Wednesday, February 27, 2013

Aqiqah Sachie

Bismillah...

Sepengetahuan saya dan suami, aqiqah itu adalah memotong hewan (dalam hal ini kambing) untuk sang anak (satu untuk perempuan dan dua ekor untuk laki-laki). Hukumnya sunnah muakad. Sunah yang utama.
Diriwayatkan oleh ‘Aisyah Radhiyallahu Anha, ia berkata, “Untuk anak laki-laki, yang disembelih dua ekor kambing, dan untuk anak perempuan yang satu ekor kambing.”
Hadits Shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (1513) dan Ahmad (VI/13)
Aqiqah juga memberi nama anak
Sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama bapak-bapak kalian, maka baguskanlah nama-namamu. (HR Muslim).
Selain memberi nama, anak juga dicukur rambutnya. Setelah dicukur, rambut anak ditimbang dan beratnya ditukar dengan nilai perak. Ada juga yang berpendapat beratnya ditukar dengan nilai emas. Tapi karena setau kami dalilnya lebih kuat menukar dengan perak maka kami menukar rambut Sachie yang sudah dicukur dengan nilai perak.
“Setiap anak yang baru dilahirkan itu tergadai oleh akikahnya yang disembelih atas namanya pada hari ketujuh kelahirannya, dicukur dan diberi nama.”
Hadits Shahih diriwayatkan oleh Abu Dawud (2838), dan oleh At-Tirmidzi (1522). Katanya hadits ini Hasan Shahih
Imam Malik meriwayatkan hadits dari Ja'far bin Muhammad dari ayahnya, ia berkata, Fatimah r.a. menimbang rambut Hasan, Husain dan Zainab, dan Ummu Kultsum, lalu berat timbangan rambut tersebut diganti dengan perak dan disedekahkan.
Ibnu Ishaq meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Abu Bakar, dari Muhammad bin Ali bin Husain r.a., ia berkata, Rasulullah melaksanakan aqiqah berupa seekor kambing untuk Hasan. Beliau bersabda, Fatimah, cukurlah rambutnya. Fatimah kemudian menimbangnya dan timbangannya mencapai ukuran perak seharga satu dirham atau setengah dirham.
Yahya bin Bakr meriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk mencukur rambut Hasan pada hari ketujuh setelah kelahirannya. Lalu rambutnya dicukur dan beliau mensedekahkan perak seberat rambut tadi.
Perintahnya aqiqah dilaksanakan di hari ketujuh, empat belas atau dua satu. Tapi kemarin Sachie diaqiqahkan di hari ke 17 usianya. Penyebabnya karena di rumah, kakeknya Sachie telah menyiapkan acara syukuran kelahiran Sachie, syukuran bahwa sang putrinya tercinta (saya) dan cucunya sehat dan selamat, sekaligus syukuran hari kelahiran ayah ke 52 tahun. Sehingga harus menunggu hingga hari libur yang jatuh pada hari ke 17 usia Sachie.

Eh iya saya mau cerita sedikit, jadi Sachie lahir di Bogor, setelah Sachie lahir orang tua saya baru tiba di Bogor malam harinya. Sayangnya karena ayah ibu saya sibuk, ayah harus kerja dan ibu harus menjalankan bisnisnya (caelah gayaaaa..) maka ayah ibu hanya menginap dua hari dua malam di Bogor huhu... Setelah itu saya dan suami mandiri mengurus Sachie. Tepuk tangan untuk kita semua horeeee... 

Setelah itu setiap hari orang tua saya menelpon kapan Sachie akan dibawa ke Palembang. Akhirnya ayah berhasil membujuk kami untuk melaksanakan aqiqah di Palembang. Katanya sekalian syukuran ulang tahun ayah. Deuh.. saya kan anaknya ayah banget ya, apa-apa ke ayah, ya dibujuk begitu saya jadi pengen pulang hehe..

