Alvin-ku...

Alvin-ku
Namanya Alvin Firdaus. Hasil test IQ-nya 134. Heran, kenapa dulu dia ga lulus tes IPB. Jangan-jangan anak IPB IQ-nya di atas 134 semua hohoho.... *ge-er sendiri

Tingginya 170 cm mungkin, berat badannya 48 kg. Kurus banget ya? Iya, dia emang termasuk orang yang males makan. Makan 1 hari 1 kali aja udah bikin Ny. Nima Romaita senang banget...

Hidungnya mancung mirip hidung orang Arab. Tapi matanya sipit, kadang dia dianggap non-Islam karena matanya itu. Rambutnya keriting. Entahlah dia nemu gen keriting dimana.

Dia mirip sekali dengan cinta pertamaku, M. Husen, S.Pd. M.M. Caranya bicara, caranya berpikir, caranya bertindak, caranya nyetir, caranya menatap, mirip sekali. Sanking miripnya, mereka kadang bertengkar untuk hal-hal yang tidak prinsip. Hal-hal kecil hahaha...
Vin-Ut di rumah kayu kami :)

Alvin-ku ini adik laki-lakiku. Beda usia 2,5 tahun. Dulu waktu Alvin lahir, kata ibu, aku ngotot sekali minta dipanggil "Ayuk" ke semua orang. Prinsipnya, semua orang harus memanggilku "Ayuk" tanpa terkecuali [wah gue kecil-kecil otoriter ye...].

Kami sejak kecil adalah tim yang solid. Saat dia masih merangkak, aku akan mengajaknya bermain mobil-mobilan. Aku menggiring mobil-mobilan di depan dan dia akan merangkak menujuku. Sambil tertawa-tawa dia akan merangkak menggapaiku. 

Aku jarang sekali dibelikan boneka. Ayah lebih suka membelikan kami maninan yang general biar bisa dipakai bersama. Ayah membawa robot, mobil-mobilan, sepeda, piano mini, leggo, puzzle dan paling penting buku bergambar. Semua ini masih ada di gudang, di simpan tidak beraturan di lantai 2 rumah kami. Ada yang pernah melihat isi lantai 2 rumah kami? Isinya buku semua...
Sejak kecil kami juga suka membicarakan banyak hal. Kami berceloteh apa saja. Tentang bahasa-bahasa di dunia yang berbeda-beda, tentang pelajaran sekolahku, tentang boneka-boneka yang bentuknya aneh-aneh, tentang bumi belahan mana yang akan kami kunjungi, tentang cita-cita kanak-kanak kami. Terbata-bata dia akan bertanya banyak hal padaku, dan aku dengan senang hati binti ngasal akan menjawab pertanyaannya [kakak yang sesat ^^].

ba'da disunat sewaktu liburan TK
Saat Alvin masuk TK, aku yang masuk sekolah siang akan ikut mengantar dan menjemputnya. Ikut main bersama teman-temannya, ikut makan bekalnya, melambai-lambaikan tanggan saat dia di dalam kelas.

Saat di SD dia yang hobbinya membaca tentu saja menyusul jejak kakaknya menjadi juara kelas, juara umum. Dia sangat suka belajar. Tertarik menjadi orang yang pertama tau apapun di kelasnya, di sekolahnya. Dia belajar lebih cepat dari yang lainnya. Alvin-ku sayang. 

Saat SMP ia harus mengenakan kacamata. Dia masuk sekolah yang sama dengan kakaknya, masuk organisasi yang sama dan aktif di organisasi itu. Di sana dia belajar bersosialisasi, kepemimpinan dan belajar tanggung jawab. Dia benar-benar adikku [ohohoho...].

Alvin-ku (paling kanan) dan regu garuda hitam

Dia memilih untuk masuk SMA yang berbeda dengan kakaknya. SMA Negeri 6 Palembang. Dia pun memilih untuk tidak bertahan lama di Rohis (yang telah kakaknya ikuti sebelumnya). Baginya anak Rohis itu menyebalkan, berbeda dengan gambaran yang selama ini kakaknya ceritakan. Hahaha.... wajarlah... aku pun mengakui, zaman SMA itu anak Rohisnya masih ABG (Aktivis Baru Ghiroh) yang kenalnya cuma Hitam-Putih. Maka aku biarkan dia. Dia cukup cerdas untuk memahami semua.

Alvin-ku SMA

Dan aku benar-benar bangga saat dia bercerita di SMA nya dia mendirikan organisasi baru, yang berhubungan dengan hobinya, komputer. Pilihan cerdas karena dia sadar potensi yang ada pada dirinya.

Sekarang Alvin-ku sudah kuliah. Mahasiswa di Universitas Sriwijaya. Dengan jas almamater kuningnya, aku dengar dia berdiri dipinggiran jalan, mengumpulkan dana untuk korban bencana. Aku dengar ceritanya tentang mimpi-mimpinya. Aku dengar semangatnya. Dia sudah tidak terbata-bata lagi seperti waktu masih kecil dulu. Dia sudah sangat lancar bicara.  Menjabarkan peta hidupnya. Dan aku bangga punya adik seperti Alvin-ku.


Sekarang Alvin-ku masih sering berceloteh padaku, kami saling bertukar mimpi, bertukar pikiran. Alvin-ku masih jadi kutu buku [sekarang mah dia jadi kutu komputer, kutu internet].
Alvin-ku yang paling aku sayangi.

Comments

Popular Posts