Monday, December 17, 2012

Sachie Pratami Wilopo

Sachie itu berasal dari bahasa jepang, terdiri dari dua kanji yang berarti beruntung dan diberkahi...

Maka Sachie Pratami Wilopo kami maknai dengan putri dari Desni Utami dan Setyo Dwi Wilopo yang membawa keberuntungan dan keberkahan bahkan sebelum (pra) ia dilahirkan.

Tanggal 6 Desember 2012 kemarin, telah lahir buah hati pertama kami, seorang bidadari yang kami beri nama Sachie. Sachie lahir di Rumah Sakit Palang Merah Indonesia (RS PMI) Bogor. Lahir jam 08.45 WIB dengan berat badan 3,45 kg dan tinggi 48 cm. Lumayan gede ya Sachie.... Dan alhamdulillahnya Sachie lahir normal. Sampai detik ini alhamdulillah Sachie tetap sehat, bilirubin normal dan tali pusarnya sudah puput di hari ke 5.

Sachie setelah IMD (inisiasi menyusu dini)

Saya dan Sachie sudah diizinkan keluar RS sehari setelah Sachie lahir, tanggal 7. Alhamdulillah Sachie adalah kado terindah, termewah, dan termahal di ulang tahun saya yang ke 24 tahun kemarin (5 Desember).

Ini muka Sachie yang super serius, tanda kalo Sachie lagi ngeden mau eek hahaha....

Sachieeee.... we heart youuuu... 

Monday, December 3, 2012

Biru

"jika kau mampu, suatu saat nanti bawakan aku mawar biru"


Begitulah bunyi salah satu status facebook saya (yang juga jadi caption salah satu foto saya) di tahun 2010. Saya lupa kenapa menuliskan kata-kata itu. Yang jelas saya tidak mengkhususkan kepada siapa sang status ditulis. Tapi sepertinya ada yang ingat, ada yang memperhatikan..

Maka tadi malam, di salah satu lampu merah Dago, seorang pria perlahan membuka jendela mobilnya, memanggil seorang anak penjual bunga, dan membeli satu tangkai bunga mawar. Membeli satu yang berwarna biru, untuk saya.

Menyerahkannya dalam hening pada saya yang duduk di sebelahnya dan seketika saya menangkap senyum di wajahnya saat melihat saya begitu sumringah.

sang mawar biru

Terima kasih ya.. Romantis sekali :*
(walau kita sama-sama tau warna birunya dari blau hahaha... i love you)

Special Cake for Special Man

27 November 2012 kemarin suami tersayang @sdwilopo resmi memasuki usia 26 tahun. Masih muda ya? Padahal bentar lagi beliau udah mau jadi ayah... :')

Sejak masuk bulan november, beliau udah bilang "kakak ultah lho bulan ini, siapin kadonya ya..."

Dan karena saya ga tau mau ngasih apa, saya buatin black forest khusus buat beliau. Ini dia kenampakan sang black forest





Sekian...

Hahahaha..

Curhat :
Karena ga ada mixer, jadi bahan-bahan dikocok pake kocokan tangan, efeknya dua hari pegel-pegel.
Beliin gue mixer doooong, gue ultah nih hahaha..

Sunday, November 25, 2012

Martabak Miniiiiiiiiii

Karena kumpul lengkap berempat Kiki, Ery, Rizka dan saya rasanya semakin sulit, maka saya ungkapkan kerinduan saya yang luar biasa pada mereka semua dengan membuat martabak mini. Ga semini yang biasa kami buat di outlet dulu. Tapi rasanya cukup mengobati kerinduan.

Setelah googling sana sini akhirnya saya nemu resep yang saya yakini kemungkinan besar rasanya mirip sama martabak mini rindu ummi.

Berikut resepnya
Bahan :
250 gr tepung terigu
2 sdm gula pasir
1/2 sdt baking powder
1 sdt ragi instant (kalo ada yang ga tau, ragi instant contohnya fermipan)
350 ml susu cair
2 butir telur, kocok lepas
1/2 sdt garam

Isi :
keju 
coklat meises
kacang, disangrai lalu dicincang kasar
susu kental manis
gula

Bahan olesan
butter atau mentega


Cara masak
  1. Campur terigu, gula pasir, baking powder dan ragi instant. Tuangi susu sedikit demi sedikit, aduk sampe rata. Masukkan kocokan telur, aduk rata. Masukkan garam, aduk lagi. Diamkan minimal 1,5 jam (diemin aja jangan diajak ngobrol), tutup wadah dengan serbet bersih.
  2. Siapkan wajan anti lengket, panaskan sebentar, olesi dengan sedikit mentega. Tuang adonan ke dalam wajan. Tunggu sampai adonan mulai berlubang. Setelah lubangnya mulai banyak, siram (???) dengan gula pasir, tutup dan biarkan matang. 
  3. Setelah matang, angkat, olesi dengan butter/margarine. Isi suka-suka dengan bahan isian sesuai selera 
  4. Sambil mengisi martabak, masak adonan 1 lagi untuk penutupnya. 

warnanya kurang rata, kayak orang panuan -___-"
Resep ini lumayan berhasil, lobang-lobang pada martabaknya tampak jelas. Cuma ga sempet di foto huhuhu...

Saturday, November 24, 2012

Tumis Buncis Ala Singapore

Saya dan suami tenyata punya tempat makan kesukaan yang sama D'Cost. Sea food adalah menu favorit kami. Beberapa waktu yang lalu kami berdua sedang mengalami sindrom sadar pentingnya label halal (apadeh pake sindrom-sindrom segala). Intinya sekarang kami mulai hati-hati untuk memilih tempat makan. Label halal MUI jadi patokan utama. Kalau ada, kita makan. Kalau ga ada, yaudah cari yang ada.
Nah sayangnya saat sedang galau begitu, resto favorit kami ini belum memiliki label halal MUI, sehingga ya untuk sementara kami tidak makan di sana. Kerinduan terhadap menu-menu D'Cost membuat saya googling resep menu sayur kesukaan saya disana, tumis buncis ala singapore. Alhamdulillah hasilnya memuaskan.

