Monday, January 23, 2017

Tentang Speech Delay, Buku, Gadget, Tantrum dan Stimulasi Anak

Bismillah..

Sangking bingungnya, saya sampe gak tau mau judulin apa. Entah dari mana memulainya saya juga bingung, saya hanya ingin menuliskan kegundahan saya terhadap kasus yang di alami banyak anak balita seperti speech delay, tantrum, bagaimana screen time, juga stimulasi apa yang diberikan.


Tulisan ini bakal panjang sepertinya, kuatkan niat dulu ya.. kalo dari awal udah jengah, jangan diteruskan :)
Ini bukan nasihat sok pinter a la ibu baru kemaren sore. Saya hanya mencoba berbagi pengalaman kami mendidik ketiga anak kami empat tahun belakangan ini dan juga sebagai pengingat bagi kami :)

Awalnya saya syok membaca status yang dibagikan seorang teman di timeline facebook. Statusnya bercerita tentang sebuah keluarga yang memiliki anak berusia empat tahun dan belum pernah dibacakan buku apapun dari bayi. Yang paling bikin syok adalah orang tua dari anak tersebut sedang meminta sang pembuat status untuk menjadi guru privat anaknya belajar CALISTUNG alias baca tulis hitung.

Syok kedua berasal dari teman saya, dia mengunggah foto kedua anaknya yang sedang asyik bermain handphone. Saya sedih karena saya tahu betul bahwa anak pertama mereka mengalami speech delay alias terlambat bicara. Di usianya yang ke empat tahun anak ini bahkan belum bisa memanggil orang tuanya dengan baik. Mereka juga paham betul masalah anaknya dimulai dari mana dan yang menyedihkan kesalahan yang sama diulang di anak kedua. Ya betul, karena kecanduan gadget.

Teman lainnya di timeline facebook bertanya tentang "apa yang anak ibu/bapak tonton untuk screen time di rumah?" saya kepingin bales status ini langsung tapi kok tiba malah jadi pengen nulis panjang. Karena di level "normal" semua hal yang saya ceritakan di atas sangat berkaitan.

SPEECH DELAY
Speech delay atau keterlambatan bicara bisa disebabkan banyak faktor antara lain gangguan pendengaran, kelainan organ bicara, autisme, bilingual alias penggunaan dua bahasa, dan kurang stimulasi dari lingkungan. Saya akan mencoba membahas kondisi pada anak "normal". Pada anak normal, speech delay kemungkinan disebabkan oleh dua faktor terakhir, bilingual dan kurangnya stimulasi. 

Ibunya ceriwis, rajin ngajak anak bicara, tapi kok anaknya telat ngomong ya? Ooooh ternyata ibunya menggunakan bahasa Inggris, sedangkan ayahnya yang walau ketemunya cuma sebentar-sebentar ngomongnya bahasa Indonesia, ealah pengasuhnya ngomong bahasa daerah. Mantep deh itu anaknya terpapar tiga bahasa sekaligus. Anaknya bingung inilah yang menyebabkan anak tidak mengerti harus ngomong apa. Kecuali anaknya memiliki IQ di atas rata-rata. anak yang terpapar lebih dari satu bahasa biasanya memiliki perbendaharaan kata yang lebih sedikit dari anak yang hanya menggunakan satu bahasa [sumber : mommiesdaily]

Kurangnya stimulasi juga bikin anak jadi speech delay? Emangnya apa stimulasi agar anak lancar bicara?
Ini ada sembilan tips agar anak lancar bicara ala keluarga kami yang kami terapkan pada anak-anak kami.
  1. Ajak berbicara
    Pendengaran adalah salah satu indera yang berfungsi semenjak bayi baru lahir. Masih ingat kan bayi sering kali terkejut saat mendengar suara bising atau suara keras? Nah hal ini menandakan bayi baru lahir pun sudah bisa mendengar dengan baik. Walaupun pengelihatannya masih buram tapi pendengarannya sudah jelas. Ajaklah bicara bayi anda apapun responnya.

    Saat putri pertama kami masih berumur beberapa hari saya pernah mengalami perasaan aneh, ngapain coba ngomong sendiri. Ngomong sama bayi kan gak ada responnya ya, tapi saya ngerocos aja. Itung-itung melampiaskan obsesi jadi penyiar radio yang gak kesampaian karena saya pemalu hahaha..


