Sakinah Bersamamu


Hmmm… judul di atas adalah judul buku milik mbak Asma Nadia, dan judul ini juga merupakan salah satu judul cerita dalam buku tersebut yang sekaligus menjadi cerita favorit saya. Saya selalu menangis deras membacanya. Serius. Saya bahkan selalu sukses ASMA setiap membacanya. Benar-benar ya mbak Asma Nadia hehe…

Entah kenapa saya menangis, mungkin pernah mengalami kejadian mirip (ngaco!). Yuk mari disimak.

------


Kenapa kita menikah, Bang?
Sebab tanpamu, tak ada pernikahan bagiku.

Cintakah yang membuatku betah berlama-lama memandangi wajahmu yang lelap? Dua puluh lima tahun, sayang… dan tak sekali pun aku merasa bosan menatapmu, laki-laki pertama yang berani meminangku.

Seperti saat ini. Kau terbaring dengan mata terpejam, lebih dalam dari biasa. Sama sekali tidak terusik oleh pandanganku yang begitu lama tak beralih darimu. Tak juga terganggu oleh elusan tanganku di pipi dan dahimu. Atau oleh suara keriuhan sekitar kita.

Dan seperti yang sudah-sudah setiap kali memandangmu tertidur, baying-bayang kebersamaan kita begitu saja terpampang di pelupuk. Berkejaran. Takdir telah mempertemukan kita, dua orang yang tidak sempurna, hingga sampai ke pelaminan. Ketika aku mulai cemas, taka da laki-laki yang berani mendekati, apalagi melamarku.

“Makanya jangan pasang muka galak, Ri!” celetuk Ratasya sahabat baikku yang sudah seperti saudara kandung itu, dengan mimic lucu.

Galak? Iya, kah?

Tapi Mitha yang dua kali lipat lebih sangar dariku, sudah setahun yang lalu dipinang lelaki Jawa, dari fakultas lain.

“Mungkin kau terlalu pemilih!”

Kali ini suara Mitha. Apakah dia mendengar kalimat yang terbesit di batinku?

Pemilih?

Pikiran ini nyaris membuatku tergelak-gelak. Imajinasiku membayangkan adegan puluhan tangan sibuk memilih pakaian yang sedang sale di department store. Allah… bagaimana bisa membuat pilihan ketika tak satu pun laki-laki terlihat mengambil ancang-ancang mendekatiku?

Sementara Raja, satu-satunya makhluk lawan jenis yang dekat denganku sejak di bangku pertama kuliah, memberi jawaban lain. Simple saja, “Kau terlalu perkasa bagi laki-laki, Ri!”

Ah. Jika saja dosen sosiologi kami tak keburu datang, pasti sudah kudebat dia untuk mendefinisikan arti kata ‘perkasa’ di sini. Apakah perkasa itu karena aku mengendarai motor gede ke kampus? Apakah kata itu dilekatkan karena kebiasaanku mengenakan celana panjang dengan banyak saku? Atau karena cara bicaraku yang terus terang dan tidak kemayu? Atau… karena aku tidak merasa perlu meminta tolong apa pun kepada teman-teman pria di kampus, untuk hal-hal yang masih bisa kukerjakan?

Galak, pemilih, dan perkasa. Tiga kata itu membuatku mereka-reka akhir kisah cintaku yang tak pernah dimulai. Padahal kata orang-orang wajahku tak jelek. Bakan menurut Raja, aku jauh lebih menarik dari tikus-tikus yang terjebak lem di kamar kos-nya. Bah!

Syukurlah Allah Mahabaik padaku. Beberapa bulan menjelang wisuda, Dia mempertemukan aku denganmu, lebih tepatnya menurunkanmu dari metromini yang menyerempet motor dan dengan sukses membuatku oleng dan terjatuh.

”Zaqi…,” katamu dengan senyum yang sulit kuartikan. Sepasang matamu yang tajam sibuk melihat sekeliling, seakan obyek di hadapanmu sama sekali tidak perlu dikhawatirkan. Mendadak aku ingat komentar Raja tentang ‘kegagahanku’, dan hal itu sempat membuatku lemas tanpa alasan.

Tetapi aku salah, hari-hari berikutknya aku tahu, kau peduli.

Sampai di sini aku kehilangan jejak lamunan. Sebuah suara dan sentuhan halus menyentuhku.

“Bunda…”

Aisyah, putri sulungku bersama beberapa ibu tetangga menghampiri.

Reflek kuberikan isyarat telunjuk di bibir seperti biasa jika Ayah mereka sedang tidur. Bang Zaqi tak perlu dibangunkan oleh hal-hal yang tak perlu.

Benarkah?

