Friday, September 29, 2017

Bertemu Anak "Gemesan"

Gemesan = Suka gemas/agresif sama orang lain/suatu benda (terjemahan bebas hehe)




Saya sudah lima tahun jadi ibu. Semakin hari pandangan saya terhadap dunia parenting berubah. Dalam benak saya, saya berharap cara pandang saya berubah jadi lebih baik. Misalnya dulu kayaknya anti banget sama susu formula, sekarang sudah biasa saja. Dulu pas awal-awal punya anak, melihat ibu-ibu yang hamil lagi padahal anaknya masih bayi rasanya gimana gitu. Sekarang biasa saja. Lha wong saya ngalamin DUA KALI hahaha... Dulu pas ketemu anak gemesan, yang suka grasa-grusu sama anak lain atau mainan, saya sebel. Saya keluarkan ekspresi tidak suka, walau gak pakai kata-kata. Muka saya pasti kecuuuut banget kalo ketemu anak gemesan. Trus saya pasti mikir ini ibunya kenapa sih kok anaknya nakal begini. Pasti liat ayah ibunya deh.. Duh maafkan saya. InsyaAllah sekarang saya sudah biasa saja lihat anak gemesan.



Saya mau cerita kenapa saya bisa mengubah pandangan saya tentang anak gemesan. Pandangan saya pada anak-anak ini berubah lebaran kemarin. Saat kami pulang ke Palembang. Dirga, anak kami yang baru berusia 18 bulan dicap sebagai anak nakal dan saya dicap sebagai ibu yang ngajarin anak saya buat jadi egois! YHA! hahaha...

Dirga dianggap nakal karena suka merebut mainan anak lain. Saya dicap demikian karena mendiamkan saja prilaku Dirga. Saya bukan mendiamkan. Saya melihat Dirga hanya bermain-main. Temannya tidak didorong, dijambak, dipukul apalagi digigit. Saya mengenali Dirga sebagai anak iseng, super iseng. Dia hanya ingin bermain dan sang anak yang diajak main (yang kebetulan masih saudara dekatnya Dirga) hanya diam saja. Tidak menangis. Kalaupun menangis ya hanya nangis ambekan. Saya pikir mereka hanya main. Ya maafkan saya yang rada cuek ini.

Ternyata orang tuanya si anak merasa jengah. Saya maklum. Tapi kata-katanya terhadap Dirga dan saya menyadarkan saya satu hal. Anak gemesan itu hanya gemes, tidak nakal apalagi jahat. Apalagi jika usianya masih BALITA terutama jika BATITA.

Sakit hati tidak? Tentu. Saya ambil Dirga lalu menjauh. Saya menangis. Saya berpikir anak kami anak baik, kenapa begitu sekali reaksi orang tuanya. Akhirnya saya menyadari orang tua sudah fitrahnya defensif membela anaknya. Disitu saya berasa kayak ditabok. Disadarkan bahwa cara pandang saya salah. Saya juga ngalamin anak saya dianggap nakal, gemesan. Padahal Dirga belum seberapa dibanding anak gemesan lainnya.

Anak memang bisa jadi peniru ulung. Tapi jangan serta merta mengambil kesimpulan bahwa perilaku gemesannya ia dapat dari meniru orang tuanya. Anak kecil usia balita sebenarnya belum butuh bersosialisasi. Kalau mau sosialisasi orang tuanya benar-benar harus mengawasi, jangan sampai anaknya sakit atau menyakiti. Sebagian anak yang kita cap sebagai anak gemesan atau anak "nakal" ini hanya punya rasa ingin tau yang lebih dan belum bisa mengekspresikan dirinya secara benar.

Salah satu teman saya bercerita bahwa ia punya anak yang gemesan terhadap mainan ORANG. YHA. Mainan orang. Jadi kalo lihat mainan orang bawaannya pengen main mainan itu. Tapi kalo dibeliin yang sama ditolak, maunya punya si temen. Seru kan? Hihihi... Padahal ibu ayahnya tentu saja tidak mencontohkan mengambil hak orang lain. Saya kenal orang tuanya sebagai orang sholih dan sholihah.

Cerita selanjutnya adalah sang teman saya ini mengajarkan anaknya perlahan-lahan bahwa sang anak harus minta izin dulu sebelum meminjam mainan. Jika diizinkan silahkan main tapi ingat untuk harus tetap gantian. Dan jika tidak diizinkan ya anak harus bersabar, untuk melihat saja mainan yang diidamkannya dari jauh. Berhasil kah? Alhamdulillah pelan tapi pasti sang anak berprogres. Ibunya sampe merasa "nyesek" gitu lihat anaknya berhasil menahan diri untuk "melihat saja" mainan yang disukainya. Luar biasa kan ibunya.

Kata sahabat saya, Adhil (yeah..dia lagi haha)
"Jadi poinnya.. Kita ga boleh menjastifikasi ortu yg anaknya "bermasalah" dg pikiran 'ini gimana sih ortunya'
Karena kita ga pernah tau apa yg terjadi di rumahnya, ibunya sudah melakukan apa, bagaimana perasaannya, dll. Kalo kita di posisi anak kita yang jadi anak bermasalah, kita cukup fokus pada anak kita bagaimana menyikapinya. Jangan sampai karena memperhatikan pandangan org, jd mengabaikan emosi ke anak 😢."

Poin lainnya yang Adhil sampaikan adalah doa orang tua terhadap anak. Seperti contoh temenku di atas, jika ornag tuanya berusaha mengawasi anaknya, mendidik anaknya, dan juga mendoakan anaknya insyaAllah sang anak akan berubah.
"Anak-anak ini akan berubah insyaAllah seiring usaha dan doa orang tuanya. kita juga doakan orang tuanya biar kuat menghadapi kondisi anaknya. kita gak pernah tau kapan anak ini berubah. Kapan Allah kabulkan doa orang tua"

Cakep ya..
Jadi kalo lain kali bertemu anak gemesan, jangan dipandang sinis ya ibu-ibu bapak-bapak. Mereka masih anak-anak. Apalagi jika ornag tuanya dengan rendah hati meninta maaf atau sekuat tenaga menjaga anaknya. Senyumin. Kasih senyum yang terbaik yang seolah-olah berkata "Iya gak apa-apa kok bu, kami maklum.."

Eh tapi kalo orang tuanya juga cuek, gak minta maaf malah defensif gimana???

2 comments:

  1. Ada kalanya memang sebagai orang tua harus berusaha melihat dari sisi anak. Kadang anak hanya bermain. Kalaupun ada bertengkar paling sebentar. Tapi orang tua memang suka lebih protektif. Akhirnya malah jadi yang paling emosi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ah betul banget. Anaknya gak apa-apa ortunya yang berantem ya mba..

      Delete

Terima kasih sudah membaca, silakan tinggalkan komentar di tulisan ini