Akhirnya kami bertiga (saya, suami dan Sachie) pulang ke Palembang. Naik pesawat? Tentu tidak, kan belum boleh. Jadi kami naik mobil pribadi. Sang suami yang nyetir dan saya memangku Sachie sepanjang perjalanan Bogor Palembang. Mari beri tepuk tangan lagi... -___-"

Awalnya saya khawatir nanti posisi saya menggendong Sachie salah, takut Sachie kesakitan. Tapi setelah googling sana googling sini, katanya tubuh bayi kuat, sehingga jikapun kita salah menggendong dia akan tetap baik-baik saja, asal kira-kira juga sih ya ngegendongnya. Jadi bismillah, 20 Desember 2012 kami berangkat ke Palembang. Sepanjang perjalanan Bogor-Merak suami masih bisa ngebut 80 - 100 km/jam karena jalan yang dilewati jalan tol dan jalanannya bagus. Ketika sampai Sumatera, kecepatan maksimal kayaknya cuma 60 km/jam deh, lebih sering 30 km/jam malah. Jalannya subhanallah deh. Jebol sana jebol sini. Biar begitu alhamdulillah sepanjang perjalanan Sachie anteng luar biasa.

Karena sampe Lampung sore, dan jalan lintas timur ga banget buat dilalui mobil pribadi di malam hari, jadi kami nginep. Kami nginep di Lampung. Di hotel pas di depan bandara Lampung. Hotel apa ya namanya, pokoknya harganya cuma 100rb/malam. Alhamdulillah walau tuh kamar ajaib tanpa AC dan berkasur kapuk, asma saya ga kumat, suami juga ga bersin-bersin dan Sachie bobonya anteng.

Tanggal 21 Desember 2012, sekitar jam lima sore kami tiba di rumah. Semua orang menyambut Sachie terutama adik-adik saya, Alvin dan Mia yang langsung berbinar-binar melihat Sachie, keponakan pertama mereka.

Sachie :*
Monggo dilihat dulu foto acara aqiqahan kemaren
 
Saya - ibu saya - ibunya ibu - suami
Ibu-ibu rebanaan
Bapak-bapak yang baca kitab kuning (???)

Sepupu saya, Kak Ali, pegel kayaknya doi gendongin Sachie sepanjang acara haha...
Sachie dicukur uyutnya (mak bapaknye cemas haha..)
ustadz yang ceramah

Tetamuan
tetamuan

tetamuan

antri makan
Antri makan
Jadi waktu kami bilang ke ayah saya kalo mau aqiqahan di Bogor aja, ayah bertanya "emang ada dananya?" et dah bokap gue... -___-"

Alhamdulillah ada, budget buat ngelahirin kemaren masih nyisa, jadi bisa buat beli kambing, karena emang aqiqah itu intinya cuma beli kambing dipotong, dimasak, dibagiin ke tetangga, trus bilang "anak kami baru lahir, namanya Sachie Pratami Wilopo. Gitu doang...

Ternyata saya baru tau kenapa ayah saya bertanya soal dana, karena di Palembang, kalo mau aqiqahan adatnya ribet bener dah.. Ada baca kitab kuning, ada rebanaan. Dan bahayanya banyak yang taunya kalo semua adat itu adalah kewajiban. Pantes aja ya banyak yang ga aqiqahan, karena ngirain wajibnya begono. Berat bener dah..

Sebenernya ayah sempet galau, karena beberapa hari sebelum acara, ayah sempet ngobrol sama ustadz yang akan ceramah di rumah. Sang Usatdz yang lulusan al azhar mesir ini bilang "itu bid'ah (mengada-adakan sesuatu perkara)". Trus karena tenda sudah dipesan (ga tanggung-tanggung, mesennya 10 unit, nikahan saya saja cuma 7 unit -__-"), yang masak udah siap-siap jadilah acara tetap diselenggarakan. Dengan niatan bentuk kebahagiaan ayah menyambut datangnya sang cucu pertama dari anak pertamanya.

Ustadznya luar biasa berani, pas acara beliau berani tuh bilang kalo acara yang begini tuh ga ada, ga wajib, wajibnya begini begitu aja, ga perlu sampe rebanaan, baca kitab kuning dll. Dan atas keberanian sang ustadz, sampe sekarang ayah saya ngaji sama ustdaznya setiap sabtu sore. Wuaaaah...

Oh iya, yang paling berkesan saat aqiqah Sachie adalah Sachie sepanjang acara bobo, padahal rebana berisiknya luar biasa, dia tetep aja bisa tidur nyenyak.. Luar biasa Nak!

