Tuesday, November 30, 2010

Buku

Ia masuk ke dalam golongan insecta (serangga). Ukuran tubuhnya kecil, di bawah 1 mm. Masuk ke dalam subkelas Abterygota dengan ciri-ciri :
1. Tubuh berwarna perak dan tidak memiliki sayap
2. Tidak mengalami metamorfosis (dari telur langsung menjadi imago)
3. Thoraks dan abdomen tidak memiliki batas yang jelas

Ia mempunyai kemampuan merusak buku dan pakaian yang dikanji, dan menghasilkan enzim selulosa yang berguna untuk mengubah selulosa menjadi gula sederhana. Memiliki antena panjang dan tidak berbuku-buku (Thysaruna). Ia hidup di daerah lembab. Yup Lepisma saccharina adalah kutu buku.

Dalam bahasa Indonesia kutu buku juga punya arti lain.


Kutu Buku atau mudahnya gila buku adalah seseorang dengan perasaannya cinta berlebihan terhadap benda yang bernama buku, gemar membelanjakan uangnya untuk membeli buku, bahagia bila diberi buku. Senantiasa berbinar-binar bila melihat buku kesukaannya dengan sampul yang masih bagus. Atau bisa juga dikatakan Kutu buku adalah seseorang yang kecintaan berlebih terhadap aktivitas membaca buku.
rak bukuku

Kutu buku tentunya senang membaca buku, buku siapapun yang menarik minatnya. Tidak harus beli, karena yang penting isinya. Gila Buku ini senang pada bukunya, ingin memiliki dan (bercita-cita) membacanya. Gila buku tidak segan mengalokasikan penghasilannya untuk membeli buku baru, bisa kalap di bazzaar buku.
(klik disini untuk mengetahui sumber)


Mungkin saya bisa masuk kategori kutu buku, saya mencintai buku, saya kadang merasa "lapar" kalau sudah lama tidak membaca buku. Kacamata miopi yang sehari-hari saya gunakan ini mungkin adalah dampak dari kebanyakan membaca buku.

Oh ya, saya rada sedih sih klo ada yang menggambarkan kutu buku itu dengan orang yang penampilannya menyerupai "idiot". Penggambaran yang miris, bagaimana orang-orang akan suka membaca jika orang yang suka membaca dianggap "kuno". Bagaimana bisa lahir banyak orang cerdas jika orang-orang cerdas digambarkan "kuper". Kok saya ga pernah nemu ya anak cerdas di kampus saya yang penampilannya seperti orang idiot. Mereka tampil seperti pemuda lain di masanya. Nothing wrong lah....

Saya mempunyai agenda ke toko buku minimal satu kali dalam satu bulan. Jika dihitung, minimal saya punya 12 buku dalam setahun. Sayangnya terkadang saya lupa mencatat siapa peminjam buku-buku saya, sehingga sang buku kadang hilang begitu saja padahal buku itu mungkin buku favorit saya.

Beberapa buku yang belum kembali dan sangat saya rindukan : Toto Chan, Setengah Isi Setengah Kosong, Diorama Sepasang Al Banna, Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan Edensor, Pudarnya Pesona Cleo Patra, Menuju Jama'atul Muslimin, Risalah Pergerakan 1, Hafalan Sholat Delisa, dan masih banyak lainnya. Klo dihitung-hitung bisa sampai 1 rak buku lagi. Kembalikan bukukuuuuuuuuuuuuuu huhuhu....

Saya juga pelahap buku sampai habis. Kalau sudah pegang satu buku, sayang sekali klo tidak saya baca sampai tuntas. Termasuk diktat perkuliahan [walau dibacanya setelah ujian selesai dan sudah lewat masanya hahaha...]. Saya paling suka membaca diktat Psikologi Sosial dan sangat tertarik pada bidang Pengembangan Masyarakat Bencana [yang akhirnya saya jadikan tugas akhir saya].

