Sunday, November 25, 2012

Martabak Miniiiiiiiiii

Karena kumpul lengkap berempat Kiki, Ery, Rizka dan saya rasanya semakin sulit, maka saya ungkapkan kerinduan saya yang luar biasa pada mereka semua dengan membuat martabak mini. Ga semini yang biasa kami buat di outlet dulu. Tapi rasanya cukup mengobati kerinduan.

Setelah googling sana sini akhirnya saya nemu resep yang saya yakini kemungkinan besar rasanya mirip sama martabak mini rindu ummi.

Berikut resepnya
Bahan :
250 gr tepung terigu
2 sdm gula pasir
1/2 sdt baking powder
1 sdt ragi instant (kalo ada yang ga tau, ragi instant contohnya fermipan)
350 ml susu cair
2 butir telur, kocok lepas
1/2 sdt garam

Isi :
keju 
coklat meises
kacang, disangrai lalu dicincang kasar
susu kental manis
gula

Bahan olesan
butter atau mentega


Cara masak
  1. Campur terigu, gula pasir, baking powder dan ragi instant. Tuangi susu sedikit demi sedikit, aduk sampe rata. Masukkan kocokan telur, aduk rata. Masukkan garam, aduk lagi. Diamkan minimal 1,5 jam (diemin aja jangan diajak ngobrol), tutup wadah dengan serbet bersih.
  2. Siapkan wajan anti lengket, panaskan sebentar, olesi dengan sedikit mentega. Tuang adonan ke dalam wajan. Tunggu sampai adonan mulai berlubang. Setelah lubangnya mulai banyak, siram (???) dengan gula pasir, tutup dan biarkan matang. 
  3. Setelah matang, angkat, olesi dengan butter/margarine. Isi suka-suka dengan bahan isian sesuai selera 
  4. Sambil mengisi martabak, masak adonan 1 lagi untuk penutupnya. 

warnanya kurang rata, kayak orang panuan -___-"
Resep ini lumayan berhasil, lobang-lobang pada martabaknya tampak jelas. Cuma ga sempet di foto huhuhu...

Saturday, November 24, 2012

Tumis Buncis Ala Singapore

Saya dan suami tenyata punya tempat makan kesukaan yang sama D'Cost. Sea food adalah menu favorit kami. Beberapa waktu yang lalu kami berdua sedang mengalami sindrom sadar pentingnya label halal (apadeh pake sindrom-sindrom segala). Intinya sekarang kami mulai hati-hati untuk memilih tempat makan. Label halal MUI jadi patokan utama. Kalau ada, kita makan. Kalau ga ada, yaudah cari yang ada.
Nah sayangnya saat sedang galau begitu, resto favorit kami ini belum memiliki label halal MUI, sehingga ya untuk sementara kami tidak makan di sana. Kerinduan terhadap menu-menu D'Cost membuat saya googling resep menu sayur kesukaan saya disana, tumis buncis ala singapore. Alhamdulillah hasilnya memuaskan.

Berikut resepnya :
e1b93350dbec3db314fad45ed613eea8_img-20120722-00219
Bahan :
1. Buncis 250 gr
2. Daging sapi cincang 5 sendok makan
3. Bawang putih 2 siung, cincang
4. Bawang merah 2 siung, cincang
5. Bawang bombay 1/2, cincang
5. Minyak wijen 1/2 sendok
6. Kecap inggris 1/4 sendok
7. Saos tiram 2 sendok makan
8. Lada hitam 1/2 sendok
9. Lada putih 1/2 sendok
10. Gula 1/2 sendok
11. Garam 1/4 sendok
12. Minyak untuk menumis


Cara memasak :
1. Daging cincang dicampur dengan kecap inggris, diamkan

2. Buncis dicuci lalu dipotong-potong kecil 3 bagian

3. Rendam buncis dengan air panas, diamkan

4. Panaskan minyak, tumis bawang-bawang, masukkan daging hingga warna berubah. Masukkan minyak wijen, saos tiram, lada, gula, dan garam. Aduk rata

5. Masukkan buncis (tanpa air) ke dalam tumisan, tumis buncis hingga layu. Masukkan sedikit air rendamam buncis. Masak hingga air susut. Angkat, sajikan selagi panas.

