Wednesday, February 29, 2012

Hari Bahagia


Assalamu’alaykum…
Apa? Apa? Hehehe…
Udah liat kabarnya di facebook dan di twitter kan? He’eh.. iyah.. ada laki-laki baik hati yang mau nikahin guweeeeeeeh…. Horeeeeee… (salah ekspresi)

Kita ulang
Udah liat kabarnya di facebook dan di twitter kan? Iya, sebentar lagi gue mau nikah.. Alhamdulillah yaah, sesuatuuuh… (hahaha.. teteup salah ekspresi)


InsyaAllah tanggal 16 Maret 2012 nanti, pukul 14.00 WIB seseorang akan menggenggam tanggan ayah, mengucapkan kalimat sakti dan jengjeeeeeng akan resmilah kami menjadi suami-istri (merona-rona). Someone from the middle of nowhere itu ternyata menjelma dari seorang pria yang telah saya kenal lebih dari enam tahun yang lalu.

Dunia ini muter-muter disana aja ya, jauh-jauh kuliah di Bogor, jauh-jauh laki-laki yang dulu-dulu datang ngelamar, tapi tetep dia jadi calon suami.

Kalo kata Lionel Richie “stuck on you”

Siapakah pria beruntung itu? (ga apa-apa kali ya narsis dikit biar dia bangga)

Dia bernama Setyo Dwi Wilopo. Udah ga usah googling, sini gue jelasini gimana orangnya.

Laki-laki yang akrab dipanggil TYO ini lahir di Palembang dua tahun delapan hari lebih dulu dibanding gue (27 November 1986). Dia berdarah Betawi – Jawa – Arab – Sunda (dan dia cuma bisa bahasa betawi, yaiyalah yaa -___-“). Pria yang suka jus sirsak (dan ketularan suka jus wortel jeruk) ini bersekolah di kota yang berbeda-beda. Dia menghabiskan SD-nya di Aceh dan teteup ya sama sekali tidak bisa bahasa Aceh. Kelas 1 SMP di Medan (kakak kelasnya Aminudi KAKON masaaaaa…). Kelas 2-3 SMP sampai lulus SMA di Palembang.

Lulus SMA di tahun 2005, dia memutuskan untuk tidak kuliah. Dengan idealisme ingin menjadi pebisnis dia memulai mempelajari bisnis dan membangun jaringan. Mulai dari MLM, menjadi kuli spanduk, dan mengisi waktu dengan kegiatan sosial mengajar di SLB. Tahun 2006 (di tahun yang sama saat gue masuk kuliah) dia tidak tertarik berkuliah di kedokteran UNSRI dan tertantang merantau, katanya dia juga over pede lulus ITB akhirnya kedokteran UNSRI nya dilepas. Qodarullah dia gak lolos ITB dan tes kampus lain di jabodetabek Baraya udah pada tutup. Ada satu kampus di Bandung yang masih buka ujian mandiri, NTC. Disanalah akhirnya pendidikannya berlabuh. DI NTC dia mengambil diploma lalu memilih melanjutkan S1 di kampus swasta, STTI I-Tech, di Cipete Selatan, Jakarta Selatan (ini gue sadur dari pidato wisudanya ahaha..).

Di kampus STTI I-Tech ini dia mencoba aktif berorganisasi dan belajar bersosialisasi. Dia pernah jadi presiden mahasiswa di kampus tersebut pada periode 2010-2011. Dan setelah berkuliah hampir lima tahun, dia lulus dan resmi menyandang gelar sarjana komputer pada Oktober 2011. Setelah lulus dia mulai sotoy markotoy dan hobi sekali meneror calon istri yang dipinangnya 12 Juni 2011 lalu agar cepat lulus.

Pria ini aktif di facebook dan suka ngupdate dengan update-an yang “cuma dia dan Tuhan yang ngerti”. Dia baru memiliki akun twitter (@sdwilopo) dan blog di akhir 2011. Blog miliknya juga tidak pernah (catat itu!) sekali lagi “tidak pernah” di update sama sekali.  Dia aktif di kaskus dengan ID dellholic. Di kaskus dia berjualan gadget yang dia beli sendiri. Sejenis gonta ganti gadget karena bosan. Dan karena repotasinya sebagai  “recommended seller”, dia sering diminta temenya untuk bantu jualin (kepo ya gue hahaha..). Doi punya banyak hobbi, mulai dari sepedaan, nge-game, airsoft gun. Nah sekarang dia udah tobat dari hobi yang ga hemat itu, katanya “lagi belajar nabung buat masa depan yang lebih baik”. Berasa dikampanyein ya..

Pria berkulit sawo matang ini sekarang bekerja di Mastersystem Infotama dan ditempatkan di Pusintek, Lapangan Banteng sebagai Network Engineer  Katanya sih kerjanya ngoprekin perangkat cisco Seluruh Indonesia yang dikelola pusintek. Terdengar keren ya? Padahal gue juga ga ngerti apa maksudnya haha… 


Tempat tinggal kami di Palembang berjarak 20 menit dengan kendaraan pribadi. Gue pernah ngeliatin jam selama perjalanan ke rumahnya. Duapuluh menit yang menegangkan cyiiin… Pria yang memanggil gue dengan TAMI ini memiliki satu orang kakak laki-laki dan seorang adik perempuan ( kakak yang juga bernama Setyo serta adik yang bernama Setya). 

So, udah ya jangan banyak tanya soal dia, gue udah jelasin banget sejelas-jelasnya disini. Oke?

Doain kita ya dengan doa terbaik tulus ikhlas dari mentemen semuanya..:)

*setelah membaca blog ini, sang calon suami berkomentar 
"ganti tuh.. eike consultant NE di pusintek"
dia udah bisa pake "eike2an" -___-"

Thursday, February 23, 2012

Bye Jerawat!

