Sunday, July 25, 2010

Bentar Lagi...

16 hari lagi....
Hayo tebak apaan yang 16 hari lagi? Yuuup... Ramadhan [baca: romadhon].
Kudu banyak persiapan nih, fisik, ruhiyah, fikriyah...

Nah, kebetulan amat nih lagi musim pancaroba, apalagi buat yang lagi penelitian di luar kota, jangan kaget klo di Bogor hujan setiap hari, di lokasi penelitian anget2 gimana geto... Atau seperti saya yang penelitiannya di atas bukit daerah pesisir selatan Jogja. Siangnya sejuk semriwing, malem dingin tiada tara...

Dan puncaknya adalah lagunya Afgan, terima kasih cinta...

"terkapar... di dalam sepiku...
setelah jauh melangkah...."
hahaha....

Ayo, 16 hari lagi...
harus bisa jadi lebih sehat jasadnya, sehat fikriyahnya, juga sehat ruhiyahnya [owalah... ruhiyah ku T.T....]

-bener2 ga penting ni tulisan gw-

Saturday, July 24, 2010

Mengeluh

Mengeluh itu manusiawi, iya kan?
Tentu... tapi adakah orang yang senang mendengarkan keluhan?
Tentu ada, tapi tidak selamanya ia akan senang, ada saatnya ia bosan mendengar keluhanmu.

Perhatikan apa-apa yang membuat kita mengeluh. Kadang, sadar atau tidak, kita bahkan sering mengeluhkan sesuatu yang tidak penting. Misalnya saya, saya mengeluh sakit kaki binti pegel-pegel, keluhan itu tidak penting,, kenapa? Karena ngeluh ga akan membuat kaki saya baikan hehe...

Jaman facebook macam sekarang, orang-orang akan mengeluhkan apapun, hal-hal yang tidak penting, hal-hal yang tidak seharusnya dipublish [pertengkaran rumah tangga misalnya], hal-hal yang ternyata klo kita keluhkan mempermalukan diri kita sendiri.

Orang-orang tidak akan senang mendengar keluhan, keluhan hanya akan membuat [kebanyakan] orang menjauh. Realistis saja, orang lain tentu juga punya masalah, dan ia tentu tidak akan senang mendengar dirimu memperkeruh suasana hatinya dengan keluhan-keluhanmu.

Pesan saya, hati-hati dengan status FBmu [lha...] hehe....

Mari mencoba seperti pak mario teguh yang statusnya selalu memotivasi, menginspirasi, tapi tetap jadi diri sendiri, tentunya jadilah diri sendiri yang selalu lebih baik...

Tuesday, July 20, 2010

Ontel

Aku sudah bercerita tentang kondisi transportasi di karang kulon, wukirsari, imogiri, bantul, jogja ini kan? Jadi masih ingat kan klo disini ga ada angkot sama sekali. Nah, dua hari yang lalu, saya harus mem-fotocopy beberapa lembar kuesioner, lokasi fotocopy dan rumah sekitar 10 menit bersepeda. Bersepeda? Iya... selama tinggal disini saya bertemankan sepeda ontel milik tetangga depan rumah hehe...

Nah kemaren, karena penasaran mau makan eskrim, jadi aku putuskan untuk mencari eskrim. Ternyata sangking pelosoknya wilayah ini, beli eskrim sampe 30 menit naik sepeda non stop. Bujug... pulang-pulang gempoooor...


Saturday, July 17, 2010

Mendidik Anak

-->
Thursday, 15 July 2010
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.

Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.

“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.

Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna),tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orangorang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat tumbuh.Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti. (*)

RHENALD KASALI
Ketua Program MM UI




Source: http://www.seputar- indonesia. com/edisicetak/ content/view/ 338297/

tulisan ini diembat dari milist anak2 yang suka main silat-silatan haha..