960b35b718a6866825653ff7e8a4b627_img-20120722-00222

Kabar gembiranya, sekarang D'cost sudah ada label halalnya howreeee... \(´▽`)/


Ketan Serundeng

Ceritanya kemaren bikin ayam serundeng dan serundengnya kebanyakan. Karena saya dan suami biasanya ga suka makan dengan satu menu yang sama lebih dari satu kali. Maka serundeng "sisa" nya saya akali untuk dijadikan cemilan pagi kami.


Ada dua tahap pembuatan, pertama ketannya, kedua serundengnya.

Untuk membuat ketannya, saya menggunakan resep yang sama dengan pembuatan ketan pada kue srikaya.

Untuk serundengnya berikut bahan dan cara pembuatannya.

Bahan

  1. Setengah kelapa ukuran sedang, diparut
  2. Dua siung bawang merah
  3. Dua siung bawang putih
  4. Satu sendok teh ketumbar (bisa ditiadakan, sesuai selera)
  5. Setengah ruas jari jahe
  6. 1 ruas jari lengkuas
  7. Gula putih dan garam secukupnya
  8. 3/4 gula merah disisir
  9. Minyak untuk menumis
Cara pembuatan :
  1. Haluskan bahan nomer 2-5 
  2. Panaskan minyak
  3. Masukkan bumbu halus ke dalam minyak, tumis
  4. Setelah bumbu harum masukkan kelapa parut, aduk hingga rata
  5. Masukkan gula, garam dan gula merah
  6. Aduk hingga kering dan warnanya kuning kecoklatan
  7. Angkat
Setelah itu bentuk ketan sesuai selera lalu taburkan serundeng di atasnya. Jadi deh :)

Friday, November 23, 2012

Kue Srikaya

Dulu waktu SMA saya aktif di Rohis, karena saya cerewet saya diamanahi menjadi staf humas Rohis. Humas rohis diketuai oleh Dodo, seorang pria kebangsaan Nigeria (ahahha... becanda Do, jangan pundung). Seingat saya Rohis di SMA Negeri 3 Palembang dulu aktif sekali. Semua divisi punya kegiatan, semua divisi menonjol dan rata-rata anggotanya prestatif. Jadi kalo ada yang bilang Rohis itu sarang teroris, ah itu mah gosiiiiip...

Divisi yang kegiatannya aktif sekali karena hampir tiap hari ada kegiatan adalah divisi Dana dan Usaha (danus). Setiap hari mereka berjualan. Tidak hanya anak divisi danus sih, dari divisi lain juga banyak yang bantu. Dagangannya makanan ada donat dan juga kue srikaya, kue khas Palembang. Yang jualan kue srikaya ini namanya Ayu. Sebenarnya kegiatan jualannya Ayu ga melulu buat rohis, ada kalanya buat pribadinya. Kue srikaya yang dibawa Ayu ini buatan ibunya Ayu sendiri lho. Kuenya enak. Anak SMA Negeri 3 lulusan 2006 kemungkinan besar tau kue ini dan tau betapa enaknya kue srikayanya Ayu.

Nah setahun yang lalu, Agustus 2011, Ayu berbaik hati berbagi resep kue srikaya ala mamanya di facebook. Dan dengan mengikuti petunjuk Ayu, jadilah kue srikaya ala Ny. Desni Wilopo.


Berikut resepnya


Bahan:
Ketan ½ kg
Telor 8 butir
Gula ¼ kg
Santan kental 500 cc
Santan encer 350 cc
Daun pandan sktr 5 lembar
Pasta pandan 1 sdm

Cara buat:
  1. Ketan dimasak dengan santan encer kasih garam 1/2 sdt. (masak ketan tau kan? Haha.. ribet2, masak di magic com jg boleh). Setelah masak langsung cetak ketan dalam loyang, better kalo loyang nya yg agak ceper dan lebar. Dicetaknya mesti padet, ditekan2 sampe bener2 padet, biar nanti hasilnya bagus. kalo mau yang cetakan cup2 kecil juga boleh, sesuai selera :)
  2. Parut daun pandan (diblender juga bisa) trus campurkan ke dalam santan kental lalu saring untuk dapet aroma dan warna hijau nya.
  3. Untuk adonan srikaya nya: campurkan semua telor (kuning+putihnya), gula, santan (yang udah dicampur daun pandan parut) dan pasta pandan, aduk rata hingga gula hancur (pake sendok aja, ga perlu mixer). Saring adonan (pake saringan kelapa boleh) supaya adonan halus.
  4. Panaskan air dalam kukusan (untuk ngukus si srikaya+ketan nanti, jadi tar pas masukin nya kukusan nya udah panas)
  5. Tuang adonan srikaya yang udah disaring tadi ke dalam loyang yang udah berisi ketan yang dicetak (jadi kan ada 2 tingkat –ketan dan adonan srikaya)
  6. Kukus selama 45 menit
  7. Done :)