Gue jerawatan dong, parah banget malah.
Temen-temen gue yang sholeh wa sholeha aja sering banget "ngebahas" jerawat gue.

Ini contohnya

Scene 1
Duduk anteng di angkot yang super penuh. Kanan kiri cowok semua. Dalem hati gue berkata "digebet satu lumayan kali" hahaha.. engga lah. Dalem hati gue waswas juga ya, mana lagi banyak kasus perkosaan di angkot. Maka gue banyak-banyak berdoa selama perjalanan. Tiba-tiba angkot berhenti. Seorang wanita berjilbab lebar masuk. Dan gue kenal dia, Rizkun alias Jeje alias Rizka Ardhiyana.

Saat sadar kalo ada gue di dalem angkot, dia histeris
"Desniiiii... kamu jerawatnya banyak bangeeeeeet.."

krikrikrikrik.. dan semua orang di angkot nengok ke gue. Oh my... -_____-"

Scene 2
Lagi beli makan di warteg. Tiba-tiba di luar warteg ada yang memanggil

"Desni!!!"

Ternyata Raden Ery Bunyamin Gufron.

"Eh, Pak Raden!! Kenapa lu cengar-cengir?" sambil heran ngeliat Ery heboh cengar-cengir sendiri.

"Gue syok liat jerawat cinta di muka lu..."

Tabok!!!

Scene 3
Lagi smsan ngebahas bisnis sama sohib in crime, Hasan Slamet Ramdhani. Tiba-tiba doi sms OOT (Out Of Topic).

"Des, lu pake sabun muka apa?" sms Hasan

"dari dokter, emngnya kenapa?" sms balesan dari gue

"Coba Cussons deh des, saya udah coba dan jerawat saya berkurang menipis.."

Hening

Scene 4
Rapat Kakon di RM Pondok Bambu Nuza bareng Hasan (lagi) dan Kiki (suaminya Adhil).
Di meja makan ada nasi, ikan, dan lalapan. Setelah makan, lalapan kami masih nyisa lumayan banyak. Ada timun dan kemangi. Gue ambil timun satu iris buat cemilan, Hasan juga ngambil satu. Pas lagi ngunyah timunnya, gue ngeliat ke arah Hasan. Apa yang dia lakukan? DIA LAGI NEMPEL-NEMPELIN TIMUN KE WAJAHNYA!!!

"Saaan... lo ngapain sih???" histeris

"Ini ampuh lo buat jerawat..." Hasan nyantai

"Bener, San? Wah coba ah.." Kiki nyamber, sambil ngambil timun dan menempelkannya ke wajahnya.

Gue? Gue nelen timun yang udah gue kunyah dengan perasaan pengen muntah.
Hahaha....


Nah beberapa waktu yang lalu gue kan pemotretan tuh (halah!) buat produknya Kakon. Padahal muka gue lagi jerawatan parah separah parahnya. Beberapa jerawat masih menonjol, merah-merah, bahkan ada yang ada matanya. iiiyyyuuuuuuhhh... jelek deh pokoknya. Tapi sekarang gue udah bisa bilang "BYE JERAWAT!!!"

Liat foto di bawah ini. Sebelum dan sesudah.

memble banget deh fotonya -_____-"

Hahahaha... Tau kan obatnya? Yup! Adobe Photoshop gyahahaha...

Dan inilah tombol ajaibnya "HEALING BRUSH TOOL"


 BYE JERAWAAAAT... *dadah-dadah elegan*

Tuesday, February 21, 2012

Profil Facebook-ku Bag-2

Menyambung postingan lima hari yang lalu, kali ini akan ditampilkan print screen atribut dari profil facebook seseorang.



Ketauan alurnya kan?

Masih penasaran???

Tunggu lima hari lagi :p

Thursday, February 16, 2012

Wednesday, February 15, 2012

Putus

Kamu tau rasanya bertemu mantan? Iya, mantan.  Mungkin biasa saja jika sudah tak ada rasa apapun tapi berbeda jika kamu menyadari bahwa kamu masih sayang. Lebih pahit saat kamu duduk bersebelahan dengannya tapi tak ada kata yang terucap. Kalian saling diam, tak berani berpandang.

Baru saja aku merasakannya, rasa pahit itu.

Dari pagi aku sudah nangkring indah di perpustakaan kampus. Sampai pukul 13.00 WIB aku yang mulai bosan, gerah dan mengantuk memutuskan untuk pulang. Selama diperjalanan aku berkali-kali berpapasan dengan para adik kelas. Penampilan mereka mengingatkanku akanmu. Ah.. aku sulit lupa.

Maka sisa perjalanan akhirnya aku hanya bisa berpikir mungkin hari ini Allah akan mempertemukanku denganmu. Dan Allah yang Maha Baik mengabulkan khayalku. Aku berpapasan denganmu. Beberapa detik kita sempat saling diam, kaku, saling pandang namun tak ada kata terucap.

Kau segera mengalihkan perhatianmu pada tasmu, memasukkan sesuatu ke dalamnya, dan aku? Aku terus berjalan menyebrang tanpa berani melirik padamu lagi.

Sungguh aku ingin sekali tersenyum padamu, memberikan salam terbaikku, memelukmu,  aku rindu… Tapi tak sedikit pun aku bisa. Aku hanya merutuki kenapa aku tak tersenyum tadi. Anganku memutar, bukankah dulu kita begitu dekat? Kita biasa berjalan bergandengan tangan, menyusuri jalanan sepi menuju musholla kecil di sudut kampus untuk membicarakan nasib bumi ini saat mahasiswa lain bahkan belum mandi. Kenapa kini begini?

Beberapa saat kemudian aku memutuskan naik angkot, mengingat matahari yang begitu terik rasanya aku tak kuasa berjalan kaki sendiri. Aku jadi berharap kita bisa jalan pulang bersama seperti dulu. Bukankah dulu kita suka pulang bersama, kostan kita searah. Kau masih belum pindah kan? Aku bahkan tak kau..