Aku memandangmu yang masih terbaring. Pemikiran itu membuatku tertegun sejenak. Bertahun-tahun menikah, ada hal-hal yang sudah mendarah daging, termasuk kebiasaan menjaga ketenangan tidurmu.
Bang Zaqi pekerja keras yang hampir tiap malam tidur larut, kadang sampai pagi. Membuat konsep ini itu, merapikan bagian-bagian rumah yang perlu diperbaiki. Sepertinya lelaki itu tak pernah kekurangan kesibukan. Ada saja yang bisa dikerjakannya.

Pernah suatu malam saat terbangun dan tidak menemukannya di ruang kerja, aku mencari ke sana kemari… dan semakin khawatir katika tak mendapatkan jawaban. Ketika langkah mendekati dapur, barulah kutemukan wajahnya yang sederhana berdiri kaku di balik pintu, dengan sebuah sapu, “Sst…,” bisikannya menghentikan langkahku. Melihat ke sekelilig, aku baru menyadari apa yang terjadi. Suamiku terkasih itu sedang memburu tikus kecil yang akhir-akhir ini meresahkan kami. Belakangan tikus itu berhasil kami sudutkan hingga meringkuk di lem tikus.

Hm… memandangi wajah Bang Zaqi yang sedang menatap tikus kecil itu lekat-lekat… aku merasa perlu berdoa. Semoga apa yang ada di pikiran Raja, teman waktu kuliah dulu, tak hinggap di kepala suamiku. Bagaimana pun meski dimaksudkan sebagai pujian, aku lebih suka dibandingkan dengan artis sinetron, bintang film atau setidaknya pembawa berita di televise daripada dengan binatang pengerat yan terlekat lem!

Ah, ya… di rumah ini Bang Zaqi mengurus segalanya. Listrik, air, sampai tikus-tikus yang mengacaukan rumah. Laki-laki itu pula yang menggembok pagar setiap malamnya. Kegagahanku rasanya tak terpakai sama sekali. Lambat laun aku semakin nyaman dengan caranya memanjakanku. Bang Zaqi tidak hanya membuatku merasa seperti perempuan… tetapi perempuan dengan mahkota. Dia meladeniku seperti putri kerajaan. Bahagia… ya, meski kemudian kutahu hidup tak selalu seperti yang diinginkan.

Tahun kesembilan pernikahan, aku sedikit terlambat menangkap perubahan itu. Mungkin karena Bang Zaqi masih lelaki yang sama yang mengurus semuanya dengan sempurna. Yang memanjakanku dan dua putri kami, semampunya. Tetapi ada sesuatu yang berbeda, tanpa bisa kujelaskan. Belakangan aku tahu… lelakiku jatuh cinta.

Berhari-hari aku mengutuk hal klise yang terjadi dalam rumah tangga sejak zaman dahulu kala. Perselingkuhan, pengkhianatan, affair… apa pun namanya, ternyata jauh lebih menyakitkan dari yang kukira. Untuk pertama kali aku tidak tahu kepada siapa harus membagi beban hati seperti ini. Ayah ibu kah? Tidak. Aku tidak ingin meresahkan hari tua mereka. Bairlah orangtuaku menyibukkan diri dengan ibadah tanpa perlu pusing dan bersedih memikirkan nasib anak perempuan mereka satu-satunya.

Bagaimana jika kuceritakan kepada abang-abangku yang enam orang itu? Tidak mungkin. Aku tak sampai hati membayangkan keenamnya akan menghajar Bang Zaqi habis-habisan. Tapi ini salahnya sendiri, tidak ada alasan apa pun yang membenarkan terjadinya perselingkuhan. Dan mereka yang salah, wajah menerima konsekuensi dari perbuatannya. Tapi… aku tak sanggup melihat Bang Zaqi terluka.

Lalu Ratasya, datang membawa anak-anaknya ke rumah. Kami memang masih bersilaturahim. Kupikir, mungkin ini jawaban Allah. Ketika aku bingung memilih kemana harus mencurahkan beban perasaan ini, Allah memilihkannya untukku. Tetapi sebelum aku berkata-kata, air mata perempuan cantik itu pecah. Isaknya berhamburan, dan membuatku urung bercerita.

Air mata siapa yang sebenarnya harus tumpah lebih banyak, Bang? Andai bisa kutanyakan padamu saat itu. Aku yang menyaksikan suami tercinta berpaling, terpikat perempuan lain, atau Ratasya yang digugat cerai tanpa alasan?

“Perempuan lainkah?”

Sahabatku menggeleng. Air mata meluncur deras hingga membasahi kerudung.

Apa lagi, pikirku. Apa yang bisa membuat laki-laki lupa akan anak-anak yang telah dibawanya ke dunia, akan istri yang dipinangnya dengan nama Tuhan?

Bertahun-tahun setelahnya, aku masih tidak mengerti. Sebab walau perceraian terjadi, Idhan, suami Ratasya sama sekali tidak terdengar menikah, atau dekat dengan perempuan lain.