The Art of Writing

Saya sudah punya buku diary sejak SD. Entah kapan dan entah sebab apa saya mulai menulis diary. Yang saya ingat dari semua buku harian yang saya punya saya tidak banyak bercerita tentang kesedihan. Saya menulis untuk bersenang-senang. Jadi cerita sesedih apapun akan saya tulis dengan sudut pandang "pelawak".

Kini selain blog ini saya sudah tidak punya diary lagi. Itulah sebabnya mengapa blog ini lebih banyak ceritanya, bahkan cerita-cerita tidak penting sekalipun. Sejenis cerita nyari kambing ke kandang Ophie yang luar biasa jauhnya, atau pengalaman Jakarta Bogor naik motor, bahkan cerita saat sang suami merayu saya (aiiiiih...). Saya menulis untuk bersenang-senang walau saat semakin dewasa saya menyadari orientasi menulis saya harus ditambah. Selain untuk bersenang-senang saya sekarang menulis untuk melihat hikmah apa yang bisa saya ambil dari setiap kejadian yang saya alami.

Belakangan ini mungkin teman-teman blogger menyadari saya banyak menulis untuk lomba. Rasanya dari bulan Juni kemarin banyak kompetisi menulis blog yang hadiahnya bikin saya ngiler. Maka saya juga jadi rajin mengikuti lomba-lomba tersebut. Tapi tidak semua lomba saya ikuti walau saya mengetahui tentang lomba tersebut dan telah memasukkan tanggal-tanggal berakhirnya kompetisi pada timeline kerja saya (kayak yang kerja aja hahaha..).

Beberapa lomba yang saya lewatkan antara lain lomba yang berhadiah motor tentang susu kental manis, lomba berhadiah motor tentang perusahaan listrik negara, lomba tentang andai aku jadi ketua KPK, lomba yang berhadiah the new iPad tentang lotion kulit malam hari (???) dan lomba menulis tentang guru. Saya punya alasan tersendiri mengapa melewatkan lomba-lomba tersebut.
  • lomba tentang susu karena saya tidak sepakat penggunaan susu kental manis untuk diminum. Teman-teman saya dari fakultas peternakan sering menjelaskan bahwa susu kental manis tidak untuk diminum dengan cara dicampur air, susu kental manis digunakan untuk pelengkap makanan. Misalnya digunakan pada topping kue, pada martabak, dll.
  • Lomba tentang perusahaan listrik negara karena entahlah saya kesulitan menuliskan harapan saya sesungguhnya pada perusahaan milik pemerintah hehehe.. saya sudah pernah magang di salah satu BUMN, sejak 2009 saya sudah lebih dari 3x ditawari bekerja di BUMN tersebut. Menolaknya perlu usaha keras apalagi orang tua saya sangat menyayangkan, jarang-jarang ada mahasiswa yang belum lulus tapi ditawari pekerjaan. Saya menolak karena saya tau betapa seramnya, betapa kotornya permainan di dalamnya, dan saya khawatir saya tidak sanggup bertahan.
  • Lomba tentang KPK karena saya tidak suka politik, tidak suka dan sepertinya tidak mengerti betul dengan korupsi dan hubungannya dengan KPK. Buta. Begitu saja.
  • Lomba tentang lotion itu tidak saya ikuti karena saya sudah menang lomba kosmetika halal dari wardah dan saya tidak menggunakan lotion itu. Agak muna' aja rasanya kalo saya harus membeli dan menulis tentangnya sedang saya tidak pernah memakainya hehehe..
  • Lomba tentang guru? Well sebenarnya saya sudah menulisnya, sudah ada kerangkanya, sudah ada data-datanya. Tapi saya tidak melanjutkan menulis. Saya merasa "ruh" saya tidak begitu kuat untuk menyampaikan pesan saya tentang guru yang sudah saya pikirkan itu. Saya perlu sesuatu yang lebih kuat selain kengileran terhadap hadiahnya.
Bagi saya menulis itu passion. Sang suami bahkan bisa melihat itu, katanya saya tampak benar-benar hidup saat menulis. Dan karena menulis adalah passion maka saya tidak bisa memaksakan diri untuk menulis, saya harus mengumpulkan kekuatan ruh dari tulisan saya, kebahagiaan dan minat saya terhadap topik tersebut.

