Tinggi - Rendah (?)

Awalnya karena sekarang sibuk di Kakon yang notabenenya saat ini masih berstatus bisnis online, maka saya berencana membeli token (alat untuk transaksi perbankan melalui internet). Pergilah saya ke bank mandir* di Kapten Muslihat Bogor, ternyata disana tokennya habis. Jadilah saya diminta berjalan kaki ke bank mand*ri cabang Jalan Juanda. Tidak jauh, karena sebenarnya kedua bank ini depan belakang. Saya juga heran kok ada dua bank yang sama berdekat-dekatan (dekat banget malah).

Sesampainya di mand*ri cabang Juanda, saya mendapat nomer antrian 67. Sedangkan saat ini masih berada di nomer  59.
“Oh tidak lama” pikir saya.
Ternyata saya salah, saya harus menunggu 1 jam untuk dipanggil oleh customer servicenya (mba Sheila kalo ga salah namanya).  Saya duduk tenang di bangku kuning yang disediakan. Disamping saya ada ibu-ibu yang usianya hampir 60 tahun (saya tau usianya karena beliau menunjukkan ktp-nya kepada saya). Bangku disebelah saya kosong sedangkan bangku-bangku di depan saya penuh. Saya tersenyum kepada sang ibu. Lalu memperhatikan televise yang menyiarkan National Geographic, tayangan tentang kecelakaan pesawat Flash Airlines tahun 2004 di laut merah.
Saya selalu suka menonton channel yang satu ini, cara membawakan berita yang menarik, lugas, cerdas. Saat sedang seru-serunya, ibu yang disamping saya mengajak bicara.

Ibu (I) : lama ya disini.. csnya ga capable banget, masih baca-baca dulu, masih nanya-nanya dulu blablabla.. (saya ga terlalu konsen, masih coba lirik2 tv)
Saya (S) : iya bu hehe..(bingung mau nanggepin apa)

Ibu : Kuliah ya?

Saya : iya bu

I : dimana?

S : IPB bu

I : jurusan apa?

S : komunikasi bu, KPM

I : ooo… S1 ya?

S : iya bu.. (senyum, dalem ati nangis, huhuhu… iya bu KPM itu S1 di IPB)

I : IPB tuh mahal ya?

S : engga bu, murah, lebih murah dibanding UI, ITB.. (senyum)

I : ya jangan juga dibandingin sama UI, bandingin sama Juand* (univ swasta di bogor)

S : lho, wajar atuh bu saya bandingin sama UI, kan sama-sama lima terbaik di Indonesia… (senyum)

I : bandingin sama juand*lah… juand* kan swasta nomer satu di bogor

S : ….. (sedih, bingung, kenapa gitu harus dibandingin sama univ swasta ituuuu)

I : berani potong kuping ga kalo IPB mahal?

S : (melongo)

I : kamu masuk biaya berapa?

S : *nyebutin angka belasan*

I : anak saya di juand* cuma 6juta

S : ….(ga bisa komen)

I : mana dulu tahun 2005 ga bisa milih jurusan pas pmdk, bisanya milih jurusan cacing (ilmu tanah – red). Nanti kalo lulus mau jadi apa? Ilmu ga kepake begitu.. kalo kerja ditaronya jauh di Papua sana. Apa-apaan itu.. Kamu mah enak jurusan komunikasi gitu masih ada yang make. Jurusan kamu kalo kerja jadi apa?

S : cenderung ke CSR bu (oh iya saya bisa ngomong CSR karena saya tau ibunya ngerti, beliau orang Bank Indonesia katanya, pasti ngertilah CSR apaan)

I : nah tuh..

S : tapi saya juga ga mau bu kerja kantoran. Saya kan kuliah bukan buat nyari kerja tapi nyari ilmu.. (senyum)

I : kata-kata kamu salah tuh. Kamu nih nganggap rendah saya ya? Mentang-mentang saya berpenampilan sederhana, bersendal jepit?

S : (melonggo, bingung, speechless sumpah) engga bu.. kok ibu mikirnya gitu, demi Allah saya ga nganggep ibu rendah… (nada sedih ala gue)

I : generasi kamu nih, generasi lulus SMA tahun 2003 itu emang generasi menyebalkan

S : …. (melonggo semelonggo-longgonya)

I : generasi kalian itu ga ngehormatin orang tua, menjadikan orang tua ATM berjalan! Kalo membunuh itu ga dosa, sudah saya bunuh anak saya!!!

S : (rasanya gue pengen nelpon ibu gue, nanya apa ibu merasa gue memperlakukan beliau kayak ATM bejalan)

I : Saya ini single parent, dan anak saya itu ga tau diri. Dia ngaji, liqo, mentoring, apalah… ustadzahnya itu kayaknya nyuruh dia ngerampas harta orang tuanya.

TETOOOOOT

I : dia tuh ga ngormatin saya, mau ngaji seminggu sekali di rumah, nanti lama-lama dua minggu sekali, dia mau ngusir saya apa.

