Tentang Seseorang

Bismillah

Dan untuk menuliskan ini, saya perlu mendengarkan lagu-lagu sedih.... (ga nyambung)

Saya merasa sedikit lebih beruntung karena saya bukan tipe yang bisa menceritakan  perasaan saya kepada orang lain. Gamang ini, galau ini, senang ini, sedih itu.... Hati saya adalah satu-satunya private zone yang saya punya. Dan beruntungnya saya yang mempunyai sahabat yang tidak suka mengutak-atik hati saya.

Bagi saya, menceritakan hati saya pada orang lain adalah kesulitan dan tabu. Saya hanyalah perempuan. Saya khawatir yang saya ceritakan hanyalah bentuk “kegeeran” semata. Hingga saya agak takut bercerita pada orang lain. Saya hanya berani bercerita dalam tulisan yang selalu saya beri judul “unpublish” (yang filenya sudah bisa dijadikan buku) atau dalam cerita-cerita panjang pada-Nya.

Dan bercerita tentang “dia yang belum mau saya sebutkan namanya” apalagi tentang detail dirinya dalam blog ini rasanya terlalu berani. Sedangkan saya bukanlah tipikal orang yang “terlalu berani” itu.

Saya mungkin wanita kolot yang selalu merasa PERLU MENDENGAR untuk mengetahui. Saya tidak berani berasumsi tentang perasaan seseorang terhadap saya. Terutama perasaan laki-laki yang secara struktur otak berbeda dengan saya, wanita. Saya tidak berani berkata “dia mungkin menyukai saya” hanya karena dia baik. Saya perlu mendengar langsung. Jika tidak, saya tidak berani berasumsi, merasa-rasa, apalagi berharap.

Saya juga bukan orang yang berani merasa-rasa hanya karena misalnya sang teman ini rajin menanyakan, dimana saya, sedang apa, atau pertanyaan dan pernyataan tidak penting lainnya. Saya akan berpikir sederhana, "tentu saja dia menanyakan ini pada banyak orang". Dan untuk ekspresi datar saya yang satu ini, saya sering dianggap wanita yang terlalu logis dan tidak berperasaan (heuheu...).

Beberapa teman pria memang begitu dekat, begitu baik, begitu perhatian, bahkan ada yang mau melakukan apa saja jika saya pinta. Tapi saya tidak berani mengambil kesimpulan “dia suka saya” jika dia tidak berkata apa-apa. Saya pun lagi-lagi merasa beruntung karena kebanyakan teman pria bukanlah tipe laki-laki yang mudah berkata suka. Hingga saya tak perlu pusing-pusing memikirkan bagaimana saya harus menjaga hati mereka (eh buset gue pede amat yak). Saya pun berusaha sekuat tenaga agar tidak mengambil kesempatan dari kebaikan mereka. Karena apapun respon “baik” saya, bisa jadi akan diartikan berbeda. Dan saya bukanlah orang yang berani dan tega menebar-nebar harapan.

Saya merasa agak takjub dengan fenomena wanita yang menceritakan detail tentang seseorang yang dia suka dan dia “anggap” menyukainya juga di media yang bisa diakses banyak orang seperti blog, facebook, twitter atau jejaring lainnya. Salut untuk keberaniannya. Walau rasanya konyol jika orang yang diceritakan membaca tulisan itu. Lebih konyol lagi jika orang itu tidak merasa seperti yang dituliskan.

Aaaah.. dalam kisah hidup saya sendiri, saya mungkin wanita kolot yang selalu merasa PERLU MENDENGAR untuk mengetahui. Tapi saya merasa tidak perlu bertanya pada dia, tak perlu mendengar darinya, seseorang asing (yang sebenarnya tidak asing) dari negeri antah berantah, tentang perasaannya pada saya. Karena kami berbeda. Karena memang bertanya tentang "Apakah kamu mencintai saya?" adalah pertanyaan yang tidak cukup penting bagi kami yang telah lama saling mengenal, enam tahun lebih rasanya. Tidak cukup penting bagi kami yang telah mengerti hukum-hukum agama tentang hal ini, perasaan manusiawi ini. Cukuplah saya mengerti niat baiknya saat lamaran itu tiba, saat orang tuanya meminta saya menjadi......... “perawat pribadi anaknya”. Dan dengan malu-malu dia berkata "Saya ingin menikah denganmu, maukah kamu menikah denganku?".

Hingga kini, saya tetap tidak bisa bercerita tentang siapa dia, bagaimana dia, bagaimana saya terhadap dia, bagaimana rasa-rasa yang ada... Bukan karena takut berasumsi. Bukan. Tapi biarlah semua menjadi misteri. Hingga nanti. Saat undangannya jadi. Saya berjanji akan menyebutkan namanya disini, di blog ini. (aamiin)

Comments

Popular posts from this blog

Tutorial Menjahit Pashmina Instan ala Nurina Amira

Tutorial Bunga Tulip dari Kain Perca

Repurpose : Mengubah Kemeja dan Rok Jadi Gamis Kekinian