Wednesday, September 25, 2013

Cerita Panjang Perjalanan Skripsi (Bagian 1)



Namanya Karangkulon, sebuah dusun nan indah dan sejuk di atas bukit sudut Yogyakarta. Kesan pertama saat saya menginjakkan kaki di dusun yang berada di kawasan makam raja Imogiri ini (pertengahan 2010) adalah rasa nyaman dan tenang a la pedesaan Jawa.  Semakin lama tinggal disini saya semakin senang, terutama saat malam, saya bisa melihat ratusan kunang-kunang bebas beterbangan di atas persawahan. Pengalaman yang belum pernah saya rasakan seumur hidup sebelum datang ke Karangkulon.

Saat saya datang ke Dusun Karangkulon, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul Provinsi DI Yogyakarta, saya menemui sebuah paguyuban batik tulis yang didirikan oleh Masyarakat Mandiri (dulunya berada satu naungan dengan Dompet Dhuafa Republika). Paguyuban batik Giriloyo namanya. Batik produksi paguyuban ini sudah laris manis di pasar bahkan sampai ikut pameran-pameran batik internasional.

Siapa yang sangka, empat tahun sebelum kedatangan saya ke dusun ini rumah-rumah disini hancur, rubuh, nyaris tak bersisa. Ya, gempa jogja 2006 adalah penyebabnya. Gempa yang merusak semua rumah warga di Karangkulon, juga merusak alat-alat membatik yang dimiliki warga untuk mencari nafkah sebagai buruh batik. Awalnya semua mengira bencana ini menghancurkan masa depan para buruh batik ini, namun ternyata yang terjadi adalah sebaliknya. Pasca gempa jogja 2006 banyak LSM berdatangan menawarkan bantuan. Mulai dari bantuan yang jangka pendek hingga bantuan jangka panjang. Salah satu bentuk bantuan jangka panjang dari LSM yang datang adalah pendirian paguyuban batik. Dompet Dhuafa melalui anaknya Masyarakat Mandiri membentuk paguyuban batik tulis Giriloyo yang pernah mencetak rekor MURI, batik terpanjang dan tas batik terbesar di Indonesia.

Ibu-ibu ai mis yuuuu... [sumber: facebook Sarisumekar]
Salah satu kelompok batik anggota paguyuban adalah kelompok Berkah Lestari. Kelompok inilah yang dulu menjadi objek penelitian mengenai program bantuan ekonomi pasca bencana. Berkah Lestari dipilih karena ia adalah kelompok batik teraktif di paguyuban ini. Selain aktif kelompok ini sangat berprestasi. Walau taka da satupun yang lancer berbahasa Inggris tapi anggota kelompok ini telah berhasil mengekspor batiknya hingga ke Amerika dan mengikuti pameran-pameran batik berkeliling Eropa.

Banyak sekali perubahan di dusun ini setelah masuknya bantuan pasca bencana dari Masyarakat Mandiri (MM). Selain dana bantuan yang diberikan oleh MM adalah pelatihan membatik, membuat pola, mewarnai dengan pewarna alami dan sintetis, serta pelatihan administrasi agar masyarakat dapat menjalankan bisnis batik ini dengan baik. Perubahan terbesar secara ekonomi adalah perubahan status masyarakat dari buruh batik menjadi pemilik usaha batik sendiri. Secara sosial pun terlihat kekerabatan yang semakin lekat akibat adanya galeri batik yang dimiliki kelompok dan paguyuban. Galeri ini menjadi tempat berkumpul untuk membatik, tempat transaksi batik dengan pelanggan, dan tempat pelatihan bagi turis. Dan perubahan yang paling disyukuri oleh masyarakat adalah perubahan ilmu. Sebagai buruh batik mereka hanya tau cara melukis malam (lilin) di atas kain yang sudah terpola. Mereka tidak tau pola-pola batik, mereka juga tidak tahu cara mewarnai, cara mlorot (melepaskan lilin), apalagi cara menjual kain.

Sebenarnya saya ingin mengambil kesimpulan dari penelitian saya ini tentang betapa pentingnya menyalurkan sedekah dan infaq dalam hal ini bantuan bencana kepada lembaga yang tepat dan terpercaya. Bantuan yang tepat sasaran akan bermanfaat jangka panjang dan dapat memulihkan kemandirian ekonomi warga. Walau tak dipungkiri masyarakat bencana juga butuh bantuan jangka pendek agar mereka dapat bertahan hidup. Walau penelitian ini gagal jadi skripsi saya karena saya tidak dapat melanjutkan penelitian hingga tuntas akibat letusan merapi tahun 2010, tapi saya senang sekali mengenal kelompok batik ini.