Selesai acara ayahnya ngegundulin Sachie pake pisau cukur. Sachienya saya susuin. Saya sama ayahnya ketawa-ketawa waktu ngebotakin Sachie. Lucu karena pas baru setengah kepala Sachienya bangun haha...
gunduuuul...

Sunday, February 24, 2013

#AyahHebat

Ini semua gara-gara @ID_AyahASI yang beberapa waktu lalu sibuk kampanye #AyahHebat di twitter. Ah saya jadi mau cerita sedikit tentang sang suami yang sudah hebaaaaaat banget menjalankan perannya sebagai ayah.

Bagi saya tipe suami itu ada tiga, suami konvensional, suami era baru dan suami pertengahan. Mari ikuti kuliah saya.

Suami Konvensional
Ini tipe suami-suami yang mikir kalo urusan rumah tangga = urusan bini. Nyuci, nyetrika, bebersih, masak, ngurus anak, dan segala tetek bengeknya. Tugas suami? Nyari uang titik. Heloooo...

Suami Era Baru
Ini suami-suami yang sadar kalo urusan rumah tangga bukan cuma tugas bininya. Suami yang mikir
"Ya kawin enaknya bareng masa yang ribet bini lo doang.. bantuin laaaah..."
Btw suami era baru mirip merek sendal ye new era -___-"

Suami Pertengahan
Sebenernya ini tipikal suami konvensional tapi kalo udah denger bininya ngomel, ngoceh sampe nangis dia akan berubah jadi suami era baru.

Nah, dari tiga tipe itu suami saya alhamdulillah masuk ke tipe kedua, suami era baru. Banyak deh kisah manisnya.

- Waktu saya hamil dulu doi baik banget setiap bangun pagi mijetin kaki saya biar ga kram, juga baik banget nemenin saya jalan keliling komplek setiap pagi, bahkan nemenin belanja ke abang sayur.

- Saat melahirkan doi setia nungguin saya, saat saya teriak kesakitan dia dengan manisnya bilang "Tami, kamu pasti bisa, kamu kuat, kakak sayang kamu..." uuuuh...

- Saat saya mulai ga pede karena hamil kemarin menyisakan beberapa stretch mark dibagian tubuh suami bilang "engga ah, kamu makin cantik tau habis melahirkan.." aiiiihh...

- Karena kami berpikiran ngidam yang benar itu saat menyusui bukan saat hamil, maka semua keinginan saya menyusui dipenuhi suami. Katanya biar saya senang, kalo saya senang asi saya lancar :)

-  Kalau saya lagi sedih, dia selalu berusaha agar saya senang, dari mulai cerita yang lucu-lucu sampai nari-nari pake sarung dan peci. Bahagia ga selalu berhubungan dengan materi ya.. :')

habis nari-nari, duh itu perutnya - -"
- Di minggu pertama pasca sachie lahir, suami sudah berani memandikan dan mengganti pakaian Sachie. Kalau dengar cerita teman-teman ada yang suaminya baru pertama memandikan anaknya di usia 8 bulan, ada yang hingga anaknya berusia 15 bulan, sang suami belum pernah mandiin anaknya.

- Katanya para suami ikut begadang hanya bertahan maksimal sebulan sejak bayi lahir alhamdulillah hingga detik ini suami selalu ikut bangun jika saya menyusui.

- Suami sering baca tentang perawatan bayi, dia juga suka memeriksa posisi pelekatan saat Sachie menyusui, duh senang punya suami yang peduli

- Saat orang lain rese dengan "itu susunya Desni kurang ga? kasih susu tambahan lagi Yo.." suami saya dengan pedenya bilang "ASInya cukup kok, lagian lambungnya Sachie juga masih kecil.."

- Kalau suami lain biasanya cuma nyuci mobil, suami saya ini rajin nyuci baju (yaeyalah tinggal pencet-pencet doang) dan nyuci piring. Kalau pun ga bantuin nyuci dia suka nongkrong di dapur ngeliatin saya yang nyuci piring sambil ngajakin ngobrol.

nontonin mesin cuci

- Rasanya yang paling saya salut waktu dia sendirian ke toko pakaian dalam perempuan buat beliin saya bra menyusui dan belanja pembalut. Walau malu (padahal ga mesti malu kan ya..) dia tetep belanja.

Ah i heart you deh kangmas...