Thursday, July 15, 2010

Hari kedua... [14072010]

Menulis ini ditemani siaran radio sore, yang diputer lagunya jikustik yang dinyanyiin ulang sama seorang perempuan yg ga ku tau namanya, saat kau tak disini.
Ini hari kedua diriku berada di Provinsi DI Yogyakarta. Paginya aku disambut dengan radang tenggorokan dan tubuh panas tinggi. Kenapa ya? Biasanya ga begini. Masa karena akan ditinggal ayah sendiri di Bantul? [jiaaah...mata gw berair-air].

Karena kesalahan teknis, ayah tidak jadi berangkat hari ini. Ayah baru berangkat besok. Tapi tetap saja jam 2 siang tadi aku harus berpisah dengan ayah. Ayah bermalam di Bantul dan aku sendirian di Wukirsari [tepatnya dukuh karang kulong]. Huwaaa.. sepiiii...

Yah tapi setidaknya tadi sempat jalan2 bareng ayah ke pantai parangtritis. Oke, ombaknya keren banget... Pelabuhan ratu ga gitu deh kayaknya.... heuheu...
Tadi aku memakai pakain seperti biasanya. Lengkap. Kerudung instan hitam, kemeja putih, rok bahan hitam, kaos kaki dan sendal gunung. Aneh ya klo pake baju begitu di pantai??? Turis-turis yang ada di sana pada sibuk ngajakin foto bareng. Ya scara org sanguin, diajakin foto mah hayu aja hahaha...

Di pantai kerjaanku main2 sendiri dengan ombak, ayah berdiri agak jauh sambil ngawasin diriku [eh, aku udah 21 ya? Hahaha..lupa...]. Menuliskan namaku di pasir, berlari-lari menghindari ombak, mendekati kuda, foto bareng kuda, berteriak-teriak haha.. kadang kita memang perlu sesekali jadi anak kecil. Ayah tertawa, dan aku senang melihatnya tertawa seperti itu. Belakangan ini ayah sering kelihatan sedih jika membicarakan aku yang sudah 21 tahun. Mungkin ayah berfikir, sebentar lagi anaknya akan dibopong orang. Sebenernya aku mau bilang “tenang yah, masih lama, belum ada orang yang bisa mencintai diriku sepenuh hati, seperti ayah mencintaiku, belum ada heuheu..”

Kembali ke topik sebenernya. Kami pulang dari pantai sekitar jam 12.30. Trus setelah itu kami langsung ke desa wukirsari, dan aku mulai menginap di rumah bapak kepala dukuh, pak Daldiri dan ibu Syam.

Sekarang, disinilah aku, tanpa sinyal m3 [boro2 m2]...
oh ya, disini ada mahasiswa dari UG* dan Sanata Darma. Mereka jumlahnya puluhan. Mahasiswa U*M sudah datang duluan dan Sanata Darma baru mulai menginap senin depan. Hmm... 
Menurut hasil nongkrong sore2ku bareng ibu2 di sini, mereka bilang "mahasiswa sekarang cuek2 ya mbak, kayak ga peduli sekitar gitu lho, ga sosialisasi sama masyarakat sini. Boro-boro ikut ngobrol kayak mbak, nyapa aja ndak toh mbak...."

Ups! Kecewa deh saya, padahal mereka sudah 3 hari di sini, tapi belum di kenal sama masyarakat. Ayo temen2, yang mau penelitian, KKP, KKN, praktik lapang atau apalah, jangan lupa bergabung dengan masyarakat, jangan eksklusif, kita ga lebih baik dari masyarakat desa ini kok... Oke..Oke...

Besok2 saya bertekat mau nyapa "sang mahasiswa" itu duluan...

Tuesday, July 13, 2010

Here I'm...

Tiga bandara internasional hari ini. Sekarang aku sudah berada di Bantul. 

Oke... harusnya malam ini diriku menginap di Wukirsari, desa - real "desa" i think, lokasi penelitianku. Tapi kedatanganku yang menurut mereka "tanpa prediksi" membuat mereka belum bisa menampungku di desa itu hahaha... So here i'm.. Bantul..

