Saturday, April 18, 2015

Soal Cangkul

Sebagai sarjana lulusan IPB, beberapa orang "awam" melabeli kami dengan orang-orang yang pintar bercocok tanam. Padahal selama kuliah di IPB saya cuma sekali pegang cangkul di jam belajar, yaitu saat turun lapang ke desa, saya membantu seorang responden memindahkan cangkulnya ehehe..

Tidak semua anak IPB belajar bercocok tanam. Coba tanya anak kedokteran hewan nama-nama tumbuhan, mereka pasti sama bingungnya sama anak komunikasi dan pengembangan masyarakat macam saya.
Tapi label bisa bercocok tanam ini memacu semangat saya, membuat penasaran saya, menjadikan saya pingin bisa bercocok tanam. Kalo cuma nanem bunga sih gampang. Beberapa bunga sempat sukses saya rawat. Mawar, melati (semuanya indah), asoka, matahari hingga hydrangea. Saya tertantang untuk menanam tanaman konsumsi. Saya mulai dengan menanam cabai, tomat, tomat ceri (kalo kata orang palembang "tomat cung"), daun bawang, dan katuk. Alhamdulillah sudah mulai panen. 

Nah alhamdulillahnya juga ketemu mertua yang rajin nanem bumbu dapur. Papa mama mertua punya serai, daun jeruk, daun pandan, bunga telang (pewarna biru alami, tau aja menantunya suka biru #kegeeran). Semua tanaman ini bermanfaat sekali lho. Saya sejak awal cabai di rumah panen baru sekali beli cabai di warung dan cuma dua ons (irit ekekeke). Serai, daun bawang dan katuk pun tak pernah beli.
Yang paling saya senangi adalah keberadaan daun jeruk dan pandan yang lebat sekali. Seneng gitu soalnya kalo tiba-tiba pingin bikin kolak kan enak tinggal petik, jarang kan warung yang jual daun pandan. Nah daun jeruk pun jarang ada yang jual di warung, kudu ke pasar. Karena ribet banget bawa dua bocils ke pasar makanya seneng banget ada taneman ini di rumah.

sayuran di rumah

Sekarang saya lagi coba tanam selada. Sayur kesukaan suami soalnya suami suka roti lapis alias sandwich.
Kepingin deh suatu hari nanti punya kebun organik sendiri yang banyak hasilnya dan bisa dipasarkan. Kalo liat kak bowo (https://debosejahtera.wordpress.com/) yang udah masukin melon ke hotel di serang jadi bangga gitu ada lulusan IPB yang gerak di bidang pertanian beneran. Yuk mari tidur biar bisa mimpi. Kan kesuksesan esok adalah mimpi hari ini hihihi..

hasil masakan sayuran dari pekarangan sendiri

Thursday, April 2, 2015

Resep Pempek Panggang ala Wilopo

Setelah berhasil bikin cireng, suami request minta bikinin pempek panggang soalnya tekstur cireng dan pempek panggang rada mirip. Iya kan? Iya kan? (maksa hahaha).

Jadi ini resep pempek panggang ala keluarga Wilopo. Pempek panggang kilat, ngebut, dan gak pake ikan heu..

Bahan :
200 gr tepung sagu
50 gr tepung terigu
1 sdm garam
1 sdt merica
200 ml air panas (mesti panas ya)

Isian
Cabe hijau haluskan
Ebi sangrai haluskan
Kecap manis

Cara memasak
Campur bahan kering, aduk rata. Tuanv air panas. Aduk lagi. Bentuk bulat-bulat lalu panggang.
Kalo gak punya pemanggang pempek panggang ala ala ini bisa dipanggang di atas teflon dg api kecil. Keciiiiil banget.
Panggang hingga permukaannya matang (mengeras) semua. Angkat, belah dua tapi jangan sampai terpisah. Beri isian ebi, cabe, lalu tuang kecap manis.
Bisa juga disajikan dengan cuko yang diberi irisan timun. Pas banget gak ada timun jadi beginilah penampakannya.

Bocoran

Dulu pernah cerita pengen usaha. Masih inget gak? (nanya ke siapa lo, Des? Hahaha) Sebenarnya usahanya udah jalan, udah launching di kalangan terbatas, sebatas teman-teman dekat. Dan ini testimoni atas produknya.
Semoga cepat launching beneran. Aamiin.

Ps : ini dressnya aku jahit sendiri. Semua produk yg udah laku saat ini aku jahit sendiri, pilih bahan sendiri, payetin sendiri :)