Makan gratis di Bandar Jakarta, Ancol ditraktir sama sahabatnya suami :D

Saturday, February 23, 2013

Balada ASI Ekslusif

Saya kuliah di jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM) Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB. Jurusan ini salah satu jurusan favorit di kampus kami. Minornya juga selalu penuh pun semester pendeknya, banyak mahasiswa dari jurusan lain yang ikut kelas di KPM. Oke sebenarnya pembicaraan di atas OOT (out of topic) hehe... Saya mau cerita bahwa saya selain anak KPM saya juga mengambil minor ilmu gizi yang kebetulan satu fakultas dengan saya.

Sayangnya saya sama sekali ga pernah masuk ke kelas ilmu gizi, karena kalo KRS-an (sistem KRS di kampus kami menggunakan sistem online) saya selalu ga kebagian kursi di kelas minor, atau kalo pun kebagian jadwalnya mesti deh tabrakan sama kelas mayor. Setelah tiga semester begitu-begitu saja akhirnya saya putuskan mengambil supporting course (SC) dari jurusan tetangga juga, jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Ada lho jurusan itu di IPB. Ciyus deh... (ciyus is too last year Des!).

Sebenarnya saya tak pernah bercita-cita jadi wanita kantoran, cita-cita saya sejak dulu ingin menjadi IBU. Terdengar sangat tidak ambisius ya. Ya ga apa-apa, semua orang punya pilihan dan tugas kita menghormati pilihan itu selama ada dalam kebaikan. Eh iya back to topic, saya kuliah untuk mendapatkan ilmu, ilmu yang akan saya gunakan untuk menjadi ibu yang baik. Itulah kenapa saya pilih jurusan komunikasi, minor ilmu gizi dan sc ilmu keluarga dan konsumen.

Walau waktu kuliah saya sering diceng-cengin gara-gara pilihan sc saya ini, saya cuek saja. Dan hingga detik ini saya tidak pernah menyesal dengan pilihan saya itu. Ilmu yang saya dapatkan di IKK sungguh amazing. Tidak pernah saya duga. Saya jadi tau tentang berbagai macam metode mendidik anak, ilmu-ilmu dalam keluarga dll. Saya bahkan baru tau saat di kelas sc bahwa ASI adalah makanan terbaik untuk bayi, jauh lebih baik dibanding susu formula (sufor), semahal apapun harganya, sebagus apapun iklannya. Ah saya merasa beruntung pula karena saya telah belajar (walau sekarang kadang masih terbata-bata) tentang anak jauh sebelum saya menikah.

Nah sekarang alhamdulillah saya sudah punya anak, Sachie. Sejak sebelum menikah saya dan (waktu itu calon) suami telah membuat banyak kesepakatan. Beberapa kesepakatan itu misalnya saya akan jadi full time housewife dan suami mencari nafkah. Selain itu saya wajib memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan full dan meneruskan memberikan ASI hingga anak kami berusia 2 tahun. Awalnya saya dan suami kira memberi ASI eksklusif pada anak itu gampang. Karena kami berdua alhamdulillah tidak menghadapi kendala berarti dalam pemberian ASI Eksklusif ini. Alhamdulillah saya dan Sachie sehat sejak Sachie lahir. Alhamdulillah saya melahirkan di RS yang pro-ASI. Alhamdulillah ASI saya juga melimpah. Alhamdulillah karena berat badan Sachie naik pesat (dalam dua bulan dia sudah naik lebih kurang 2 kg). Dan yang paling saya syukuri karena suami, orang tua dan mertua mendukung pemberian ASI.
Sachie 2 bulan

Saya dan suami baru menyadari memberi ASI eksklusif ternyata tidak semudah seperti yang kami rasakan. Ada banyak teman-teman kami, bahkan teman dekat yang banyak sekali cobaannya memberikan ASI eksklusif. Ada yang berhasil melewatinya tapi ada pula yang gagal.

Saya ambil contoh kasus nyata.