Berikut resepnya :
e1b93350dbec3db314fad45ed613eea8_img-20120722-00219
Bahan :
1. Buncis 250 gr
2. Daging sapi cincang 5 sendok makan
3. Bawang putih 2 siung, cincang
4. Bawang merah 2 siung, cincang
5. Bawang bombay 1/2, cincang
5. Minyak wijen 1/2 sendok
6. Kecap inggris 1/4 sendok
7. Saos tiram 2 sendok makan
8. Lada hitam 1/2 sendok
9. Lada putih 1/2 sendok
10. Gula 1/2 sendok
11. Garam 1/4 sendok
12. Minyak untuk menumis


Cara memasak :
1. Daging cincang dicampur dengan kecap inggris, diamkan

2. Buncis dicuci lalu dipotong-potong kecil 3 bagian

3. Rendam buncis dengan air panas, diamkan

4. Panaskan minyak, tumis bawang-bawang, masukkan daging hingga warna berubah. Masukkan minyak wijen, saos tiram, lada, gula, dan garam. Aduk rata

5. Masukkan buncis (tanpa air) ke dalam tumisan, tumis buncis hingga layu. Masukkan sedikit air rendamam buncis. Masak hingga air susut. Angkat, sajikan selagi panas.

960b35b718a6866825653ff7e8a4b627_img-20120722-00222

Kabar gembiranya, sekarang D'cost sudah ada label halalnya howreeee... \(´▽`)/


Ketan Serundeng

Ceritanya kemaren bikin ayam serundeng dan serundengnya kebanyakan. Karena saya dan suami biasanya ga suka makan dengan satu menu yang sama lebih dari satu kali. Maka serundeng "sisa" nya saya akali untuk dijadikan cemilan pagi kami.


Ada dua tahap pembuatan, pertama ketannya, kedua serundengnya.

Untuk membuat ketannya, saya menggunakan resep yang sama dengan pembuatan ketan pada kue srikaya.

Untuk serundengnya berikut bahan dan cara pembuatannya.

Bahan

  1. Setengah kelapa ukuran sedang, diparut
  2. Dua siung bawang merah
  3. Dua siung bawang putih
  4. Satu sendok teh ketumbar (bisa ditiadakan, sesuai selera)
  5. Setengah ruas jari jahe
  6. 1 ruas jari lengkuas
  7. Gula putih dan garam secukupnya
  8. 3/4 gula merah disisir
  9. Minyak untuk menumis
Cara pembuatan :
  1. Haluskan bahan nomer 2-5 
  2. Panaskan minyak
  3. Masukkan bumbu halus ke dalam minyak, tumis
  4. Setelah bumbu harum masukkan kelapa parut, aduk hingga rata
  5. Masukkan gula, garam dan gula merah
  6. Aduk hingga kering dan warnanya kuning kecoklatan
  7. Angkat
Setelah itu bentuk ketan sesuai selera lalu taburkan serundeng di atasnya. Jadi deh :)

Friday, November 23, 2012

Kue Srikaya

Dulu waktu SMA saya aktif di Rohis, karena saya cerewet saya diamanahi menjadi staf humas Rohis. Humas rohis diketuai oleh Dodo, seorang pria kebangsaan Nigeria (ahahha... becanda Do, jangan pundung). Seingat saya Rohis di SMA Negeri 3 Palembang dulu aktif sekali. Semua divisi punya kegiatan, semua divisi menonjol dan rata-rata anggotanya prestatif. Jadi kalo ada yang bilang Rohis itu sarang teroris, ah itu mah gosiiiiip...

Divisi yang kegiatannya aktif sekali karena hampir tiap hari ada kegiatan adalah divisi Dana dan Usaha (danus). Setiap hari mereka berjualan. Tidak hanya anak divisi danus sih, dari divisi lain juga banyak yang bantu. Dagangannya makanan ada donat dan juga kue srikaya, kue khas Palembang. Yang jualan kue srikaya ini namanya Ayu. Sebenarnya kegiatan jualannya Ayu ga melulu buat rohis, ada kalanya buat pribadinya. Kue srikaya yang dibawa Ayu ini buatan ibunya Ayu sendiri lho. Kuenya enak. Anak SMA Negeri 3 lulusan 2006 kemungkinan besar tau kue ini dan tau betapa enaknya kue srikayanya Ayu.

Nah setahun yang lalu, Agustus 2011, Ayu berbaik hati berbagi resep kue srikaya ala mamanya di facebook. Dan dengan mengikuti petunjuk Ayu, jadilah kue srikaya ala Ny. Desni Wilopo.


Berikut resepnya


Bahan:
Ketan ½ kg
Telor 8 butir
Gula ¼ kg
Santan kental 500 cc
Santan encer 350 cc
Daun pandan sktr 5 lembar
Pasta pandan 1 sdm

Cara buat:
  1. Ketan dimasak dengan santan encer kasih garam 1/2 sdt. (masak ketan tau kan? Haha.. ribet2, masak di magic com jg boleh). Setelah masak langsung cetak ketan dalam loyang, better kalo loyang nya yg agak ceper dan lebar. Dicetaknya mesti padet, ditekan2 sampe bener2 padet, biar nanti hasilnya bagus. kalo mau yang cetakan cup2 kecil juga boleh, sesuai selera :)
  2. Parut daun pandan (diblender juga bisa) trus campurkan ke dalam santan kental lalu saring untuk dapet aroma dan warna hijau nya.
  3. Untuk adonan srikaya nya: campurkan semua telor (kuning+putihnya), gula, santan (yang udah dicampur daun pandan parut) dan pasta pandan, aduk rata hingga gula hancur (pake sendok aja, ga perlu mixer). Saring adonan (pake saringan kelapa boleh) supaya adonan halus.
  4. Panaskan air dalam kukusan (untuk ngukus si srikaya+ketan nanti, jadi tar pas masukin nya kukusan nya udah panas)
  5. Tuang adonan srikaya yang udah disaring tadi ke dalam loyang yang udah berisi ketan yang dicetak (jadi kan ada 2 tingkat –ketan dan adonan srikaya)
  6. Kukus selama 45 menit
  7. Done :)

The Art of Writing

Saya sudah punya buku diary sejak SD. Entah kapan dan entah sebab apa saya mulai menulis diary. Yang saya ingat dari semua buku harian yang saya punya saya tidak banyak bercerita tentang kesedihan. Saya menulis untuk bersenang-senang. Jadi cerita sesedih apapun akan saya tulis dengan sudut pandang "pelawak".

