Internet dan Indonesia

People want to express themselves, to socialize. That provides strong amunition. And when social media was launched, everyone jumped on the bandwagon - Video Linimas(s)a

Dulu sejak zaman saya SD, di pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, btw sekarang masih ada ga ya?) saya dicekoki dengan pernyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Saya membenarkan pernyataan ini. Saya adalah bukti nyata bahwa saya (yang tentu saja manusia) adalah makhluk sosial. Saya merasa tidak bisa hidup sendiri. Saya perlu pak tani untuk menanam padi yang saya makan, saya perlu ibu pedagang baju agar saya bisa berpakaian dan masih banyak lagi. Saya juga perlu teman, bertindak untuk mempertahankan hubungan pertemanan, berusaha menambah teman. Istilah lainnya saya melakukan kegiatan bersosialisasi.


Kecenderungan manusia melakukan kegiatan bersosialisasi, mengaktualisasikan dirinya makin menjadi-jadi saat saya dan (saya yakin) kita semua menemukan sebuah media sosial yang bernama internet khususnya situs jejaring sosial atau social networking. Internet membuat sekat-sekat di antara kita seolah-olah menghilang. Mau ngobrol dengan teman yang berada di Amrik sedangkan diri ini ada di pelosok Jawa Barat? Gampang, sekarang dengan internet bisa... Saat sahur merasa rindu keluarga lalu ingin bertatap muka? Gampang, sekarang dengan internet bisa... Mau ngobrol dengan selebritis idola? Gampang... dengan internet bisa. Atau ada wakil rakyat yang ingin berinteraksi langsung dengan rakyat yang dia wakili, ingin kebijakannya dapat dikritisi langsung oleh rakyatnya? Gampang... di internet bisa. Maka tak perlu heran jika situs-situs jejaring sosial di dunia maya laku keras. Situs-situs ini benar-benar menjawab kebutuhan manusia untuk bersosialisasi, mengaktualisasi dirinya secepat-cepatnya dan seluas-luasnya.


Lihat angka-angka ini, kita akan mengetahui betapa bombastisnya efek media sosial di internet :
  • Lebih dari 50% populasi dunia berusia di bawah 30 tahun
  • 96% generasi Millennial (kelahiran 77-98) sudah bergabung di situs jejaring sosial
  • Facebook mengungguli Google dalam lalu-lintas mingguan di Amerika Serikat
  • Social Media sudah mengambilalih posisi situs porno sebagai aktifitas nomor satu di Internet
  • 1 dari 8 pasangan yang menikah di AS bertemu lewat Social Media
Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai 50 juta pengguna:
  • Radio 38 tahun
  • TV 13 tahun
  • Internet 4 tahun
  • iPod 3 tahun
  • Facebook kurang dari 1 tahun mendapat tambahan 200 juta pengguna
  • Aplikasi iPod mencapai 1 milyar download dalam waktu 9 bulan
(sumber : Apakah social media hanya buat iseng)


Dewasa ini (caelah.. bahasanyaaaa...), di Indonesia pengguna internet mencapai angka yang sangat tinggi. Dari video yang diunggah Linimas(s)a saya mengetahui bahwa di Indonesia terdapat 45 JUTA pengguna internet, 30 JUTA facebookers (peringkat ke II dunia), dan 6,3 JUTA tweeps (peringkat III Asia). Angka-angka yang sangat besar. Dan bagusnya, di Indonesia kesadaran memanfaatkan internet dan khususnya media sosial dalam hal kebaikan ada dalam posisi baik. Menurut catatan ICT Watch, Indonesia masuk ke dalam 10 negara yang “consumer-friendly” terhadap akses material pendidikan.


Penggunaan internet oleh masyarakat Indonesia sebagai citizen journalism (jurnalisme oleh masyarakat umum bukan wartawan) dikenal sangat produktif. Kegiatan citizen journalism ini berdampak sangat baik bagi perkembangan jurnalistik di Indonesia. Seperti yang kita ketahui, seharusnya media massa seperti televisi, surat kabar dan radio menjadi media yang adil, lugas, tegas, tidak berpihak dan tentu saja tidak ditunggangi oleh kepeningan pihak manapun. Sayangnya sudah menjadi rahasia umum bahwa beberapa media massa di Indonesia “dimiliki” oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Maka citizen journalism yang dilakukan masyarakat pengguna internet di Indonesia membuka peluang terdapatnya berita-berita yang adil, lugas, tegas dan tidak berpihak tadi.


Tercatat beberapa peristiwa telah berhasil diangkat ke khalayak ramai melalui internet. Indonesia membuktikan penggunaan internet yang baik dengan menjadikan internet sebagai sarana pemberitaan bencana, hal-hal yang berkaitan dengan kemanusiaan, keadilan dan lain-lain. Seperti yang dicontohkan dalam video Linimas(s)a, pada peristiwa merapi yang terjadi baru-baru ini, banyak relawan yang tergerak hatinya karena membaca berita di mini blog seperti twitter. Lalu kasus yang sangat terkenal yang berhubungan dengan media sosial di dunia maya, yaitu kasus perseteruan Prita dan sebuah rumah sakit di Jakarta. Kasus ini mendapat dukungan dari khalayak dunia maya hingga terbentuklah sebuah gerakan koin untuk Prita. 