Kembali kepada kesedihanku. Betapa pun aku pura-pura menulikan telinga, puncaknya datang juga. Bang Zaqi yang terbiasa melakukan sesuatu sesuai aturan, memintaku mengizinkannya menikah lagi.
Dia tidak memberiku banyak informasi tentang sosok lain yang telah membuatnya merasa remaja kembali. Tapi kabar burung yang sampai ke telinga, konon perempuan itu bekerja di gedung yang sama dengan suamiku. Bagaimana mungkin? Aku merasa mahkotaku dibawa terbang sekawanan burung dan dipindahkan ke sosok lain, yang tak pernah aku kenal.

Aku tak bisa berkata-kata. Beberapa lama kau menatapku yang terdiam dengan pandangan yang makin kosong.

Sungguh tak pernah kubayangkan harus melalui hal itu dalam pernikahan yang teramat manis.
Aku tahu kau tak membutuhkan izin istri untuk menikah lagi. Kau hanya merasa aku seharusnya mengetahuinya langsung dan bukan dari orang lain.

Hingga berjam-jam setelah itu, masih tak ada yang keluar dari mulutku. Pelan kau membopongku ke tempat tidur, membaringkan dan meremas tanganku erat.

Tapi tak ada cinta menggetarkan seperti yang biasa terjadi. Tak ada. Mungkin karena aku tahu hatimu sudah terbagi.

Hari-hariku pucat. Jujur aku tidak tahu apa yang terhadi setelahnya. Aku merasa tidak sehat, tanpa bisa menjelaskan bagian mana yang sakit. Kau mengurusku, persis saat-saat usai melahirkan anak-anak kita. Dengan sabar. Dengan kasih. Seolah taka da yang berubah. Anak-anak yang masih sekolah dasar tak mengerti. Tetapi mereka membantumu merawatku yang entah sakit apa.

Selama beberapa waktu aku tak ingin melakukan yang lain. Aku hanya ingin kembali ke negeri mimpi. Di mana langit seluruhnya penuh warna. Dan hanya percakapan kasih kita, ketika pertama kau mengutarakan niat untuk melamarku, yang terdengar berulang-ulang.

Kenapa kita menikah, Bang?
Sebab tanpamu, tak ada pernikahan bagiku.

Dan setiap kali aku membuka mata, lalu menangkap bayanganmu… aku merasa diserang mimpi buruk.

Tidak bahagiakah lagi kau bersamaku, hingga perlu menghadirkan perempuan lain?

Saat itu satu-satunya yang kuinginkan hanya memejamkan mata lagi. Sebab terjaga hanya membuatku perih. Lebih baik kembali ke negeri mimpi itu. Ke dunia di mana seluruh langit penuh pelangi.

Aku tidak tahu berapa bilangan bulan hal itu berlangsung. Ketika kesadaranku kembali perlahan demi perlahan, aku kehilangan keinginan menatapmu ketika bangun tidur. Menelusuri anak-anak rambu di dahimu dengan jemariku, atau mengelus sayang dahi dan wajahmu. Kalau diperbolehkan, aku tak ingin lagi menyentuhmu. Atau membiarkan kau menyentuhku. Tak ada obat yang bisa menyebuhkan luka seperti ini, tidak juga waktu.

Kau tetap meladeniku dengan sabar. Kita tak pernah menyinggung hal itu lagi. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Bagaimana nasib kisah cinta kalian. Apakah diam-diam kau sudah menikah dengan perempuan itu?

Tapi segala sesuatu berjalan seperti biasa di rumah ini. Teratur, suamiku mengurus semua seperti yang sudah-sudah. Memastikan air dimatikan ketika malam, dan dinyalakan saat pagi anak-anak menjelang berangkat ke sekolah, ketika aku menyiapkan saraoan dan bekal mereka. Dia juga tetap memburu tikus-tikus perusak yang sekali waktu meramaikan dapur kami. Setiap malam Bang Zaqi memastikan pagar tergembok dan semua pintu sudah terkunci, seperti biasa.

Waktu berlalu, perempuan lain maupun pernikahan kedua itu tak pernah kami bicarakan lagi. Aku merasa hatiku tak lagi diseliputi mendung. Bukan… bukan karena waktu yang jadi penawar. Lebih karena usaha keras Bang Zaqi untuk membahagiakanku dan anak-anak. Setiap hari, dia merancang bangunan mimpi yang lebih besar bagi keluarga ini.

Entah berapa tahun yang berlesatan, tahu-tahu aku kembali ke kebiasaan lama. Menikmati wajahnya yang pulas di sisi kanan ranjang. Alis, mata, hidung… bibir. Juga mendengarkan suara dengkuran halusnya.

Aku tidak tahu berapa kali perempuan bisa jatuh cinta kepada lelaki sama yang dinikahinya. Tapi hari itu aku tahu, aku jatuh cinta lagi.