  2. Ajak bernyanyi
    Anak biasanya lebih antusias mendengarkan nyanyian dari pada curhatan celotehan ibunya. Ini disebabkan karena saat menyanyi kita akan mengeluarkan mimik wajah, gerakan tubuh, dan nada suara yang berbeda-beda.

     
  3. Ajak membaca
    Ternyata anak sudah mulai bisa diajak membaca sejak usia tiga bulan lho.. Pertama bicarakan pada bayi kegiatan apa yang akan dilakukan "Dek.. kita mau baca buku yaaa..." lalu pangku anak lalu mulai bacakan buku, anak biasanya akan bereaksi dengan mengeluarkan suara. Mereka memang belum bisa bereaksi langsung seperti menjilati jari lalu mulai membalik-balik kertas, mungkin mulutnya yang sekedar maju mundur tanpa suara adalah tanda ketertarikannya pada kegiatan membaca yang akan kita mulai.

    Di jaman serba canggih seperti saat ini buku banyak bentuknya, untuk anak yang masih di bawah satu tahun pilihlah buku yang juga merangsang sensorinya seperti buku dengan banyak warna, buku dengan tekstur yang berbeda-beda seperti board books, soft book atau buku yang berbunyi-bunyi, bisa juga dengan buku pop-up. Namun mengenalkan buku biasa yang sering kita jumpai juga tidak masalah.

    Kami sering menggunjungi bazar buku dan meminta sahabat saya Adkhilni Utami untuk nyolek-nyolek kalau ada buku bagus yang cucok di kantong kami. Buku gak harus mahal kok, yang penting isinya, dan yang paling penting lagi DIBACA hahaha.. Kebanyakan buku kami di bawah 50 ribu rupiah lho harganya. Buku board books juga ada tapi ya gak banyak. Sebenernya jumlah buku di rumah kami gak banyak-banyak amat tapi insyaAllah sudah dibaca semua dan masih dibaca berulang-ulang sama anak-anak.

    Ibarat kata nih kalo beli baju bagus-bagus kita gak pake mikir padahal baju anak paling banter dipake setahun dua tahun bahkan sebulan dua bulan udah kekecilan, nah beli buku harusnya lebih loyal lagi yak. Karena insyaAllah manfaatnya lebih banyak dari mudharatnya.
  4. Mengulang-ulang kata sederhanaKata-kata sederhana seperti ayah, ibu, ciluk ba, dadah, cium, tos, tepuk tangan, hore, senyum, dll bisa mulai dikenalkan pada anak. Tidak perlu banyak-banyak, sedikit-sedikit saja, jika sang anak mulai tampak menguasai kata tersebut tambahkan kosa kata baru. Jangan lupa gunakan satu bahasa dulu yang disepakati bersama oleh seluruh anggota keluarga, termasuk asisten rumah tangga dan atau pengasuh anak.
  5. Jangan gunakan gaya bicara CADELGaya bicara cadel ini jika tidak diluruskan dan malah diikuti oleh orang tua bisa menyebabkan gaya bicara cadel ini terbawa seumur hidup oleh si anak lho. Segera luruskan jika anak mengeluarkan kata cadel.
    Sachie : Bun lihat itu ada cepawat..
    bunda : Pesawat sayang..
    Sachie : ya, peeesawat..
    bunda : waaaah iya bagus ya..


  6. Pancing anak bercerita
    Gunakan pertanyaan yang meminta anak untuk memberikan jawaban deskriptif, minimalisasi penggunaan pertanyaan opsional seperti ya/tidak/bukan. Minta anak menceritakan apa saja yang dialaminya. Bantu ia jika dia menemukan kesulitan dalam mengungkapkan apa yang ingin ia maksud kan dengan mengajukan pertanyaan. Gunakan mimik muka, gestur tubuh dan suara yang menyenangkan saat mengajak anak berbicara.
  7. Beri apresiasi saat anak bisa mengungkapkan atau memiliki kosa kata baru
    Saya sangat ekspresif saat tau anak-anak punya kosa kata baru. Saya biasanya akan merekamnya lalu mengirimkan video tersebut lengkap dengan caption panjang ala saya kepada kakek neneknya wahahaha... Nenek kakeknya biasanya sering menelpon dan menanyakan tentang kata baru sang anak saat di telpon. Lalu kakek dan cucu ini pun ada bahan obrolan baru hahaha..
  8. Jawab dan respon SEMUA pertanyaannya
    Wah ini lumayan ini hahaha... anak ini fitrah belajarnya kuat, dia ingin tau segala sesuatu maka ya biarkan saya fitrahnya ini, jaga baik-baik jangan matikan fitrah ini. Jawablah semua pertanyaannya walau bosan setengah mati. Jangan diacuhkan dimana pun tempatnya. Karena saya pernah menemui seorang bapak yang membentak anaknya setelah sang anak bertanya berulang-ulang dengan suara excited ala anak-anak. huhuhu...anaknya yang dibentak gue yang patah hati. #selftabok
  9. Tunda pengenalan gadget
    Saya dan suami bukan orang yang anti gadget tapi kami memberikan batasan yang sangat ketat terhadap penggunaan gadget. NO VIDEO GAME. Karena video game ini membuat anak sulit fokus. Gambar yang cepat sekali berubah pada video game dan banyak sekali perintah membuat anak sulit mendapatkan fokus. Dan video game ini candu sekali jadi hingga saat ini, Sachie berusia 4 tahun balhamdulillah kami tidak pernah mengenalkan video game padanya.