Menulis adalah seni, seni mengelolah hati. Karena saya pernah mendengar kalimat bijak ini (yang saya lupa sumbernya)

Kebuntuan dalam menulis adalah akibat kurang pekanya kita menghadapi suatu hal. Kurang peka bisa berasal karena kita kurang mengisi ruhiyah kita dengan hal-hal yang mendekatkan diri pada sang pemilik kepekaan, Allah SWT
Yap, baiklah... mari kita kumpulkan kembali energi, perbaiki hati, segarkan pikiran dengan banyak membaca dan mari kembali menulis buat lomba ahahahaha.....

Wednesday, November 21, 2012

Infaq Satu Juta (Part 2)

Sebaiknya baca postingan sebelum ini... Infaq satu juta

Rencana di Palembang cuma sebentar yang jelas tanggal 31 Oktober kita berdua harus udah ada di Bogor lagi. Awalnya kita mau naik bus aja, karena khawatir sama kandungan gue. Tapi muka ayah gue melas banget beliau bujuk-bujukin kita buat naik pesawat aja. Akhirnya kita naik pesawat tanggal 30 Oktober.

Sebenernya ya booo.. menurut dokter obgyn langganan gue di Palembang, resiko di pesawat dan di bus sama aja. Pesawat beresiko karena tekanan di udara yang berbeda dan guncangan saat take off dan landing. Sedang bus beresiko karena guncangannya. Bus juga beresiko karena lama perjalanan yang ditempuh. Tapi menurut hypnobirthing, asal ibunya tenang insyaAllah bayinya ga apa-apa. InsyaAllah. Dan kami percaya itu.

Pesawat yang dipilih adalah Singa Merah. Biasanya opsi pertama sang Burung Biru tapi mahal boooo.. kita naik sang singa aja. Gue ga mau dan rada-rada trauma naik pesawat Betawi atau pesawat Raja Palembang soalnya serem aja. Jadi kalo ga naik Burung Biru ya naik Singa Merah. Itu udah yang paling save di Indonesia. Walau naik Singa Merah beresiko kena penundaan keberangkatan alias DELAY. Dan bener aja, pesawat kita delay krikrikrik..

tiket

Pesawat delay artinya kita dapet makanan. Satu jam kemudian pesawatnya udah ready, kita udah bisa naik pesawat. Biasanya gue milih buat naik di akhir-akhir biar ga desak-desakan. Eh pas di depan pintu pesawat kita ditahan. Petugas yang ngeliat perut gue langsung nanyain hamil berapa bulan. Dengan jujur gue jawab TUJUH bulan. Aih... ternyata gue haram naik pesawatnya. Ga diizinkan karena ga bawa surat keterangan sehat dan bolehterbang dari dokter.

Salah gue sih, harusnya minta suratnya ke dokter Obgyn gue. Tapi karena pas berangkat ke Palembang kemaren ga ada yang nanya-nanyain di pesawat ya gue santai aja hehehe... Salah bandaranya juga, kan ada klinik tuh di bandara, eh malah udah tutup padahal masih ada sejumlah penerbangan. Taukah kalian dampak ga boleh terbang ini? Yup, tiket gue hangus, musnah... hilang sudah sejuta. Inilah yang kami sebut infaq satu juta. Nginfaq sama sang Singa Merah -_____-"

snack ini harganya sejutaaaaaa
Oh iya, koper kita berhasil dikeluarin dari pesawat sebelum pesawatnya terbang, tapi satu kardus pempek ga terselamatkan. Udah keburu terbang ke Jakarta tuh kardus. Kita konfirm kalo kardus kita kebawa terbang, sayangnya responnya buruk. Kardus yang udah masuk bagasi pesawat itu ga pernah kembali. Padahal kita udah bolak balik ke bandara. Kita tau sih nasibnya sang bagasi emang begitu, tapi yang kita lakukan adalah pengen nunjukin kalo itu hak kita maka kita harus perjuangkan!

nomer bagasi yang ga dicoret = bagasi yang menghilang

Kegagalan kembali ke bogor bikin kita berdua galau, lahiran di Palembang kah atau di Bogor. Akhirnya kita putuskan untuk kembali ke Bogor. Tanggal 8 kita naik bus Pahala Kencana jurusan Palembang Bogor. Seru deh naik bus berdua sama mas Tyo sayang muach-muach.. Tidur berbantalkan bahunya, lihat pemandangan indah sepanjang jalan, aih... makin sayang deh pokoknya (lebay hahaha).

