Tumbuh, Suci dan Baarakah

Bismillah…


Kayaknya kita harus banyak berterima kasih deh sama Allah SWT, yang udah baik banget ngasih banyak bencana pada negara kita tercinta ini, Indonesia. Eh tunggu… jangan frontal dulu.. Kenapa kita harus berterima kasih? Karena dengan hadirnya bencana yang meluluhlantakkan negeri ini, “akhirnya” hati kita luluh sudah. Kepedihan saudara-saudara kita yang tertimpa bencana, tangisan mereka, luka-luka di jiwa dan raga mereka, plus lagu-lagu instrumental karya Kitaro atau lagu sedih lainnya yang diputer di tivi-tivi (hehehe…) akhirnya membuat hati kita terketuk untuk kembali menjadi bangsa Indonesia yang peduli.


Masih ingat kan tahun 2004 saat Aceh diguncang gempa hebat lalu ga lama kemudian, di hari yang sama dihantam tsunami dahsyat? Tentu saja kita ga akan lupa. Kita mungkin ga ingat betul berapa jumlah korban yang meninggal, berapa kerugian yang ditanggung negara, tapi kita tentu masih ingat betapa pedihnya perasaan kita melihat berita-berita di semua media. Selain dahsyatnya bencana yang melanda kala itu, kita juga pasti masih ingat betapa hebatnya bantuan yang datang. Triliyunan dana terkumpul, ribuan truk berduyun-duyun membawa bantuan dari penjuru negeri untuk membantu Aceh, ratusan bule ganteng datang bantuin Indonesia. Dan sekarang, tujuh tahun setelah bencana itu, saat Aceh sudah kembali bangkit, kita bisa tersenyum kembali dan berterima kasih pada Allah SWT. Berterima kasih karena telah menghancurkan fisik negeri ini namun membangun hati kita untuk bersatu, berduyun-duyun saling membantu, kembali peduli. Maka bagi saya yang awam ini, saya merasa tsunami Aceh adalah titik awal kesadaran beragama terutama kesadaran zakat di Indonesia.


Indonesia punya potensi zakat yang keren banget setelah peristiwa Aceh 2004 lalu. Kalo dilihat dari survey yang dilakukan PIRAC, sekarang tingkat sadar zakat di Indonesia sudah bisa dikatakan tinggi lho… 94 % masyarakat yang disurvey menyatakan diri mereka sebagai muzzaki (pemberi zakat). Okeh, ga perlu pake survey-surveyan segala. Lihat saja dari dana yang terkumpul jika ada bencana. Adik kandung saya pernah mewakili kampusnya membantu masyarakat mengumpulkan dana bantuan. Dia tugasnya cuma berdiri di pinggir jalan sambil bawa kardus yang ditulis “BANTUAN BENCANA”. Ga sampe enam jam sudah terkumpul sepuluh juta rupiah oleh adik saya dan teman-temannya. Belum lagi sekarang zakat kayaknya udah jadi gaya hidup, bahasa kerennya lifestyle. Sekarang zakat ga cuma di bulan Ramadhan. Zakat di bulan lainnya juga banyak. Dulu yang populer Cuma zakat fitrah. Sekarang sudah ada zakat maal, zakat penghasilan, zakat perusahaan dan lain-lain.


Naaah.. di tengah kesadaran zakat yang keren banget tadi, sayangnya masih banyak orang yang menurut saya masih kurang cerdas berzakat. Saya punya kriteria zakat cerdas versi saya sendiri. Sebelumnya biarkan saya bercerita. Begini… Kita pasti masih inget kan kasus pembagian zakat yang berujung maut? Itu lho kasus ada orang kaya yang bagi-bagi zakat di rumahnya terus ada yang meninggal keinjek-injek. 21 orang lagi yang tewas. Masih inget kan??? Menurut saya nih, zakat yang begitu kurang cerdas sodara-sodara… yang mau berzakat dnegan cara begitu ga salah-salah banget sih. Tapi ya kalo mau zakat trus bisa langsung ketemu sama mustahiq (penerima zakat), trus saleman sampe disungkemin, mbok ya zakatnya dianterin ke rumahnya satu-satu. Biar ga rusuh gitu (mode sewot on). Jadi kriteria zakat cerdas versi saya yang pertama adalah jika mau berzakat sebaiknya diantarkan langsung kepada mustahiq bukan mustahiqnya yang dikumpulkan terus desak-desakan di depan rumah kita.


