Friday, May 15, 2015

Mainan buat Syira (1) : batu dan botol

Saya mau berbagi ide bermain untuk anak di bawah 1 tahun. Selain sensory play bareng kakaknya seperti mandi busa lembut, main snake bubble, main beras, main hidrojel, mandi hujan (hehe..) syira saya ajak main yang melatih motoriknya. Salah satunya permainan ini. Memasukkan batu ke dalam botol. Permainan ini bisa juga melibatkan kakaknya. Kami pertama kali bermain ini saat syira berusia 10 bulan.


Jadi awalnya saya minta sachie mencari batu di halaman. Kemudian saya ajak sachie dan syira mencuci batu tadi, setelah itu kami jemur agar kering. Setelah kering baru saya minta syira memasukkan batu ke botol air mineral yang mulut botolnya agak besar. Simple memang tapi bagi syira ini seru banget lho. Setiap dia habis memasukkan satu batu dia akan loncat kegirangan (dalam posisi duduk) sambil bertepuk tangan. Gemasss liatnya hehe..

Tuesday, May 12, 2015

Mainan buat sachie (borongan)

Tadi di grup whatsapp ada temen yang cerita kalo pas dia googling "mainan anak buatan sendiri" blog ini muncul paling atas. iiih jadi ge-er (apeu..). Jadi ceritanya sekarang saya coba selesaikan tulisan yang berbulan-bulan ada di draft dan tak terselesaikan lantaran males mindahin foto dari kamera ke laptop ehehehe...

Ini ada beberapa mainan buat Sachie mulai saat Sachie berusia 21-23 bulan

1. Memancing ikan kertas di air.
Kok bisa? Bisa dong. Ikannya digambar dikertas dulu. Lalu diwarnai. Libatkan anak saat mewarnai. Lalu laminating. Bisa dengan plastik khusus laminating bisa juga dg plastik pembungkus meja makan. Saya melaminatingnya pakai ilmu waktu jadi panitia kegiatan di kampus dulu, pake setrikaan ehehe.. Jadi caranya tumpuk plastik - gambar - plastik - kain tipis, lalu setrika di atas kain tipis tersebut. tinggal gunting deh. Setelah jadi ikan diberi paper clip.  


Memancingnya gunakan magnet yg telah diikat dg benang yg dihububgkan dg ranting pohon.

2. Teropong anak petualang.
Dari karton tisu gulung yg disatukan dg lakban dan diberi aksesoris berupa pita sebagai tali gantungan lehernya.


3. Belajar membedakan warna.
Alat dan bahan : lakban dan bola plastik warna warni
Bentangkan lakban membentuk persegi. Di setiap sudut letakkan satu bola berbeda warna. Anak diminta masuk ke dalam "kotak lakban". Lalu minta anak menempelkan bola ke lakban sesuai warna bola di setiap sudutnya sampai bola habis. Minta pula anak menyebutkan warnanya.


4. Anak ayam
Alat bahan : kardus, double tip, spidol, kapas.gunting
Buat pola ayam di kardus. Penuhi pola ayam dg double tip. Kupas double tip. Minta anak menempelkan kapas pada gambar ayam. Setelah selesai tambahkan mata dan mulut ayam bersama anak.


5. Topi penghuni hutan.
Cari gambar kepala hewan di internet. Lalu print pada selembar kertas tiap gambar. Gambar lingkaran di sekeliling kepala hewan. Warnai. Gunting. Jadilah topi.
Minta anak menyebutkan nama hewan dan menirukan suaranya.



6. Sensori play memecahkan cangkang telur.
Cangkang telur yg sudah dibersihkan diberikan kepada anak. Minta ia merasakan teksturnya memecahkan dll.


7. Marble maze
alias track kelereng. melatih konsentrasi anak menemukan jalan keluar kelerengnya.
Dibuat dari kardus sebagai alas, tutup botol untuk penampung kelereng, sedotan sebagai pembatas jalan dan selotip untuk merekatkan.

Video Sachie main marble maze ini ada di instagram saya (silahkan klik)




8. Cap spon.
Spon cuci piring digunting dg pola tertentu lalu celupkan ke cat air. Kemudian capkan pada kertas.


9. Slime
Maizena, sabun cuci piring, minyak dg perbandingan masing2 5:3:1
Tambahkan pewarna.
Anak anteng main slime ini karena teksturnya yg lucu.


Segini aja dulu ya, semoga menginspirasi ibu-ibu di luar sana untuk bersenang-senang dengan anak-anaknya.


