The Sweetest Moment in My Wedding Day

Wedding dream? Hmmm… Saya dan dia punya banyak kesamaan, salah satunya tentang konsep pesta pernikahan impian. Kami sama-sama membayangkan sebuah privat wedding party. Tidak banyak tamu, hanya 300 undangan. Hanya dihadiri oleh kerabat dan teman dekat. Sebuah pesta kecil dengan deretan meja bundar dan kursi bersarung putih yang tersusun rapi.

Tapi menikah bukan cuma urusan saya dan dia, tapi juga keluargaku dan keluarganya. Tak hanya panjang, perdebatan tentang konsep pernikahan kami pun panas. Orang tua kami punya gambaran tersendiri tentang pernikahan anaknya. Hingga akhirnya sampai pada titik dimana saya dan dia berhenti menyelisihi orang tua sendiri.

Pernikahan bukan hanya soal pesta impian. Pernikahan lebih besar dari itu. Maka kami tidak ingin memulainya dengan sesuatu yang menyakiti hati orang tua kami. Jadi selain momen janggal mencium tangan seseorang sambil ditatap puluhan pasang mata, difoto dan diteriaki “tahan…tahan..”, momen paling manis dalam pernikahan saya adalah saat sungkem pada orang tua, saat ayah ibu mengelus kepala saya dan mendoakan kami. Rasanya seperti ada film pendek berputar di kepala. Ada ayah yang pulang kantor dengan sekotak kue rapat yang sengaja disimpan untuk anaknya, ada ibu yang menghias kue ulang tahun ke delapanku, ayah yang menunggui di ujung jalan saat anak gadisnya pulang malam untuk les sebelum SPMB, momen berpisah dengan ayah ibu di asrama kampus, ayah yang menghapus air matanya saat menghapalkan kalimat ijab semalam sebelumnya, banyak sekali. Air mata tak terbendung untuk itu.

Semoga ridho orang tua kami mengantarkan pernikahan ini pada keberkahan hingga surgaNya.

16 Maret, tiga tahun yang lalu


------------------------------
Nb tulisan ini diikutsertakan dalam Give away oleh neng opi sang juragan kambing yang sekarang merambah bisnis ngurusin orang nikah alias wedding organizer, ahla wo namanya. Sukses terus ya opai.. Womingpaaaaaiiiii woyouteaiiiii... 😂😂😂

Comments

Popular Posts