#OpiniBuDesni : Seberapa Penting Nyetatus

Assalamu'alaykum Warohmatullah Wabarokatuuuuh...

Mama dan Aa... curhat dong... [tepuk tangan]

oke...


----


Alhamdulillah Allah percayakan kepada kita untuk menyemarakkan bulan suci ramadhan kali ini. Kita diberi kesempatan berlomba menunjukkan ibadah terbaik kita untuk dinilai oleh Allah SWT. Alhamdulillah...



Saya kepengen banget bahas tentang status di social media. Pertama karena memang lagi trend banget mainan socmed ini. Dan kedua adanya kebutuhan eksistensi diri yang kalau dulu ada di puncak piramida kebutuhan manusia Maslow, sekarang jadi kebutuhan paling basic, bareng sama kebutuhan sandang, pangan dan papan.


Saudara-saudariku, saya gak pengen ngatur-ngatur apa yang seharusnya saudara-saudari post di social media. Saya sudah pernah melakukan ini (mencoba mengomentari postingan orang heuheu..) dan agak kapok. Saya kali ini cuma mau menuliskan apa yang saya pikirkan.

Kemarin pagi, habis sahur saya ngobrol sama suami

Saya : Kak, aku tuh kadang pengen cerita di socmed, ngepost foto kita berdua pake caption yang menceritakan bahwa alhamdulillah aku punya suami yang sayang aku, punya suami yang baik, aku dan kamu bahagia. kadang udah diketik, tapi gak aku post..

Suami : Kenapa? 

Saya : Karena aku mikir lagi, buat apa? Apa gunanya bagi dunia tau tentang apa yang mau aku tulis itu. [jadi ini yang kamu tulis di blog ini apa des??? hahaha.. inimah contoh yaaaa]

Suami : ....

Saya : Aku juga kadang pengen ngeluh pekanbaru ini panas banget, lampu mati terus, sinyal internet bikin istighfar, tapi gak jadi. Karena aku pikir "ah buat apa aku ngeluh, kadang yang aku keluhkan itu sesuatu yang orang lain impikan. aku harusnya paham bahwa sudah sunatullah, ada orang lain yang kondisinya lebih malang dari aku.

Suami : hem.. [diem sepakat]


Bener kan ya..
Kadang kita ngeluhin anak, padahal ada yang sedih belum dikaruniai anak

Kita ngeluhin suami yang gak peka, dikode-kodein gak paham,, padahal kita kan menikah ya, bukan pramuka. Disisi lain ada yang sedih sudah kepala tiga tapi belum ketemu jodohnya.

Kita ngeluhin uang belanja lima juta sebulan, kurang. Padahal ada yang 500 ribu aja udah alhamdulillah.

Begitulah..


Kadang kita mengelukan sesuatu di socmed dengan gamblang karena beranggapan yang jadi bahan keluhan tidak akan membaca status kita. Kita berani mengeluhkan mertua di sosmed karena tau mertua tidak punya akun sosmed. Kita mengomeli tetangga karena tidak berteman dengan sang tetangga di sosmed. Jangankan berteman, tau nama pun tidak hehe.. Kita mengeluhkan asisten rumah tangga kita yang tidak cekatan di sosmed, karena jangankan main hape, hape pun tak punya. Kita mengeluhkan driver ojek yang bau, karena kita tidak saling kenal. Kita berani mengeluh bahkan menghinakan orang lain karena mereka tidak punya akses ke sosial media kita.


Di bulan yang baik ini, bulan suci ini, marilah kita bersama-sama berusaha menjadi individu yang lebih baik. Karena benar kata Ustadz Salim A FIllah
"Dalam Ramadhan, Allah kenalkan kita pada kesejatian diri. Ketika aroma ibadah pekat, pintu surga terbuka, pintu neraka ditutup & syaithan dibelenggu; apakah hawa nafsu masih menggebu?

Bahkan sebesar apa rasa keterbelengguan diri selama bulan ini; sama dengan kadar sifat syaithani dalam pribadi. Ya Allah, kami mohon perlindungan padaMu dari keburukan diri, sucikanlah ia dengan Ramadhanmu yang bercahaya.."
        

Lalu saya ingat percakapan saya dan suami tadi pagi (padahal suaminya cuma diem dan hamhemhamhem aja hahaha). Setiap kali mau update status jangan lupa berfikir
- Untuk apa sih nulis status seperti itu.
- Buat apa dunia tau persoalan ini.
- Berpengaruhkah pada kebaikan dunia.
- Apa harus saya yang bikin status seperti itu.
- Apa keluarga saya gak malu karena status yang saya update ini
dan seterusnya dan seterusnya...


Eksistensi diri bisa dengan cara yang jauh lebih baik, InsyaAllah..

Allahu'alam... Mohon maaf lahir batin


Comments

Popular Posts