Ini kisah nyata dua teman saya yang gagal ASI eksklusif.
Ada saja ulah tenaga kesehatan (nakes) nakal ini. Teman saya gagal memberikan ASI Eksklusif gara-gara bidan yang membantu proses persalinannya diam-diam memberikan sufor pada bayinya sehingga sang bayi awalnya tidak mau minum ASI. Secara sufor lebih manis dan lebih enak dibanding ASI. Ada juga teman saya  yang bayinya diberikan sufor karena kata bidannya ASI teman saya tidak keluar, juga karena bayinya sariawan. Karena pengetahuan orang tua sang bayi kurang dan kepanikan karena tangisan bayi teman saya ini iya-iya saja. Duuuh...

Dan ini kisah teman saya yang berhasil melewati rintangan.
Karena bayinya dinilai kurus oleh lingkungannya, teman saya setiap hari harus mendengar komentar agar ia memberikan sufor untuk tambahan agar bayinya gemuk. Padahal gemuk tak berarti selalu sehat, walau kecil bayi teman saya terhitung tak pernah sakit. Dengan telinga tebal dan hati sekeras baja dia acuhkan komentar-komentar sekitar.

Ada juga teman yang memerah ASInya karena perintah ortunya katanya agar bayinya bisa ditinggal-tinggal. Jadilah sang ASI diperah. Sebenarnya penggunaan dot sangat dihindari dalam pemberian ASI perahan. Khawatir sang bayi jadi bingung puting. Sebaiknya ASI diberikan dengan bantuan sendok, spuit (silahkan googling bagi yang ga tau :D) dan atau gelas kecil. Sayangnya bayi teman saya ini diberikan ASI yang telah dimasukkan ke dalam dot oleh mertuanya. Alhasil sang bayi tidak mau menyusu langsung lagi pada ibunya. Sudah enak menggunakan dot. Tapi dengan kemauan kuat sang anak bisa asi eksklusif walau tak menyusu langsung pada ibunya. Dan akhirnya sang anak bisa menyusu langsung lagi di usianya ke satu tahun. Salut!

Saya baru cerita sedikit tapi kok rasanya sudah panjang banget ya ehehe... Segitu dulu, pesan saya ayo Bu, Pak, semangat memberikan terbaik buat anak-anak kita ya.. Ciayooo...

Tips saya buat yang belum menikah, mau menikah, baru menikah, lagi hamil, baru punya bayi, berencana nambah anak lagi, ayo follow akun-akun penambah ilmu tentang anak di twitter seperti @ID_AyahASI, @aimi_asi dan @NParentAcademy

Friday, February 22, 2013

Sandwich Tempe

Jadi bu-ibu (dan pak-bapak), saya punya suami yang bosenan. Bosen kalo sarapannya itu-itu aja tiap hari. Padahal sarapan itu (menurut saya) menu yang sulit. Kenapa sulit? Karena ga bisa sembarang menu, rasanya agak janggal kalo masak sayur lodeh atau nyuguhin rendang buat sarapan. Bagi saya menu sarapan itu harus ringan (ga ribet kayak rendang) tapi tetap sehat. Maka saya putuskan untuk membuat sandwich tempe buat sarapan pagi ini.


Kata suami
"ini isinya daging ya? enak Tami..."

Bagi yang penasaran sama resepnya, ini dia resepnya. Oh iya resep ini (lagi-lagi) terinspirasi dari mba Octa yang bikin burger tempe. Resepnya mba octa bisa dilihat disini (klik)

Isian Tempe :
1. Seperempat papan tempe (ini cukup buat 5 porsi sandwich)
2. Seperempat Bawang bombay. Cincang halus.Tergantung ya, kalo suka bawang banyakin boleh, kalo ga suka sedikit juga cukup.
3. 1 Siung bawang putih. Geprek lalu cincang.
4. Telur 1 butir.
5. Tepung terigu 3-5 sendok makan. Tepung disini dipakai untuk mengentalkan, jadi jika 3 sendok sudah kental tidak perlu sampai 5 sendok, relatif.
6. Garam 1/2 sendok makan
7. Merica 1/4 sendok teh (jujur saya ga nakar hehe)
8. Tepung roti

Mari Masak
1. Tempe dipotong-potong (kalo saya dipotong dadu) lalu rebus sampai matang.
2. Haluskan tempe rebus dengan sendok, masukkan semua bahan lain satu per satu (kecuali tepung roti)
3. Aduk terus sampai tercampur rata dan adonannya cukup padat untuk bisa dibentuk.
4. Setelah itu bentuk menjadi bulat pipih.
5. Gulingkan di tepung roti, sisihkan.
6. Goreng hingga kecoklatan

Penyajian :
Yang jelas siapkan sepasang roti tawar
Untuk isian saya biasanya memakai :
- mayonaise
- saos tomat
- saos sambal
- keju slice
- tomat
- timun
- daun selada (kemaren ga ada huuwuwuw..)