Buku-buku berat

Novel adalah jenis buku kesukaan saya, terutama novel psikologi. Saya bisa membaca novel habis dalam waktu semalam suntuk [tanpa tidur]. Saya biasanya akan mengutip [quote] kata-kata menarik dalam buku yang saya baca. Beberapa quotes favorit saya misalnya :

Cinta adalah kata kerja (Salim A. Fillah dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang)

Hidup terlalu istimewa untuk dilewatkan dengan cara biasa-biasa saja (Dee dalam bukunya Perahu Kertas)

novel-novel

Oh iya, saya bersyukur sekali atas akses internet yang mudah saat ini. Saya yang kutu buku dan masih mahasiswa [plus penjual martabak manis] ini sangat bersyukur karena jika  kantong saya tidak kuat untuk membeli buku saya bisa baca-baca di internet. Walau tetap saja keinginan punya buku itu terlalu hebat untuk otak saya lawan [hehehe...lebay deh gw...].

Saya senang sekali membaca National Geographic, sayang ga kuat kantong saya klo harus beli setiap edisinya huhuhu... Suka rasanya melihat dunia ini walau belum bisa mengunjunginya. Nah internet adalah solusinya, saya bisa baca NG tiap edisi dari internet. Saya juga bisa baca koran online tiap hari. Huwaaaaa... betapa internet adalah solusi.

Saya tahan berdiri berjam-jam di Gramedia [tentunya tanpa high heels]. Memelototi satu per satu deretan buku-buku. Lumayan juga lah, Gramedia soalnya suka memberi bonus bagi pengunjung setianya berupa lagu-lagu slow yang easy listening. Jika punya waktu luang dan saya menghilang dari peredaran kampus, carilah saya di Gramedia [pasti ga ketemu hehehe....]. Saya bahkan pernah lebaran sendirian di Gramedia. Menekuri satu per satu lantai Gramedia yang sepi pengunjung di hari lebaran itu.

Ah betapa saya tergila-gila pada buku.... Berharap sekali suatu saat punya perpustakaan pribadi minimal sebesar Gramedia [hahaha.... dari tadi nyebut merek].

Saturday, November 27, 2010

Mine

Mine

Saya beri nama playlist lagu-lagu kesukaan saya di HP dan di laptop dengan nama MINE (kepunyaanku).
Saat ini ada 5 lagu, mau tau??? (halah, jawab “engga” juga bakal dikasih tau hehehe...)
  
1. I Believe in You [Celine Dion feat Il Divo]

Lagu ini jadi spesial bagi saya karena dua hal, penyanyinya dan liriknya.
Saya suka Celine Dion sejak pertama kali mendengar suaranya menyanyikan soundtrack Titanic [my heart will go on]. Sedang Il divo, pertama kali mendengar suara mereka di soundrack World Cup 2006 [The Time of Our Lives] dan saya langsung merinding.

Ada 2 bagian lirik lagu ini yang saya suka
Follow your dreams... Be yourself, an angel of kindness... There's nothing that you can not do... I believe in you”

Dan

“Someday I'll find you... Someday you'll find me too...”
Yup saya percaya, kamu akan menemukan saya, dan saya akan menemukanmu, kita akan dipertemukan dalam baarokahNya.. [*siape ni pake kamu2 segala???]

2.  Bukan Cinta Biasa [Afgan]

“Cintaku bukanlah cinta biasa, jika kamu yang memiliki dan kamu yang temaniku seumur hidupku...”

Saya kepingiiiiin sekali suami saya nanti akan menyanyikan lagu ini saat hari pernikahan [Tolong ya bilangin ke calon suami saya nanti sebelum hari H hehehe...]. Saya ga peduli, mau suaranya cempreng, sumbang, merusak selera makan hadirin, saya mau mendengar lagu ini dari dia. [des...des...emangnya kapan kamu mau nikah??? GA TAU YANG JELAS SEGERA hahaha... aamiin] 

3. Something Inside [Jonathan Rhys Meyers/OST. August Rush]

Sebenarnya filmnya yang bikin saya jatuh hati pada lagu ini. Lagu ini dinyanyikan dalam hati yang pedih (ah lebay ah..)

“'Cause if you hadn't found me... I would have found you...”

I will find you, i must find you, i’m sure...

4. Never Gonna Leave Your Side [Daniel Bedingfield]

Siapa sih ga tau klo lagu-lagunya Daniel Bedingfield itu romantis pisan? Walau kayaknya terlalu gombal and lebay, tapi saya suka semua bagian lagu ini.