“Bunda…”

Aisyah, mungkin sejak beberapa waktu tadi tak beranjak. Hanya aku yang terampas lamunan berkali-kali. Tidak berapa lama, Ayunda, adiknya menghampiri. Wajah mereka pucat. Mata keduanya merah, seperti mataku.

“Semua sudah siap…” suara Ayunda lirih.

Dari kalimat itu begitu saja menerbangkanku pada senyum di wajahmu, saat pertama kali kita meninggalkan rumah sakit, membawa pulang Aisyah, buah hati kita. Hari-hari awal menjadi orang tua. Malam-malam melihatmu tertidur pulas tanpa mengganti baju, karena lelah menggendong putri kecil kita yang rewel dan sulit tidur.

Hhh… Betapa cepatnya waktu terbang. Ingatkah di hari ulang tahun pernikahan kita beberapa waktu lalu? Di ulang tahun kedua puluh lima pernikahan akhirnya kau buka misteri yang selama ini tak ingin kusinggung.

“Cinta. Kamu tahu kenapa aku tak bisa menikahi perempuan lain?”

Kalimat itu sempat membawa luka lama yang ingin kusembunyikan ke lorong tergelap di hati. Tapi kedua tanganmu cepat meraih tanganku dan meletakkannya di dadamu.

Aku diam dengan pandangan gamang. Tapi kau tahu, tatapanku menyimpan keinginan besar untuk mengetahui jawabannya.

“Sebab kehidupanku yang menyenangkan hanya jika bersamamu. Hari-hari tua yang membahagiakan jika hanya senyummu yang kunikmati.”

Aku menatapmu mencari kesungguhan di kedua bola mata dengan alis hitam menajang, yang mebuat wajah sederhanamu selalu terlihat gagah walau berpuluh tahun berlalu. Kau mengangguk.

“Keinginan itu memang pernah menggoda, Ri, teramat kuat. Tapi mendadak mati rasa, ketika kesadaran mengusikku betapa itu akan melukaimu. Bagaimana aku bisa bahagia jika kau harus seumur hidup menanggung kesedihan?

Bang Zaqi mendekatkan kedua tanganku ke bibirnya. Menciumnya penuh kasih. Dan aku jatuh cinta lagi. Hari-hari berikutnya lelaki itu tak pernah bosan mengulang-ulang kata cinta untukku.

Seperti juga dini hari tadi, ketika mendadak kau terbangun dan dengan panic mencari-cari tanganku. Kejadiannya terlalu cepat. Aku hanya ingat mencoba mengangkat kepalamu dan merebahkannya di dadaku, berharap itu membuatmu lebih nyaman. Aku bahkan hampir lupa menuntunmu menyebut nama-Nya.

Dan di sinilah aku, sejak tadi. Setia memandang wajahmu yang pucat lelap seperti bayi. Perlahan jemariku menyentuh alis, mata, turun ke hidung, pipi dan bibirmu. Dingin.

Kurasakan Aisyah dan Ayunda memelukku. Bahu mereka berguncang ketika beberapa orang yang sejak tadi mengaji, mendekatiku dan membisikkan sesuatu.

Sebentar lagi mereka akan menutupmu dengan sempurna. Dan aku akan kehilangan wajahmu selamanya.

Selamat tinggal, Sayang. Biarlah kujaga tidur terakhirmu dengan ketenangan. Cukuplah air mata menjadi tanda duka.

Selamanya, aku mencintaimu.


--------

:’(
Dalem ya? Cerita-cerita yang lain di buku ini juga bagus-bagus, penuh hikmah. Baca deh.. :)

Mungkin luka karena pengkhianatan adalah luka lecet kecil, maafkanlah... karena luka kehilangan dia mungkin menjadi luka yang jauh lebih menyakitkan. Karena kita hanyalah hamba dari Sang Maha Pemaaf, maka maafkanlah sebelum menyesal. 

Comments

  1. iya mba..buat kesekian kalinya baca ini,, T.T

    ReplyDelete
  2. setujuu...
    cerita in slalu sukses buat mata aye berkaca-kaca :'(
    hmm...klo suami mint nikah lagi,pura2 sakit aj x ya,biar g jadi hehe..(ato bis sakit bneran???hm..)

    ReplyDelete
  3. ga perlu pura2 sakit non, pas denger pasti langsung pengen mati deh hehe...

    ReplyDelete
  4. wewww... alurny dari awal gak ketahuan. ternyata endingnya sang suami yg meninggal dg kesetiaan pada sang istri. merinding...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar di tulisan ini

Popular posts from this blog

Tutorial Menjahit Pashmina Instan ala Nurina Amira

Tutorial Bunga Tulip dari Kain Perca

Repurpose : Mengubah Kemeja dan Rok Jadi Gamis Kekinian