Tante Yati

Cerita tentang dandan mendandani saat pernikahanku 16 dan 18 Maret 2012 yang lalu rasanya ga lengkap kalo aku ga nyeritain tentang satu orang ini. Namanya Tante Yati.

Pertama kali ketemu Tante Yati pas H-1 pas aku lagi dipakein pacar/hena. Tante Yati datang bersama satu temannya yang akan bertugas mendandani keluargaku. Kesan pertama bertemu Tante Yati aku merasa orangnya ceria.

Esoknya Tante Yati datang ke rumah pas pukul 10.00 WIB. Katanya aku harus didandani dari pagi soalnya ribet mau masangin siger. Oh ternyata Tante Yati punya sigernya. Soalnya menurut konfirmasi dari Tante Dian (pemilik Melati Nirmala Wedding Organizer), mereka tidak mempunyai siger (mahkota sunda).

Rencana awalnya karena kami mengira dari pihak WO tidak menyediakan pakaian akad, maka kami meminta perias keluarga besan untuk menyediakan sigernya. Pada akhirnya saya bersyukur untuk dua hal karena siger dibawa oleh Tante Yati. Pertama karena ternyata akhirnya keluarga pengantin pria datang terlambat 30 menit dari perkiraan. Kalo aku nungguin periasnya keluarga besan jam berapa tuh aku baru kelar didandani. Nah yang kedua aku bersyukur sekali karena Tante Yati yang bawa siger, soalnya kalo yang bawa dari pihak perias besan, bisa-bisa aku pingsan duluan. Kenapa? Karena Tante Merry, perias keluarga besan ternyata SEKONG alias BENCONG. Aaaaaa... alhamdulillah aku selamat dari sentuhan laki-laki (yang ngaku-ngaku perempuan) yang bukan muhrim...

Eh iya, balik lagi ke Tante Yati, awalnya pas ngedandanin biasa aja. Sampai saat Tante Yati mau mencukur alisku. Kami sempat debat.

Aku : Tante aku ga mau dicukur alisnya.

Tante Yati : Kenapa?

Aku : Haram tante, ga boleh..

Tante Yati : siapa yang ngelarang? suami? orang tua?

Aku : Allah, tante... Ada haditsnya

لَعَنَ اللَّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِمَاتِ وَالنَّامِصَاتِ وَالْمُتَنَمِّصَاتِ

Allah melaknat orang yang mentato dan yang minta ditato. Allah pula melaknat orang yang mencabut rambut wajah dan yang meminta dicabut.” (HR. Muslim no. 2125)

Akhirnya Tante Yati menyerah.

Lalu saat adzan dzuhur, Tante Yati memintaku buat ga sholat

"Minta ampun aja ke Allah, sekali aja ga sholatnya.."

Makjleb rasanya. Syok banget aku.

"Tante, menikah itu sunnah, masa karena yang sunnah yang wajib malah ditinggalin..:)"

Aku pikir ini emang tugas kita yang paham, memberi tau yang belum tau, mengingatkan yang lupa. Maka saat-saat seperti ini (pernikahan) adalah saat yang tepat untuk mengingatkan. Aku juga bersyukur karena saat-saat genting seperti ini ada sahabat-sahabat yang paham agama berada di sisiku. Kalo ga kuat bisa-bisa malah dapet dosa bukannya berpahala karena menikah.

Saatnya aku dipakaikan jilbab. Ini juga saat-saat sulit karena Tante Yati ga berpengalaman mendandani wanita berjilbab lebar (yang biasa disebut kaum akhwat, yg padahal akhwat dalam bahasa arab berarti wanita hehe). Tante awalnya ngotot ingin aku berjilbab kecil saja, jilbab ninja. Dengan bagian dada tidak terulur kain jilbab. Lagi-lagi kami (aku dan teman-teman) harus mendebat dan pada akhirnya tante kalah karena kalo ga mendandaniku sesuai seleraku, aku akan melaporkannya ke Tante Dian hehe... Ancaman ini efektif.
proses dandan

jilbab yang dibolongin buat masang siger dan kembang goyang

Setelah selesai semua, tante Yati menatapku, lalu berbisik "cantik juga ya begini..."

Ah alhamdulillah... Tante Yati akhirnya meminta fotoku dan setelah itu dia menceritakan kenapa dia ngotot tadi. Rupanya para perias pengantin ini punya beban tersendiri, jika pengantinnya "tidak cantik" maka pasti tamu-tamu akan menyalahkan periasnya. Komentar-komentar "riasannya jelek, ga bikin pangling" adalah komentar yang ditakuti mereka. Belum lagi jika ada komentar yang datang ke pihak WO bisa-bisa mereka dimarahi dan dihukum.

Karena cerita tante Yati inilah keesokan harinya aku dan suami (udah sah hehe) mendatangi pihak WO dan menjelaskan bahwa mencukur alis tidak aku perkenankan dalam mendandaniku. Saat mendandaniku di hari resepsi tante Yati jadi jauuuuh lebih santai karena sepertinya bebannya sudah hilang.. :)

Comments

  1. suka bagian sekoongnya..hahaha...
    soal tante yati,mirip sama kasusnya asih des..dulu alasan perias asih jg gt,ad beban mental kalo riasan mereka ga "waah"..
    tp alhamdulillah sama kyk desni,g di"aneh2"in hehe..

    ReplyDelete
  2. ahaha.. aku sebenernya udah dikasih tau sama kak tyo pas sebelum nikah katanya "tante merry itu laki-laki" tapi aku ga ngeh hahaha...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar di tulisan ini

Popular Posts