(speechless)

I : dulu pernah ada laki-laki anak IPB juga kayak kamu, ngelamar anak saya pas anak saya semester 1. Saya bilang, gila apa, emangnya anak saya kucing, harus kuliah dulu. Dia kan anak daerah, dia pasti ujung-ujungnya duit, mau numpang hidup sama saya.

TETOOOOOOT

I : sekarang dia udah nikah, dua bulan baru. Dia bilang dia mau bikin kolam ikan (anaknya semata wayang, jurusan biologi di juand*). Dia juga mau bikin pertanian jamur. Pasti bau. Dia mau zhalimi saya.

…..

I : kalian ini belajar agama cuma denger-denger aja ga nyerap ilmu dari buku kan?

……….. (Ini justifikasi huhuhu…)

I : kalo saya ajak debat pasti kalah..

S : (ngangguk2, ga punya ide mau jawab apa, ngebantah bisa2 disemprot lebih panjang lagi gue)

Tiba-tiba ada petugas datang menyelamatkan saya bertanya pada sang ibu

Petugas (P) : ibu, kalau boleh tau ibu ada yang bisa kami bantu, dalam hal apa kemari?

I : saya mau perpanjang kartu ATM, masa berlakunya habis

P : oh kalau begitu saya boleh pinjam kartu ATM, KTP dan buku tabungan untuk difoto-copy?

I : tidak! Kalian ini tidak professional, saya tidak percaya rekening saya aman

P : (senyum) baiklah ibu (berlalu)

Beeeuuuuhh.. enak banget abis disemprot bisa pergi

I : ini kan surat berharga, seenaknya aja mau bawa-bawa

(padahal alat fotocopy-nya Cuma berjarak tiga meter lah dari tempat kami duduk, ibunya tetap ngotot tidak mau dan tidak percaya)

Sang ibu pergi sebentar ke security, kini giliran security dimarahi. By the way, suara ibunya keceng abis, jadi sejak dia “ngobrol” dengan saya, semua orang di bangku tunggu nguping. Mbak-mbak yang duduk di depan saya sampai balik kanan. Dan menunjukkan tatapan prihatin pada saya.

Tidak lama kemudian nomer antrian sang ibu dipanggil cs, begitu juga saya. Mejanya dan meja saya bersebelahan. Dalam percakapannya dengan cs, saya mendengar beliau membicarakan saya tentang generasi menyebalkan (T.T). heuh… ibunya ga sadar kalau saya disebelahnya. Lalu cs-nya meminta tolong petugas untuk memfotocopy kartu ATM, KTP, dan buku tabungannya. Petugas yang datang adalah petugas yang tadi dia semprot. Dia datang dengan senyum kemenangan. Lalu sang ibu pergi, saya masih sibuk dengan mbak Sheila.

Akhirnya saya menemukan orang yang berusaha sekali melindungi dirinya sendiri dari kesakitan dengan menyakiti orang lain. Termasuk anaknya. Entah anaknya bersalah atau tidak tapi saya rasa, ibu saya tidak akan menjelek-jelekan saya di depan orang “asing” di bank dengan suara kencang dan menyatakan ingin membunuh saya. Mungkin kesendirian, penjuangan yang keras sebagai single parent membuatnya curiga pada semua orang. Dan karena dia tidak mau diangap rendah oleh orang lain (karena pengalamannya menjadi staff di Bank Indonesia) maka dia merendahkan orang lain.

Saya mungkin pernah begitu sengaja atau tidak, bagi yang pernahtersakiti, saya mohon maaf, semoga bisa saling mengikhlaskan.

Hmmm.. merendahkan orang lain tidak pernah bisa menjadikan kita tinggi. Ambilah hikmahnya. Wallahu’alam

Comments

  1. Masya Allah... kasihan ibu itu, pasti ada masalah yang sedang dihadapinya, makanya jadi begitu. :(

    Ngomong2 tentang jurusan kuliah, saya yakin, mau kuliah di jurusan apa aja, gak ada bedanya. Toh bisa bekerja di banyak perusahaan yang gak berhubungan dengan jurusan kuliah. Itu paling buruknya lho ya. :)

    ReplyDelete
  2. Love this post...
    swear, one of your best.
    tumben....ahhahaa

    ReplyDelete
  3. @asop : mungkin masalahnya karena usia, kadang perubahan usia bisa membuat orang-orang yang dulu "berjaya" menjadi sedih, sensitif, dan marah karena dulu mereka berdaya, skrg harus ada yg menopang.. mungkin :)

    ReplyDelete
  4. @dodo : wew.. alhamdulillah, mokasih do (agak lebay yo kito) :p

    ReplyDelete
  5. merendahkan orang lain tidak pernah bisa menjadikan kita tinggi...
    love this words ;)

    ReplyDelete
  6. merendahkan orang lain tidak pernah bisa menjadikan kita tinggi...
    love this words ;)

    ReplyDelete
  7. merendahkan orang lain tidak pernah bisa menjadikan kita tinggi...
    love this words ;)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar di tulisan ini

Popular posts from this blog

Tutorial Menjahit Pashmina Instan ala Nurina Amira

Tutorial Bunga Tulip dari Kain Perca

Repurpose : Mengubah Kemeja dan Rok Jadi Gamis Kekinian