Kini selain blog ini saya sudah tidak punya diary lagi. Itulah sebabnya mengapa blog ini lebih banyak ceritanya, bahkan cerita-cerita tidak penting sekalipun. Sejenis cerita nyari kambing ke kandang Ophie yang luar biasa jauhnya, atau pengalaman Jakarta Bogor naik motor, bahkan cerita saat sang suami merayu saya (aiiiiih...). Saya menulis untuk bersenang-senang walau saat semakin dewasa saya menyadari orientasi menulis saya harus ditambah. Selain untuk bersenang-senang saya sekarang menulis untuk melihat hikmah apa yang bisa saya ambil dari setiap kejadian yang saya alami.

Belakangan ini mungkin teman-teman blogger menyadari saya banyak menulis untuk lomba. Rasanya dari bulan Juni kemarin banyak kompetisi menulis blog yang hadiahnya bikin saya ngiler. Maka saya juga jadi rajin mengikuti lomba-lomba tersebut. Tapi tidak semua lomba saya ikuti walau saya mengetahui tentang lomba tersebut dan telah memasukkan tanggal-tanggal berakhirnya kompetisi pada timeline kerja saya (kayak yang kerja aja hahaha..).

Beberapa lomba yang saya lewatkan antara lain lomba yang berhadiah motor tentang susu kental manis, lomba berhadiah motor tentang perusahaan listrik negara, lomba tentang andai aku jadi ketua KPK, lomba yang berhadiah the new iPad tentang lotion kulit malam hari (???) dan lomba menulis tentang guru. Saya punya alasan tersendiri mengapa melewatkan lomba-lomba tersebut.
  • lomba tentang susu karena saya tidak sepakat penggunaan susu kental manis untuk diminum. Teman-teman saya dari fakultas peternakan sering menjelaskan bahwa susu kental manis tidak untuk diminum dengan cara dicampur air, susu kental manis digunakan untuk pelengkap makanan. Misalnya digunakan pada topping kue, pada martabak, dll.
  • Lomba tentang perusahaan listrik negara karena entahlah saya kesulitan menuliskan harapan saya sesungguhnya pada perusahaan milik pemerintah hehehe.. saya sudah pernah magang di salah satu BUMN, sejak 2009 saya sudah lebih dari 3x ditawari bekerja di BUMN tersebut. Menolaknya perlu usaha keras apalagi orang tua saya sangat menyayangkan, jarang-jarang ada mahasiswa yang belum lulus tapi ditawari pekerjaan. Saya menolak karena saya tau betapa seramnya, betapa kotornya permainan di dalamnya, dan saya khawatir saya tidak sanggup bertahan.
  • Lomba tentang KPK karena saya tidak suka politik, tidak suka dan sepertinya tidak mengerti betul dengan korupsi dan hubungannya dengan KPK. Buta. Begitu saja.
  • Lomba tentang lotion itu tidak saya ikuti karena saya sudah menang lomba kosmetika halal dari wardah dan saya tidak menggunakan lotion itu. Agak muna' aja rasanya kalo saya harus membeli dan menulis tentangnya sedang saya tidak pernah memakainya hehehe..
  • Lomba tentang guru? Well sebenarnya saya sudah menulisnya, sudah ada kerangkanya, sudah ada data-datanya. Tapi saya tidak melanjutkan menulis. Saya merasa "ruh" saya tidak begitu kuat untuk menyampaikan pesan saya tentang guru yang sudah saya pikirkan itu. Saya perlu sesuatu yang lebih kuat selain kengileran terhadap hadiahnya.
Bagi saya menulis itu passion. Sang suami bahkan bisa melihat itu, katanya saya tampak benar-benar hidup saat menulis. Dan karena menulis adalah passion maka saya tidak bisa memaksakan diri untuk menulis, saya harus mengumpulkan kekuatan ruh dari tulisan saya, kebahagiaan dan minat saya terhadap topik tersebut.

Menulis adalah seni, seni mengelolah hati. Karena saya pernah mendengar kalimat bijak ini (yang saya lupa sumbernya)

Kebuntuan dalam menulis adalah akibat kurang pekanya kita menghadapi suatu hal. Kurang peka bisa berasal karena kita kurang mengisi ruhiyah kita dengan hal-hal yang mendekatkan diri pada sang pemilik kepekaan, Allah SWT
Yap, baiklah... mari kita kumpulkan kembali energi, perbaiki hati, segarkan pikiran dengan banyak membaca dan mari kembali menulis buat lomba ahahahaha.....

Wednesday, November 21, 2012

Infaq Satu Juta (Part 2)

Sebaiknya baca postingan sebelum ini... Infaq satu juta

Rencana di Palembang cuma sebentar yang jelas tanggal 31 Oktober kita berdua harus udah ada di Bogor lagi. Awalnya kita mau naik bus aja, karena khawatir sama kandungan gue. Tapi muka ayah gue melas banget beliau bujuk-bujukin kita buat naik pesawat aja. Akhirnya kita naik pesawat tanggal 30 Oktober.

Sebenernya ya booo.. menurut dokter obgyn langganan gue di Palembang, resiko di pesawat dan di bus sama aja. Pesawat beresiko karena tekanan di udara yang berbeda dan guncangan saat take off dan landing. Sedang bus beresiko karena guncangannya. Bus juga beresiko karena lama perjalanan yang ditempuh. Tapi menurut hypnobirthing, asal ibunya tenang insyaAllah bayinya ga apa-apa. InsyaAllah. Dan kami percaya itu.

Pesawat yang dipilih adalah Singa Merah. Biasanya opsi pertama sang Burung Biru tapi mahal boooo.. kita naik sang singa aja. Gue ga mau dan rada-rada trauma naik pesawat Betawi atau pesawat Raja Palembang soalnya serem aja. Jadi kalo ga naik Burung Biru ya naik Singa Merah. Itu udah yang paling save di Indonesia. Walau naik Singa Merah beresiko kena penundaan keberangkatan alias DELAY. Dan bener aja, pesawat kita delay krikrikrik..

tiket

Pesawat delay artinya kita dapet makanan. Satu jam kemudian pesawatnya udah ready, kita udah bisa naik pesawat. Biasanya gue milih buat naik di akhir-akhir biar ga desak-desakan. Eh pas di depan pintu pesawat kita ditahan. Petugas yang ngeliat perut gue langsung nanyain hamil berapa bulan. Dengan jujur gue jawab TUJUH bulan. Aih... ternyata gue haram naik pesawatnya. Ga diizinkan karena ga bawa surat keterangan sehat dan bolehterbang dari dokter.