Penyajiannya mudah kalo saya urutanya begini
roti - saos tomat - tomat - saos sambal - isian tempe - mayonaise - timun - keju - selada -  roti

Yak jadi deh...

Selamat mencoba semoga bermanfaat :)

Wednesday, February 20, 2013

Desember (2) : Cerita Hamil, Melahirkan dan Menyusui

6 Desember 2012.
Pagi tiba, Mas Tyo dan Kiki ke masjid bareng, Adhil dan Hafizh menemani saya tidur-tiduran. Eh iya saya lupa bilang, Adhil dan keluarganya nginep di RS dong. Mereka tidur di ruang dokter yang ada di dalem ruang bersalin. Hafizh bahkan ikutan nginep. Keren deh... (cium Adhil).

Setelah sholat subuh, saya diajak Mas Tyo jalan-jalan di koridor RS. Ternyata saya ga kuat jalan, sakiiiiit... Kalo mau tau gimana rasanya mules melahirkan nih saya ceritain. Pernah nyeri haid? Nah mulesnya itu mirip nyeri haid, bikin pegel semua badan, pinggang jadi tegang, pokoknya sakitnya mirip sumilangen (nyeri haid) tapi sekitar 20 kali lipat lebih dahsyat (saya agak buruk dalam pengibaratan :p).

Setelah jalan-jalan yang banyakan duduknya dari jalannya, akhirnya kami kembali ke ruang bersalin. Saya kembali tiduran. Mas Tyo memutuskan untuk pulang dan mengambil beberapa barang yang saya perlukan di rumah. Jarak rumah dan RS sekitar 30 menit dengan kendaraan pribadi dan tanpa macet. Awalnya saya ga mau ditinggal, tapi karena banyak hal penting yang harus diambil jadi saya relakan dia pulang.

Saya ga nafsu makan, mulesnya makin menjadi-jadi, jadilah makanannya cuma saya cuil sedikit-sedikit. Jam 7 mulesnya makin dahsyat. Saya menelpon Mas Tyo.

Saya : Mas dimana?
MT (Mas Tyo bukan Mario Teguh) : di jalan
S : Iya, di jalan mana?
MT : bantarjati, bentar lagi nyampe. Kenapa sayang?
S : Sakit banget ini.. cepetan kesini.. cepetaaaan... (teriak pengen nangis)
MT : Iya, iya, sabar ya... Jangan nangis...

Sampai di RS, Mas Tyo langsung mengelus-elus jilbab saya, saya peluk dia, takut rasanya. Saya ngebayangin yang engga-engga. Bukan ga mau selamat, tapi bayangan kematian, ga ketemu suami yang saya cintai ini membuat saya takut. Saya sudah mau menangis, tapi saya tahan sejadi-jadinya. Mana Mas Tyo merayu-rayu saya terus buat makan, menyuapi saya biar saya mau makan. Heuh tambah mewek deh. Karena saya ga mau nangis akhirnya saya cuma jejeritan. Payah deh ahahaha...

Jam tujuh pembukaan maju sudah mulai bukaan empat, saya kesulitan bangun, padahal saya diminta pindah ke ranjang persalinan (duh, saya ga bisa nemuin istilah yang lebih baik). Akhirnya saya paksakan berdiri dan pindah ke kasur sebelah. Di kasur ini saya ga nyaman karena kasurnya dilapis plastik.

Mendengar saya jejeritan, Kiki ijin pamit ga kuat dia, pusing katanya hahaha... Ayah sempat beberapa kali menelpon saya, dan saya bilang "ayah ini udah mau lahir, telponnya nanti ya kalo udah lahir..". Hahaha.. saya ga ngebayangin gimana galaunya ayah ibu saya mendengar saya mau melahirkan dan santai-santai aja karena masih bisa telponan.