XOXO

Monday, May 4, 2015

Syira is turning one

Happy Birthday adek Syira Pramudita aka Cia...
Jadi pengen cerita sekilas kelahiran Cia.
Hari itu jumat 2 Mei 2014. Saya bangun pagi dengan perasaan biasa saja. Sarapan, melayani suami, riweuh sama Sachie, menyiapkan segala keperluan Sachie dan ayahnya lalu kami berdua mengantar suami sampai halaman.
Setelah suami berangkat saya langsung bawa sachie ke atas untuk mandi. Setelah sachie mandi saya merasa mulas. Kontraksi. Makin keras hingga saya gak sanggup berdiri. Saya lihat ritmenya. Sepuluh menit sekali. Saya pikir sudah tiba waktunya. Lalu saya telpon suami yang baru setengah jam berada di kantor.
Suami sempat bilang mungkin kontraksi palsu lagi. Mengingat seminggu sebelumnya sudah pernah kontraksi palsu dari jam 8 pagi hingga jam 2 siang. Dengan ritme lebih cepat, lima menit sekali.
Suami bilang, sabar saja nanti sore kita cek ke dokter seperti minggu lalu. Tapi saya ngotot minta suami pulang segera karena saya benar-benar mulas dan saya sampai tidak sanggup berdiri. Lalu saya keluarkan jurus pamungkas para wanita, menangis huwaahahah..
Saya menangis sambil ngomel-ngomel "ini aku udah berasa kayak subuh itu (subuh sebelum melahirkan sachie), aku udah gak sanggup jalan ini..." dan jurus ini berhasil.
Sepuluh menit kemudian suami sudah di rumah. Saya dibantu olehnya ganti baju, pakai kaos kaki, pakai jilbab. Sachie sementara dipegang ine nya (ibu saya). Alhamdulillah tas memang sudah disiapkan sejak kehamilan masuk usia 8 bulan. Jadi kalau kondisinya begini tinggal sreet angkut, berangkat.
Kami ke RS Pusri. Jauh. 30 menit dari rumah. Tanpa macet. Kenapa pilih rumah sakitnya jauh sekali? Kepinginnya yang dekat saja. Hermina misalnya. Tapi banyak faktor, terutama asuransi dari kantor suami yang harus dengan sistem reimburse. Suami ngotot saya harus sekamar sendiri, karena saya berjilbab. Dia khawatir saya terbuka auratnya jika sekamar berdua. Biaya di hermina untuk kamar yg demikian agak sulit untuk kami siapkan di awal lalu diganti sebulan kemudian.
Sebab lainnya adalah sang dokter kandungan yang tau record kehamilan saya praktek juga di RS Pusri. Lagipula RS Pusri pelayanannya baik walau tak sebaik RS PMI Bogor dulu.
Dan karena saya suka komplek pusri. Dulu waktu SMA saya suka ikut i'tikaf ramadhan di masjid pusri. Saya suka sekali lingkungannya. Rindang, tenang. Suka sekali nuansanya. Komplek pusri ini juga bikin saya akhirnya memilih kuliah di IPB. Karena kepingin kerja di pusri lalu tingga di komplek pusri (maafkan imajinasi anak SMA yang gak gaul ini hahaha).
Eh fokus cerita lahiran dulu. Saya masuk RS jam 11 siang. Saat dicek ternyata sudah bukaan 4. Lalu saya melotot ke suami "gue bilang juga apa" mata saya seolah ngomel hahaha..
Suami pamit sholat jumat setelah memastikan saya aman. Saya tarik tangannya lalu menanyakan satu hal penting
"Kak, kalau kita gak ketemu lagi setelah ini, kakak ridho kah sama aku?"
Dia geleng-geleng, mukanya pucat. Dia bilang saat itu dia teringat kakak kelas saya yang juga tetangga kami di Bogor yang meninggal dunia setelah melahirkan. Suami membisu. Menatap saya lagi lalu bilang
"kakak ridho, tapi bertahanlah.. Semoga baik-baik saja..", setelah sholat jumat dia menangis. Dia tak tau apa kabar istrinya di kamar bersalin. Dia takut saat kembali sang istri sudah tiada. Duh nulis ini mewek.. T_T
Setelah sholat jumat saya melihatnya tersenyum sambil menyingkap tirai, alhamdulillah kami masih jodoh heuheu.. Hampir dua jam kami menunggu hingga akhirnya sang ketuban pecah dengan dibarengi suara letusan. Bener deh itu ketuban meletus. Dulu pas lahiran sachie gak seheboh itu rasanya. Dan beberapa menit kemudian pukul 15.15 wib sang bayi lahir. Tangisnya keras.
Setelah dielap-elap sedikit (apadeh dielap-elap, dibersihkan haha) syira langsung ditaro di atas tubuh saya. Proses ini namanya inisiasi menyusu dini (IMD), berlangsung sekitar 40 menit sambil saya dijahit oleh dokter. Keberadaan syira yang lucu sambil mencari puting susu di atas tubuh saya membantu saya mengalihkan rasa sakit dijahit. Ampun booo.. Sesakit-sakitnya melahirkan normal yang paling sakit itu dijahitnya huhuhu..
Dua hari kemudian kami boleh pulang. Alhamdulillah Allah percayakan kami dua anak. Semoga kami bisa menjaga amanah Allah ini sebaik-baiknya.