Mau ku ceritakan sedikit tentang Wukirsari? Oke pasti mau hehe..
Begini, Wukirsari itu desa yang luar biasa terpencil. Imejin [imagine hehe..], disana sinyal provider handphone utamaku [halah!] cuma segaris... dan waktu ku cek sinyal internetku, no line haha.... ga ada garisnya...

Desa ini ada di kaki bukit, you know, di sana GA ADA ANGKOT... kebayang??? disana ga ada angkot, apalagi mall, salon muslimah atau sekedar minimarket hoho... Dan kerennya, klo mau makan bakso [my favourite food], aku harus mengayuh ontel sekitar 15 menit ke "bawah".. Ya Allah... This is a risk klo kamu ga bisa mengendarai apapun selain otopet dan sepeda hehehe.... [bayangin gw naik otopet kayak poo nya teletubbies, imut kan haha..]

Di sini everyone speak in JAVA... ooooww... dan aku tak mengerti apapun selain nggih, ora, ojo, aku tresno karo kamu kakakakakak....

Aku benar-benar berharap aku ada di sana hanya dalam 10 hari. Sungguh-sungguh berharap. 

Oh ya tadi setelah landing di Adisucipto international airport, kami dijemput oleh pak Dwi. Pak Dwi ini sepupunya Mas Jono, tetangga sebelah rumahku. Dari bandara, kami melewati plang yang bertuliskan MALIOBORO, jantungku kebat-kebit ga beraturan, teringat seseorang yang "hidup" di otakku... Aku rasa otakku memang tidak beres haha..

Dan pada akhirnya aku menutup tulisan ga pentingku dengan kalimat yang aku embat dari si vampire seksi, Edward Cullen "
-->I don’t have the strenght to stay away from you anymore.." dan taukah kamu aku merindukannya teramat sangat [ngomong ape sih gw... haha..]

Monday, July 12, 2010

Final Piala Dunia

Empat tahun yang lalu, gue masih inget di ruangan yang sama, bersama orang yang sama, melakukan kegiatan yang sama, nonton siaran yang sama, Pertandingan Final Piala Dunia.

Empat tahun yang lalu, nontonnya tanggal 9 Juli 2006. Pas banget besoknya gue harus ikut SPMB [Seleksi Penerimaan Mahasiswa Beruntung hehehe...]. Malemnya disuruh ayah ga belajar buat SPMB hahaha... Alhamdulillah lulus juga di kampus impian [lebay, IPB doang :)) ]

Wah empat tahun lagi, gue nontonnya masih di ruangan yang sama kah? dengan orang yang sama kah? Wallahu'alam...

Monday, July 5, 2010

antara logika dan perasaan

Katanya kaum saya [hawa] adalah kaum yang banyak menggunakan perasaan, lebih banyak daripada menggunakan logika heemmmffftt... [antara mendengus dan narik nafas???]. Tapi klo dipikir-pikir, kalo semuanya pake perasaan kayaknya ga kelar-kelar kerjaan.

Kayak sekarang nih, ada gadis manis usia 21 tahun 7 bulan pas, yang lagi ngeberesin revisi proposal penelitiannya tapi pake perasaaan. Dia pake perasaan capek, bosen, males, melow, pengen pulang, pengen jalan-jalan, pengen belanja, pengen ngemil, dan semua yang aneh-aneh. Bisa diperkirakan hasil kerjaanya kan?

Yup, udah dua jam duduk di depan layar burem laptopnya, hasilnya cuma dua baris kalimat baru, plus mindah-mindahin paragraf yang lama. Hebat ya....

Yaeyalah hasinya cuma segitu, seoalnya ga fokus sih... Baru nulis trus bingung bukannya dipikirin tapi malah nyalain tipi, bosen nonton nyalain media player trus nyanyi-nyanyi dengan suara barbar mengguncang kostan [hahaha...]. Dua jam berlalu baru sadar klo revisinya belum beres [hadooooo....]