5. Cinta Pertama dan Terakhir [Sherina Munaf]

“Kau buat aku bertanya, kau buat aku mencari tentang rasa ini aku tak mengerti...
Akankah sama jadinya bila bukan kamu?”

Entahlah akankah sama jadinya bila bukan kamu, yang jelas Allah lah yang Maha Berkehendak atas segala sesuatunya..


Eh btw, happy birthday, baarakallahu fii umurik...

Monday, November 22, 2010

My Lovely Best Friend's Wedding [Part 1]

Bingung mau nulis dari mana....


Yang jelas saat ini saya merasa seperti nano-nano... Senang, sedih, berbunga-bunga, kehilangan semuanya bercampur baur saat mengingat Kalia ku tersayang sudah "ada yang punya".

Senang sekali bisa menemani Kalia di penghujung masa lajangnya. Dan sekarang sang hantu subuhku itu sedang berbunga-bunga. Smsnya, statusnya.. lucu.. Sekarang dalam smsnya dia menyebut Berli dengan "suamiku" bukan "Bebek" lagi [hahaha... piss ber]. Katanya dia juga lagi belajar buat manggil "yank" [huweeeek...]. Biarkan sajalah.. dia memang pantas untuk bahagia ^^

Kalia request agar kami semua (siapa aja hayoooo...) untuk nemenin dia di hari pernikahannya dengan cara kompakan pake baju IJO [yaelah...jadi geng ijo deh kita-kita]. Akhirnya kita mulai MERANCANG SENDIRI baju yang akan dipakai. Setelah itu kita mulai MEMILIH SENDIRI BAHAN untuk bajunya. Setelah itu kami menghubungi penjahit yang udah sobatan sama kita, sebut saja Risti anak Gizi 43 [43 emang keren euy..]. Setelah sang baju jadi, maka kami mulai aksi MEMASANG PAYET SENDIRI di baju itu.

Pengalaman berharga dalam hidup saya, karena baru pertama kalinya saya memasang payet sendiri di baju yang akan dipakai sendiri. Hasilnya lumayan laaah... Ga ancur-ancur banget hehehe....

Setelah sang baju benar-benar jadi. Saya jadi bingung, baju ini sama sekali tidak cocok dengan tas ransel dan sepatu cats. Jadilah kami 'dengan senang hati' berburu keperluan pelengkap baju. Ternyata jadi 'perempuan' itu sangat menyenangkan deh. Pusing milih-milih tas, pusing milih sepatu itu ternyata menyenangkan hehehe... [perempuan memang gila!].

inilah high heels 7 centi dan tas "kondangan" huhuhu...

Hari H tiba...
Kami ngumpul di dua markas, Ramadhan dan Balsem. Ternyata tak satu pun dari kami yang tidur nyenyak... Saling ganggu, sampe sang calon pengantin pun digangguin. Kalia kite telpon jam setengah 1 malem, masih nyahut aja tuh bocah.. [ups! udah ga bocah lagi ye klo dah nikah]

Bangun jam 3 pagi [padahal saya tidur jam 01.30 WIB huwaaaa.... T.T]. Trus langsung ngantri mandi... [maklum kamar saya menampung para pengungsi hehe.. jadi kamar mandi pun kudu ngantri]. Rempong banget... Kamar 5 x 3,5 ini diisi para putri kerajaan IJO yang bolak balik ngaca, bolak balik pasang kerudung, bolak balik bedakan [yang pada akhirnya dibasuh wudhu lagi], dan bolak balik nanyain "udah OK belum???".

Kami berangkat ba'da subuh. Sampai di sana langsung mencari Kalia tersayang. Dan Kalia cantik sekali hari itu. Saya juga senang sekali menjadi "pengiring pengantin dadakan"...Walau sempat diomeli oleh penata rias karena ngajakin kalia ngobrol dan sangat berisik hehehe...

pengiring pengantin

berli n kalia

Adegan Ibu-ibu Kesemsem
Ada adegan aneh di sela-sela acara resepsi pernikahan kalia. Saya yang sedang antri sarapan ditarik lengannya oleh seorang ibu-ibu. Ibu tersebut langsung bilang "mba, boleh minta fotonya?"
saya yang bengong cuma bisa pasrah difoto-foto sama ibu tersebut. Setelah itu saya balik lagi ngantri makan [dasar perut gentong!] sambil diledekin sama tamu-tamu yang lain.