Dan lagi-lagi dengan segala kasih sayang-Nya, Allah membiarkanku pulang bersamamu, kau menghentikan laju angkot yang kutumpangi dengan satu gerakan jarimu. Aku tercekat. Kau tentu akan duduk di sampingku. Pasti, karena tak ada kursi kosong lagi selain di sebelahku. Kita ngobrol kah setelah
itu? Tidak. Kau sibuk dengan handphonemu yang bordering-dering, sedang aku, aku sibuk mengamatimu dari kaca

Aku memperhatikan penampilanmu. Kita sekarang sudah berbeda ya. Ah, dulu kita senang sekali jika ada yang berkata kita mirip, kita kembar. Kini tak mungkin ada lagi yang mengatakan kita kembar. Penampilanmu sungguh berbeda denganku. Kau yang stylish dan aku yang masih begini-begini saja. Aku yang lusuh dan masih berkutat dengan skripsiku dan kau dengan semua asesoris cantikmu sudah berbahagia dengan kuliah S2 double degree mu. Aku tak tau mesti bahagia atau sedih, tapi aku jelas kehilanganmu.

Kita memang tak pernah mendeklarasikan kata putus, tapi sejak kau dengan bangga mengumandangkan kata-kata “..alasan yang membuatku meninggalkan mereka ( perempuan-perempuan muslimah berkerudung lebar)..” dalam note facebookmu, maka aku merasa sulit bagiku menemukanmu yang dulu lagi.

Aku tau, mungkin salahku saat itu yang mempertanyakan keputusanmu untuk berubah. Salahku mengapa tidak langsung bicara, hanya berani lewat pesan singkat. Tapi aku juga tidak mungkin hanya diam menyaksikan semuanya, tak mungkin berpura-pura setuju dengan keputusanmu meminimaliskan ukuran kerudungmu agar kita tetap jadi sahabat. Ah sudahlah.. mengingat-ingat itu semua membuatku menyesali banyak hal. Termasuk menyesali mengapa kau begitu jauh sekarang, begitu tak tercapai.

"Kiri ya.." ucapmu pelan

Dan air mataku pelan-pelan menetes. Ya ampun, sebegitukah rinduku padamu, hingga saat mendengar suaramu, aku menangis. Itu suaramu yang pertama ku dengar setelah sekian lama.


Takdir mungkin, kini kita harus berpisah. Berjalan-dijalan masing-masing. Dan aku masih berharap semoga suatu saat kita bisa tersenyum lagi bersama, wahai mantan sahabatku.

Sunday, February 12, 2012

Sakinah Bersamamu


Hmmm… judul di atas adalah judul buku milik mbak Asma Nadia, dan judul ini juga merupakan salah satu judul cerita dalam buku tersebut yang sekaligus menjadi cerita favorit saya. Saya selalu menangis deras membacanya. Serius. Saya bahkan selalu sukses ASMA setiap membacanya. Benar-benar ya mbak Asma Nadia hehe…

Entah kenapa saya menangis, mungkin pernah mengalami kejadian mirip (ngaco!). Yuk mari disimak.

------


Kenapa kita menikah, Bang?
Sebab tanpamu, tak ada pernikahan bagiku.

Cintakah yang membuatku betah berlama-lama memandangi wajahmu yang lelap? Dua puluh lima tahun, sayang… dan tak sekali pun aku merasa bosan menatapmu, laki-laki pertama yang berani meminangku.

Seperti saat ini. Kau terbaring dengan mata terpejam, lebih dalam dari biasa. Sama sekali tidak terusik oleh pandanganku yang begitu lama tak beralih darimu. Tak juga terganggu oleh elusan tanganku di pipi dan dahimu. Atau oleh suara keriuhan sekitar kita.

Dan seperti yang sudah-sudah setiap kali memandangmu tertidur, baying-bayang kebersamaan kita begitu saja terpampang di pelupuk. Berkejaran. Takdir telah mempertemukan kita, dua orang yang tidak sempurna, hingga sampai ke pelaminan. Ketika aku mulai cemas, taka da laki-laki yang berani mendekati, apalagi melamarku.

“Makanya jangan pasang muka galak, Ri!” celetuk Ratasya sahabat baikku yang sudah seperti saudara kandung itu, dengan mimic lucu.

Galak? Iya, kah?

Tapi Mitha yang dua kali lipat lebih sangar dariku, sudah setahun yang lalu dipinang lelaki Jawa, dari fakultas lain.

“Mungkin kau terlalu pemilih!”

Kali ini suara Mitha. Apakah dia mendengar kalimat yang terbesit di batinku?

Pemilih?

Pikiran ini nyaris membuatku tergelak-gelak. Imajinasiku membayangkan adegan puluhan tangan sibuk memilih pakaian yang sedang sale di department store. Allah… bagaimana bisa membuat pilihan ketika tak satu pun laki-laki terlihat mengambil ancang-ancang mendekatiku?

Sementara Raja, satu-satunya makhluk lawan jenis yang dekat denganku sejak di bangku pertama kuliah, memberi jawaban lain. Simple saja, “Kau terlalu perkasa bagi laki-laki, Ri!”

Ah. Jika saja dosen sosiologi kami tak keburu datang, pasti sudah kudebat dia untuk mendefinisikan arti kata ‘perkasa’ di sini. Apakah perkasa itu karena aku mengendarai motor gede ke kampus? Apakah kata itu dilekatkan karena kebiasaanku mengenakan celana panjang dengan banyak saku? Atau karena cara bicaraku yang terus terang dan tidak kemayu? Atau… karena aku tidak merasa perlu meminta tolong apa pun kepada teman-teman pria di kampus, untuk hal-hal yang masih bisa kukerjakan?