Dua tahun setelah Masyarakat Mandiri memberikan bantuan, kelompok batik Berkah Lestari telah mampu berjalan sendiri. Tetap eksis dan semakin maju. Sekarang nama kelompok Berkah Lestari telah diubah menjadi kelompok batik Sarisumekar dan sampai saat ini saya masih sering berkomunikasi dengan anggotanya. Bangganya dengan tradisi Indonesia.
satu-satunya foto yang tersimpan saat di Karangkulon, saya masih hitam, gendut dan belum ada yang naksir (apadeh)

Saturday, September 7, 2013

Keberkahan

Ujian setiap manusia itu beda-beda. Tergantung keimanannya. Saya rasa level ujian pada satu orang berbeda dengan orang lain. Walau seumuran, tiap orang beda-beda fase hidupnya. Ada yang lulus kuliah - kerja - baru nikah. Tapi ada pula yang nikah - lulus - eh kerja. Karena fase hidup yang beda-beda dan suka lompat-lompat ini maka level ujiannya pun bisa beda dan lompat-lompat pula. Misalnya yang diuji menjomblo agak lama dia ga bisa dibilang levelnya lebih rendah dari yang udah nikah lama tapi belum punya mobil. Belum tentu. Bisa jadi yang jomblo levelnya lebih tinggi.

Maka tertohoklah saya pada suatu malam saat sahabat saya bercerita tentang seorang teman yang curhat padanya. Teman itu bercerita tentang ketidaksabarannya menanti jodohnya. Ia sudah 25 tahun dan belum menikah, sedang teman liqonya masa kuliah dulu sudah mulai beranak bahkan ada yang udah mau punya dua anak (ehem... ). Ia merasa mungkin dia ga sesholih teman-teman liqo lainnya yang sudah duluan nikah. Duh......

Ga ada hubungannya sih ya dulu-duluan nikah sama tingkat kesholihan. Ya kan ada juga anak SMA yang nikah karena "kecelakaan", jelas itu lebih dulu nikah dari dia, tapi kan ga bisa juga dibilang lebih sholihah.

Lalu berujar lagi lah sang teman
"Apa aku pacaran aja, yang pacaran udah pada nikah tuh..."

Duh itu kalo gue yang dicurhatin udah gue marahin kali ya hehe... Ya masa ketidaksabaran jadi bikin bego. Saya kira cuma benci yang bisa bikin bego. Alhamdulillahnya sang teman memilih curhat pada orang yang tepat..

"Kok gitu? Sabar aja. Allah tuh sayang kamu dan udah tau waktu yang terbaik buat kamu nikah. Mungkin memang belum sekarang. Jangan menempuh jalan yang ga Allah suka. Karena nanti kamu bakal nyesel, keberkahan itu mahal harganya.."

Dan karena kalimatnya itu saya jadi tertegun. Ya benar.. Keberkahan itu mahal. Banyak yang mesti membayar dengan harga yang sangat besar.

Pernah saya mendengar tentang teman yang pacaran bertahun-tahun dan bahagia tapi setelah menikah malah jadi sering bertengkar. Mungkin itu karena Allah uji. Tapi ada pula yang dijuji dengan lebih berat. Pacaran empat tahun membuat mereka harus menunggu empat tahun pula untuk punya anak.

Maka teman, bagi yang jodohnya belum datang bersabarlah. Bersabarlah dalam ketaatan. Berusahalah untuk jadi jomblo sampai halal. Jika memang sudah tidak sabar, bukannya rasul perintahkan untuk berpuasa. Semua ada caranya. Cara mengatasi ujian. Tetap istiqomah karena keberkahan itu mahal harganya.

Wednesday, September 4, 2013

Assalamu'alaykum Om, Tante...


Namaku Sachie Pratami Wilopo. Dua hari lagi umurku sembilan bulan. Aku makan sehari 5x, makan makanan sehat buatan bundaku. Aku masih mimik ASI lho. Sekarang aku suka ngoceh-ngoceh.

"papapa...mamamaaaa..wawawa..."

nah kalo aku ngocehnya "awah...awah.." bunda bilang aku sedang dzikir "Allah.. Allah.."

Dah dulu ya om tante.. Aku sibuk mau main bola dulu sama Bunda. Daaaah...