Tidak lama setelah itu, sang ibu kembali menegur dan menanyakan nama saya sambil berkata "mba desni, tunggu aja smsnya ya..."
Duelah.. Ade ape nih?

Saya cuma berfikir, mungkin sang ibu suka sama bajunya, atau ibu tadi perlu referensi cara berkerudung, atau ibunya lagi nyari hansip [secara udah ijo-ijo]. Wallahu'alam...

Piala 1
Kami memberikan kado berupa piala buat Kalia dan Berli. Biala dari resin bening ditambah gliter emas dan berbentuk angka 1. Tebak, siapa yang dapet piala angka 2 nya???


Setelah resepsi bubar, kami pun pulang dengan hati riang dan kaki pegel-pegel... High heels oh high heels...

Tuesday, November 16, 2010

Mbak Thoyib (5 kali lebaran, ga pulang pulang..)

Ibu...
Ternyata 5 kali lebaran di kampung orang, tidak sedikitpun mempengaruhi rasa rindu Uut pada Ibu.
Ut masih belum bisa menemukan formula yang pas untuk bisa mengendalikan rasa rindu Ut pada Ibu.

Ibu...
Tiap kali malam lebaran di kampung orang ini, tiap kali mendengar suara takbir yang bersaut-sautan, Ut masih belum bisa mengendalikan air mata Ut. Ia masih rajin menetes, mengalir, menganak sungai di pipi ini.

Ibu...
Ut rinduuuuuu sekali pada Ibu. Pada belaian tangan ibu, pada hangatnya kasih sayang ibu, pada kue-kue lebaran buatan ibu, pada baju seragam lebaran kita. Pada semua hal yang ada pada diri Ibu.

Ayah...
Ut juga rindu ayah... Bukan karena uang jajan (hehehe...) tapi karena Ut benar-benar rindu. Rindu pada senyum ayah, pada cerita-cerita ayah, pada semua yang ada pada diri ayah.

Ibu, Ayah..
Entahlah kenapa ut menangis... kenapa sudah sebesar ini, sudah sesering ini lebaran di tanah rantau, kenapa Ut masih menangis...


Ayah, Ibu telpon Uut... Ut ga punya pulsa (hahahaha....)

Nb :
diiringi lagu Satu Pagi di Hari Raya (Raihan)

Tuesday, November 9, 2010

Merasa seperti.....

Saya iseng melihat facebook teman sekelas saya yang di luar "komunitas" saya (baca : perempuan berkerudung lebar, eh ralat wanita berkerudung, ga lebar juga ga apa-apa). Teman saya itu tidak berkerudung. Saya coba melihat foto-foto aktivitasnya bersama teman-teman gaulnya. Ada yang di cafe, di mobil, di mall, di jalan di tempat-tempat liburan dll.. Saya tertarik dengan salah satu temannya yang namanya cukup unik. Saya klik dan tadaaaaa.... Foto profilnya ada seorang wanita "sexy" yang sedang memegang rokok bersama seorang pria. Lalu di keterangan tanggal lahir, ia lahir in the same age as me.... Amazing.. (hahaha lebay).

Dia lahir di tahun 1988. Berarti umurnya 22 tahun sekarang (saya 21 dong, tetep). But her style so different with me. Caranya berpakaian, caranya hidup, caranya berteman, caranya bersenang-senang, semua cara-caranya membuat saya bertanya-tanya dalam hati dan merasa "ini saya yang ketinggalan jaman atau dia nya yang kecepetan jadi DEWASA?".

Saya jadi merasa, saya terlalu kanak-kanak untuk wanita usia 21 menjelang 22. Saya masih suka pake sendal gunung, baju sekenanya, kerudung apa adanya, ga pake aksesoris, ga bedakan, tas ransel, lari-lari ke sana kemari, loncat-loncat, ngedudul, nongkrong paling elit di grobak martabak dan semua yang memuat saya merasa apa saya yang ketinggalan masa buat jadi wanita usia 21 ya??? hehehe....