Galak, pemilih, dan perkasa. Tiga kata itu membuatku mereka-reka akhir kisah cintaku yang tak pernah dimulai. Padahal kata orang-orang wajahku tak jelek. Bakan menurut Raja, aku jauh lebih menarik dari tikus-tikus yang terjebak lem di kamar kos-nya. Bah!

Syukurlah Allah Mahabaik padaku. Beberapa bulan menjelang wisuda, Dia mempertemukan aku denganmu, lebih tepatnya menurunkanmu dari metromini yang menyerempet motor dan dengan sukses membuatku oleng dan terjatuh.

”Zaqi…,” katamu dengan senyum yang sulit kuartikan. Sepasang matamu yang tajam sibuk melihat sekeliling, seakan obyek di hadapanmu sama sekali tidak perlu dikhawatirkan. Mendadak aku ingat komentar Raja tentang ‘kegagahanku’, dan hal itu sempat membuatku lemas tanpa alasan.

Tetapi aku salah, hari-hari berikutknya aku tahu, kau peduli.

Sampai di sini aku kehilangan jejak lamunan. Sebuah suara dan sentuhan halus menyentuhku.

“Bunda…”

Aisyah, putri sulungku bersama beberapa ibu tetangga menghampiri.

Reflek kuberikan isyarat telunjuk di bibir seperti biasa jika Ayah mereka sedang tidur. Bang Zaqi tak perlu dibangunkan oleh hal-hal yang tak perlu.

Benarkah?

Aku memandangmu yang masih terbaring. Pemikiran itu membuatku tertegun sejenak. Bertahun-tahun menikah, ada hal-hal yang sudah mendarah daging, termasuk kebiasaan menjaga ketenangan tidurmu.
Bang Zaqi pekerja keras yang hampir tiap malam tidur larut, kadang sampai pagi. Membuat konsep ini itu, merapikan bagian-bagian rumah yang perlu diperbaiki. Sepertinya lelaki itu tak pernah kekurangan kesibukan. Ada saja yang bisa dikerjakannya.

Pernah suatu malam saat terbangun dan tidak menemukannya di ruang kerja, aku mencari ke sana kemari… dan semakin khawatir katika tak mendapatkan jawaban. Ketika langkah mendekati dapur, barulah kutemukan wajahnya yang sederhana berdiri kaku di balik pintu, dengan sebuah sapu, “Sst…,” bisikannya menghentikan langkahku. Melihat ke sekelilig, aku baru menyadari apa yang terjadi. Suamiku terkasih itu sedang memburu tikus kecil yang akhir-akhir ini meresahkan kami. Belakangan tikus itu berhasil kami sudutkan hingga meringkuk di lem tikus.

Hm… memandangi wajah Bang Zaqi yang sedang menatap tikus kecil itu lekat-lekat… aku merasa perlu berdoa. Semoga apa yang ada di pikiran Raja, teman waktu kuliah dulu, tak hinggap di kepala suamiku. Bagaimana pun meski dimaksudkan sebagai pujian, aku lebih suka dibandingkan dengan artis sinetron, bintang film atau setidaknya pembawa berita di televise daripada dengan binatang pengerat yan terlekat lem!

Ah, ya… di rumah ini Bang Zaqi mengurus segalanya. Listrik, air, sampai tikus-tikus yang mengacaukan rumah. Laki-laki itu pula yang menggembok pagar setiap malamnya. Kegagahanku rasanya tak terpakai sama sekali. Lambat laun aku semakin nyaman dengan caranya memanjakanku. Bang Zaqi tidak hanya membuatku merasa seperti perempuan… tetapi perempuan dengan mahkota. Dia meladeniku seperti putri kerajaan. Bahagia… ya, meski kemudian kutahu hidup tak selalu seperti yang diinginkan.

Tahun kesembilan pernikahan, aku sedikit terlambat menangkap perubahan itu. Mungkin karena Bang Zaqi masih lelaki yang sama yang mengurus semuanya dengan sempurna. Yang memanjakanku dan dua putri kami, semampunya. Tetapi ada sesuatu yang berbeda, tanpa bisa kujelaskan. Belakangan aku tahu… lelakiku jatuh cinta.

Berhari-hari aku mengutuk hal klise yang terjadi dalam rumah tangga sejak zaman dahulu kala. Perselingkuhan, pengkhianatan, affair… apa pun namanya, ternyata jauh lebih menyakitkan dari yang kukira. Untuk pertama kali aku tidak tahu kepada siapa harus membagi beban hati seperti ini. Ayah ibu kah? Tidak. Aku tidak ingin meresahkan hari tua mereka. Bairlah orangtuaku menyibukkan diri dengan ibadah tanpa perlu pusing dan bersedih memikirkan nasib anak perempuan mereka satu-satunya.

Bagaimana jika kuceritakan kepada abang-abangku yang enam orang itu? Tidak mungkin. Aku tak sampai hati membayangkan keenamnya akan menghajar Bang Zaqi habis-habisan. Tapi ini salahnya sendiri, tidak ada alasan apa pun yang membenarkan terjadinya perselingkuhan. Dan mereka yang salah, wajah menerima konsekuensi dari perbuatannya. Tapi… aku tak sanggup melihat Bang Zaqi terluka.

Lalu Ratasya, datang membawa anak-anaknya ke rumah. Kami memang masih bersilaturahim. Kupikir, mungkin ini jawaban Allah. Ketika aku bingung memilih kemana harus mencurahkan beban perasaan ini, Allah memilihkannya untukku. Tetapi sebelum aku berkata-kata, air mata perempuan cantik itu pecah. Isaknya berhamburan, dan membuatku urung bercerita.

Air mata siapa yang sebenarnya harus tumpah lebih banyak, Bang? Andai bisa kutanyakan padamu saat itu. Aku yang menyaksikan suami tercinta berpaling, terpikat perempuan lain, atau Ratasya yang digugat cerai tanpa alasan?

