]. Tapi bener kok gue lagi betah di perpus [ada cowo cakep ya des? KAGAk...]. Gue lagi bener nih otaknya. Tumben-tumbenan nih.

Sayangnya mental gue belum kuat buat ngadepin rayuan gombalnya si Inyong. Dan akhirnya hari ini gue nyerah hahahaha....

Kami jalan ke Situ Gede yang letaknya di belakang kampus. Dengan dusunnya kita berdua naik bebek-bebekan. Kita baru "ngeh" klo ternyata bebek-bebekan harus dikendalikan pake tuas yang ada di tengah-tengah bebek. Susyeeeehhh bo...

Klo mau belok kanan, tuasnya ke kiri, kalo mau belok kiri harus ke kanan. Aaaarrrgghhh gue jadi inget danau yang lain. Aiiiihhhh kangen :(...

Harusnya cuma 20 menit klo cuma bayar 10rebu. Tapi setelah nego [negosiator bersertifikasi hahaha...] jadinya 10rebu sampe gempor wkwkwkw.... Karena kita pegel banget ngejalanin tuh bebek raksasa, niat awal main bebeknya 1jam jadi cuma 40 menit. Beginilah kondisi di dalam bebek-bebekan


foto favorit si Inyong nih, muke gue ga keliatan [dasar!]

gue rasa tas ntin emang mengganggu [aaaarrrgghhh...]

serasa...


Yang menarik di perjalanan ini, gue bener2 capek lari-larian bareng si Inyong. Ngeliat tempat yang 'keren' dikit, kita langsung ngacir buat foto-foto. Dan biar bisa foto berdua, gue harus 'rela' ngeset kameranya trus lari-larian menuju lokasi foto. Hahaha... dasar gendeng!

"Inyongku sayang... suatu saat nanti, klo kamu main bebek-bebekan lagi, bukan aku yang akan duduk di sebelahmu. Bisa saja seorang pria yang telah menjadi imammu. Ingatlah hari ini, saat kita masih bisa main bebek-bebekan berdua"

Heuheu...

Monday, June 7, 2010

Tak Lekang Oleh Waktu

-->
Ga ada alasan yang jelas buat gue muter lagu ini berulang-ulang...
Lagu yang dibawain sama Kerispatih. Suara Sammy emang ga diragukan lagi bagusnya [walau orangnya bermasalah]. 

Sama, ga ada alasan yang jelas, tiba-tiba lagu  ini berubah lirik. Lebih tepatnya gue ubah...

Seputih cinta ini
Ingin kulukiskan di dasar hatiku
Kesetiaan janjiku
Untuk pertahankan kasihku padaMu

Bukakan mata hati
Ku masih cumbui bayang dirinya di dalam mimpi
Yang mungkin takkan pernah
Membawanya di genggamku
DiriMu di hatiku
Tak lekang oleh waktu
Meski dia bukan milikku
Intan permata yang tak pudar
Tetap bersinar
Mengusik kesepian jiwaku
Ku coba memahami
Bimbangnya nurani
Tuk pastikan semua
 
Tak akan kuingkari
Terlalu banyak cinta yang mengisi datang dan pergi
Namun tak pernah bisa
LenyapkanMu di benakku
 DiriMu di hatiku
Tak lekang oleh waktu

Ya Rabb... rindunya hati ini padaMu. Lama sekali rasanya tidak "dipeluk" olehMu saat hati terasa ringkih. Lama sekali rasanya tidak "bersandar" padaMu saat semua harapan rasanya sirna. Lama sekali rasanya tidak menangis bersamaMu, saat semua rasanya semua berpaling dariku.

Rabb... rindunya hati ini padaMu...

Saturday, June 5, 2010

Seorang Wanita Misterius

Aku pertama kali melihatnya siang hari di sebuah terminal. Ia wanita yang manis. Rambutnya yang hitam pekat dan panjang diikat setengah, sedangkan sebagian lainnya dibiarkannya tergerai indah. Ia memakai blouse putih lengan panjang dan rok batik selutut. Ia membawa tas kecil coklat senada dengan warna batiknya. Ia bertubuh tinggi hampir sama denganku. 

Pada awalnya aku tidak terlalu memperhatikannya, hingga aku tak sengaja melihat matanya. Matanya melukiskan kesedihan dan aku terlanjur menatapnya. Ia tersenyum simpul padaku [yang sungguh terlihat dipaksakan]. Mau tak mau aku membalas senyumnya. 

Ternyata ia menaiki bus yang sama denganku bahkan ia duduk di kursi kosong di seberang kiri kursiku. Aku berniat tidur tapi aku sekarang jadi tertarik untuk memperhatikannya. Hahaha... harus ku akui bahwa aku termasuk orang yang sangat suka mengamati dan menganalisis. Dan matanya itu memancingku untuk memperhatikannya.