Soalnya wanita-wanita di luar sana di usia yang sama seperti saya sudah mulai "bergaya". Sedang saya, saya merasa dari dulu sampe sekarang begini-begini aja... huuuu.... Tapi saya bahagia, ntar aja deh jadi kayak orang dewasanya hehehe...

Wednesday, November 3, 2010

Menjadi Suami Setia

Ini cerita nyata, beliau adalah Bapak Eko Pratomo, Direktur Fortis Asse tManagement yang sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dalam memajukan industri Reksadana di Indonesia. Apa yang diutarakan beliau adalah sangat benar sekali. Silakan baca dan dihayati.

“Sebuah perenungan buat para suami, istri dan calon istri”. Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja, Pak Suyatno 58 tahun, kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit dan sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak. Disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak keempat, tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Itu terjadi selama 2 tahun. Menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang. Dan lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya di depan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum.

Untunglah tempat usaha Pak Suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan keempat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari, keempat anak Suyatno berkumpul di rumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu, semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yg cukup hati-hati, anak yang sulung berkata “Pak, kami ingin sekali merawat Ibu, semenjak kami kecil melihat Bapak merawat Ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir Bapak. Bahkan Bapak tidak izinkan kami menjaga Ibu”.

Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya, “Sudah yg keempat kalinya kami mengizinkan Bapak menikah lagi, kami rasa Ibu pun akan mengijinkannya, kapan Bapak menikmati masa tua Bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat Bapak, kami janji kami akan merawat Ibu sebaik-baik secara bergantian.Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anak mereka.“Anak-anakku, jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin Bapak akan menikah, tapi ketahuilah dengan adanya Ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian”. Sejenak kerongkongannya tersekat.“Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya Ibumu apakah dia menginginkan keadaannya seperti ini? Kalian menginginkan Bapak bahagia, apakah batin Bapak bisa bahagia meninggalkan Ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan Bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimanadengan Ibumu yg masih sakit.”

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, mereka pun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno. Dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TVswasta untuk menjadi nara sumber dan mereka pun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat sendiri Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa. Di saat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio. Kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru.

Di situlah Pak Suyatno bercerita. “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat dia pun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan batinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehat pun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit”

Semoga bahan renungan ini bermanfaat.

Nb: ini note dari facebook Cindera SN (MNH 43), sudah minta izin dan diizinkan :)

Renungan untuk yang mampu berqurban

Kututup hidung ketika melewati kerumunan kambing. Baunya yang menyengat ternyata tidak mengganggu penjualnya. Dalam hati sempat juga ngedumel sih "Nih orang mau jualan kambing ga liat-liat tempat apa? Masa jual hewan bau begitu di dekat kios-kios elektronik. Kenapa ga sekalian aja jualan di dalam mall?" gerutuku. Orang yang lalu lalang, ada yang cuek, ada yang menutup hidung, ada juga yang justru menghampiri hewan bau itu.

Kupercepat langkah kakiku melawati tempat tersebut, mataku menatap lurus ke depan, tepat ke sebuah kios penjual HP. Memang kios itulah yang menjadi tujuanku ke tempat ini. Kuraba saku celana, masih tersimpan HP tipe lama yang sudah 5 tahun aku gunakan. Sebenarnya HP tersebut tidak bermasalah, masih layak untuk digunakan, baik bertelepon maupun ber-SMS. Tetapi untuk saat ini, HP tersebut sangatlah "tidak layak" digunakan di tempat umum. Sering aku berangkat atau pulang kantor menggunakan KRL menyaksukan penumpang yang menggunakan HP terkini, canggih, suara polyphonic, ada radio, MP3 bahkan kamera foto dan video.

Suaranya merdu sekali saat ada telepon masuk, bisa lagu klasik ataupun lagu pop yang sedang top dari penyanyi papan atas. Sering aku ikut melantunkan dalam hati lagu yang kebetulan aku tahu dan seakan ingin agar pemiliknya tidak segera mengangkat telepon tersebut supaya aku bisa lebih lama mendengarkan lagu yang sedang digandrungi banyak orang itu.