Zakat itu sendiri menurut bahasa berarti tumbuh, suci dan baarakah (sumber). Maka saya beranggapan zakat yang baik adalah zakat yang tumbuh, yang produktif, yang manfaatnya bukan “sekali pakai” tapi dapat berjangka panjang. Dan bagi saya kriteria zakat yang cerdas yang kedua, tentu saja zakat yang efeknya jangka panjang. Maksud saya sebaiknya zakat yang kita berikan tidak langsung habis setelah dibagikan kepada mustahiq tapi setelah diberi zakat sang mustahiq mampu berdikari, lebih keren lagi kalo bisa berubah status jadi muzzaki. Susah ya kayaknya? Tapi banyak kok yang bisa. Dan itu artinya kalo ada yang bisa, orang lain juga pasti bisa.


Saya sebenernya lebih menyarankan agar kita bisa berzakat di lembaga zakat profesional. Kenapa begitu? Karena lembaga-lembaga zakat profesional ini telah memiliki data yang jelas tentang mustahiq. Sehingga pendistribusian zakat lebih merata, lebih jelas dan insyaAllah lebih adil. Kadang kalo kita ngasih zakat langsung ke mustahiq bisa jadi mustahiq yang kita kasih udah dikasih sama muzzaki lainnya (zakat double lah istilahnya), sedangkan ada tetangganya yang mustahiq juga yang malah ga kebagian zakat.


Selain itu lembaga zakat profesional ini juga memiliki program-program yang jelas dan berefek jangka panjang terhadap kondisi ekonomi mustahiq, bahkan kondisi ekonomi bangsa. Ga percaya??? Beuuuh parah.. Sini saya tunjukin. Coba lihat beberapa lembaga zakat yang terkenal, sebut aja Dompet Dhuafa (yang bikin lomba blogger kemanusiaan ini *nyengir*). Dompet Dhuafa punya banyak program, mulai dari program sosial yang meliputi program kesehatan, pendidikan, pengentasan kemiskinan dan bantuan sosial, lalu ada pula program manajemen bencana nasional, ada pula program ekonomi serta program advokasi. Coba buka webnya… Bikin kita melongo trus mikir “ada ya orang-orang yang kepikiran bikin uang zakat jadi keren begini”.


Negara berkembang kayak Indonesia kita tercinta ini emang kompleks banget masalahnya. Masalah kemiskinan, kebodohan (eh maksudnya pendidikan), korupsi, kriminalitas, bisa dengan mudah ditemui. Lihat aja berita di tipi-tipi kalo udah rada siangan. Berita kriminal bertaburan, berita korupsi juga banyak, berita masyarakat kita yang percaya kambing kakinya lima bisa bawa hoki juga bejibun. Walau ibaratnya sakit, Indonesia ini kayak kena kanker seluruh tubuh. Biar begitu masih ada kemungkinan sembuh. Masalah komplek begini ga bisa diselesain satu-satu. Harus ada solusi yang menyeluruh. Lalu apa solusinya? Bisa ga zakat jadi solusinya? InsyaAllah bisa. Dengan kehendak Allah SWT pasti bisa. Kalo yang kaya berzakat harta mereka jadi suci, trus yang miskin bisa hidup. Semoga jika yang kaya berzakat lalu hatinya suci sesuci hartanya bisa jadi menurunkan angka korupsi. Lalu yang miskin bisa dibuatkan program-program jangka panjang yang membantu memperbaiki hidupnya, maka sejahterahlah Indonesia. Masalah pendidikan juga terpecahkan dengan zakat. Ada lembaga zakat yang bikin beasiswa, ada juga yang bikin sekolah unggul.


Aaah… rasanya bangsa ini sudah banyak terbantu dengan adanya lembaga zakat. Sekarang sudah banyak BAZ (Badan Amil Zakat) dari pemerintah dan LAZ (Lembaga Amil Zakat) milik swasta yang profesional, berpengalaman serta terpercaya. Sekarang lembaga zakat juga mudah banget ditemui. Inget, MUDAH BANGET. Zakat bisa dibayar secara online. Zakat juga udah ada yang bisa dijemput. Di mall-mall juga ada. Lalu apa lagi masalah kita buat berzakat??? Ayo berzakat dan jadilah heroooo… Penyelamat Indonesia, penyelamat duniaaaaa….


—————
Bogor, 27 Juli 2011
Ditulis dalam rangka Lomba Blogger Kemanusiaan
dipublish juga di blog saya yang lainnya  

Comments

  1. bagus des, semoga dapet laptop ye heheh

    ReplyDelete
  2. belum rezeki laptop, mungkin mau Allah kasih Mac book kali ye...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar di tulisan ini

Popular Posts