“Perempuan lainkah?”

Sahabatku menggeleng. Air mata meluncur deras hingga membasahi kerudung.

Apa lagi, pikirku. Apa yang bisa membuat laki-laki lupa akan anak-anak yang telah dibawanya ke dunia, akan istri yang dipinangnya dengan nama Tuhan?

Bertahun-tahun setelahnya, aku masih tidak mengerti. Sebab walau perceraian terjadi, Idhan, suami Ratasya sama sekali tidak terdengar menikah, atau dekat dengan perempuan lain.

Kembali kepada kesedihanku. Betapa pun aku pura-pura menulikan telinga, puncaknya datang juga. Bang Zaqi yang terbiasa melakukan sesuatu sesuai aturan, memintaku mengizinkannya menikah lagi.
Dia tidak memberiku banyak informasi tentang sosok lain yang telah membuatnya merasa remaja kembali. Tapi kabar burung yang sampai ke telinga, konon perempuan itu bekerja di gedung yang sama dengan suamiku. Bagaimana mungkin? Aku merasa mahkotaku dibawa terbang sekawanan burung dan dipindahkan ke sosok lain, yang tak pernah aku kenal.

Aku tak bisa berkata-kata. Beberapa lama kau menatapku yang terdiam dengan pandangan yang makin kosong.

Sungguh tak pernah kubayangkan harus melalui hal itu dalam pernikahan yang teramat manis.
Aku tahu kau tak membutuhkan izin istri untuk menikah lagi. Kau hanya merasa aku seharusnya mengetahuinya langsung dan bukan dari orang lain.

Hingga berjam-jam setelah itu, masih tak ada yang keluar dari mulutku. Pelan kau membopongku ke tempat tidur, membaringkan dan meremas tanganku erat.

Tapi tak ada cinta menggetarkan seperti yang biasa terjadi. Tak ada. Mungkin karena aku tahu hatimu sudah terbagi.

Hari-hariku pucat. Jujur aku tidak tahu apa yang terhadi setelahnya. Aku merasa tidak sehat, tanpa bisa menjelaskan bagian mana yang sakit. Kau mengurusku, persis saat-saat usai melahirkan anak-anak kita. Dengan sabar. Dengan kasih. Seolah taka da yang berubah. Anak-anak yang masih sekolah dasar tak mengerti. Tetapi mereka membantumu merawatku yang entah sakit apa.

Selama beberapa waktu aku tak ingin melakukan yang lain. Aku hanya ingin kembali ke negeri mimpi. Di mana langit seluruhnya penuh warna. Dan hanya percakapan kasih kita, ketika pertama kau mengutarakan niat untuk melamarku, yang terdengar berulang-ulang.

Kenapa kita menikah, Bang?
Sebab tanpamu, tak ada pernikahan bagiku.

Dan setiap kali aku membuka mata, lalu menangkap bayanganmu… aku merasa diserang mimpi buruk.

Tidak bahagiakah lagi kau bersamaku, hingga perlu menghadirkan perempuan lain?

Saat itu satu-satunya yang kuinginkan hanya memejamkan mata lagi. Sebab terjaga hanya membuatku perih. Lebih baik kembali ke negeri mimpi itu. Ke dunia di mana seluruh langit penuh pelangi.

Aku tidak tahu berapa bilangan bulan hal itu berlangsung. Ketika kesadaranku kembali perlahan demi perlahan, aku kehilangan keinginan menatapmu ketika bangun tidur. Menelusuri anak-anak rambu di dahimu dengan jemariku, atau mengelus sayang dahi dan wajahmu. Kalau diperbolehkan, aku tak ingin lagi menyentuhmu. Atau membiarkan kau menyentuhku. Tak ada obat yang bisa menyebuhkan luka seperti ini, tidak juga waktu.

Kau tetap meladeniku dengan sabar. Kita tak pernah menyinggung hal itu lagi. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Bagaimana nasib kisah cinta kalian. Apakah diam-diam kau sudah menikah dengan perempuan itu?

Tapi segala sesuatu berjalan seperti biasa di rumah ini. Teratur, suamiku mengurus semua seperti yang sudah-sudah. Memastikan air dimatikan ketika malam, dan dinyalakan saat pagi anak-anak menjelang berangkat ke sekolah, ketika aku menyiapkan saraoan dan bekal mereka. Dia juga tetap memburu tikus-tikus perusak yang sekali waktu meramaikan dapur kami. Setiap malam Bang Zaqi memastikan pagar tergembok dan semua pintu sudah terkunci, seperti biasa.

Waktu berlalu, perempuan lain maupun pernikahan kedua itu tak pernah kami bicarakan lagi. Aku merasa hatiku tak lagi diseliputi mendung. Bukan… bukan karena waktu yang jadi penawar. Lebih karena usaha keras Bang Zaqi untuk membahagiakanku dan anak-anak. Setiap hari, dia merancang bangunan mimpi yang lebih besar bagi keluarga ini.

Entah berapa tahun yang berlesatan, tahu-tahu aku kembali ke kebiasaan lama. Menikmati wajahnya yang pulas di sisi kanan ranjang. Alis, mata, hidung… bibir. Juga mendengarkan suara dengkuran halusnya.

Aku tidak tahu berapa kali perempuan bisa jatuh cinta kepada lelaki sama yang dinikahinya. Tapi hari itu aku tahu, aku jatuh cinta lagi.

“Bunda…”

Aisyah, mungkin sejak beberapa waktu tadi tak beranjak. Hanya aku yang terampas lamunan berkali-kali. Tidak berapa lama, Ayunda, adiknya menghampiri. Wajah mereka pucat. Mata keduanya merah, seperti mataku.

“Semua sudah siap…” suara Ayunda lirih.

