Friday, January 31, 2014

Reuse, Kotak Sepatu Jadi Kotak Colokan Listrik

Sebagai ibu yang punya balita yang sudah bisa jalan dan sedang senang-senangnya eksplorasi dunia sekitarnya, saya suka was-was kalau lihat Sachie mendekati colokan listrik. Terutama colokan yang letaknya mudah terjangkau. Salah satu contohnya colokan paralel yang tergeletak dengan semena-mena di beberapa sudut rumah ini. Apalagi colokan paralel ini ada lampunya. Hiiiii.. makin suka aja baby-ku maininnya..

Oleh karena itu saya cari ide untuk mengamankannya. Ada banyak alternatif, ada yang pakai pengaman seperti ini

electronic security lock (sumber gambar klik disini)
ada yang seperti ini
penutup colokan (sumber gambar klik disini)
daaaaan ada pula yang seperti ini..

kotak colokan
Nah inilah alternatif paling hemat, cepat dan mudah. Bikinnya gampang. Tinggal bikin lubang-lubang pada kotak sepatu yang tak terpakai lagi seperti gambar di bawah ini. Selesai.


Sekarang sudah tidak takut baby-ku towel-towel colokan lagi. In syaa Allah sudah aman..
Selamat mencoba semoga bermanfaat

salam hangat ibu-ibu bahagia :*

Sunday, January 26, 2014

Handmade Hijab Accessory (plus tutorial singkat)

Gara-gara liat headpiece di pinterest plus liat foto oki setiana dewi di instagram, saya jadi pengen bikin sendiri headpiece yang buat dipakai di jilbab. Lebih tepatnya bukan jadi headpiece ya, lebih tepat disebut aksesoris jilbab. Jadi akhirnya kemarin saya iseng bongkar-bongkar koleksi kain bekas, kain sisa, kain perca yang memang saya kumpulkan dalam satu kardus. Ada ya orang yang koleksi beginian? Ada dong..

Oki Setiana Dewi (nyomot dari instagramnya Irna Mutiara)

Thursday, January 16, 2014

CPPS (Bagian 4) : Ciaruteun Ilir

Penelitian ke sekian ini adalah penelitian paling menyenangkan. Selain karena dikejar-kejar deadline lulus (dikeplak), saya juga sudah punya suami dan anak. Menyenangkan karena saya kerjakan dengan suka cita. Ada sih adegan nangis tapi dibagian akhir-akhir. Yaaa... bagian saya harus ketemu Bu Puji yang (katanya) super galak di rektorat hehe..

Selama penelitian suami tercinta menemani saya selalu. Mengantarkan saya masuk ke desa terpencil, masuk ke perkebunan, mewancarai petani, menemani saya begadang, memeluk saya saat saya merasa "suck:", dia selalu ada. Hampir selalu ada. Dia cuma tidak hadir saat saya sidang (hahaha.. diinjek). Benar, dia memang tak harus memeluk saya saat saya resmi bergelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, dia sudah memeluk hati saya selalu. Hingga ketidakhadirannya saat saya sidang tidak berarti saya harus ngambek apa pun karena selama ini ia selalu ada.

Saya tidak mau bercerita soal isi penelitian saya ini, karena toh nanti teman-teman bisa lihat dan download di web repository IPB (hih kayak ada yang mau baca aja hehe). Yang jelas penelitian ini punya keistimewaan yaitu selain dianalisa dengan alat bantu berupa SPSS, penelitian ini juga menggunakan software UCINET yang jarang digunakan oleh mahasiswa strata satu. Sehingga saya lebih sering konsultasi ke mahasiswa s2 dan s3. Gaol gelaaa...

Penelitian mengenai petani sayur di Ciaruteun ilir ini juga hasilnya rada ajaib. Pola jaringan komunikasinya berbeda dengan pola-pola komunikasi pada penelitian sebelumnya. Sehingga saya mesti jedor-jedorin kepala ke tembok untuk bisa menganalisanya.

