Seorang Wanita Misterius

Aku pertama kali melihatnya siang hari di sebuah terminal. Ia wanita yang manis. Rambutnya yang hitam pekat dan panjang diikat setengah, sedangkan sebagian lainnya dibiarkannya tergerai indah. Ia memakai blouse putih lengan panjang dan rok batik selutut. Ia membawa tas kecil coklat senada dengan warna batiknya. Ia bertubuh tinggi hampir sama denganku. 

Pada awalnya aku tidak terlalu memperhatikannya, hingga aku tak sengaja melihat matanya. Matanya melukiskan kesedihan dan aku terlanjur menatapnya. Ia tersenyum simpul padaku [yang sungguh terlihat dipaksakan]. Mau tak mau aku membalas senyumnya. 

Ternyata ia menaiki bus yang sama denganku bahkan ia duduk di kursi kosong di seberang kiri kursiku. Aku berniat tidur tapi aku sekarang jadi tertarik untuk memperhatikannya. Hahaha... harus ku akui bahwa aku termasuk orang yang sangat suka mengamati dan menganalisis. Dan matanya itu memancingku untuk memperhatikannya.

Ia tampak menyedihkan dengan wajahnya yang manis itu. Entahlah... matanya itu memberitahukanku bahwa ia sedang merasakan kepedihan. Sepanjang jalan [selama aku memperhatikannya], ia hanya melihat ke jendela dan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke jendela. Sesekali ia menunduk, membetulkan poninya yang terlihat lebih panjang dari semestinya, menghela nafas berat dan menyeka matanya. Ia menangis.

Aku kaget melihatnya menangis dan ia tetap berusaha tenang, tidak menimbulkan isak. Aku menangkap gerak kecil di bibirnya dan sesaat kemudian ia tersenyum. Senang melihatnya tersenyum, wajah manisnya terlihat lebih segar. 

Terminal kedua sudah mulai dekat, aku kembali melihatnya. Ia sedang membereskan dandanannya. Menyapukan bedak tipis di pipinya yang seputih porselen, lalu tersenyum lagi. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah ia sudah tidak sedih lagi? 

Bus memasuki terminal kedua. Benda persegi panjang beroda empat ini berhenti sekitar sepuluh menit disini. Banyak penumpang yang turun dan tidak sedikit pula penumpang yang naik. Wanita tadi terlihat seperti mecari-cari seseorang di antara para penumpang yang masuk. Ia melambaikan tangan dan tersenyum manis sekali pada seorang laki-laki berwajah teduh. Aku pikir itu pasti suaminya [ya kita anggap saja itu suaminya]. Laki-laki itu tersenyum dan berjalan mendekatinya lalu duduk di sebelahnya. 

Bus sudah mulai merayap di jalanan lagi. Aku melihat mereka tampak mesra sekali. Mereka tampak sedang saling merindukan. Laki-laki itu tidak lepas menggenggam tangan kekasih hatinya. Sesekali mengajaknya bercanda. Tapi mereka lebih banyak diam. Sekilas aku sempat melihat wanita itu tertunduk. Oowh.. aku menangkap kesedihan itu lagi. Ia membenarkan poninya, lalu menengok ke arah laki-laki itu dan tersenyum sederhana. Ia pandai sekali mengubah suasana hatinya.

Dua jam kemudian bus ini telah sampai ke terminal ketiga, tempat aku harus berhenti mengamati wanita misterius itu. Tapi tak ku duga, mereka juga turun di sana. Aku pergi meninggalkan terminal dan karena hari sudah sore maka aku putuskan untuk bisa kembali ke terminal ini lagi sesegera mungkin. Aku harus kembali ke kediaman sementaraku sebelum malam larut. 

Setelah satu jam meninggalkan terminal, aku bertemu lagi dengan pasangan itu. Keduanya berjalan kaku. Bergandengan tapi saling diam. Mereka sungguh menarik perhatianku. 

Bus yang menjemputku telah datang. Aku menaiki bus lalu melihat ke luar jendela. Pasangan misterius itu sedang saling menatap untuk beberapa saat sebelum sang wanita naik ke dalam bus yang sama denganku. Aku melihat laki-laki itu menatap lekat kekasih hatinya berjalan dan kemudian berbalik badan tepat saat sang wanita berbalik untuk menatapnya. Wanita itu berjalan kaku mencari tempat duduk. Ia duduk di posisi yang sama dengan saat pergi tadi. Ia memperhatikan luar jendela dan sepertinya memastikan kekasihnya telah hilang dari pandangan. Kali ini ia menangis lebih cepat. Deras. Bibirnya berbisik pelan dan aku dapat menangkap kata-kata yang keluar dari bibirnya. "Hati-hati di jalan".

Aku melihatnya dengan hati bertanya-tanya, kenapa ia menangis. Apa yang menyebabkan ia tampak sedemikian sedih. Laki-laki itu kah? Ah tidak... laki-laki itu tampak sangat mencintainya. Aku bisa menangkap itu dari bahasa tubuh sang laki-laki. Lalu apakah? Sampai saat berpisah di terminal terakhir, aku tak berani menyapanya. 

Ia adalah wanita misterius...
Dalam hati aku berujar : alangkah isengnya aku memperhatikannya hehehe...

Comments

Popular Posts