Dari kalimat itu begitu saja menerbangkanku pada senyum di wajahmu, saat pertama kali kita meninggalkan rumah sakit, membawa pulang Aisyah, buah hati kita. Hari-hari awal menjadi orang tua. Malam-malam melihatmu tertidur pulas tanpa mengganti baju, karena lelah menggendong putri kecil kita yang rewel dan sulit tidur.

Hhh… Betapa cepatnya waktu terbang. Ingatkah di hari ulang tahun pernikahan kita beberapa waktu lalu? Di ulang tahun kedua puluh lima pernikahan akhirnya kau buka misteri yang selama ini tak ingin kusinggung.

“Cinta. Kamu tahu kenapa aku tak bisa menikahi perempuan lain?”

Kalimat itu sempat membawa luka lama yang ingin kusembunyikan ke lorong tergelap di hati. Tapi kedua tanganmu cepat meraih tanganku dan meletakkannya di dadamu.

Aku diam dengan pandangan gamang. Tapi kau tahu, tatapanku menyimpan keinginan besar untuk mengetahui jawabannya.

“Sebab kehidupanku yang menyenangkan hanya jika bersamamu. Hari-hari tua yang membahagiakan jika hanya senyummu yang kunikmati.”

Aku menatapmu mencari kesungguhan di kedua bola mata dengan alis hitam menajang, yang mebuat wajah sederhanamu selalu terlihat gagah walau berpuluh tahun berlalu. Kau mengangguk.

“Keinginan itu memang pernah menggoda, Ri, teramat kuat. Tapi mendadak mati rasa, ketika kesadaran mengusikku betapa itu akan melukaimu. Bagaimana aku bisa bahagia jika kau harus seumur hidup menanggung kesedihan?

Bang Zaqi mendekatkan kedua tanganku ke bibirnya. Menciumnya penuh kasih. Dan aku jatuh cinta lagi. Hari-hari berikutnya lelaki itu tak pernah bosan mengulang-ulang kata cinta untukku.

Seperti juga dini hari tadi, ketika mendadak kau terbangun dan dengan panic mencari-cari tanganku. Kejadiannya terlalu cepat. Aku hanya ingat mencoba mengangkat kepalamu dan merebahkannya di dadaku, berharap itu membuatmu lebih nyaman. Aku bahkan hampir lupa menuntunmu menyebut nama-Nya.

Dan di sinilah aku, sejak tadi. Setia memandang wajahmu yang pucat lelap seperti bayi. Perlahan jemariku menyentuh alis, mata, turun ke hidung, pipi dan bibirmu. Dingin.

Kurasakan Aisyah dan Ayunda memelukku. Bahu mereka berguncang ketika beberapa orang yang sejak tadi mengaji, mendekatiku dan membisikkan sesuatu.

Sebentar lagi mereka akan menutupmu dengan sempurna. Dan aku akan kehilangan wajahmu selamanya.

Selamat tinggal, Sayang. Biarlah kujaga tidur terakhirmu dengan ketenangan. Cukuplah air mata menjadi tanda duka.

Selamanya, aku mencintaimu.


--------

:’(
Dalem ya? Cerita-cerita yang lain di buku ini juga bagus-bagus, penuh hikmah. Baca deh.. :)

Mungkin luka karena pengkhianatan adalah luka lecet kecil, maafkanlah... karena luka kehilangan dia mungkin menjadi luka yang jauh lebih menyakitkan. Karena kita hanyalah hamba dari Sang Maha Pemaaf, maka maafkanlah sebelum menyesal. 

Wednesday, February 1, 2012

Kisah Tentang Luka

Judul ini merupakan salah satu judul kesukaan saya di buku Dalam Dekapan Ukhuwah (DDU) karya Ustadz Salim AFillah. Judul ini mengoreksi saya, mengingatkan saya bahwa saya dulu pernah begitu, membuat saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak seperti kisah ini.

Mari kita simak.

Bismillah

Seorang gembala suatu hari meraut kayu dengan pisaunya. Kemarin, tongkat yang biasa dipakainya untuk menghalau dan mengatur ternaknya patah. Kayu yang disisiki itu adalah bakal tongkat baru.

Di tengah keasyikannya mengukir hiasan pegangan di tongkat barunya, salah satu dombanya tiba-tiba memekik-mekik. Domba itu melompati kawanannya dan lengkingannya makin nyaring tiap kali dia menapakkan kakinya ke tanah. Kawanan domba itu kisruh kalang kabut, sementara si pembuat onar terus mengacau. Dalam keriuhan, larinya kian cepat. Akhirnya dia menghambur menubruk tuannya dengan jeritan menyayat hati. Sang gembala terpelanting kaget. Pisau di tangannya terlempar dan seurat serat kayu terhujam menyelusup ke dalam jari telunjuknya.

Sang domba terguling-guling, lalu bangkit. Lalu tenang. Dia mulai berjalan lagi, sedikit pincang, namun tak lagi kesetanan. Sang gembala marah dan menghalaunya dengan pukulan. Dia tak tahu penyebab kehebohan barusan. Dia tak sadar bahwa sebuah paku berkarat yang menancap di kaki sang domba kini tergeletak di dekatnya.

Dan dia meraut lagi. Tak peduli pada telusuk kayu yang merasuki jarinya. Pasti sakit jika dicabut, pikirnya. Biarkan saja.

Hari berganti dan selusup itu mulai membuat jarinya bengkak, meradag, dan mengembung nyeri. Sakit sekali. Dia berteriak mengaduh tiap kali sesuatu menyentuhnya. Bahkan tiap kali berjabat tangan dengan rekan, dia meringis kesakitan, marah, dan menyumpah serapahi mereka.

“Aaw… Sakit sekali!!!” jeritnya.


-----

Saya akan mencoba mengutip sedikit pembahasan dari ustadz Salim atas cerita ini.

“Ketika seseorang yang terluka menyerang, tindakan itu lebih merupakan tanggapan atas apa yang terjadi dalam diri mereka. Apa yang terjadi di dalam diri itu jauh lebih memberi pengaruh daripada apa yang terjadi di luar sana..”