Jadi intinya, gadis tadi harus mencoba mengorganisir [halah!!!] perasaannya dan menggunakan logika demi kelulusan sebelum ramadhan tiba [ganbatte.....]. Peringatan bagi teman2, tindakan amoral ini jangan ditiru.

Bantuuuullll... i'm coming...

lagi evaluasi diri sendiri, biar semangat lagi

Saturday, July 3, 2010

Brazil Belanda Semalem

Semalem nonton bola heboh banget. Nontonnya mah sendirian [teteup] tapi komennya bareng2. Sambil nelpon ayah, sambil ngeledek aa' [panggilan buat adekku tercinta] via telpon, sambil smsan sama temen, sambil chat, sambil baca update status dan semuanya jadi lucu...

Gue sih ga mendukung siapapun, soalnya inggrisku tersayang dikalahkan jerman [yang curang] 4-1 huhuhu... harusnya inggrisku sayang dapet 2 gol, tapi ga dianulir. Menyebalkan!!! Ya walau teteup aja inggris kalah heuheu...[paitpaitpait...]. 

Oke back to main object. Jadi selama pertandingan Brazil Belanda gue ngakak sendirian di kamar. Lucu aja tuh Belanda curang. Wasitnya curang. Wah pokoknya ga oke banget. Tapi gue salut sih sama Brazil, dia ga nyerah walau udah dicurangi.

Menurut gue [komentator bola abal-abal stres plus barbar] permainan bola semalem dikuasai sama Brazil. Gile, tu bola kayaknya nempeeeel gitu di kaki pemain Brazil. Dikasih lem kali ye?

Permainan udah selesai, beuh pas liat update-an status temen2 rata2 isinya tentang bola. Gue sih pengen ngupdate juga, tapi males ah... cuma euforia. Dan orang-orang spesial ga ikut-ikutan euforia, tapi bikin euforia sendiri hohoho.... [ingat itu teman] Jadilah gue komenin tuh status2 'tragis' ala pendukung Brazil. Tentu saja gue komennya pake otak jail binti usil dan ga pake hati kekekekek.... 

Gue chat sama beberapa temen, tapi ada satu 'temen' gue yang idiot, gila, sinting, psikopat, munchausten, skizofrenia [hahaha...ampun..ampun..] yang pas chat bikin gue ngakak abis-abisan, isinya komen tentang betapa magisnya Afrika Selatan.

Mau tau aksi kami??? [kekekek...] simak aja tapi ada beberapa gubahan karena bahasa yang kami gunakan adalah bahasa orang sinting yang ga berperike-belanda-an. Cekidot [bekicot, keceprot... apasih des...]
T  = Temen gue yang kena penyakit jiwa wkwkwk...
D = Desni keren sekali indah berseri sepanjang hari hahaha..

T : Belanda busuuuukk, belanda ga fair...

D : Penjajah kita sih,  dia menjajah kita 3,5 abad gimana ga curang coba...

T : hahaha... gawang kiri emang parah... tiap yang dapet gawang kiri pas babak akhir pasti dapet kekalahan [musyrik perlahan... tekdungdungtek]

D : hahaha... iya apalagi klo ada tim besar yang pake baju biru, dia pasti pulang, liat aja prancis, italy eh skarang brazil... [pelan tapi pasti mendekati musyrik dungdungdung....]

T : hahaha....

D : kutukan baju biru [lupa diri kalo suka biru]

T : hahaha... kayak kamu!!!

D : kurang ajyaaarrr... ciaaat...ciaaat... tendangan maut... eh jangan2 juara dunianya Ghana nih..

T: hahaha... bisa-bisa, afrika emang mistis, yang bagus2 kalah...
[kita berdua sependapat klo Ghana ga masuk kategori "yang bagus2" hehehe...]

D : iya ghana juara dunia asal ga pake baju biru

T : dan ga di gawang kiri...

D : siapa sih wasitnya? dari mana asalnya? [mulai belagu serasa tukang pukul]

T : klo ga jepang ya korea, china2 gitu...