Merak di pagi hari
Dan disinilah kami berdua, di rumah (kontrakan) kami. Hanya berdua. Siap untuk mandiri. Siap untuk kelahiran anak pertama kami di kota hujan yang romantis, Bogor...


rumah pakuan


pemandangan dari depan rumah (gunung salak)

Infaq Satu Juta

Judulnya tengil, riya', suombuong buanget ya...

yaelah sejuta doang belagu amat des..
makanya dibaca dulu aja ya biar ketauan ceritanya

Dimulai dari tanggal 20- 21 Oktober 2012 maen ke kampusnya suami di daerah Cipete, Jakarta Selatan ada acara persembahan dari mahasiswa baru gitu deh. Nekat ba'da isya naik motor ke sana. Nyampe sana jam 9-an malem dan ternyata acaranya udah bubar gyahahaha.. Menurut suami dan temen-temennya biasanya acaranya sampe jam 12 malem, tapi karena emang ada kuliah ekstensi di kampusnya jadi ga boleh malem-malem banget acaranya.

Udah malem dan capek banget kita segera cari tempat nebeng tidur hehe.. Karena ga memungkinkan untuk nginep bareng, jadi terpaksa gue dan suami harus pisah sementara. Gue nginep di kosannya Ana, temen sekampus suami. Gue kenal Ana sejak tahun 2009, suami udah pernah ngenalin temen-temennya sejak jaman yang kita sebut "gue ga tau dia jodoh gue atau bukan". Sedang suami nginep di kosan Agung, sahabatnya semasa di kampus yang udah sering banget gue denger ceritanya dari sang suami.

Beberapa temen perempuan sang suami yang penasaran sama "bini-nya Tyo" datang ke kostan Ana malem itu. Yaaaah... semoga gue ga malu-maluin suami lah ya hehehe... Semoga gue cukup cakep buat bikin temen-temennya terkesan (lhaaaa...).

Paginya gue dijemput suami buat sarapan bareng. Kita kayak orang pacaran deh (kayak yang pernah pacaran aja deeeees..). Setelah itu gue dianter lagi ke kostan Ana buat ambil barang-barang dan langsung caw ke rumah sahabat suami semasa SMA, kak Ahmad Setiawan. Kita berdua emang berencana ke Jakarta buat silaturahim ke temen-temennya suami. Jadi walau ga bisa ikutan acara kampusnya suami, yang penting bisa ketemu temen-temennya.

Alasan terbesar mengunjungi kak Ahmad karena kak Ahmad baru punya baby cantik yang dikasih nama Aqilah. Aih aqilah lucu bangeeeeeeeeeeeet..... mukanya mirip kak Ahmad banget, sedikit pun ga ada sudut yang menunjukkan Aqilah mirip Ami, ibunya.



Ba'da ashar kita berdua langsung jalan ke Bogor, kebayang ga tuh pinggang gue sama suami bentuknya kayak apa hahaha... Di jalan hujan, ah pokoknya subhanallah.. semoga silaturahimnya berkah

Besoknya tanggal 22 Oktober kita gegoleran di rumah, ga ada rencana macem-macem. Pokoknya hari itu pinggang dan pantat kita berdua harus lurus kembali hahaha.. Tapi rencana batal gara-gara BBM-an sama Ophie, Ophie ini temen sekampus gue yang juga juragan kambing. Rencananya suatu saat neng Ophie akan menggunakan mitsubishi strada buat nganter kambing-kambingnya ke pelanggan. Keren gila... hahaha (aamiin ya phie).



Gara-gara BBM-an sama neng Ophie ini akhirnya niat gegoleran sepanjang hari diurungkan. Ba'da dzuhur kami akhirnya naik motor lagi ke kandang milik neng Ophie. Tau lokasinya? Dari kampus IPB Dramaga teruuuuuus aja sampe ke Gunung Salak hahaha.... Jauh banget dah, ada kali 1,5 jam naik motor. Ajib lah pokoknya. Kita berdua sengaja jauh-jauh ke kandang buat milih sendiri kambing buat diqurbankan tahun ini (qurban tanggal 26 Oktober). Suami pengen banget liat fisiknya tuh kambing, sejauh apapun dijabanin sama doi.