Nantilah kalau saya ada mood saya ceritakan soal Ciaruteun Ilir ini. 

Yang jelas saya mau majang ucapan terima kasih dulu ah..

Tulisan mengenai cerita panjang perjalanan skripsi ini emang norak, mengundang cela dan banyak lagi keburukannya.

Ya pokoknya alhamdulillah saya lulus sudaaaaaaah...

Wednesday, January 15, 2014

CPPS (Bagian 3) : Monster

Akhirnya pertengahan 2011 saya mendapatkan ide tema skripsi untuk saya kerjakan. Saya menulis soal moda transportasi massa, fenomena yang menjadikan Bogor disebut-sebut kota seribu angkot. Saya mencoba mengambil hubungan antara komunitas supir angkot dengan kesejahteraan supir.

Komunitas supir angkot?
Iya, ternyata ga cuma pemilik mobil pribadi saja yang punya komunitas, supir angkot pun punya. Yang pernah, sedang dan akan ke Bogor, coba perhatikan beberapa angkot di Bogor. Ada beberapa angkot dengan stiker besar di kaca depan dan/atau belakang angkot. Biasanya tulisannya MONSTER, SALAH GAUL, THE DOCTOR, nah ini ternyata bukan stiker asal stiker lho. Stiker ini adalah penanda bahwa sang supir angkot (yang belum tentu pemilik angkot) adalah anggota klub tertentu.

monster (sumber disini)

Saya nemu gambar angkot ini di blog anggota monster lho.. Luar biasa, saya baru tau, mereka emang gaol abez hehe..

Oh iya saya memutuskan untuk meneliti MONSTER dikarenakan mereka komunitas angkot terbesar di Bogor, bahkan sudah mencapai Jabodetabek, Serang dan Bandung. Monster ini singkatan dari Moda transportasi terpadu rakyat (kalo ndak salah inget).

Kenapa komunitas supir angkot ini menarik?
Karena untuk bergabung dengan klub ini mereka dikenakan biaya, ada setoran, serta memasang atribut ini sendiri, dan jika mereka bukan pemilik angkot, mereka juga harus izin dulu kepada pemilik angkot untuk memasang atribut klub. Jika pemilik angkot tidak mau, mereka tidak segan-segan untuk berhenti dan mencari pemilik angkot lainnya yang bersedia mobilnya dihias ala klub mereka (hasil wawancara dengan supir).

Nah loyalitas mereka terhadap klub ini menjadi pertanyaan sendiri bagi saya, kenapa begitu loyal? Apa pengaruh klub bagi kehidupan sosial dan ekonomi mereka?

Saya akhirnya menulis, mengumpulkan literatur, menganalisis dan akhirnya proposal selesai di bulan november. Saya tidak menduga ternyata literatur mengenai angkot pada penelitian sebelumnya di IPB masih sangat sedikit. Bisa hitungan jari. Saya malah menemukan penelitian mengenai angkot yang ditulis oleh mahasiswa FISIP UI.


Ingatkah teman-teman bahwa 2011 adalah tahun tingkat kriminalitas terhadap perempuan yang terjadi di dalam angkot meningkat. Pemberitaan ini sempat membuat dosen pembimbing saya khawatir terhadap keselamatan saya saat penelitian. Maka beliau menyarankan saya untuk selalu ditemani saat melakukan penelitian.

Selesai menulis proposal, saya punya ribuan alasan lain untuk menghindari penelitian. Selain alasan di atas, saya juga sedang mempersiapkan pernikahan. Saya bolak-balik Palembang-Bogor sebulan sekali. Alhasil penelitian baru selesai tahun 2012 mihihihi... Saat saya sedang mengandung Sachie dan usia kandungan sudah 6 bulan. Selesai penelitian apa yang terjadi?