Kecerdasan rakyat negeri ini dan kebebasan (di) internet di negeri ini pun tampak dari pemanfaatan internet oleh warganya. Masih ingat dengan peristiwa alamat email DPR RI Komisi VIII? Yup, kasus yang anggota DPRI RI studi banding di Australia dan kebingungan saat ditanya apa alamat emailnya. Berita ini mungkin tidak akan disebar jika tidak ada warga Indonesia yang hadir dalam pertemuan itu, merekam dan menyebar luaskan video kebodohan anggota-anggota DPR RI tersebut melalui situs Youtube. Dulu saat zaman orde baru kita dibungkam tapi sekarang kita sudah bebas, bebas sekali bahkan untuk "ngata-ngatain" pemeritah. Hal ini menjadi pelajaran bahwa benar jika pemerintahnya masih bodoh dan harus menghadapi masyarakat yang sudah cerdas, maka pemerintah harus siap-siap untuk “ga dianggep”.


Contoh-contoh kasus di atas setidaknya telah menggambarkan bahwa penggunaan internet di Indonesia dewasa ini sudah dapat dikatakan baik. Masyarakat mulai menggunakan internet untuk hal-hal yang bermanfaat walaupun masih ada yang menggunakan internet hanya sekedar “iseng”. Karena memang seperti yang dikatakan Iskandar Zulkarnaen dalam blognya “tidak bisa dipungkiri, sebagian orang masuk ke dunia maya, berinteraksi sosial di dalamnya, hanya sekedar melampiaskan kejenuhan dan mencari hiburan sambil bersenda-gurau dengan teman.”


Sekedar intermezo, menurut pengamatan saya sebagai pengguna twitter, rasanya hampir setiap hari Indonesia membuat minimal satu Trending Topic. Mulai dari yang lucu-lucuan seperti #cintabeiber, #tabokselena (halah! -____-“) ketika Justin Beiber show di Indonesi, topik tidak penting #briputunorman ketika ada seorang polisi nyanyi lagu India di Youtube, topik mendukung negeri ini SUPPORT TIMNAS INDONESIA ketika Indonesia berlaga melawan Turkmenistan, sampai ke topik yang serius seperti ASTAGHFIRULLAH SBY ketika presiden negeri ini mengeluh soal gaji (ini bukan trending topic serius ya? Hahaha... bagi saya ini serius ah, masa ada presiden ngeluh - abaikan).




Naaaah.... dengan data-data yang seperti saya paparkan di atas tadi, maka seperti apa sebaiknya pengguna Internet di Indonesia dalam mengatur dirinya sendiri? Sebagai pengguna internet khususnya blogger Indonesia, kita sebaiknya mengikuti etika berinternet (netiket) dan juga etika “ngeblog” yang telah disepakati bersama. Saya mencoba merangkum kedua etika ini :

  • Perhatikan penggunaan huruf kapital. Sebagai mahasiswa komunikasi, saya pun memahami bahwa pengunaan huruf kapital secara penuh hanya digunakan untuk judul, penegasan/penekanan ataupun bentuk dari emosi.
  • Cantumkan referensi. Referensi baik berupa kutipan ataupun gambar harus dicantumkan asalnya. Karena jika tidak dicantumkan hal ini dikatakan plagiarisme.
  • Gunakan bahasa yang sopan. Bahasa verbal dalam bentuk ucapan langsung saja kadang dapat terjadi kesalahpersepsian makna, apalagi dalam bentuk tulisan. Maka penggunaan bahasa yang sopan dalam berinteraksi di dunia maya sangat diperhitungkan.
  • Hati-hati dengan berita bohong tanpa fakta (HOAX).
  • Jika terjadi kesalahan informasi pengguna harus bersedia melakukan ralat terhadap informasinya.
  • Tidak menggandung unsur yang menyinggung SARA
  • Hal-hal pribadi sebaiknya menggunakan private message 
  • Hindari spamming dalam komentar
  • Dan jauhi OOT (komentar out of topic alias ga nyambung)

Kebebasan (di) internet dan internet sehat adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan. Kebebasan internet haruslah menjunjung tinggi etika berinternet. Dan penjunjungan tinggi terhadap etika berinternet adalah penggunaan internet yang sehat. Dalam pandangan saya, internet sehat adalah internet yang bermanfaat bagi kebaikan. Bermanfaat baik dalam niat, tujuan, proses penulisan dan pesan yang ingin disampaikan.  Dari segi niat dan tujuan, internet yang sehat adalah internet yang yang bertujuan untuk mencerdaskan, berbagi, tidak diniatkan untuk menyakiti, merendahkan atau melecehkan pihak lain. Dari segi proses penulisan, internet sehat adalah internet yang tidak melakukan proses plagiarisme. Dan dari segi pesan yang ingin disampaikan, pesan tersebut haruslah sesuai dengan hukum yang ada di Indonesia. Tidak ada konten bullying, kekerasan, terorisme, pornografi dan lain-lain.


Setelah banyak peristiwa positif yang kita temui dan telah Indonesia lakukan di internet. Kini saatnya kita menggunakan internet dengan sebaik-baiknya. Mari jadikan Indonesi negara yang dapat membuktikan pada dunia bahwa pemanfaatan internet di Indonesai bebas, sehat dan positif. Saatnya kita aktualisasika negeri kita, prestasi-prestasi, kepedulian dan keindahan negeri kita melalui dunia yang penyebarannya secepat kilat, dunia maya. Selamat berinternet. ^^

Comments

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar di tulisan ini

Popular posts from this blog

Tutorial Menjahit Pashmina Instan ala Nurina Amira

Tutorial Bunga Tulip dari Kain Perca

Repurpose : Mengubah Kemeja dan Rok Jadi Gamis Kekinian