Ia tampak menyedihkan dengan wajahnya yang manis itu. Entahlah... matanya itu memberitahukanku bahwa ia sedang merasakan kepedihan. Sepanjang jalan [selama aku memperhatikannya], ia hanya melihat ke jendela dan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke jendela. Sesekali ia menunduk, membetulkan poninya yang terlihat lebih panjang dari semestinya, menghela nafas berat dan menyeka matanya. Ia menangis.

Aku kaget melihatnya menangis dan ia tetap berusaha tenang, tidak menimbulkan isak. Aku menangkap gerak kecil di bibirnya dan sesaat kemudian ia tersenyum. Senang melihatnya tersenyum, wajah manisnya terlihat lebih segar. 

Terminal kedua sudah mulai dekat, aku kembali melihatnya. Ia sedang membereskan dandanannya. Menyapukan bedak tipis di pipinya yang seputih porselen, lalu tersenyum lagi. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah ia sudah tidak sedih lagi? 

Bus memasuki terminal kedua. Benda persegi panjang beroda empat ini berhenti sekitar sepuluh menit disini. Banyak penumpang yang turun dan tidak sedikit pula penumpang yang naik. Wanita tadi terlihat seperti mecari-cari seseorang di antara para penumpang yang masuk. Ia melambaikan tangan dan tersenyum manis sekali pada seorang laki-laki berwajah teduh. Aku pikir itu pasti suaminya [ya kita anggap saja itu suaminya]. Laki-laki itu tersenyum dan berjalan mendekatinya lalu duduk di sebelahnya. 

Bus sudah mulai merayap di jalanan lagi. Aku melihat mereka tampak mesra sekali. Mereka tampak sedang saling merindukan. Laki-laki itu tidak lepas menggenggam tangan kekasih hatinya. Sesekali mengajaknya bercanda. Tapi mereka lebih banyak diam. Sekilas aku sempat melihat wanita itu tertunduk. Oowh.. aku menangkap kesedihan itu lagi. Ia membenarkan poninya, lalu menengok ke arah laki-laki itu dan tersenyum sederhana. Ia pandai sekali mengubah suasana hatinya.

Dua jam kemudian bus ini telah sampai ke terminal ketiga, tempat aku harus berhenti mengamati wanita misterius itu. Tapi tak ku duga, mereka juga turun di sana. Aku pergi meninggalkan terminal dan karena hari sudah sore maka aku putuskan untuk bisa kembali ke terminal ini lagi sesegera mungkin. Aku harus kembali ke kediaman sementaraku sebelum malam larut. 

Setelah satu jam meninggalkan terminal, aku bertemu lagi dengan pasangan itu. Keduanya berjalan kaku. Bergandengan tapi saling diam. Mereka sungguh menarik perhatianku. 

Bus yang menjemputku telah datang. Aku menaiki bus lalu melihat ke luar jendela. Pasangan misterius itu sedang saling menatap untuk beberapa saat sebelum sang wanita naik ke dalam bus yang sama denganku. Aku melihat laki-laki itu menatap lekat kekasih hatinya berjalan dan kemudian berbalik badan tepat saat sang wanita berbalik untuk menatapnya. Wanita itu berjalan kaku mencari tempat duduk. Ia duduk di posisi yang sama dengan saat pergi tadi. Ia memperhatikan luar jendela dan sepertinya memastikan kekasihnya telah hilang dari pandangan. Kali ini ia menangis lebih cepat. Deras. Bibirnya berbisik pelan dan aku dapat menangkap kata-kata yang keluar dari bibirnya. "Hati-hati di jalan".

Aku melihatnya dengan hati bertanya-tanya, kenapa ia menangis. Apa yang menyebabkan ia tampak sedemikian sedih. Laki-laki itu kah? Ah tidak... laki-laki itu tampak sangat mencintainya. Aku bisa menangkap itu dari bahasa tubuh sang laki-laki. Lalu apakah? Sampai saat berpisah di terminal terakhir, aku tak berani menyapanya. 

Ia adalah wanita misterius...
Dalam hati aku berujar : alangkah isengnya aku memperhatikannya hehehe...

Friday, June 4, 2010

Hujan

"Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yg rindu"

rindu... mengapa rindu hatiku tiada tertahan... [tarik maaaanng..]

desni...desni...stop des..
oke..oke... ehm...ehm... [ceritanya ngebenerin kerudung]

Gue pernah baca artikel [ceritanya gue sok bijak], artikelnya tentang hujan dan misterinya. Ada salah satu fakta aneh menurut gue dan odongnya gue percaya hehehe....