Setelah itu sih saya ga santai karena saya terus menerus jejeritan. Saya sampe dimarahin bidan pendamping karena ga mau diem hahaha...
"bu, ibu harus hemat tenaga, kalo terus-terusan teriak ibu bisa habis tenaga, sebaiknya ibu atur pernafasan..."

Saya cuma bisa berguman dalam hati, saya merasa kuat (lha wong semalem makan nasi padang, ngemil mulu), saya juga ga ngerti cara ngatur nafas, yaudah deh saya teriak-teriak aja hahaha.. Kalo kata suami saya kayak orang bego teriak-teriak melulu hahaha...

Jam 8 pembukaan udah masuk ke bukaan 6. Mules menjadi-jadi, pengen ngeden tapi ga boleh. Jadilah saya teriak-teriak lagi hahaha... Suami saya jambak, saya tarik-tarik lehernya, saya tarik bajunya, saya cakar lengannya, saya pukul-pukuli dan saya bentak hahaha... Maaf ya mase, ga niat nyakitin kok... :p

Pembukaan lancar, jam setengah sembilan udah bukaan sempurna, saya disuruh ngeden deh, akhirnya boooo... Acara ngeden-ngedenan ini cuma sebentar. Jam 8.45 lahirlah sang bidadari. Saya cuma ngeden tiga kali dan sang baby pun keluar.

Dengan dibantu dokter, bayi perempuang yang segera saya panggil Sachie ini pun diletakkan di dada saya, tangisnya berhenti, dia bergerak-gerak disana, dan mulai mencari susu. Duh kegiatan inisiasi menyusu dini (IMD) ini benar-benar bikin speechless dan terharu. Sambil IMD, Mas Tyo mengadzani Sachie. Duh mewek deh saya. Bener-bener bikin semua rasa sakit tadi hilang.

IMD selama satu setengah jam ini benar-benar seru. Apalagi dokter, bidan dan perawatnya semua pro-ASI, ga promosi susu formula sama sekali dan mereka ramah-ramah lagi. Saya jadi ga menyesal memilih rumah sakit ini untuk melahirkan. Apalagi saya cuma menginap satu malam di ruang perawatan.

Dan dengan semua kesenangan di RS ini, kami hanya perlu membayar 5jt dan masih ada kembaliannya pula. Saya merekomendasikan RS ini kepada ibu-ibu di Bogor. Oh iya saya dari awal cerita belum nyebutin nama RSnya ya? Saya melahirkan di RS Palang Merah Indonesia (RS PMI Bogor). Nanti-nanti kalo sempet saya ceritain deh kenapa saya pilih RS ini. Ok segini dulu ceritanya, Sachie kayaknya bangun.. :)

foto-foto pas mules

Tuesday, February 12, 2013

Desember (1) : Cerita Hamil, Melahirkan dan Menyusui

Hari itu tanggal 5 Desember, saya dibangunkan oleh sebuah ciuman mesra dan pelukan hangat dari sang suami.
"Ciye yang udah 24 tahun..."
Hari itu milad saya. Bangun tidur semua berjalan seperti biasa, saya menyiapkan sandwich untuk sarapan suami, suami nyuci mobil, sarapan bareng, berjalan berdua ke pojokan komplek tempat gerobak abang sayur biasa mangkal, beberes rumah, nyiapin makan siang, dan makan siang bareng. Setelah makan siang ada yang beda. Saya mules.

Saya kira itu kontraksi palsu, saya masih santai aja, biasanya dibawa tidur dikit juga ilang. Saya bahkan masih sempat ngobrol dengan ayah-ibu saya sambil curhat kalo saya mulai mules. Akhirnya saya coba tidur sambil ditemani Mas Tyo yang memijati kaki saya yang sering kram di usia kandungan 9 bulan ini. Sayangnya saya tidak berhasil tidur nyenyak. Mulesnya ga hilang-hilang.

