Kenapa Ada "Mainan Buat Sachie"?

Jujur saya sudah mengalami masa-masa jadi orang yang bahasa lebaynya gak bisa hidup tanpa gadget dan internet. Selalu pegang hape kemana-mana. Bahkan bangun tidur dan setelah sholat bukannya dzikir saya malah ngecek handphone. Sejak punya suami apalagi sejak ada Sachie, perlahan saya mulai berubah. Saya gak mau Sachie "ketempelan" gadget. Makanya saya harus berubah. Saya harus berusaha untuk tidak buka-buka gadget (bahkan laptop) saat bersama Sachie.

Jadi kalau ada teman-teman yang menghubungi saya di waktu-waktu "melek" Sachie, saya jarang bisa dihubungi. Handphone saya simpan di kamar sedang saya bermain dengan Sachie di tempat lain, misalnya di kamar bermain Sachie atau di halaman.

Gadget bisa menghambat tumbuh kembang Sachie apalagi di masa-masa emas pertumbuhannya ini. Maka saya mengusahakan agar Sachie dapat bermain menggunakan semua indranya, bukan hanya mata dan jari-jari seperti saat bermain dengan gadget.

Mainan Sachie yang dbuat sendiri

Kami bermain bola di halaman, mengamati kupu-kupu dan buah-buahan yang tumbuh di kebun kecil anang-nya. Menciumi bau daun, merasakan tekstur batu, kerikil, bunga, dahan. Mengejar kucing dan ayam yang lewat di pekarangan. Serta menyapa bayi-bayi lain yang kebetulan lewat di depan rumah.

Agar Sachie tidak bosan dan jadi kreatif, saya harus mempersiapkan mainan bermacam-macam untuknya. Kalau mainannya susah ditiru macam lego, boneka barbie, piano, ya harus beli (kalau ada anggaranya). Tapi kalau mainannya bisa bikin sendiri, saya pastikan saya akan buatkan mainan sendiri untuk Sachie. Selain lebih hemat (teteup), bikin mainan sendiri juga membuat saya yang SAHM (stay at home mom) ini otaknya tetap jalan. Dan proses pembuatan mainan ini seriously bikin saya makin sayang sama Sachie. Makin mengikat saya dan Sachie. Bonusnya saya merasakan sendiri, main sama Sachie di alam terbuka bikin Sachie makin aktif dan makin kelihatan "bakatnya". Terlalu dini memang menjustifikasinya. Setidaknya melihat Sachie yang lebih lincah bikin saya senang.

Selain itu bikin mainan buat Sachie ini jadi semacam penghargaan sendiri untuk pilihan yang telah saya pilih, yaitu memilih untuk berada di rumah menjadi SAHM. Sayang rasanya jikalau saya, ibunya yang sarjana ini, yang "cuma" di rumah saja, punya anak yang diperlakukan seperti anak yang diasuh sama baby sitter dari yayasan penyalur pengasuh bayi. Maka Sachie harus punya nilai plus.

Bikin mainan sendiri juga jadi kesepakatan antara saya dan suami. Jika Sachie menangis, ngambek maka kami harus kreatif mengalihkan Sachie dengan mainan bikinan sendiri yang paling dia suka bukan dengan gadget. Pengalihan dengan gadget lebih sering tidak efektif.

Selain main dengan mainan yang menstimulasi perkembangannya, kami juga lebih sering mengajak Sachie mencari hiburan di alam terbuka. Tidak seperti Bogor yang banyak tempat wisata, Palembang memang tidak punya banyak tempat nongkrong atau hiburan yang ramah anak maka kami pun harus kreatif menyiasatinya. Misalnya mengajak piknik di taman masjid pusri yang luas, hijau dan ada kolam ikannya. Sesekali kami dilihat orang yang lewat atau pasangan yang lagi pacaran disana tapi ya cuek saja. Kami juga mengajak Sachie melihat rusa di halaman komplek PT Pusri. Main ke danau olahraga ski air di dekat stadion glora sriwijaya yang tersohor itu. Main ke taman-taman kota. Sesekali juga main ke pusat permainan anak di mall untuk bertemu teman-teman sebayanya.

main ke danau di Jakabaring

Maka jika ada yang bertanya kenapa ada mainan buat Sachie, ya inilah jawabannya... :D

Comments

Popular posts from this blog

Tutorial Menjahit Pashmina Instan ala Nurina Amira

Tutorial Bunga Tulip dari Kain Perca

Repurpose : Mengubah Kemeja dan Rok Jadi Gamis Kekinian