Salah gue sih, harusnya minta suratnya ke dokter Obgyn gue. Tapi karena pas berangkat ke Palembang kemaren ga ada yang nanya-nanyain di pesawat ya gue santai aja hehehe... Salah bandaranya juga, kan ada klinik tuh di bandara, eh malah udah tutup padahal masih ada sejumlah penerbangan. Taukah kalian dampak ga boleh terbang ini? Yup, tiket gue hangus, musnah... hilang sudah sejuta. Inilah yang kami sebut infaq satu juta. Nginfaq sama sang Singa Merah -_____-"

snack ini harganya sejutaaaaaa
Oh iya, koper kita berhasil dikeluarin dari pesawat sebelum pesawatnya terbang, tapi satu kardus pempek ga terselamatkan. Udah keburu terbang ke Jakarta tuh kardus. Kita konfirm kalo kardus kita kebawa terbang, sayangnya responnya buruk. Kardus yang udah masuk bagasi pesawat itu ga pernah kembali. Padahal kita udah bolak balik ke bandara. Kita tau sih nasibnya sang bagasi emang begitu, tapi yang kita lakukan adalah pengen nunjukin kalo itu hak kita maka kita harus perjuangkan!

nomer bagasi yang ga dicoret = bagasi yang menghilang

Kegagalan kembali ke bogor bikin kita berdua galau, lahiran di Palembang kah atau di Bogor. Akhirnya kita putuskan untuk kembali ke Bogor. Tanggal 8 kita naik bus Pahala Kencana jurusan Palembang Bogor. Seru deh naik bus berdua sama mas Tyo sayang muach-muach.. Tidur berbantalkan bahunya, lihat pemandangan indah sepanjang jalan, aih... makin sayang deh pokoknya (lebay hahaha).

Merak di pagi hari
Dan disinilah kami berdua, di rumah (kontrakan) kami. Hanya berdua. Siap untuk mandiri. Siap untuk kelahiran anak pertama kami di kota hujan yang romantis, Bogor...


rumah pakuan


pemandangan dari depan rumah (gunung salak)

Infaq Satu Juta

Judulnya tengil, riya', suombuong buanget ya...

yaelah sejuta doang belagu amat des..
makanya dibaca dulu aja ya biar ketauan ceritanya

Dimulai dari tanggal 20- 21 Oktober 2012 maen ke kampusnya suami di daerah Cipete, Jakarta Selatan ada acara persembahan dari mahasiswa baru gitu deh. Nekat ba'da isya naik motor ke sana. Nyampe sana jam 9-an malem dan ternyata acaranya udah bubar gyahahaha.. Menurut suami dan temen-temennya biasanya acaranya sampe jam 12 malem, tapi karena emang ada kuliah ekstensi di kampusnya jadi ga boleh malem-malem banget acaranya.

Udah malem dan capek banget kita segera cari tempat nebeng tidur hehe.. Karena ga memungkinkan untuk nginep bareng, jadi terpaksa gue dan suami harus pisah sementara. Gue nginep di kosannya Ana, temen sekampus suami. Gue kenal Ana sejak tahun 2009, suami udah pernah ngenalin temen-temennya sejak jaman yang kita sebut "gue ga tau dia jodoh gue atau bukan". Sedang suami nginep di kosan Agung, sahabatnya semasa di kampus yang udah sering banget gue denger ceritanya dari sang suami.

Beberapa temen perempuan sang suami yang penasaran sama "bini-nya Tyo" datang ke kostan Ana malem itu. Yaaaah... semoga gue ga malu-maluin suami lah ya hehehe... Semoga gue cukup cakep buat bikin temen-temennya terkesan (lhaaaa...).

Paginya gue dijemput suami buat sarapan bareng. Kita kayak orang pacaran deh (kayak yang pernah pacaran aja deeeees..). Setelah itu gue dianter lagi ke kostan Ana buat ambil barang-barang dan langsung caw ke rumah sahabat suami semasa SMA, kak Ahmad Setiawan. Kita berdua emang berencana ke Jakarta buat silaturahim ke temen-temennya suami. Jadi walau ga bisa ikutan acara kampusnya suami, yang penting bisa ketemu temen-temennya.

Alasan terbesar mengunjungi kak Ahmad karena kak Ahmad baru punya baby cantik yang dikasih nama Aqilah. Aih aqilah lucu bangeeeeeeeeeeeet..... mukanya mirip kak Ahmad banget, sedikit pun ga ada sudut yang menunjukkan Aqilah mirip Ami, ibunya.



Ba'da ashar kita berdua langsung jalan ke Bogor, kebayang ga tuh pinggang gue sama suami bentuknya kayak apa hahaha... Di jalan hujan, ah pokoknya subhanallah.. semoga silaturahimnya berkah

Besoknya tanggal 22 Oktober kita gegoleran di rumah, ga ada rencana macem-macem. Pokoknya hari itu pinggang dan pantat kita berdua harus lurus kembali hahaha.. Tapi rencana batal gara-gara BBM-an sama Ophie, Ophie ini temen sekampus gue yang juga juragan kambing. Rencananya suatu saat neng Ophie akan menggunakan mitsubishi strada buat nganter kambing-kambingnya ke pelanggan. Keren gila... hahaha (aamiin ya phie).



Gara-gara BBM-an sama neng Ophie ini akhirnya niat gegoleran sepanjang hari diurungkan. Ba'da dzuhur kami akhirnya naik motor lagi ke kandang milik neng Ophie. Tau lokasinya? Dari kampus IPB Dramaga teruuuuuus aja sampe ke Gunung Salak hahaha.... Jauh banget dah, ada kali 1,5 jam naik motor. Ajib lah pokoknya. Kita berdua sengaja jauh-jauh ke kandang buat milih sendiri kambing buat diqurbankan tahun ini (qurban tanggal 26 Oktober). Suami pengen banget liat fisiknya tuh kambing, sejauh apapun dijabanin sama doi.

Kami emang berencana hari raya Qurban ini mau berdua aja di Pakuan. Ga pulang ke Palembang. Setelah diliat-liat dan cocok, jadilah kita beli kambing ke Neng Ophie. Kita udah seneng ngebayangin lebaran berdua, ngeliat kambing kita mati ditangan penjagal (???), pokoknya seneng banget... Tiba-tiba ada telpon dari kantor suami di Palembang. Suami mendadak ada kerjaan dan harus pulang segera. Trus tiba-tiba pula ada telpon dari dataprint kalo gue menang undian. Banyak tiba-tiba. Akhirnya karena lebaran udah deket dan ga mungkin kita berdua dipisahkan (aih lebay), jadi gue dan suami pulang ke Palembang. Tgl 24 Oktober kita mendarat di Palembang. Kambingnya? Ya kita percayakan sama neng Ophie buat disembelih di desa dekat kandang. Kata neng Ophie disana cuma sedikit yang qurban.