Sudah dekat waktu ashar, suami bersiap ke musholla komplek untuk sholat. Saya dibangunkan untuk sholat. Dengan menahan rasa yang tidak nyaman di perut saya sholat. Setelah sholat saya mencoba mengajak sang janin bicara. Kira-kira bengini


"Nak, kenapa kok kamu aktif banget hari ini, hari ini bunda ulang tahun lho, terima kasih ya nak sudah jadi anak yang baik, ga rewel, nanti tanggal 16 atau tanggal 20 bunda tunggu ya, kita ketemuan, ketemu ayah juga..."
Setelah ngobrol dengan sang janin saya malah makin mules, makin sakit, saya sampai menitikkan air mata (aih matek lebaynye...). Tapi saya beneran nangis. Mas Tyo yang baru pulang dari musholla kaget melihat istrinya mewek. Dia membujuk saya untuk ke dokter, memeriksakan apakah kandungan saya baik-baik saja. Saya awalnya tidak mau, saya merasa baik-baik saja, hingga akhirnya rasa sakitnya datang makin sering. Saya akhirnya mau juga ke rumah sakit.

Saat bersiap-siap ke rs saya merasa ingin buang air kecil. Setelah BAK saya berbalik dan hendak menekan tombol flush toilet, tapi pandangan saya teralihkan, saya melihat genangan darah di dasar toilet dan setenang mungin mencoba memanggil suami. Suami yang melihat darah tersebut langsung menarik nafas dan tetap tenang, membimbing saya keluar kamar mandi. Kami duduk sebentar, memperhatikan ritme mules saya, dan benar saja, saya mules setiap sepuluh menit. It's the time.

Dengan tenang suami meminta saya berkemas untuk ke RS. Karena kami baru pulang dari Bandung, baju-baju saya tak banyak yang bersih, jadi saya berkemas seadanya. Baju bayi juga belum ada. Sudah dibeli sih, tapi sang baju masih di Palembang, di tangan mertua saya. Karena rencananya tanggal 10 Desember mertua dan ortu saya akan ke Bogor menemani saya melahirkan.

Di mobil saya menelpon sahabat saya yang sudah seperti saudara kandung, Adkhilni Utami. Saya minta tolong dia datang ke RS, saya butuh teman, dan saya rasa suami juga butuh teman sekedar untuk membuat dia merasa nyaman.
duo utami

Saya sampai di RS hampir maghrib, saya masuk IGD, sebenarnya tidak perlu masuk IGD tapi karena saya pasien baru, daripada ribet saya dimasukkan ke IGD agar prosesnya bisa dipercepat. Saya baru pertama kali masuk IGD, suara orang kesakitan, bau darah, bau obat, suara orang lalu-lalang semua bercampur, semuanya lumayan bikin panik. Tapi saya mencoba santai, senyum-senyum sambil menelpon Adhil yang udah siap-siap mau nyusul saya ke RS.

Setelah sekitar setengah jam di IGD saya akhirnya dapet kamar bersalin di paviliun Melati dan ruang perawatan pasca persalinan di paviliun Seruni. Ruang bersalinnya guedeeeee... ada 1 tempat tidur untuk istirahat sebelum persalinan, 1 tempat tidur persalinan, 1 kursi untuk pemeriksaan organ genital, ada ruang dokter, lemari peralatan dokter, meja makan, sofa dan kamar mandi. Kebayang kan segede apa tuh ruangan. Saya pikir ruangannya cukup nyaman buat persalinan.
di ruangan bersalin, perut guweeeeeh....

Sesaat setelah masuk ruangan bersalin, akhirnya Adhil datang ditemani suaminya, Kiki dan bayinya yang super cute, Hafizh. Adhil membawakan semua yang saya butuhkan untuk persalinan, semuanya, termasuk pakaian bayi. Keren ya Adhil..

Sampai jam 10 malam saya masih pembukaan 2, belum bergerak-gerak lagi, Mulesnya juga sudah bisa saya atasi. Saya berjalan keliling ruangan, berpegangan dengan suami tersayang, berdoa terus supaya persalinan lancar sambil berbisik pada sang janin


"Nak, kamu mau keluar kapan? Mau hari ini? Sama kayak bunda ya tanggal lahirnya? atau mau besok? terserah kamu nak, kapan saja kamu siap, jangan lama-lama ya, biar kamu sama bunda ga lama-lama sakitnya, bunda juga udah ga sabar pengen cepet-cepet ketemu..."
Lama menanti sang janin belum juga mau keluar, saya akhirnya memutuskan untuk tidur dan minta suami untuk tidur di kasur yang sama dengannya. Saya peluk erat dia malam itu, saya menangis, begitu haru, begitu berterima kasih pada suami karena saya sebentar lagi menjadi ibu... :')