Kami emang berencana hari raya Qurban ini mau berdua aja di Pakuan. Ga pulang ke Palembang. Setelah diliat-liat dan cocok, jadilah kita beli kambing ke Neng Ophie. Kita udah seneng ngebayangin lebaran berdua, ngeliat kambing kita mati ditangan penjagal (???), pokoknya seneng banget... Tiba-tiba ada telpon dari kantor suami di Palembang. Suami mendadak ada kerjaan dan harus pulang segera. Trus tiba-tiba pula ada telpon dari dataprint kalo gue menang undian. Banyak tiba-tiba. Akhirnya karena lebaran udah deket dan ga mungkin kita berdua dipisahkan (aih lebay), jadi gue dan suami pulang ke Palembang. Tgl 24 Oktober kita mendarat di Palembang. Kambingnya? Ya kita percayakan sama neng Ophie buat disembelih di desa dekat kandang. Kata neng Ophie disana cuma sedikit yang qurban.

Kepanjangan kalo diceritain sekarang, jadi tungguin aja postingan berikutnya..

Tuesday, November 20, 2012

Netbook Asus Yihaaaaa...



Semua pembaca setia blog aneh ini harusnya tau kalo gue belum lulus kuliah S1 di Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor. Don’t ask why and no question about when will I graduate from my study :p

Jadi suatu hari yang sangat indah gue mau ngeprint kuesioner penelitian dan ternyata tinta printer gue habis. Kering kerontang. Kertas yang masuk dikeluarkan dengan sempurna persis kayak kondisi awal. Putih polos dan tetep putih polos. Padahal itu udah kepepet. Mau keluar rumah eh hujan. Yasudah akhirnya gue menyabar-nyabarkan diri buat menunda ngeprint besok pagi, soalnya seperti biasanya hujan di Bogor baru akan reda pada malam hari.

Pas udah pasrah begitu tiba-tiba ada SMS masuk dari tukang ojeg kesayangan (as know as Septina Mugi Rahayu hahaha)


“Des aku ke rumahmu ya sore ini mau maen, aku naik motor bareng Irnita…”


Wuaaaa… My herooooo… My supermarket (???)

Beberapa detik sebelum adzan maghrib bergema di Pakuan Regency, Septina dan Irnita sampai di rumah. Mereka kehujanan. Setelah ngobrol panjang lebar, cekakak-cekikik ga penting, gue minta tolong mereka buat nganterin ke tempat khusus isi tinta printer di dekat kampus. Mereka bersedia. Jam 8 malem gue dianter Septin ke lokasi pengisian tinta printer. Dan ternyata tokonya udah tutup. Karena bingung akhirnya gue minta dianter ke mini market terdekat. Gue putuskan buat beli tinta printer dan ngisi ulang sendiri di rumah. Gue pilih tinta dataprint. Kenapa? Karena cuma ada itu pilihannya. Serius! (jujur banget).

Nah di dalem bungkus tinta isi ulang dataprint itu ada sejenis kupon undian. Iseng gue baca, iseng gue buka web dataprint, dan iseng gue isi data gue disana, ngisi sang kupon undian. Sebulan kemudian, gue bareng suami pergi ke dokter kandungan. Sang kupon yang gue selipin di buku laporan kehamilan ternyata diliat suami.

Dua Kupon

Mas Tyo sayang muach muach (M) : ini apa?

Gue (G) : oooh… itu kupon undian, iseng-iseng aja pas beli tinta isi ulang

M : lho, ga isi ulang di tempat isi ulang?

G : tutup, kan aku udah cerita…

M : (ngangguk2) yaudah disimpen aja kuponnya…

Sang kupon disimpan.

Ceritanya udah ketebak kan? Emang gampang nebaknya hahaha..

So, suatu pagi gue dan suami lagi males-malesan di rumah, kita berdua tepar karena habis naik motor berdua dari Bogor (lebih tepatnya Dramaga) ke Jakarta dan balik lagi ke Bogor dalam rangka silaturahim ke kampusnya suami plus ke rumah sahabat suami di Ulu Jami. Pegel banget. Ditambah gue yang lagi hamil 7 bulan bikin pegel terasa luar biasa. Suami pegel plus-plus karena stress takut istri dan jabang bayi kenapa-kenapa. Takut kenapa-kenapa kok naik motor? Yaaah.. kita berdua percaya bahwa kandungan gue kuat, dengan kekuatan doa dan ketenangan hati, insyaAllah bayi dalam kandungan gue ga apa-apa. InsyaAllah.