Kepanjangan kalo diceritain sekarang, jadi tungguin aja postingan berikutnya..

Tuesday, November 20, 2012

Netbook Asus Yihaaaaa...



Semua pembaca setia blog aneh ini harusnya tau kalo gue belum lulus kuliah S1 di Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Don’t ask why and no question about when will I graduate from my study :p

Jadi suatu hari yang sangat indah gue mau ngeprint kuesioner penelitian dan ternyata tinta printer gue habis. Kering kerontang. Kertas yang masuk dikeluarkan dengan sempurna persis kayak kondisi awal. Putih polos dan tetep putih polos. Padahal itu udah kepepet. Mau keluar rumah eh hujan. Yasudah akhirnya gue menyabar-nyabarkan diri buat menunda ngeprint besok pagi, soalnya seperti biasanya hujan di Bogor baru akan reda pada malam hari.

Pas udah pasrah begitu tiba-tiba ada SMS masuk dari tukang ojeg kesayangan (as know as Septina Mugi Rahayu hahaha)


“Des aku ke rumahmu ya sore ini mau maen, aku naik motor bareng Irnita…”


Wuaaaa… My herooooo… My supermarket (???)

Beberapa detik sebelum adzan maghrib bergema di Pakuan Regency, Septina dan Irnita sampai di rumah. Mereka kehujanan. Setelah ngobrol panjang lebar, cekakak-cekikik ga penting, gue minta tolong mereka buat nganterin ke tempat khusus isi tinta printer di dekat kampus. Mereka bersedia. Jam 8 malem gue dianter Septin ke lokasi pengisian tinta printer. Dan ternyata tokonya udah tutup. Karena bingung akhirnya gue minta dianter ke mini market terdekat. Gue putuskan buat beli tinta printer dan ngisi ulang sendiri di rumah. Gue pilih tinta dataprint. Kenapa? Karena cuma ada itu pilihannya. Serius! (jujur banget).

Nah di dalem bungkus tinta isi ulang dataprint itu ada sejenis kupon undian. Iseng gue baca, iseng gue buka web dataprint, dan iseng gue isi data gue disana, ngisi sang kupon undian. Sebulan kemudian, gue bareng suami pergi ke dokter kandungan. Sang kupon yang gue selipin di buku laporan kehamilan ternyata diliat suami.

Dua Kupon

Mas Tyo sayang muach muach (M) : ini apa?

Gue (G) : oooh… itu kupon undian, iseng-iseng aja pas beli tinta isi ulang

M : lho, ga isi ulang di tempat isi ulang?

G : tutup, kan aku udah cerita…

M : (ngangguk2) yaudah disimpen aja kuponnya…

Sang kupon disimpan.

Ceritanya udah ketebak kan? Emang gampang nebaknya hahaha..

So, suatu pagi gue dan suami lagi males-malesan di rumah, kita berdua tepar karena habis naik motor berdua dari Bogor (lebih tepatnya Dramaga) ke Jakarta dan balik lagi ke Bogor dalam rangka silaturahim ke kampusnya suami plus ke rumah sahabat suami di Ulu Jami. Pegel banget. Ditambah gue yang lagi hamil 7 bulan bikin pegel terasa luar biasa. Suami pegel plus-plus karena stress takut istri dan jabang bayi kenapa-kenapa. Takut kenapa-kenapa kok naik motor? Yaaah.. kita berdua percaya bahwa kandungan gue kuat, dengan kekuatan doa dan ketenangan hati, insyaAllah bayi dalam kandungan gue ga apa-apa. InsyaAllah.

Males-malesan pun didukung dengan air pam di Pakuan Regency yang mati total dari jam 11 malem. Alhasil kita berdua belum mandi dari pagi. Menyedihkan dah pokoknya. Tiba-tiba handphone gue berdering, ada panggilan masuk. Seorang wanita diujung telpon (yang akhirnya gue tau namanya “mbak anist”) menyapa lembut. Inti pembicaraannya adalah


“ibu Desni selamat telah memenangkan undian dan mendapatkan netbook dari dataprint. Ibu Desni pernah mengisi kupon di web dataprint kan? Ibu belum lihat pengumumannya di web ya?”


Gue syok.. Syoooook… Syooooooook.. (lebay!)

“Alhamdulillah…beneran mba?” reaksi gue yang akhirnya mengundang tawa dari mbak anist.

yeeey.. lagi-lagi nama gue ada di internet (alay)

Wah subhanallah… Kaget gue. Perasaan dulu ga pernah menang apapun, rezeki menikah mungkin, atau rezeki hamil, entahlah. Yang jelas Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Sesaat setelah telpon ditutup, air pam nyala.

Ceritanya begitu aja… hari ini netbooknya nyampe rumah. Kayaknya ga akan dipake, soalnya gue dan mas tyo sayang muach-muach laptopnya alhamdulillah masih bagus. Kebetulan juga bentar lagi lahiran, jadi sang netbook rencananya mau kita jual aja. Lumayan buat beli clodi (cloth diapers) muahahaha... Ada yang tertarik? Kontak-kontak eik aja. Yuk yak yuk…

ciyeeee...
difotoin suami doooooong.. ihiiiy

Tuesday, November 6, 2012

Tanpamu Tak Akan Sama

Foto ini diambil saat kami sedang makan malam berdua di rumah makan Padang Palapa km 5 Palembang. Kami makan pukul 23.40-an. Makan setelah seru-seruan nonton Skyfall di PIM (Palembang Indah Mall :p), Malem amat ya? Kita kelaperan habis nonton, rencana langsung pulang ba'da nonton diurungkan, kami putuskan banting stir dan mampir dulu buat makan.


Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah kutipan yang diambil dari sebuah film Indonesia, Catatan Harian Si Boy


Tiba-tiba saya teringat dengan kata-kata yang diucapkan Michael Peña (Mike Zavala) dalam film The End of Watch. Kata-kata yang dia ucapkan pada sahabatnya Brian Taylor yang diperankan oleh si ganteng prince of persia, Jake Gyllenhaal. Kira-kira begini nasihatnya
Nenekku bijak sekali, saat aku ingin menikahi Gabby, nenekku bertanya 'Apakah kau bisa hidup tanpanya? Jika ya, maka berhentilah, jangan berpura-pura mencintainya..'
Saat mendengar kata-kata itu saya sendiri menanyakan hati saya, apakah saya bisa hidup tanpa laki-laki yang duduk di kiri saya ini dan saya genggam tangannya? Lalu saya coba membayangkan bagaimana bentuk hidup saya bila tak ada dia. Dan saya tak sanggup. Tiba-tiba saya menangis. Sang suami bingung kenapa di adegan yang sama sekali ga melow ini istrinya menangis hahaha....

Dan pikiran saya kembali mengenang kata-kata sang suami yang sepertinya diucapkan lebih dari 3x pada saya

Kakak ga jatuh cinta ke kamu kayak orang yang tergila-gila. Biasa aja. Tapi kamu harus tau, hati kakak rasanya aneh kalo ga ada kamu, rasanya ga sempurna...

Mungkin cinta saya dan suami bukan cinta spontan yang ga pake proses. Cinta kami berproses, seperti membangun rumah, kami bangun pelan-pelan pondasinya, kami susun batanya hingga kami berharap akan ada istana cinta yang kuat nan megah mempesona.

Tau lagunya Padi yang Tempat Terakhir? Saya suka salah satu baitnya TANPAMU TAK AKAN SAMA
^ ^

Saturday, October 27, 2012

Behind The Scene : Ngambil iPad

Booo... kangen banget ngepost pake bahasa santai...

Yak setelah kemaren seru-seruan ngepost buat lomba, sekarang saatnya cerita ringan tentang saya dan kekasih tercinta Mas Tyo yang pasti sudah ditunggu-tunggu sama temen-temen sekalian (pedeeeee...). Ah ga usah malu, gue tau kok, KEPO itu naluriah banget, makanya industri infotainment maju banget di dunia ini. Santai aja hahaha...

Dari judulnya, udah pada taulah ye kalo gue bakal nyeritain tentang proses ngambil sang iPad hadiah dari lomba kosmetika halalnya wardah, mui dan blogdetik. Kita mulai ceritanya dari sebelum nikah. Kok sebelum nikah? Disimak aja ya...

Jadi seperti yang pernah gue ceritain di postingan lampau tentang siapa sih suami gue, gue pernah cerita bahwa sang suami bekerja di jakarta kan ya. Nah semingguan sebelum nikah, sang suami jatuh sakit. Kebanyakan pikiran kali ya... Pas nikah sembuh, trus setelah kita balik lagi ke jakarta, doi sakit lagi. Kita sampe perlu pulang lagi ke Palembang dan beliau sampe diinfus. Walau ga dirawat di RS dan hanya dirawat sama dokter keluarganya, tapi itu bikin gue sedih banget. Sampe gue dan sang suami bikin perjanjian

kukunya masih merah karena "pacar"

"kakak janji ya, ga boleh ninggalin aku, ga akan pernah ninggalin aku..." gue merengek-rengek sampe sesegukan :'(

"iya sayang, kakak janji... udah jangan nangis nanti sesak nafasnya..." sambil ngelap air mata gue

Nah gara-gara sakit ini suami sampe tiga minggu ga masuk kantornya. Akhirnya beliau memutuskan buat resign aja. Gue sih setuju aja. Ada kali sebulan beliau ga ngantor. Asik banget bisa bareng-bareng terus. Jalan-jalan berdua, nonton, ya kayak orang kasmaran banget deh hehe... Setelah resign beliau sama sekali ga apply kerjaan kemana pun. Emang rencananya mau santai dulu sebulan, nikmatin masa-masa berdua. Tapi sebenernya dua minggu setelah resign, tiba-tiba ada telpon dari temen SDnya (beliau SD di Aceh) yang nawarin kerjaan di Palembang. Wah subhanallah deh.. Pokoknya ga disangka-sangka.

resign
Tawaran diambil, suami kerja di Palembang dan gue masih di Bogor menyelesaikan yang belum terselesaikan. Jadi ceritanya kita LDM (long distance marriage hehe..). Dua minggu sekali gue pulang ke Palembang, tapi pernah juga sebulan baru pulang. Kangennya booooo... perih banget. Sejenis rindu setengah mati. Nah sengaja tuh gue ga pernah ngeluh dan atau update kondisi LDM kita di socmed. Kenapa? Ya males aja... Kalo ada yang ngerasa dikepoin di socmed, itu mah salah dirinya sendiri, ngapain ngupdate-ngupdate masalah pribadi di socmed tapi ga mau orang lain tau... Hellooooooowww..... Fokus des.. fokus..

Nah jadi beliau dikontrak di Palembang sampe bulan September. Pokoknya kalo gue masih belum selesai dengan urusan gue di Bogor, beliau akan pulang ke Bogor. Kalo udah selesai beliau akan memperpanjang kontraknya. Jadi September kemaren jadwalnya beliau balik ke Bogor karena urusan gue masih belum kelar huwuwuwu....

Tapi mendadak beliau ga bisa balik ke Bogor. Katanya beliau masih ada kerjaan di kantor. Kemungkinan awal Oktober baru bisa balik. Gue kan sedih ya.. padahal gue udah ngebayangin tanggal 27 September, gue bakal ngambil iPad ditemenin sama sang suami. *ini kata-katanya curhat banget*

Kayaknya sangkin nyeselnya ga bisa nemenin gue ngambil iPad, beliau BBM terus seharian. Nelpon, SMS pokoknya baik banget deh..

"Tami, hape kakak mau mati nih, kakak lagi jalan-jalan, kamu jangan tidur malem-malem ya, kasihan anak kita..." BBM dari suami jam 7 malem

"Kakak lagi dimana, dicas atuh hapenya.. iya nanti aku tidur cepet, ini juga udah ngantuk"

 Habis itu gue tidur tuh soalnya BBM ga dibales lagi. Ga terkirim lagi BBMnya, itu artinya hapenya udah tewas. Tapi tiba-tiba jam 00.30 gue ngerasa ada bunyi-bunyi di ruang depan. Gue udah horor aje, gue kira maling. Tapi karena ngantuk berat gue diem aja (kebo banget). Nah tiba-tiba pipi gue ada yang nyium, trus gue dipeluk. Pas melek ada dia... ada diaaaaa... suami gue.... Mas Tyo sayang sambil senyum-senyum... horeeeee...