    Di keluarga kami, gadget dikenalkan setelah anak bisa mulai berbicara menyambung dua kata seperti ayah mana, mau mam, lagi apa dll

    Kami hanya memutarkan LAGU BERBAHASA INDONESIA di awal penggunaan gadget dan hanya satu jam sehari maksimal hingga anak memiliki banyak kosakata. Kami pilih chanel GNP Gema Nada Pertiwi di youtube. Setelah dirasa anak sudah lancar berkomunikasi kami mengenalkan FILM UPIN IPIN. Hahaha.. YHA! atoook oi atooook betulbetulbetul...Kemudian baru kami kenalkan LAGU BERBAHASA INGGIS. Kami memilih chanel Little Baby Bum karena rhymenya akrab di telinga dan animasinya lucu. DAAAAAAN ini syarat mutlak ya nontonnya kudu di laptop atau tivi bukan hape dan harus DITEMANI.

    Ditemani dalam arti sebenarnya ya, anak diajak bicara tentang hal apa yang ada di dalam video. Kaitkan dengan kehidupan sehari-hari.

    Nah kalau ditanya sekarang Sachie-syira nonton apa, jawabannya ya paw patrol, robocar poli wahahaha ini film anak cowok semua, upin-ipin, film dokumenter hewan, dan favorit kami banget nih CLOUD BREAD. Sebenarnya ada beberapa perbedaan paham antara kami dan film-film ini, namun saya berusaha sekuat tenaga menemani mereka menonton ini semua. Sehingga saat keluar adegan peri mainan di film cloud bread atau pulu-pulu nya upin-ipin saya akan jelaskan bahwa itu hanya di film itu, di dunia nyata gak begitu seharusnya :P

Tantrum
Tantrum yang saya maksud disini yang berkaitan dengan gadget ya, kalo anaknya gak kenal gadget tapi sering tantrum nah saya juga gak tau kondisinya.

Jadi sering kejadian ya ada anak-anak sering marah, nangis dan disertai gerakan acak yang luar biasa bikin esmosi yang ngeliat saat gadgetnya diambil. Alhamdulillah anak-anak kami nangis juga sih hahaha.. tapi cepat teralihkan. Biasanya jika jatah nontonnya habis kami alihkan dengan kegiatan lain seperti membaca buku dan main-mainan edukatif. Saya sering nulis juga soal mainan edukatif ini dan juga sering update di instagram @desniutami tentang daily activities anak-anak. Follow yuk semoga akunnya bermanfaat hehe..

Baca : ide main anak

Kemungkinan hal ini karena anak-anak sebelum kenal gadget mereka sudah lebih dulu kenal mainan yang sesungguhnya. Anak-anak kami terbiasa main tanah, pasir, batu, daun, main kardus, bikin-bikin dari 'sampah' dll. Jadi walau sepertinya nonton bisa bikin mereka 'stuck' tapi kalau mereka sudah kenal duluan mainan yang sesuai fitrahnya, insyaAllah mereka akan balik lagi ke mainan tersebut dan meninggalkan gadgetnya.

Yang jelas perbanyak berdoa ya buibu pakbapak. Anak ini titipan Allah, anak ini juga hatinya digerakkan oleh Allah. Berdoalah, bersabarlah.. Sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar dan Allah memberi petunjuk pada siapapun yang dikehendakiNya. Allahu'alam.


Semoga tulisan ini ada manfaatnya yaaaa.. mohon maaf apabila ada perbedaan pendapat diantara kita. Mohon maaf juga jika ada pernyataan saya yang menyinggung ibu bapak sekalian.