Katanya hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu. Wah menurut gue nih, intinya hujan itu bikin kita jadi bengong. Nah klo bengong [ahli bengong bersabda] kita jadi mikir yang aneh-aneh. Dan biasanya kita mikirin hal-hal yang sudah terjadi. Tetesan air hujan yang jatuh perlahan dan menyejukkan [lebay... gue lebay...] memiliki persamaan dengan tetesan air mata. Sehingga yang kita pikirkan [lebih tepatnya "bengongkan'] pada saat hujan turun adalah hal-hal yang membuat kita melankolis.

Coba kita bayangkan klo air hujan yang jatuh menyerupai timpukan bata pas tawuran, kita pasti ga melankolis lagi. Kita pasti udah bermetamorfosa menjadi sosok brutal berambut gondrong, membawa celurit dan berkata-kata kasar [gue ngasal lagi...].

Yah dari analisis gue itu, maka gue simpulkan bahwa hujan emang bikin kita bengong ahahaha....

catatan tak penting 
saat petir mulai bersahut-sahutan
dan aku menunggu hujan turun

Wednesday, June 2, 2010

Mau jadi apa saya sesungguhnya?

Setahun yang lalu, satu siang di kampus IPB dramaga, kami, mahasiswa yang mendaftar menjadi peserta Program Mahasiswa Wirausaha [PMW] dikumpulkan di gedung Graha Widya Wisuda. Ribuan orang mendaftar untuk diseleksi menjadi 150 orang. Hmmm... peluang yang tidak besar...

Gue bersama tiga sahabat ga beres tercinta [Rizka, Ery dan Anis - beliau lebih suka dipanggil Azam haha..] duduk tertegun, terperangah sejak awal acara [sebenernya sampai akhir juga masih begono]. Bingung... Mungkin di dalam hati kami berempat kami bertanya-tanya "ngapain sih kita di sini?" 

Kami berempat nekat mendaftarkan diri untuk menjalankan usaha bersama bernama Salman Creative Art. Sebuah perusahaan mini yang bergerak dibidang souvenir. Sumpah gue masih pengen ketawa klo inget hari pendaftaran. Kacau balau....

Kami celingak-celinguk mencari bangku kosong untuk empat orang dan akhirnya nemu. Di tribun kiri atas... sumpeh, jauh banget... Ya Alhamdulillah lah.. Ada layar besar yang membantu kami melihat atraksi yang terjadi di panggung. 

Hari itu hadir seorang trainer ternama, penulis buku Kubik Leadership, pemilik jargon SUKSES MULIA, bapak Jamil Azzaini. Ada sebuah pertanyaan beliau yang membuat gue terperangah dengan jawaban yang keluar dari bibir seksi gue sendiri. 

Beliau bertanya pada semua audiens"apa cita-cita kalian?".
Tau apa jawaban gue? Dengan santai dan ngasalnya gue jawab "dokter!"   
Bleguk siah....

Jawaban stress seorang Desni Utami itu menyebabkan gue berpikir ulang tentang cita-cita gue sesungguhnya. Kuliah di departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat belajar tentang penyuluhan, komunikasi, psikologi, dan ilmu-ilmu pemberdayaan masyarakat membuat gue sebenernya ga perlu bingung mau jadi apa. Gue bisa kerja di bagian CSR mengamalkan ilmu pengembangan masyarakat, jadi jurnalis, di departemen Pertanian sebagai penyuluh dll. Tapi gue ragu, akankah gue mampu bekerja menjadi pegawai? Akankah gue betah menjadi orang suruhan sedangkan selama ini gue adalah pesuruh sejati [??? Pesuruh? Perusuh hahaha...]

Gue jadi inget impian besar gue [yang menurut gue yg ga punya modal besar ini, tu mimpi terlalu besar]. Gue pengen punya MUSLIMAH CENTER terbesar di Indonesia. Gue pengen banget.... Ya Rabb bantulah hambamu ini...

Gue juga ga pernah lupa impian gue untuk jadi seorang PENULIS dan meraih gelar PROFESOR di usia kurang dari 28 tahun. Dan gue tau jalan utama yang harus gue tempuh saat ini adalah fokus. Fokus nyelesain S1. Trus S2, trus S3 trus post doctoral! Ganbarimasu....


Btw, kapan gue nikahnya? Emmmm... emmmm.... kapan aja dah... suka-suka Allah aja deh ngaturnya... Semoga di saat yang tepat dan dengan orang yang tepat. 
"aku takkan menanti...."

Palembang-Palestina

Ternyata ada hubungannya...