Nangis tuh gue sambil meluk dia.

"Lebay deh lebay..." ujarnya minta ditoyor haha..

Kita ga bisa tidur tuh, nungguin subuh aja. Nah setelah subuh kita berangkat dari rumah (di Pakuan Regency Dramaga) ke Jakarta buat ngambil sang hadiah. Sampe di Baranangsiang kita sarapan dulu. Setelah itu baru naik bus. Kita udah nyampe Jakarta jam 7.30an. Kita kira jam 10 kita udah nyampe di lokasi (lokasi di Balai Kartini). Sebenernya 15-30 menit harusnya nyampe. Tapi macet banget, macet bangeeeeeeeeeeeeeet, kebangetan deh macetnya. Kita jam 10.30 baru nyampe lokasi dan penyerahan hadiah sama direktur LPPOM MUI udah selesai huwuwuwu... Padahal kita udah naik taksi hiks..

Sebenernya kejadiannya lebih miris lagi. Masih inget postingan gue dua tahun lalu tentang hujan sore hari di Bogor? nah kalo lupa silahkan baca lagi disini. Sepatu gue sangkin seringnya kena hujan ternyata rusak, sayangnya rusaknya disaat yang tidak tepat. Rusaknya pas di jalan mau naik bus di Bogor. Jam 7 pagi, dimana coba harus cari sepatu. Suami cuma geleng-geleng hahaha... Maaf ya mas, aku ga tauuuu....
sepatu pejuang iPad :p

Pokoknya perjuangan banget deh...

tweet 27 September

Daaaan akhirnya sang New iPad 4G 64 GB nyampe ditangan.. Alhamdulillah...

Bareng mba Mel dari Blogdetik

keluarga wilopo bareng rizkun

Eh iya btw, enak lho ikutan acara penyerahan hadiah bareng MUI-nya. Makanannya enaaaak hahaha... modus! :p

Wednesday, October 17, 2012

Kandidat Jodoh



Seperti kematian dan rezeki, jodoh adalah kepastian dari Allah yang Ia jadikan rahasia. Rahasia tentang seperti apa bentuknya, bagaimana cara kita menemukannya dan kapan waktunya. Kita berhak berusaha dan berdoa agar sang rahasia itu sesuai dengan apa yang kita usahakan dan kita doakan selama ini.

Sebagian orang dipertemukan Allah dengan beberapa “kandidat” jodoh sebelum akhirnya menemukan jodoh yang sesungguhnya. Selanjutnya kita akan menyebut kandidat jodoh ini dengan mantan pacar. Bagi orang yang terlanjur pacaran, mantan pacar memberi beberapa jenis kenangan yang berbeda pada tiap orangnya. Ada yang punya kenangan bahagia, ada yang sedih, ada yang menyakitkan, ada yang mendewasakan, ada juga yang membuat kita benci sekali untuk mengingatnya. Walau begitu sebaik apapun, semanis apapun dan seindah apapun kenangan dengan mantan pacar, saya tetap sangat menganjurkan agar teman-teman yang belum punya pacar (terutama yang tidak pernah pacaran) agar terus bertahan untuk tidak pacaran. Karena percayalah, sebaik apapun hikmah yang diambil, pacaran tetaplah dosa. 

Baiklah kembali ke topik.

Ada beberapa ungkapan yang sering orang gunakan untuk menggambarkan keberadaan sang mantan. Misalnya

“kadang kita dipertemukan dengan orang yang salah sebelum dipertemukan dengan orang yang benar”

Dalam banyak hal saya tidak sepakat dengan ungkapan ini. Kenapa? Karena ungkapan ini seperti sebuah penghakiman bahwa mantan pacar adalah orang yang salah, orang yang buruk (terlepas dari kenyataan bahwa pacaran memanglah sebuah dosa).

Dalam bayangan saya, orang yang salah atau orang yang buruk tidak jauh dari permisalan seorang pria yang pemalas yang pada akhirnya ketika menjadi suami ia malas-malasan mencari nafkah, atau wanita pemalas yang ketika menjadi istri malah tidak mau melayani suaminya, orang-orang yang tidak sholat, tidak puasa, pemabuk, suka berjudi, berkata-kata kasar, memukul, durhaka pada orang tua dan semua sifat yang mencerminkan bahwa ia bukan orang yang taat pada agamanya. 

Bukankah tidak semua mantan begitu?
Coba ingat-ingat lagi alasan kenapa dulu jatuh cinta lalu kenapa pula putus? Jika penyebab putus adalah  dia sering membuatmu menangis, benarkah ia membuatmu menangis karena dia buruk? Atau kita saja yang terlalu melankolis, terlalu drama melihat kenyataan. Hanya karena dia tidak perhatian (dengan menanyaimu “lagi apa sayang?” setiap saat) lalu kita menangis dan minta putus. Apakah itu berarti dia orang yang buruk? Tidak. Saya rasa tidak.

Izinkah saya bercerita tentang seseorang dari masa lalu saya. Saya dulu sempat dekat dengan seorang pria. Sejak kelas lima sekolah dasar hingga kelas dua sekolah menengah pertama. Pacaran? Itu mungkin istilahnya. Tapi kami tak menggunakannya. Kami tidak pacaran seperti teman-teman lainnya. Dulu waktu saya SMP, beberapa teman sudah merasakan first kiss. Saya dan dia? Tidak! bergandengan tangan saja tidak pernah. Jalan-jalan berdua juga tidak pernah. Dia dengan sangat baik menjaga saya. Dulu kami hanya bercerita banyak hal, bertukar pikiran lewat surat. Saya menyimpan fotonya, begitu juga dia. Karena kebetulan kami juga beda sekolah. Lalu kenapa putus? Simple saja, saya bosan, saya tidak mau pacaran, saya merasa tidak butuh pacar. Lalu apakah pria sebaik dia mendadak jadi buruk karena telah menjadi mantan saya? Jelas tidak.

Selain alasan-alasan sepele, ada pula yang putus karena hal-hal besar. Misal karena restu orang tua. Bisa jadi ibu atau ayah salah satu pihak tidak suka dengan kandidat jodoh yang dibawa. Jika orang tua tidak suka lalu apakah mantan pacarmu menjadi buruk? Belum tentu.