Males-malesan pun didukung dengan air pam di Pakuan Regency yang mati total dari jam 11 malem. Alhasil kita berdua belum mandi dari pagi. Menyedihkan dah pokoknya. Tiba-tiba handphone gue berdering, ada panggilan masuk. Seorang wanita diujung telpon (yang akhirnya gue tau namanya “mbak anist”) menyapa lembut. Inti pembicaraannya adalah


“ibu Desni selamat telah memenangkan undian dan mendapatkan netbook dari dataprint. Ibu Desni pernah mengisi kupon di web dataprint kan? Ibu belum lihat pengumumannya di web ya?”


Gue syok.. Syoooook… Syooooooook.. (lebay!)

“Alhamdulillah…beneran mba?” reaksi gue yang akhirnya mengundang tawa dari mbak anist.

yeeey.. lagi-lagi nama gue ada di internet (alay)

Wah subhanallah… Kaget gue. Perasaan dulu ga pernah menang apapun, rezeki menikah mungkin, atau rezeki hamil, entahlah. Yang jelas Alhamdulillah, segala puji bagi Allah. Sesaat setelah telpon ditutup, air pam nyala.

Ceritanya begitu aja… hari ini netbooknya nyampe rumah. Kayaknya ga akan dipake, soalnya gue dan mas tyo sayang muach-muach laptopnya alhamdulillah masih bagus. Kebetulan juga bentar lagi lahiran, jadi sang netbook rencananya mau kita jual aja. Lumayan buat beli clodi (cloth diapers) muahahaha... Ada yang tertarik? Kontak-kontak eik aja. Yuk yak yuk…

ciyeeee...
difotoin suami doooooong.. ihiiiy

Tuesday, November 6, 2012

Tanpamu Tak Akan Sama

Foto ini diambil saat kami sedang makan malam berdua di rumah makan Padang Palapa km 5 Palembang. Kami makan pukul 23.40-an. Makan setelah seru-seruan nonton Skyfall di PIM (Palembang Indah Mall :p), Malem amat ya? Kita kelaperan habis nonton, rencana langsung pulang ba'da nonton diurungkan, kami putuskan banting stir dan mampir dulu buat makan.


Beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah kutipan yang diambil dari sebuah film Indonesia, Catatan Harian Si Boy


Tiba-tiba saya teringat dengan kata-kata yang diucapkan Michael Peña (Mike Zavala) dalam film The End of Watch. Kata-kata yang dia ucapkan pada sahabatnya Brian Taylor yang diperankan oleh si ganteng prince of persia, Jake Gyllenhaal. Kira-kira begini nasihatnya
Nenekku bijak sekali, saat aku ingin menikahi Gabby, nenekku bertanya 'Apakah kau bisa hidup tanpanya? Jika ya, maka berhentilah, jangan berpura-pura mencintainya..'
Saat mendengar kata-kata itu saya sendiri menanyakan hati saya, apakah saya bisa hidup tanpa laki-laki yang duduk di kiri saya ini dan saya genggam tangannya? Lalu saya coba membayangkan bagaimana bentuk hidup saya bila tak ada dia. Dan saya tak sanggup. Tiba-tiba saya menangis. Sang suami bingung kenapa di adegan yang sama sekali ga melow ini istrinya menangis hahaha....

Dan pikiran saya kembali mengenang kata-kata sang suami yang sepertinya diucapkan lebih dari 3x pada saya

Kakak ga jatuh cinta ke kamu kayak orang yang tergila-gila. Biasa aja. Tapi kamu harus tau, hati kakak rasanya aneh kalo ga ada kamu, rasanya ga sempurna...

Mungkin cinta saya dan suami bukan cinta spontan yang ga pake proses. Cinta kami berproses, seperti membangun rumah, kami bangun pelan-pelan pondasinya, kami susun batanya hingga kami berharap akan ada istana cinta yang kuat nan megah mempesona.

Tau lagunya Padi yang Tempat Terakhir? Saya suka salah satu baitnya TANPAMU TAK AKAN SAMA
^ ^