DIRGANTARA YUSUF WILOPO


Arti Nama
Dulu kayaknya saya pernah bercerita di blog ini tentang kesepakatan kami dalam hal pemberian nama anak.

“jika anak kami perempuan, maka namanya diawali dengan huruf S seperti ayahnya, dan jika laki-laki ia akan diberi nama dengan awalan huruf D seperti bundanya”

Maka nama di atas adalah nama putra kami, sang anak ketiga. Eh ternyata setelah saya cari-cari, saya belum pernah yak cerita soal nama ini di blog heuheu...
Dirga belum seminggu

Dirgantara (sansekerta) berarti langit
Dirgantara lengket sekali ya dengan TNI AU, memang sih kakeknya suami anggota TNI AU, tapi bukan karena itu putra kami diberi nama Dirgantara. Lebih ke arah, bundanya suka warna biru dan langit warnanya biru, kebetulan pula untuk semua nama anak, bundanya yang lebih sibuk bongkar-bongkar kitab :p Engga ding..


Kami mendoakan Dirga (nama panggilannya. Iya gue tau, pada inget Gilang Dirga kan? haha..) supaya menjadi anak yang menenangkan, setenang langit, yang lapang hatinya selapang langit yang belum ketahuan dimana batasnya.


Yusuf adalah nama nabi dalam ajaran Islam (di Nasrani dikenal dengan Joseph)
Selain ketampanannya yang begitu mashur, Nabi Yusuf juga terkenal sebagai nabi yang dapat menafsirkan mimpi. Salah satu mimpi yang ia tafsirkan adalah mimpi sang raja tentang tujuh ekor sapi gemuk yang digantikan oleh tujuh ekor sapi kurus. Menurut tafsiran Nabi Yusuf (yang tentu saja datangnya dari Allah), akan datang 7 masa panen yang berlimpah yang diikuti 7 tahun masa krisis atau paceklik. Tafsirannya atas mimpi raja ini membuat Nabi Yusuf diangkat menjadi menteri ketahanan pangan. Nabi Yusuf menyelesaikan amanahnya sebagai menteri dengan baik, beliau berhasil memberi solusi atas masalah krisis pangan. 

Dirga lahir di era krisis, kami mendoakan Dirga agar menjadi anak yang membawa solusi atas krisis yang terjadi. Nama Yusuf dan Dirgantara seharusnya mengingatkan kita pula pada satu nama lain, Baharuddin Jusuf Habibie (BJ Habibie), pendiri PT Dirgantara Indonesia. Selain meneladani Nabi yusuf, kami juga ingin Dirga dapat meneladi semangat belajar milik bapak Presiden ketiga Indonesia itu.


Wilopo, nama belakang ayahnya
Pemberian nama belakang ayahnya anak-anak, bukan semata gaya-gayaan, bikin klan, atau agar mudah mengurus dokumen kenegaraan. Ini semata-mata motivasi bagi keluarga kami agar terus memperbaiki diri demi mendapat keberkahan dari Allah dan jadi individu yang menjaga nama baik keluarga. Sang ayah harus menjadi orang yang baik dan istimewa agar anak-anaknya tidak malu menyandang nama belakangnya, juga agar anak-anak senantiasa menjadi anak yang dibanggakan.



Begitulah doa kami kepada Dirga. Mohon kiranya di-aamiin-kan pembaca yang budiman :)


Kelahiran Dirga

Dirga lahir di usia kandungan memasuki 40 minggu lebih satu hari. DSOG kami di awal Desember 2015 kemarin dengan yakinnya menyatakan kalau anak kami akan lahir di akhir Desember (minggu ke 38). Mengingat anak pertama dan kedua, dua-duanya lahir di usia kandungan 38 minggu semua. 

Libur natal sudah hampir usai, tapi sang janin belum juga memberikan tanda ingin keluar. Kami setia menunggu sambil terus memeriksa kondisi janin seminggu sekali di klinik. Awal januari sang dokter kaget melihat kami masih kontrol ke kliniknya "Lha.. Des, kamu belum lahiran???" wahahaha...
Hingga akhirnya masuk minggu ke 40 pas HPL 12 Januari 2016, malamnya ditemani suami, kami memeriksakan kandungan lagi. Setelah memastikan jumlah ketuban masih banyak, posisi janin bagus, denyut jantung stabil, dokter dengan santainya berkata "Santai saja, Des.. Kita bisa tunggu sampai minggu depan, 41 minggu kan? Insyaallah normal kok, sayang kalau operasi..." Iya doooook.. tapi gue gak bisa santaiiii, gue deg-degaaaan..aaaaakkk
Dirga dan kakak-kakaknya

Setelah pemeriksaan berakhir, saat saya mau beranjak dari kursi periksa, dokter bertanya apakah saya mau diinduksi alami. Saya dijelaskan induksi alami yang akan dilakukan dokter adalah beliau akan menyapukan jarinya ke selaput pada leher rahim, memisahkan kantung ketuban dengan leher rahim untuk memicu kontraksi. Awalnya kami ragu, terutama saya (iyalah.. kan rahim gue yang diaduk-aduk heu..), tapi rasa engap yang luar biasa, lelah bawa-bawa perut gendut, susah gerak dan gak sabar pengen punya bayi newborn lagi, akhirnya kami iyakan tawaran dokter.

Dokter bilang "wah ini udah ada bukaan lho, Des.. besok lah insyaallah lahir, sampai jumpa di rumah sakit ya, jangan di klinik lagi hahaha..." hahaha... dokter gue... Dan alhamdulillah benar, subuhnya saya ngeflek.

Dirga benar-benar lahir besoknya, 13 Januari 2016 di RS Bhayangkara, Palembang,  pukul 16.50 WIB, dengan BB 3,2 kg dan PB 49 cm dengan partus spontan disertai ketuban yang pecah dengan mengeluarkan bunyi "daaaar...". Alhamdulillah. mwahahaha..

Comments

  1. Seneng denger atau baca crita pengalaman ibuk2 yang pada lahiran normla kayak mbak desni. saya pas kemaren lahiran sesar soalnya :')
    Btw selamat sekali lagi ya mbak desni (udah ngasih selamat di IG sebelumnya) :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak apa-apa mba nouru yang penting ibu dan anaknya sehat, iya kan :)
      barokallah ya mbaaa...

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar di tulisan ini

Popular posts from this blog

Tutorial Menjahit Pashmina Instan ala Nurina Amira

Tutorial Bunga Tulip dari Kain Perca

Repurpose : Mengubah Kemeja dan Rok Jadi Gamis Kekinian