Saya (sebagai calon orang tua) sepakat bahwa orang tua tidak selalu benar, walau ridhonya adalah ridho Allah jua. Orang tua bisa keliru. Orang tua tetaplah manusia yang bisa salah. Itulah kenapa ada ilmu komunikasi yang bisa kita pelajari dan terapkan untuk terus berkomunikasi dengan baik (ahsan) untuk mendapatkan ridhonya.

Ada yang tidak bisa terima jika orang tua bisa salah? Baiklah saya beri contoh. Dulu ibu saya melarang saya berjilbab, beliau tidak tahu hukumnya, beliau berdalih bahwa sebaiknya saya berjilbab setelah menikah. Wah berapa banyak dosa yang akan saya dan ibu tanggung jika harus mengikuti perintah ibu, maka saat itulah saya belajar mengkomunikasikan kepada ibu, pelan-pelan dan dengan cara yang baik. Pernah sekali saya ngotot. Lalu ngototnya saya membuat hubungan kami renggang.  Setelah mempelajari ilmu komunikasi di bangku perkuliahan, saya menyadari sepenuhnya bahwa dalam banyak kasus komunikasi bukan pesannya yang salah tapi bagaimana cara menyampaikan pesan yang mengundang kesalahpahaman.


Tentang jodoh, orang tua bisa saja salah karena kesan pertama yang didapat tidak baik. First impression pada seseorang kadang sangat mempengaruhi pandangan orang tersebut berikut-berikutnya. Jika kita yakin sang kandidat jodoh adalah orang yang baik maka bisa mengkomunikasikan, tapi jika kita merasa dia buruk (pemabuk, suka memukul dkk seperti yang saya tulis di atas) buat apa pula dipertahankan.

Ada juga yang putus karena ketidaksamaan karakter. Misalnya kita punya pasangan yang cuek, sedang kita inginnya dia terus-terusan perhatian. Atau kita orang yang cemburuan lalu sang pasangan adalah orang yang ramah dan mudah bergaul. Ketidaksamaan karakter seperti ini juga lantas tak bisa membuatmu beranggapan bahwa mantanmu adalah orang yang buruk. Ia hanya tak cocok denganmu dan kalian tidak berjodoh. Titik.

Meminjam kata-kata Fazlur (@ffazzle) “Saat dua potongan puzzle tidak bisa bersatu, itu bukan karena salah satu dari mereka tidak baik.. hanya tidak cocok.. dan pasti ada potongan lain yang cocok J

Simpelnya, kalo ga jodoh ya ga jodoh aja, jangan malah ngejelek-jelekin orang lain karena dia ga jadi sama kamu, berbesar hati lah.. Salam hangat dari kota hujan. Desni.

Thursday, October 4, 2012

Behind The Scene : Ikut Lomba Kosmetik Halal

Sepertinya lomba kosmetik halal yang diadakan blogdetik, wardah dan MUI kemarin adalah lomba blog pertama yang saya ikuti dengan sangat serius. Saya memikirkan setiap detailnya. Bagaimana alur cerita, dan karena salah satu syarat lomba adalah menampilkan foto bersama wardah saya jadi sangat memikirkan bagaimana fotonya, serta bagaimana tulisan saya bisa jadi tulisan teratas jika ada yang browsing dengan kata-kata "lomba kosmetika halal".

Saya butuh waktu seminggu untuk mengumpulkan data, menyeleksi ide cerita yang saya rasa penting untuk diceritakan, mengendapkan cerita, meminta suami mengoreksi, meminta teman-teman mengomentari, serta mengumpulkan rasa percaya diri. Akhirnya tanggal 27 Juli 2012 tulisan tersebut resmi saya publikasikan di blog dan segera saya daftarkan lomba.

Untuk foto, karena saya tidak punya kamera digital dan hanya punya kamera handphone, serta suami sedang bertugas di luar kota dan rasanya tidak cukup percaya diri untuk meminta bantuan untuk difotokan oleh orang lain selain suami, maka saya putuskan meminjam kamera digital pada Sobari dan Asih. Saya mengambil gambar dengan bantuan timer. Beginilah hasilnya

 1. Pengennya fotonya keliatan muka dan keliatan bayangannya dicermin, malah ga dapet dua-duanya
2. Cuma dapet bayangan dicermin
3. Ng-alay heu.. T.T
4. Berbayang


1. Belum siap
2. Ga dapet mukanya
3. Hilang kepalanya -___-"
4. Cuma dapet bajunya -___________-"
5. Kepalanyaaaa T.T
6. Alhamdulillah jadi ihiiiiiy...

Kalo kata suami, "fotonya bagus, ga ng-alay, ga lebay..." aseeeek...

Suami seneng banget saya ikutan lomba ini. Katanya "tuh kan, bagusan pake Wardah, udah halal, hemat lagi..." (ujung-ujungnye yeeee... :p)

Awalnya kurang pede publish blog, maklum blog saya kan isinya banyakan ngawurnya, banyakan cerita dodolnya, dan mulai banyakan ikutan lombanya hahaha... Tapi yaudahlah ya, demi New iPad wifi + cellular 64 GB, blog dodol ini mulai dipublish. 

Akhirnya tiba tanggal 30 Agustus 2012, saat pengumuman. Saya sebenernya biasa aja, ga ada feeling bakal ketiban iPad, jadi seharian saya ga buka-buka blog, hanya online email via smartphone saya yang kemarin servernya eror se-Asia Pasifik heu...

Seingat saya saat itu pukul 4 sore, saat saya sedang di dapur bersama mama mertua, sedang masak lele yang baru saja diambil di kolam, tiba-tiba suami saya berteriak

Suami : Tami, kamu menang lomba ya?
Saya : Apa? (suara lele nyebur ke minyak lebih kenceng dari suara suami)
Suami : kamu dapet iPad ya?
Saya : Apa sih kak??? (mulai mendekati suami)
Suami : ini baca, ada email notifikasi dari komen blog kamu yang bilang kamu dapet iPad
Saya : Oh yaaaa??? (buru-buru ambil handphone dan liat akun twitter blogdetik)

Wah iyaaaa... saya menang... alhamdulillah.. akun twitternya blogdetik ternyata baru saja mengumumkan pemenang.



Dan seketika blog saya rame pengunjung, rame komentar, dan statistik sedemikian cepat melonjak. Ajiiiiib...


Mau tau kisah gimana ngambil iPadnya? Nantikan segera hehehehe... (apadeh deees)