Wassalamu'alaykum
Desni,
SAHM, mom of three

15 comments:

  1. anak saya sekarang hampir delapan tahun Mbak. Dan saya belum mengizinkannya punya gadget, apalagi mainan gadget, karena yaaa, anak segitu menurut saya belum penting-penting amat, khawatir kecanduan juga. paling banter ya main game. Paling banter pinjam hp saya buat foto2. Bagi saya stimulus itu banyak banget gak harus dari gadget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba betul sekali.. terima kasih komentarnya
      sebetulnya di tulisan saya ini gadget yang saya maksud bukan masuk ke kategori stimulus ya. hanya alat bantu saja. saya menyarankan menunda pemakaian gadget, jika tidak pakai lebih keren lagi. dan gadget tidak hanya handphone dan tablet, laptop juga termasuk gadget. ;)

      Delete
  2. Mba, anak sy 13 bln belum bisa mengucapkan satu katapun bahkan yg mudah sekalipun, seperti mam, nen, mama dll. Suara yg keluar dr mulutnya hanya aaaaa... wawawa... aja. Dia juga blm merespon sama sekali kalo dipanggil namanya. Dia hanya merespon suara2 yg aneh saja. seperti, benda jatuh, suara pintu dibuka, krincingan, klakson kendaraan. Pdhl sy g ngasih dia nonton tv, dan gadget. Gmn ya mba solusinya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih wajar mba, mungkin biar jelas mba bisa baca di web idai tentang keterlambatan bicara. Disana dijelaskan detail tentang standar kemampuan bicara anak pada umur tertentu.
      http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/keterlambatan-bicara

      Delete
  3. anak saya usia skr 1.6 th, bapak nya pure bhs indonesia, saya dn klrga lain bhs daerah, krn saia juga kerja jadi anak saya ada yg ngasuh si mba pake bhs jawa, sampe skr bisa yg fasih bgt "kakak,kiki (kata kiki ini krn si kecil doyan liat iklan) mamah dan papah, sesekali kdang nyebut "moh" ato gk mo dlm bhs jawa sembari geleng2 kepala, di panggil nama nya sllu noleh, dan sisa nya bhs nya msh bahasa bayi gk jelas, anak saia standart aja kan yaa??

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya bukan dokter mba dan juga gak bisa menjudge apakah anak mba masuk kategori terlambat bicara atau tidak. mungkin biar jelas mba bisa baca di web idai tentang keterlambatan bicara. Disana dijelaskan detail tentang standar kemampuan bicara anak pada umur tertentu.
      http://www.idai.or.id/artikel/klinik/keluhan-anak/keterlambatan-bicara
      semangat mba :)

      Delete
  4. Wah tfs ya Mba, saya sangat tercerahkan membaca ini. Saya sedang hamil jadi dari sekarang udah merancang pendidikan terbaik untuk anak bersama Suami. Kami ingin anak tumbuh alami, bermain tanah dulu soalnya gadget bikin kecanduan. Kalo pun mau foto anak juga lebih baik candid atau ga diliatin hasilnya soalnya nanti anak pasti pengen gadget juga. Tantangannya adalah jika anak harus diasuh sama yang bukan ortu kandungnya, bisa aja terpapar gadget dari pengasuhnya hehe pokoknya mulai dari sekarang saya harus kuatin mental ga main gadget depan anak hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah kalo tulisan ini bermanfaat. semangat mba..

      Delete
  5. Keren mba... pelajaran untuk saya yang belum punya anak dan bagaimana mendidik anak.
    setuju karena buku adalah gudang ilmu, dari kecil anak sudah harus dibiasakan membaca biar kelak dia jadi gemar membaca.

    ReplyDelete
  6. Iya bener Mbak. Stimulasi penting. Perkembangan anak-anak pun beda-beda. Saya sempat kaget juga pas anak kedua belum bisa bedain warna, saya pikir buta warna. Jadinya setiap ada warna2, aku selalu bilang, ini warna ini, ini warna itu, dsb. Tapi Alhamdulillah ternyata ga bermasalah. Bacain buku dari kecil dan bicara ngga dicadelin berguna juga Mbak.

    ReplyDelete
  7. setiap anak berbeda y mba tentunya kita sbg ortu jg mesti peka kebutuhan anak jg shg bisa kasi stimulus yg beda2 agar anak berkembang sesuai kemampuannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba kita sebagai ortu harus peka ya..

      Delete

Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar di tulisan ini