Saya pernah mendengar di radio suatu ketika. Apa yang membuat kita tidak suka saat kita terluka? Katanya yang membuat kita tidak suka adalah saat kita hancur berkeping-keping, dunia ini masih baik-baik saja. Harusnya dunia merasakan yang sama, pikir orang yang terluka.


“Mereka menanggapi di luar batas kewajaran, melebih-lebihkan, dan bertingkah dengan rasa terancam yang begitu tinggi. Orang-orang yang terluka dalam sejarah dakwah adalah orang-orang munafik…”

Ancaman disebut munafik inilah yang pada akhirnya membuat saya sadar bahwa, tidak pernah baik menjadi orang yang terluka. Dan saya tidak mau masuk ke dalam golongan munafik. Golongan yang amat dekat dengan neraka.

“Mereka menyangka tiap teriakan keras ditujukan pada mereka (Qs. Al-Munafiqun : 4)”

“Kesalahan terbesar dari orang-orang yang terluka adalah mereka tak segera menyembuhkan luka lamanya. Terlusukan yang mengganggu dibiarkan. Jadilah orang-orang yang terluka itu sebagai mereka yang enggan berubah.”

Ah bahasa gaulnya orang-orang yang tidak mau move on.

“..dia memilih menikmati lukanya. Dia merawat baik-baik telusukan itu agar tetap berada di dalam kulitnya. Dia kian kemari menampilkan kesakitannya dengan segala cara. Dia menanggapi uluran tangan Rasulullah yang hendak membimbingnya ke jalan hidayah dan kemuliaan dengan ruang kepedihan. Dia menyambut uluran lembut Sang Nabi dengan jerit kesakitan. Dia selalu melebih-lebihkan dan bertingkah dengan rasa terancam yang begitu tinggi.”

Sampai pada paragraf ini saya sudah sedu sedan. Suatu ketika seseorang mengkhianati kepercayaan saya. Sakit sekali rasanya. Tapi saya tidak pernah mau menyembuhkan luka itu. Saya merawatnya. Saya mengungkit-ungkitnya. Padahal jelas orang yang “bersalah” itu telah meminta maaf, telah menyatakan bersungguh-sungguh bahwa dia salah. Tapi saya selalu ingat. Selalu mengingat-ingat lebih tepatnya. Saya menjadi orang yang su’udzon, saya menjelma menjadi penggosip pribadi untuk diri saya sendiri, tajassus padanya. Saya betah pada zona “nyaman” yang disebut luka itu.

Disini saya berhenti. Lalu sedu sedan ini mengantarkan saya pada surat ke 63 di kitab suci kita. Saya tidak mau menjadi orang-orang yang disebut dalam surat itu. Saya tidak mau menambah sakit. Maka saya segera ke dokter, berobat. Dokternya hanyalah Dia. Penyembuh segala sakit. Apalagi urusan sakit hati. Dia-lah ahlinya.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Qs. Ar-ra’d : 28)

Wallahu’alam

Tinggi - Rendah (?)

Awalnya karena sekarang sibuk di Kakon yang notabenenya saat ini masih berstatus bisnis online, maka saya berencana membeli token (alat untuk transaksi perbankan melalui internet). Pergilah saya ke bank mandir* di Kapten Muslihat Bogor, ternyata disana tokennya habis. Jadilah saya diminta berjalan kaki ke bank mand*ri cabang Jalan Juanda. Tidak jauh, karena sebenarnya kedua bank ini depan belakang. Saya juga heran kok ada dua bank yang sama berdekat-dekatan (dekat banget malah).

Sesampainya di mand*ri cabang Juanda, saya mendapat nomer antrian 67. Sedangkan saat ini masih berada di nomer  59.
“Oh tidak lama” pikir saya.
Ternyata saya salah, saya harus menunggu 1 jam untuk dipanggil oleh customer servicenya (mba Sheila kalo ga salah namanya).  Saya duduk tenang di bangku kuning yang disediakan. Disamping saya ada ibu-ibu yang usianya hampir 60 tahun (saya tau usianya karena beliau menunjukkan ktp-nya kepada saya). Bangku disebelah saya kosong sedangkan bangku-bangku di depan saya penuh. Saya tersenyum kepada sang ibu. Lalu memperhatikan televise yang menyiarkan National Geographic, tayangan tentang kecelakaan pesawat Flash Airlines tahun 2004 di laut merah.
Saya selalu suka menonton channel yang satu ini, cara membawakan berita yang menarik, lugas, cerdas. Saat sedang seru-serunya, ibu yang disamping saya mengajak bicara.

Ibu (I) : lama ya disini.. csnya ga capable banget, masih baca-baca dulu, masih nanya-nanya dulu blablabla.. (saya ga terlalu konsen, masih coba lirik2 tv)
Saya (S) : iya bu hehe..(bingung mau nanggepin apa)

Ibu : Kuliah ya?

Saya : iya bu

I : dimana?

S : IPB bu

I : jurusan apa?

S : komunikasi bu, KPM

I : ooo… S1 ya?

S : iya bu.. (senyum, dalem ati nangis, huhuhu… iya bu KPM itu S1 di IPB)

I : IPB tuh mahal ya?

S : engga bu, murah, lebih murah dibanding UI, ITB.. (senyum)

I : ya jangan juga dibandingin sama UI, bandingin sama Juand* (univ swasta di bogor)

S : lho, wajar atuh bu saya bandingin sama UI, kan sama-sama lima terbaik di Indonesia… (senyum)

I : bandingin sama juand*lah… juand* kan swasta nomer satu di bogor

S : ….. (sedih, bingung, kenapa gitu harus dibandingin sama univ swasta ituuuu)

I : berani potong kuping ga kalo IPB mahal?