Memang luar biasa perkembangan teknologi saat ini, satu alat bisa mewakili berbagai macam fungsi alat-alat lainnya. Tidak perlu membawa walkman untuk mendengarkan lagu, tidak perlu bawa kamera untuk berfoto. Cukup bawa satu buah HP, semua itu sudah bisa terwakili. Bahkan saat ini ada semacam fasilitas untuk berbicara sekaligus melihat lawan bicara di seberang, kalau tidak salah 3G (mohon maaf kalau istilahnya salah, maklum belum pernah pakai). Kadang cukup kaget juga sih saat tahu siapa saja pemilik alat-alat canggih tersebut. Dari pegawai kantoran macam aku, pengusaha, pegawai negeri, pegawai toko dan mall bahkan pedagang bakso sekalipun.

Sekali waktu sempat kulihat, pegawai toko VCD di Glodok saling bertukar lagu lewat fasilitas bluetooth. HP yang ada di saku celanaku, jangankan kamera, fasilitas bluetooth pun tak ada, lelucon yang sering dilontarkan kawan-kawan adalah "Mau dikirimin lagu bagus ga? Pakai bluetooth aja, kan HP kamu emang rada BUTUT pasti bisa deh..." Dan seperti biasa aku cuma bisa nyengir sambil ikut tertawa.

Sekarang semua itu akan berubah, dengan susah payah aku kumpulkan sebagian gajiku untuk menggantikan rasa "malu" dengan "kebanggaan" bertelepon di tempat umum. Tidak sia-sia pengorbananku selama setahun ini, dengan terkumpulnya dana 3 juta untuk mengganti HP lama dengan HP baru. Saya pikir dana tersebut cukuplah untuk membeli HP canggih.
Belum sampai di depan kios HP yang kutuju, sempat terdengar pertanyaan dari orang yang mengampiri pedagang kambing tadi. 

"Bang, kambing yang itu harganya berapa bang?"

"Satu juta, Pak" jawab si pedagang

"Kok mahal amat sih bang?"

"Itu yang terbesar, Pak. Sehat lagi. Sangat pantas untuk Qurban!"

"Wah kalau segitu sih, mana sanggup saya beli? Berapa sih hasil ngasong, Bang?!" ternyata abang calon pembeli adalah pedagang asonan.
"Kalau yang coklat itu berapa, Bang? Itu yang rada kecilan" 

"Itu 750 ribu pak, harga pas, ga ngambil untung besar lho, Pak.." 

"Saya cuma ada 650 ribu bang, boleh ya???" 

"Wah pak, kalau segitu sih belum dapat, ongkos angkutnya ke sini saja sudah mahal, bagaimana kalau yang putih itu saja" kata si pedagang kambing sambil menunjuk kambing yang lebih kecil 

"Ya sudahlah, daripada besok belum tentu terbeli" katanya pasrah "ini juga dari hasil nabung 3 tahun yang lalu, Bang".  

Seketika aku terkesiap, tiba-tiba rasa malu muncul dan mengalir deras dalam hatiku. Rasa malu ini bahkan melebihi rasa malu saat kawan-kawan mencemooh HP bututku. Bayangan HP baru perlahan-lahan hilang, berganti dengan bayangan gema takbir saat kambing, domba, dan sapi disembelih dengan menyebut asma Allah.

Seungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat dan berkorbanlah. (QS. Al Kautsar : 1-2)

Nb : Ini adalah email yang ditulis setahun yang lalu oleh Handito Prihandono dan dikirim ke milist muslim IPB oleh Ganjar Saefurahman. 

Semoga masih ada kesempatan untuk kita berQurban

Monday, November 1, 2010

Angkatan 43, Angkatan Pengusaha

Saya adalah mahasiswi angkatan 43 Institut Pertanian Bogor. Angkatan 43 bukan berarti saya masuk IPB pada tahun 1943 (huhuhu...). Angkatan 43 berarti saat saya diterima menjadi mahasiswa IPB (2006), saat itu juga IPB berumur 43 tahun. Nah tahun 2010 ini, umur IPB sudah mencapai 47 tahun, jadi angkatan termuda saat ini adalah angkatan 47.