Penelitian saya ditolak sodara-sodara. Jarangnya pertemuan dengan dosen pembimbing dikarenakan kesibukan masing-masing (siapa gueeeeehh??!!! hahaha..) menyebabkan banyak miss komunikasi di antara kami. Setelah membaca hasil mentah penelitian saya, dosen menganggap bahwa penelitian saya terlalu menjurus ke arah ekonomi, bukan seperti skripsi mahasiswa komunikasi dan pengembangan masyarakat lainnya. Dan saya akui beliau benar.

Alhamdulillahnya beliau tawarkan solusi. "Teliti komunitas petani sayur di desa Ciaruteun Ilir, lihat bagaimana jaringan komunikasi yang terbentuk.." dan tema detail ini membimbing saya pada penelitian berikutnya...

Bersambung..

Thursday, January 2, 2014

Sakinah Bersocial Media

Jaman social media seperti saat ini nyinyir itu sepertinaya lumrah ya. Terlebih jaman twitter ini. Dimana semua orang seolah berlomba mengeluarkan kicauannya. Setiap orang jadi (merasa) bebas berekspresi. Hingga lupa ada yang mencatat amal baik dan amal buruk, termasuk tweet baik dan tweet buruk.

Semua orang merasa bebas beropini, bebas menasihati walau kadang nasihat tak sampai ke tujuan. Lebih sering no-mention yang berkesan nyinyir hingga lebih banyak yang tersinggung dari pada yang tergugah. Saya tidak menyalahkan, bebas saja. Karena ada pula yang memang berniat baik untuk berbagi ilmu walau ada yang merasa "gue ga butuh" dengan ilmu tersebut. Semuanya memang bergantung pada kebesaran hati. Siapa yang paling berbesar hati menerima nasihat, menerima kebaikan dan ilmu baru, maka ia lah yang paling sakinah dengan social media. 

Fenomena ini membuat saya akhirnya memilih untuk "mencoba santun". Bila ada opini yang bersebrangan, rasanya tak perlu mengumumkan ketidaksukaan saya dengan kalimat "baca noh, woi!". Hingga bila ada yang ingin berbagi pendapat dengan saya, sejak awal tak pernah (seolah) saya jadikan musuh.

Pun bila ada nasihat yang rasanya "kok jleb banget sih", kena pas di saya, saya memilih untuk introspeksi saja. Bila sedikit-sedikit ada nasihat lalu saya jadi tersinggung, kapan saya jadi orang baiknya. Iya, kan?

Saya pun memutuskan untuk berbagi ilmu yang cenderung menasihati pada orang yang mau saja. Terlalu banyak orang yang berbagi membuat saya memilih saya hanya akan membagi yang saya miliki pada yang mau saja. Dipaksakan pada yang tidak mau mendengar dan membacanya hanya membuat orang menjadi muak.

Soal bagi-bagi kebahagiaan, saya akan mencoba lebih sabar, menunggu hingga rasanya tak se-euforia awal-awal diamanahi kebahagiaan itu. Agar tak jadi berlebihan alias lebay.

Begitu pula dengan menunjukkan keromantisan. Rasul memang menampakkan keromantisannya di depan sahabat, tapi tak berlebihan. Menggendong istrinya, menempelkan pipinya ke pipi istrinya, berlomba lari, tapi tak selalu begitu. Lebih sering beliau menyampaikan kebaikan dan syiar lainnya, keromantisan hanya sepersekian persen. Porsinya tepat hingga orang tak muak.

Namun bila ada yang berbeda pendapat ya tidak masalah. Biarkan saja. Semua bebas dan sudah dewasa. Semua sudah bisa berpikir layaknya orang dewasa.

Bila ada pula yang belum merasakan kebahagiaan yang sama, semua ini memang perlu kebesaran hati. Beginilah bersocial media. Sabar-sabar saja. Jika ingin menegur, saya sarankan langsung pada targetnya (hehe). Jika sungkan menegur, ya sudah jangan pula dinyinyiri. Betul, kan?

Ah ini hanya masalah empati.

Ini juga masalah kebesaran hati. Kembali pada diri kita sendiri. Kitalah yang memutuskan memilih jalan mana agar tetap sakinah bersama social media.

*benerin jilbab*