Putus

Kamu tau rasanya bertemu mantan? Iya, mantan.  Mungkin biasa saja jika sudah tak ada rasa apapun tapi berbeda jika kamu menyadari bahwa kamu masih sayang. Lebih pahit saat kamu duduk bersebelahan dengannya tapi tak ada kata yang terucap. Kalian saling diam, tak berani berpandang.

Baru saja aku merasakannya, rasa pahit itu.

Dari pagi aku sudah nangkring indah di perpustakaan kampus. Sampai pukul 13.00 WIB aku yang mulai bosan, gerah dan mengantuk memutuskan untuk pulang. Selama diperjalanan aku berkali-kali berpapasan dengan para adik kelas. Penampilan mereka mengingatkanku akanmu. Ah.. aku sulit lupa.

Maka sisa perjalanan akhirnya aku hanya bisa berpikir mungkin hari ini Allah akan mempertemukanku denganmu. Dan Allah yang Maha Baik mengabulkan khayalku. Aku berpapasan denganmu. Beberapa detik kita sempat saling diam, kaku, saling pandang namun tak ada kata terucap.

Kau segera mengalihkan perhatianmu pada tasmu, memasukkan sesuatu ke dalamnya, dan aku? Aku terus berjalan menyebrang tanpa berani melirik padamu lagi.

Sungguh aku ingin sekali tersenyum padamu, memberikan salam terbaikku, memelukmu,  aku rindu… Tapi tak sedikit pun aku bisa. Aku hanya merutuki kenapa aku tak tersenyum tadi. Anganku memutar, bukankah dulu kita begitu dekat? Kita biasa berjalan bergandengan tangan, menyusuri jalanan sepi menuju musholla kecil di sudut kampus untuk membicarakan nasib bumi ini saat mahasiswa lain bahkan belum mandi. Kenapa kini begini?

Beberapa saat kemudian aku memutuskan naik angkot, mengingat matahari yang begitu terik rasanya aku tak kuasa berjalan kaki sendiri. Aku jadi berharap kita bisa jalan pulang bersama seperti dulu. Bukankah dulu kita suka pulang bersama, kostan kita searah. Kau masih belum pindah kan? Aku bahkan tak kau..

Dan lagi-lagi dengan segala kasih sayang-Nya, Allah membiarkanku pulang bersamamu, kau menghentikan laju angkot yang kutumpangi dengan satu gerakan jarimu. Aku tercekat. Kau tentu akan duduk di sampingku. Pasti, karena tak ada kursi kosong lagi selain di sebelahku. Kita ngobrol kah setelah
itu? Tidak. Kau sibuk dengan handphonemu yang bordering-dering, sedang aku, aku sibuk mengamatimu dari kaca

Aku memperhatikan penampilanmu. Kita sekarang sudah berbeda ya. Ah, dulu kita senang sekali jika ada yang berkata kita mirip, kita kembar. Kini tak mungkin ada lagi yang mengatakan kita kembar. Penampilanmu sungguh berbeda denganku. Kau yang stylish dan aku yang masih begini-begini saja. Aku yang lusuh dan masih berkutat dengan skripsiku dan kau dengan semua asesoris cantikmu sudah berbahagia dengan kuliah S2 double degree mu. Aku tak tau mesti bahagia atau sedih, tapi aku jelas kehilanganmu.

Kita memang tak pernah mendeklarasikan kata putus, tapi sejak kau dengan bangga mengumandangkan kata-kata “..alasan yang membuatku meninggalkan mereka ( perempuan-perempuan muslimah berkerudung lebar)..” dalam note facebookmu, maka aku merasa sulit bagiku menemukanmu yang dulu lagi.

Aku tau, mungkin salahku saat itu yang mempertanyakan keputusanmu untuk berubah. Salahku mengapa tidak langsung bicara, hanya berani lewat pesan singkat. Tapi aku juga tidak mungkin hanya diam menyaksikan semuanya, tak mungkin berpura-pura setuju dengan keputusanmu meminimaliskan ukuran kerudungmu agar kita tetap jadi sahabat. Ah sudahlah.. mengingat-ingat itu semua membuatku menyesali banyak hal. Termasuk menyesali mengapa kau begitu jauh sekarang, begitu tak tercapai.

"Kiri ya.." ucapmu pelan

Dan air mataku pelan-pelan menetes. Ya ampun, sebegitukah rinduku padamu, hingga saat mendengar suaramu, aku menangis. Itu suaramu yang pertama ku dengar setelah sekian lama.


Takdir mungkin, kini kita harus berpisah. Berjalan-dijalan masing-masing. Dan aku masih berharap semoga suatu saat kita bisa tersenyum lagi bersama, wahai mantan sahabatku.

Comments

  1. i know...:)
    tp klo ktemu beliau,nni negur n senyum des..ya agak kaku sih..tp stidakny beliau tdk brpikir kalo kita bner2 putus hehe..
    mudah2an beliau slalu diberikan yg trbaik olehNya ya..:)

    ReplyDelete
  2. iya non.. tapi aku ga berani, lebih sering syoknya kalo ketemu hehe...

    ReplyDelete
  3. T.T aku ingin menangis membaca notes iniii.. *u know why?

    ReplyDelete
  4. kenapa tik? karena aku belum lulus tah? haha...
    cupcupcup...

    ReplyDelete
  5. komen di atas gw sumpah kocak abis hahahah

    ReplyDelete
  6. hahaha...*gebukin randi pake sapu*

    ReplyDelete
  7. Allah yang Maha membolak-balikkan hati...
    Desniiiiiiiiiiii....T_T (ga bisa bilang apa2)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar di tulisan ini

Popular posts from this blog

Tutorial Menjahit Pashmina Instan ala Nurina Amira

Tutorial Bunga Tulip dari Kain Perca

Repurpose : Mengubah Kemeja dan Rok Jadi Gamis Kekinian