Balada ASI Ekslusif

Saya kuliah di jurusan Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM) Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB. Jurusan ini salah satu jurusan favorit di kampus kami. Minornya juga selalu penuh pun semester pendeknya, banyak mahasiswa dari jurusan lain yang ikut kelas di KPM. Oke sebenarnya pembicaraan di atas OOT (out of topic) hehe... Saya mau cerita bahwa saya selain anak KPM saya juga mengambil minor ilmu gizi yang kebetulan satu fakultas dengan saya.

Sayangnya saya sama sekali ga pernah masuk ke kelas ilmu gizi, karena kalo KRS-an (sistem KRS di kampus kami menggunakan sistem online) saya selalu ga kebagian kursi di kelas minor, atau kalo pun kebagian jadwalnya mesti deh tabrakan sama kelas mayor. Setelah tiga semester begitu-begitu saja akhirnya saya putuskan mengambil supporting course (SC) dari jurusan tetangga juga, jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK). Ada lho jurusan itu di IPB. Ciyus deh... (ciyus is too last year Des!).

Sebenarnya saya tak pernah bercita-cita jadi wanita kantoran, cita-cita saya sejak dulu ingin menjadi IBU. Terdengar sangat tidak ambisius ya. Ya ga apa-apa, semua orang punya pilihan dan tugas kita menghormati pilihan itu selama ada dalam kebaikan. Eh iya back to topic, saya kuliah untuk mendapatkan ilmu, ilmu yang akan saya gunakan untuk menjadi ibu yang baik. Itulah kenapa saya pilih jurusan komunikasi, minor ilmu gizi dan sc ilmu keluarga dan konsumen.

Walau waktu kuliah saya sering diceng-cengin gara-gara pilihan sc saya ini, saya cuek saja. Dan hingga detik ini saya tidak pernah menyesal dengan pilihan saya itu. Ilmu yang saya dapatkan di IKK sungguh amazing. Tidak pernah saya duga. Saya jadi tau tentang berbagai macam metode mendidik anak, ilmu-ilmu dalam keluarga dll. Saya bahkan baru tau saat di kelas sc bahwa ASI adalah makanan terbaik untuk bayi, jauh lebih baik dibanding susu formula (sufor), semahal apapun harganya, sebagus apapun iklannya. Ah saya merasa beruntung pula karena saya telah belajar (walau sekarang kadang masih terbata-bata) tentang anak jauh sebelum saya menikah.

Nah sekarang alhamdulillah saya sudah punya anak, Sachie. Sejak sebelum menikah saya dan (waktu itu calon) suami telah membuat banyak kesepakatan. Beberapa kesepakatan itu misalnya saya akan jadi full time housewife dan suami mencari nafkah. Selain itu saya wajib memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan full dan meneruskan memberikan ASI hingga anak kami berusia 2 tahun. Awalnya saya dan suami kira memberi ASI eksklusif pada anak itu gampang. Karena kami berdua alhamdulillah tidak menghadapi kendala berarti dalam pemberian ASI Eksklusif ini. Alhamdulillah saya dan Sachie sehat sejak Sachie lahir. Alhamdulillah saya melahirkan di RS yang pro-ASI. Alhamdulillah ASI saya juga melimpah. Alhamdulillah karena berat badan Sachie naik pesat (dalam dua bulan dia sudah naik lebih kurang 2 kg). Dan yang paling saya syukuri karena suami, orang tua dan mertua mendukung pemberian ASI.
Sachie 2 bulan

Saya dan suami baru menyadari memberi ASI eksklusif ternyata tidak semudah seperti yang kami rasakan. Ada banyak teman-teman kami, bahkan teman dekat yang banyak sekali cobaannya memberikan ASI eksklusif. Ada yang berhasil melewatinya tapi ada pula yang gagal.

Saya ambil contoh kasus nyata.

Ini kisah nyata dua teman saya yang gagal ASI eksklusif.
Ada saja ulah tenaga kesehatan (nakes) nakal ini. Teman saya gagal memberikan ASI Eksklusif gara-gara bidan yang membantu proses persalinannya diam-diam memberikan sufor pada bayinya sehingga sang bayi awalnya tidak mau minum ASI. Secara sufor lebih manis dan lebih enak dibanding ASI. Ada juga teman saya  yang bayinya diberikan sufor karena kata bidannya ASI teman saya tidak keluar, juga karena bayinya sariawan. Karena pengetahuan orang tua sang bayi kurang dan kepanikan karena tangisan bayi teman saya ini iya-iya saja. Duuuh...

Dan ini kisah teman saya yang berhasil melewati rintangan.
Karena bayinya dinilai kurus oleh lingkungannya, teman saya setiap hari harus mendengar komentar agar ia memberikan sufor untuk tambahan agar bayinya gemuk. Padahal gemuk tak berarti selalu sehat, walau kecil bayi teman saya terhitung tak pernah sakit. Dengan telinga tebal dan hati sekeras baja dia acuhkan komentar-komentar sekitar.

Ada juga teman yang memerah ASInya karena perintah ortunya katanya agar bayinya bisa ditinggal-tinggal. Jadilah sang ASI diperah. Sebenarnya penggunaan dot sangat dihindari dalam pemberian ASI perahan. Khawatir sang bayi jadi bingung puting. Sebaiknya ASI diberikan dengan bantuan sendok, spuit (silahkan googling bagi yang ga tau :D) dan atau gelas kecil. Sayangnya bayi teman saya ini diberikan ASI yang telah dimasukkan ke dalam dot oleh mertuanya. Alhasil sang bayi tidak mau menyusu langsung lagi pada ibunya. Sudah enak menggunakan dot. Tapi dengan kemauan kuat sang anak bisa asi eksklusif walau tak menyusu langsung pada ibunya. Dan akhirnya sang anak bisa menyusu langsung lagi di usianya ke satu tahun. Salut!

Saya baru cerita sedikit tapi kok rasanya sudah panjang banget ya ehehe... Segitu dulu, pesan saya ayo Bu, Pak, semangat memberikan terbaik buat anak-anak kita ya.. Ciayooo...

Tips saya buat yang belum menikah, mau menikah, baru menikah, lagi hamil, baru punya bayi, berencana nambah anak lagi, ayo follow akun-akun penambah ilmu tentang anak di twitter seperti @ID_AyahASI, @aimi_asi dan @NParentAcademy

Comments

Popular Posts