S : (melongo)

I : kamu masuk biaya berapa?

S : *nyebutin angka belasan*

I : anak saya di juand* cuma 6juta

S : ….(ga bisa komen)

I : mana dulu tahun 2005 ga bisa milih jurusan pas pmdk, bisanya milih jurusan cacing (ilmu tanah – red). Nanti kalo lulus mau jadi apa? Ilmu ga kepake begitu.. kalo kerja ditaronya jauh di Papua sana. Apa-apaan itu.. Kamu mah enak jurusan komunikasi gitu masih ada yang make. Jurusan kamu kalo kerja jadi apa?

S : cenderung ke CSR bu (oh iya saya bisa ngomong CSR karena saya tau ibunya ngerti, beliau orang Bank Indonesia katanya, pasti ngertilah CSR apaan)

I : nah tuh..

S : tapi saya juga ga mau bu kerja kantoran. Saya kan kuliah bukan buat nyari kerja tapi nyari ilmu.. (senyum)

I : kata-kata kamu salah tuh. Kamu nih nganggap rendah saya ya? Mentang-mentang saya berpenampilan sederhana, bersendal jepit?

S : (melonggo, bingung, speechless sumpah) engga bu.. kok ibu mikirnya gitu, demi Allah saya ga nganggep ibu rendah… (nada sedih ala gue)

I : generasi kamu nih, generasi lulus SMA tahun 2003 itu emang generasi menyebalkan

S : …. (melonggo semelonggo-longgonya)

I : generasi kalian itu ga ngehormatin orang tua, menjadikan orang tua ATM berjalan! Kalo membunuh itu ga dosa, sudah saya bunuh anak saya!!!

S : (rasanya gue pengen nelpon ibu gue, nanya apa ibu merasa gue memperlakukan beliau kayak ATM bejalan)

I : Saya ini single parent, dan anak saya itu ga tau diri. Dia ngaji, liqo, mentoring, apalah… ustadzahnya itu kayaknya nyuruh dia ngerampas harta orang tuanya.

TETOOOOOT

I : dia tuh ga ngormatin saya, mau ngaji seminggu sekali di rumah, nanti lama-lama dua minggu sekali, dia mau ngusir saya apa.

(speechless)

I : dulu pernah ada laki-laki anak IPB juga kayak kamu, ngelamar anak saya pas anak saya semester 1. Saya bilang, gila apa, emangnya anak saya kucing, harus kuliah dulu. Dia kan anak daerah, dia pasti ujung-ujungnya duit, mau numpang hidup sama saya.

TETOOOOOOT

I : sekarang dia udah nikah, dua bulan baru. Dia bilang dia mau bikin kolam ikan (anaknya semata wayang, jurusan biologi di juand*). Dia juga mau bikin pertanian jamur. Pasti bau. Dia mau zhalimi saya.

…..

I : kalian ini belajar agama cuma denger-denger aja ga nyerap ilmu dari buku kan?

……….. (Ini justifikasi huhuhu…)

I : kalo saya ajak debat pasti kalah..

S : (ngangguk2, ga punya ide mau jawab apa, ngebantah bisa2 disemprot lebih panjang lagi gue)

Tiba-tiba ada petugas datang menyelamatkan saya bertanya pada sang ibu

Petugas (P) : ibu, kalau boleh tau ibu ada yang bisa kami bantu, dalam hal apa kemari?

I : saya mau perpanjang kartu ATM, masa berlakunya habis

P : oh kalau begitu saya boleh pinjam kartu ATM, KTP dan buku tabungan untuk difoto-copy?

I : tidak! Kalian ini tidak professional, saya tidak percaya rekening saya aman

P : (senyum) baiklah ibu (berlalu)

Beeeuuuuhh.. enak banget abis disemprot bisa pergi

I : ini kan surat berharga, seenaknya aja mau bawa-bawa

(padahal alat fotocopy-nya Cuma berjarak tiga meter lah dari tempat kami duduk, ibunya tetap ngotot tidak mau dan tidak percaya)

Sang ibu pergi sebentar ke security, kini giliran security dimarahi. By the way, suara ibunya keceng abis, jadi sejak dia “ngobrol” dengan saya, semua orang di bangku tunggu nguping. Mbak-mbak yang duduk di depan saya sampai balik kanan. Dan menunjukkan tatapan prihatin pada saya.

Tidak lama kemudian nomer antrian sang ibu dipanggil cs, begitu juga saya. Mejanya dan meja saya bersebelahan. Dalam percakapannya dengan cs, saya mendengar beliau membicarakan saya tentang generasi menyebalkan (T.T). heuh… ibunya ga sadar kalau saya disebelahnya. Lalu cs-nya meminta tolong petugas untuk memfotocopy kartu ATM, KTP, dan buku tabungannya. Petugas yang datang adalah petugas yang tadi dia semprot. Dia datang dengan senyum kemenangan. Lalu sang ibu pergi, saya masih sibuk dengan mbak Sheila.

Akhirnya saya menemukan orang yang berusaha sekali melindungi dirinya sendiri dari kesakitan dengan menyakiti orang lain. Termasuk anaknya. Entah anaknya bersalah atau tidak tapi saya rasa, ibu saya tidak akan menjelek-jelekan saya di depan orang “asing” di bank dengan suara kencang dan menyatakan ingin membunuh saya. Mungkin kesendirian, penjuangan yang keras sebagai single parent membuatnya curiga pada semua orang. Dan karena dia tidak mau diangap rendah oleh orang lain (karena pengalamannya menjadi staff di Bank Indonesia) maka dia merendahkan orang lain.

Saya mungkin pernah begitu sengaja atau tidak, bagi yang pernahtersakiti, saya mohon maaf, semoga bisa saling mengikhlaskan.

Hmmm.. merendahkan orang lain tidak pernah bisa menjadikan kita tinggi. Ambilah hikmahnya. Wallahu’alam