Jujur (1)

Setiap kali ditanya cita-cita, saya akan lantang menjawab SAYA INGIN JADI IBU.

Cita-cita sederhana, yang sanking begitu sederhananya ibu saya pun tak meng-aamiin-in cita-cita saya ini.

Tak ada yang tau persis kenapa saya ingin menjadi ibu. Semua hanya tau bahwa saya ingin sekali menjadi ibu, menjadi seperti ibu saya. Yang orang-orang terdekat saya tau saya teramat bangga pada ibu saya. Bangga sekali hingga saya ingin menjadi sepertinya.

Kini akan saya bongkar semua.

SMP Negeri 19 Palembang tahun 2000-2003 jika pembagian rapot, para juara kelas akan dipanggil. Berdiri di tengah-tengah lapangan, dibanggakan di depan siswa lainnya. Saya selalu berhasil berada di posisi itu dan memang bangga rasanya berdiri disana.

Setiap akhir tahun, orang tua murid akan mengambilkan rapot anaknya. Ayah saya selalu mengambilkan rapot. Saya adalah anak kebanggaannya. Suatu hari ayah sibuk dan tak bisa mengambilkan rapot. Ibu lah yang bertugas datang ke sekolah hari itu.

Ibu saya cantik, rambutnya panjang, kulitnya putih, matanya coklat muda, pakaiannya rapi, pokoknya cantik sekali. Taukah apa yang saya pikirkan saat ibu saya datang? SAYA MALU.

1995, di atas jembatan Musi Dua


 Saya malu punya ibu "hanya" seperti beliau. Ibu saya bukan wanita pekerja. Ia hanya di rumah, mengelolah kios kecil-kecilan.Tidak bisa menggunakan handphone, tidak memakai pakaian kantoran, tidak berbicara bahasa Indonesia karena memang terbiasa berbahasa Palembang. Naif sekali. Saya malu karena beliau ya beliau. Walau tak pernah saya ungkapkan.

Hingga suatu hari, saat beliau melepas saya ke asrama TPB IPB di tahun 2006, saya akhirnya bisa melihat semuanya. Saat beliau berjalan meninggalkan saya di asrama, saya akhirnya bisa melihat sayapnya yang lebar. Sayap putih yang mengepak-ngepak seperti hendak terbang. Sayap yang selama ini tak saya lihat wujudnya karena sayap itu terlampau sibuk memeluk saya. Sayap yang terlampau sibuk menghangatkan dan membuat saya selalu merasa aman dan nyaman. Karena itu ia tak bisa terbang tinggi menunjukkan dirinya pada dunia.

Karena itulah kini saya ingin menjadi sepertinya.

Kini saya telah menjadi ibu, hampir delapan bulan menjadi ibu. Dan saya kadang mengeluh lelah, betapa pekerjaan domestik ini membuat saya kewalahan. Ah ibu, bagaimana bisa aku punya sayap sepertimu...

Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al Ahzab: 33).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, dia mengatakan :
Seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian berkata : “Wahai Rasulullah, laki-laki memiliki keutamaan dan mereka juga berjihad di jalan Allah. Apakah bagi kami kaum wanita bisa mendapatkan amalan orang yang jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda : “ Brangsiapa di antara kalian yang tinggal di rumahnya  maka dia mendapatkan pahala mujahid di jalan Allah.” (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzim surat Al Ahzab 33)

“Menjelang tibanya hari Kiamat, salam hanya diucapkan kepada orang-orang tertentu dan banyaknya perdagangan hingga seorang wanita membantu suaminya dalam berdagang.” HR. Ahmad dan Al-Hakim


Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (Al Isra' : 23)

Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun, ia berdoa, "Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (Al Ahqaf : 15)

Comments

  1. Aduh mbaak, cita-cita yang teramat mulia tuh...jadi ibu bagi saya juga the best Mom lah ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba, bagi setiap anak, ibunya adalah ibu terbaik :D

      Delete
  2. sangat mendambakan sesosok ibu yang begitu sangat mulia seperti bu desi

    ReplyDelete
    Replies
    1. ibunya bu desni mungkin maksudnya ya? :)

      Delete
  3. kok aku jadi terenyuh baca postingan yang ini. from my deepest heart.

    respect sista. aku juga ingin jadi ibu :hammer: :))

    ReplyDelete
  4. :')
    Bs ga ya someday gue bs jd ibu rumahan yg didik anak sndiri..ga harus jd ibu yg kerja2 di kantor.semoga bisa..Amiin ya Rabb..

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah haya.. bisalah cuy, lo ngomong aja sama calon laki lo sebelum nikah. Jadikan itu kesepakatan. insyaAllah bisa :)

      Delete
    2. Amin Amin Amin ya Rabb...
      makasi ya :)
      doain terus ya yg baik2 dan benar mnrt standarNya..hehe

      Delete
  5. saya menitikan air mata ketika membaca tulisan mba Desni kali ini.. terima ksih sudah di ingatkan :)
    salam kenal dari Tegal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga menitikkan air mata saat menulisnya mba :') Salam kenal juga :)

      Delete
  6. bikin pengen nangis dan jadi inget umi di rumah...
    btw. mbak jadi bikin saya inget juga sama temen saya yang (awalnya) saya anggap gokil karena setiap ditanya apa cita2nya, pasti jawab pengen jadi ibu rumah tangga, hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam ya buat uminya..
      hehehe.. salam gokil juga kalo kayak gitu buat temennya \^.^/

      Delete
  7. tahun 95??
    daku masih di palembang tahun sgitu..

    #OOT
    hehe

    ReplyDelete
  8. tahun 95??
    daku masih di palembang tahun sgitu..

    #OOT
    hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar di tulisan ini

Popular posts from this blog

Tutorial Menjahit Pashmina Instan ala Nurina Amira

Tutorial Bunga Tulip dari Kain Perca

Repurpose : Mengubah Kemeja dan Rok Jadi Gamis Kekinian