Aku Lebih Baik Dari Dia

Ini bukan tulisanku. Ini tulisannya mba Yana yang aku copy dari facebooknya. Bagus menurutku, tulisannya mengingatkan kita yang suka sok tahu atas keputusan Allah.
--------------------------------
" Yan.. Lu dengar kabar gak? Si Y lagi bangun rumah baru. Gila! Hari gini, masih juga rejekinya deras kayak air mancur..". Bunyi kabar telpon kawanku, suatu pagi, tentang seseorang.

Si Y.. Perempuan ceriwis, yg beberapa pekan lalu jd buah bibir karena mengusir sebuah keluarga miskin dari tanah miliknya yg memang dibangun secara liar. Tidak salah juga sebenarnya.. Toh itu memang haknya..

Tapi tak pantas rasanya, ada yg kaya-nya banget.. Juga ada yg miskinnya banget.. Berdekatan!

Tiba-tiba ada yg aneh. Banyak suara berisik dikepalaku. Aku merasa marah? Kok bisa? Kok bisa aku marah mendengar ada org lain, yg lebih beruntung daripada aku.

" Yang pengen bangun rumah kan aku..". Suara kecil mendesis dri ulu hati.

Kupegang ulu hatiku.. Sepertinya memang sedang mengeras dan membengkak..

Iri..

" Orang dzalim kok bisa sukses..". Suara dr ulu hati itu makin lama, makin menggema, dan cuma aku yg mendengar.

##


" Kebobolan gue! Dah 3 bulan ". Kalimat pertama yg menyambut pertemuan tak sengajaku dengan kawan baru di tempat pencucian motor. Kawanku itu menunjuk perutnya. Sedang hamil anak ke 5, tanpa rencana.. Bayangkan! Tanpa rencana.

Aku bolak balik dokter.. Merencanakan.. Dengan rapi.. Mencocokkan masa subur dengan kondisi fisik. Agar bisa hamil! Dan belum berhasil sudah bertahun2!

Kalo Thoriq bicara adik, aku cuma bisa meneteskan airmata sembunyi2.

" Bikin anak, ga seperti bikin Pizza nak! " Jawabku dalam hati.

Disamping kawanku ada 3 bocah berlarian. Anak-anaknya.
Melihat sekilas, anak-anaknya pada gak ke-urus.. Rambut kutuan, baju kusam.. Igrrggg.. Jorok!

" huh! Coba aku yg diberi ALLAH anak banyak.. Pasti aku lebih pantas.. Anakku lebih bersih, terawat, dan pintar! " bisik sesuatu dipojok hati sana.. Suara yg membuat bibirku membuat kerut, dahiku bergaris..

Iri lagi..

" Kenapa ALLAH baru titip 1 anak.. Aku ingin 3 atau 4, krn aku layak jadi ibu yg hebat! ". Suara bernada kecewa itu terdengar mendikte di kepala dan hatiku. Mendikte ALLAH ..

##


Sms pagi, si Fulanah mengabarkan 'kabar gembira', pamit karena akan pergi umroh sekeluarga..

Mulutku menganga lebar..
 
Si fulanah, yg sholatnya aja senin - kamis.. Silaturahimnya pada ibu dan juga mertuanya buruk.. Perangainya kasar.. Mau umroh sekeluarga?!

" Hellowwww.. Malaikattt.. Heyyy malaikatttt!
Yg siang malam, jungkin balik sujud dan berdoa mo ke tanah suci itu aku! Aku!! ". 
Dipojok hati yg bengkak itu.. Kembali suara bergemuruh.

**

“Ana khairun minhu”,
saya lebih baik dari dia!
Pekik iblis ketika menolak perintah ALLAH sujud kepada nabi Adam..

Tausiyah pak Ustadz terdengar tegas dari streaming radio subuh tadi.
Membuat mataku berkaca.. Pipiku tertampar!

Sungguh aku ternyata hampir seperti iblis.. Sok tau..!!
Sok tau dan sibuk mengukur dan membandingkan banyaknya dosa orang dengan (perasaan) sedikitnya dosaku..

Kenapa aku tak melihat dari sisi satunya..
Pasti ada banyak alasan ALLAH .. Lebih memilih yg lain.. Bukan aku.. Pada sesuatu yg belum kudapatkan.
Amalan baiknya yg tak kulihat, pastilah lebih baik dariku.. Itulah kenapa ALLAH memilihnya..
Urusanku hanyalah tentang amal sholehku pribadi, bukan yg lain!

Astaghfirullah..
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS al-Hujurat:13)

Suara pak Ustadz terdengar lagi.
Menampar lebih keras.

Manusia yang mulia..
Yang paling bertaqwa..