Mbah Maridjan dan Keteguhan

Saya pagi ini di sms oleh seorang sahabat, ia menanyakan kabar tentang penelitian saya di Jogja yang belum selesai (dan saya tinggalkan). Ia khawatir jika saya berangkat ke Jogja. Terlalu bahaya. Kemarin gunung meletus dan pagi ini Jogja gempa lagi. Saya kurang tau pasti berapa besarnya gempa, saya hanya membaca sekilas dari status FB teman yang sedang berada di Jogja.

Teman saya yang meng-sms saya tadi juga bertanya, “lo ga ngelayat mbah marijan ya?”. Saya malah kepikiran, mbah Marijan itu meninggalnya khusnul khotimah atau sebaliknya ya? Hmmm.. Lalu saya menemukan sebuah artikel, tulisan kakak kelas saya di kampus. Kak Ibot. Judulnya “Mbah Maridjan, Layak Dipuji atau Dicaci?”. Artikel asli bisa di baca di sini.

Sang juru kunci Merapi meninggal dalam keadaan sujud. Siapa yg tidak ingin meninggal seperti itu?. Salah satu ciri kemuliaan dalam menjemput kematian. Dan tersirat pada jasad mbah Marijan.
Sebenarnya mana yang lebih tepat diberikan pada mbah Marijan. Pujian atau cacian? Tindakan beliau memang memancing pro dan kontra. Secara logika dan pertimbangan kemanfaatan, semestinya bliau mengambil langkah untuk menyelamatkan diri. Langkah yang diyakini banyak orang sebagai langkah paling tepat. Bukan hanya untuk menyelamatkan diri sendiri, tapi karena mbah Marijan merupakan tokoh yang disegani, tingkahnya diikuti masyarakat. Kesalahan sedikit berakibat fatal, bukan hanya untuk dirinya, tetapi orang-orang yang mengikutinya. Lima belas korban yang meninggal disekitar rumah mbah Marijan dianggap sebagai akibat pilihan membahayakan yang diambil oleh lelaki ‘roso’ ini.

Karena alasan inilah pendapat-pendapat miringpun muncul di facebook. Bahkan ada yang menulis tindakan ini disebut sebagai -maaf- ketololan, karena dianggap tidak bijak dalam mengambil keputusan, dan terkesan ‘menghalangi’ program zero tolerance dalam penanganan bencana. Kasar memang, tapi itulah pendapat.

Disisi lainnya, pengguna FB yang lainpun mengungkapkan, bahwa beliau pernah diskusi dgn warga Cangkringan, ternyta mbah Marijan selalu berpesan pada warga untuk mengikuti anjuran pemerintah untuk meninggalkan Merapi, meskipun bliau tidak turun. Terbukti asisten dan keluarganya selamat dari tragedi ini.

Teringat ketika Merapi meletus pada tahun 2006, mbah pernah berkata bahwa bliau tidak akan pergi dari merapi kecuali diminta langsung oleh Sri Sultan HB IX. Sultan yang mengamanahkan merapi, tapi telah wafat puluhan tahun silam. Bahkan bujukan Sri Sultan HB X pun tidak digubris. Kemudian beliau dengan gagah berani malah berlari menuju kearah gunung disaat penduduk yang lain mengungsi. Membuktikan keteguhannya, dan (anehnya) bliau selamat. Menguatkan kesan “roso” yang menempel pada lelaki tua itu, sekaligus menebar aroma klenik dan mistis yang tajam. Entah kebenaran aroma ini, karena di sisi lain beliau dikenal sebagai orang yang kental beribadah, dan itikafnya pun kuat.

Saat Merapi ‘terbatuk’ kemaren, pengamatan empiris mbah Marijan salah. Dalam kesederhanaan di sudut rumah, mbah meninggal dengan posisi kepala yang serendah-rendahnya sejajar tanah, posisi yang disebut Tuhan sebagai posisi yang sangat tinggi. Hanya Allah yang tahu, bagaimana nilai kematian mbah. Karena bagi sebagian orang, mbah adalah simbol mistis (syirik) dan ketidakbijakan.
Terlepas dari pro dan kontra, bagaimanapun sy belajar, mbah adalah potret orang biasa yang terangkat karena keteguhan prinsipnya. Lakunya berkata tentang amanah, kesetiaan, dan tanggung jawab yang pantang dikhianati, untuk menjaga gunung merapi sampai beliau mati. Sosok abdi yang benar-benar mengabdi. Laku sederhana yang dibuktikan dengan nyawa. Beda dengan orang-orang yang banyak berbicara, berkomentar, namun komitmennya hanya diujung bibir. Istilah Jawanya.. JARKONI: Ujar ra iso nglakoni (banyak bicara, tapi tak bisa menjalankan). Sesuatu yang sangat dimurka oleh Allah.

“Jangan terkaget bila nanti orang yang kau sangka ahli neraka berlari kencang menuju syurga. Sedangkan kau sendiri ternyata merangkak ketakutan ke arah syurga” tulis salah seorang kawan dalam status Facebooknya. Tak jelas siapa yang dimaksud. Tapi yang pasti, kita bukan hakim, dan tak berhak menuduh atau mengklaim nilai kematian seseorang.

Mbah marijan mungkin dianggap legenda merapi. Dan seperti legenda lainnya, selalu penuh kontroversi.

Mungkin bukan urusan kita mencaci atau memuji mbah Marijan. Urusan kita saat ini adalah mendoakannya dan korban bencana lainnya. Wallahu’alam.

Comments

  1. lg di jogja?
    ketemuan yuk
    aku kuliah di ugm

    ReplyDelete
  2. engga mba, saya masih di bogor hehe.. ntar klo ke jogja lagi, saya kabari mba kikiy lewat blognya hehe..

    ReplyDelete
  3. iya,
    jangan menjudge seseorang.
    hanya Allah yang mengetahui bagaimana hatinya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar di tulisan ini

Popular posts from this blog

Tutorial Menjahit Pashmina Instan ala Nurina Amira

Tutorial Bunga Tulip dari Kain Perca

Repurpose : Mengubah Kemeja dan Rok Jadi Gamis Kekinian