D : [baru inget] Jepang!!! wah dasar... dia juga penjajah kita... 3,5 tahun....

T : hahaha... wajar dia curang ya.. hahaha...

D : hahaha... brazil dikalahin persija hahahaha...

T : kesel..kesel..busuk..busuk..[ceritanya dia sebel brazil kalah]

D : bwahahaha... [ketawa diatas penderitaannya..]

T : eh idol siapa yang pulang ya? [dia langsung lupa kesedihannya...greaaat]

D : ehh.... siapa ya...blablabla...

dan percakapan pun diakhiri dengan "windra pulang malam ini" saudara-saudara...

Friday, July 2, 2010

Cengcengcengceng...

-->
Balik lagi pake bahasa semau gue...
Oke, ceritanya dimulai saat gue berevolusi dari Sleeping Beauty menjadi Cinderella kesiangan kagak sholat subuh. Bangun tidur gue langsung ngaca. Mata gue yang indah itu ternyata agak sembab. Gue habis nangis kah? Kapan kah? Oh iya, semalem...

Gue nyalain media player muter lagu2 jadul [sejenis broken vow, againts all odds, dll] plus lagu2nya kahitna yang miris abis [menanti, sebatas mimpi, cinta sudah lewat dkk]... Gue nangis lagi. Hati gue kacau... Ya Alloh...

Gue terduduk disamping tempat tidur, pusing...
Masuk ke kamar mandi, nyalain shower dan masih dengan pakaian lengkap duduk di bawah shower, nangis lagi... gue berhenti nangis saat mulai merasa kedinginan plus baru sadar klo bajunya basah artinya gue harus nyuci sendiri hohoho... tidaaaaakkkk... teteh...

Aaaaahhhh.... tahun 2010 ini tahun yang berat buat hati gue. Gue rasa gue yang terlalu tega sama hati gue sendiri, gue jahat sama hati gue yang rapuh ini. Sudahlah...

Gue ganti lagunya jadi nasyid, aaahhh... gue pusing
Diganti jadi murotal gue kepanasan heheheh.. engga dink, gue nangis, trus jadi ngantuk, ketiduran lagi deh.... hehehehe....
Intinya mah gue ngantuk abis hari ini.... hoaaaammmm.... [badangueremukredam]

smile smile alone hahaha....

-->
Jam 23.02 WIB, aku baru terbangun 15 menit yang lalu. Segera menyalakan lappie dan menulis. Saat aku menuliskan catatan sangat tidak penting ini, aku sedang tersedu-sedu tidak penting hehe... kepalaku pusing dan tulangku sedang butuh dokternya. Tapi hari ini aku merasa bahagia sekali. Entahlah aku bahagia hingga meneteskan air mata. Jadi air mataku ini namanya air mata bahagia tidak penting. Rasanya seperti kemarau selama lima bulan lalu disiram hujan deras. Menyenangkan.

Hari ini aku senyum-senyum sendiri. Padahal hari ini aku sedang membaca buku tentang kematian, buku tentang anak yang menderita leukimia dan ia meninggal. Buku ini seharusnya membuatku sedih, tapi tidak, aku sedang bahagia hingga tak terpikir rasa sedih sedikitpun.

Aku mencegah hatiku untuk tidak terlalu bahagia, aku juga berpikir untuk tidak terlalu ge-er, mungkin hanya mimpi. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak berhasil mencegah hatiku untuk terlalu bahagia. Aku bahagia hingga tidak bisa mencegah pipiku memanas dan aku ge-er sekali [blushing...blushing...].

Tau kenapa aku bahagia? Karena hari ini aku bertemu dengannya setelah berbulan-bulan tak bertemu. Horeeeeee......
Nb : Ini rahasia kita, jangan beritahu dia klo aku senang bisa bertemu ia [blushing..... seeeerrrr]. Aku rasa aku harus menulisnya agar aku tidak lupa betapa aku bahagia hari ini [senyum manis ala gue – senyum jail]