Di kampus kami, angkatan 43 dikenal sebagai angkatan yang kompak dan dikenal sebagai angkatan pengusaha. Mungkin ini pengaruh adanya program dari Direktorat Pengembangan Karir dan Hubungan Alumni (DPKHA) IPB. DPKHA memfasilitasi pengembangan minat mahasiswa pada bidang kewirausahaan. Nah program ini berkembang saat angkatan 43 ada di puncak kejayaan (hehehe...lebay). Pokoknya program ini pertama masuk saat cuma angkatan 43 dan 42 (yang udah tua dan keburu mau lulus) memenuhi syarat buat ikutan program. Jadilah 43 merajalela...

Ini dia daftar usahanya anak 43 yang terkenal...
1. E.Co Tours
Usaha dibidang "jalan-jalan" ini dipimpin oleh Fazlur Rahman (Ilmu Ekonomi 43) bersama temannya, Dinul Islamy (Manajemen Hutan 43). Anak IPB ga kenal ECotours kayaknya ga pernah jalan-jalan deh...

2. Chroma Production
Pandu Mas Saputra (Teknik Pertanian 43) adalah pimpinan dari usaha percetakan ini. Hampir semua publikasi di kampus dijajah oleh Chroma. Chroma juga sudah mulai ekspansi ke luar IPB, salah satu proyeknya bulan ini adalah publikasi TO Akbar NF 2011 (desainer erornya adalah gw hehehe..).

3. Leaf Garden
Bergerak dibidang dekorasi dan penyewaan tanaman, usaha ini dipelopori oleh dua makhluk dudul bin gabut Ahmad Sobari (Agronomi dan Hortikultura 43) dan Febby Ariawiyana (Teknologi Industri Pertanian 43, dia laki-laki namanya aja yang begitu). Mereka sudah terpercaya untuk mendekorasi hampir semua acara di IPB, termasuk acara wisuda dan acara walimah anak IPB.

4. Tsabit
Usaha yang berhubungan dengan kaos-kaosan dan sablon-sablonan ini (yang gw tau) dipelopori oleh Cindera Syaiful Nugraha (Manajemen Hutan 43).

5. Salman Creative Art
Ahahaha... Usaha ini digawangi oleh empat makhluk ajaib, sebut saja Raden Ery Bunyamin Gufron (Statistika 43), Anis Zamaludien (Ilmu Teknologi Pangan 43), Rizka Ardhiyana (Teknologi Industri Pertanian 43, dan Desni Utami (Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat 43, ahahaha kayak kenal). Bergerak dibidang souvenir resin dan akrilik, Salman hampir tidak pernah melakukan promosi. Salman baru kelihatan aksinya jika mahasiswa baru mulai masuk IPB. Siapa yang tidak kenal produk Salman? Lha wong pas daftar langsung dikasih pin produk Salman. Pin yang langsung menjadi tanda bahwa mereka sah sebagai makhluk baru, bahan Ospek di kampus. Tapi denger-denger sih Salman ini mau bubar dan berubah usaha jadi usaha makanan (hadeeeeh...).


6. Akar Cafe
Bayu Cahyo Nugroho (Manajemen Hutan 43), Daniel Furqon dan Rakhmawati (Gizi Masyarakat 43) adalah salah satu pemegang saham salah satu Cafe terbesar milik anak IPB ini. Cafe ini sudah almarhum, dan Bayu sekarang sudah beralih usaha jadi jualan legging (ahahaha...ampun bay).

7. SotoQ
Akhwat-akhwat manis jualan soto? Kebayang? Ada Fatimah Khoirunnisa (Agribisnis 43), Darayani Aradhita (Manajemen Sumberdaya Perairan 43), Noni Husnayati (Agronomi dan Hortikultura 43), dan Tri Reti Rahmawati (Gizi Masyarakat 43). Walau saat ini SotoQ lagi mati suri, tapi mereka kelihatannya akan segera bangkit. Selamat menunggu kebangkitan Soto Indonesia (halah!).

8. Istana Es Krim
Es krim goreng? Yup ini menu istimewa istana eskrim milik Hanif Fansurya (Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan 43), Yulya Sri Novita dan Elis Trisnawati (Ilmu Keluarga dan Konsumen 43). Temukan es krim goreng di kantin Semur...

Ini cuma sebagian, masih banyak yang lainnya